Sejak April 2010 sampai Januari 2013, gw ngerjain kerjaan ini. Ngajar online para care worker Indonesia, yang kerja di panti jompo Jepang. Yang diajarin adalah soal-soal ujian negara sertifikasi care worker lansia di Jepang. Dan, tanggal 27 Januari kemarin, para care worker ini ngikutin ujiannya. Hasilnya, Maret akhir.Mudah-mudahan sih, mereka lulus semua. Kalau lulus, mereka bisa terus kerja di Jepang, karena sudah memiliki sertifikasi care worker itu. Di sini emang apa-apa harus pakai sertifikasi, yang standarnya itu dibuat sendiri oleh pemerintah Jepang. Biarpun misalnya kita udah punya pengalaman jadi care worker di Indonesia pun, tetap aja itu ngga cukup, karena harus disesuaikan dengan standar dan gaya Jepang.
Untuk ngajar onlinenya sendiri, jadwalnya seminggu dua kali, dari jam tujuh sampai setengah sembilan malam. Harinya, sempat berganti-ganti. Gw pernah megang hari selasa-kamis, terus satu setengah tahun terakhir, megang hari senin-rabu. Sempat ada dua kelompok yang belajar, jadi gurunya mesti ditambah. Gw ngajakin temen gw, kita berdua share megang kelas. Ada juga masanya yang gw sempat minta cuti sementara karena sibuk ngerjain tesis, sekitar dua bulan. Saat itu, gw diganti temen gw ini, jadi dia megang dua kelompok, masing-masing kelompok, seminggu jadwalnya dua kali. Setahun terakhir, karena temen gw dapat kerja tetap, akhirnya satu kelompok yang tersisa, dipegang sama gw, hari Senin-Rabu. Sedangkan yang kelompok hari Selasa-Kamis itu, emang udah selesai tahun lalu, karena mereka udah ikut ujian tahun lalu, dan sebagian besar lulus. Setelah kelompok Senin-Rabu ini ikut ujian kemarin minggu ini, kursus online ini emang udah selesai. Soalnya, muridnya udah ngga ada lagi. Sebenarnya, setelah dibuka kerjasama Indonesia-Jepang untuk dari Indonesia ngirim orang untuk dipekerjakan sebagai care worker, banyak orang Indonesia yang mau. Tapi, belakangan ini, panti jompo atau rumah sakit di Jepang yang ga mau nerima lagi. Konon, katanya, karena support dari pemerintah Jepang kurang. Mungkin juga, sekarang udah banyak orang Jepang yang mau jadi care worker, jadi mereka pikir, ngapain juga gw pekerjakan orang asing yang beda bahasa, budaya, pemikiran, yang ada malah nambahin masalah?
Selama 3 tahun ngerjain kerjaan ini, emang persiapannya cukup menyita waktu, soalnya gw sendiri ga menguasai bidang care worker seperti ini. Soal-soal yang diujikan itu, misalnya tentang fungsi organ tubuh manusia, sistem kesejahteraan sosial di Jepang, psikologi lansia, prinsip kerja care worker. Jangankan dalam bahasa Jepang, dalam bahasa Indonesia pun gw belum tentu ngerti. Jadi, persiapannya mesti dua kali, ya pelajarin materinya, dan pelajarin istilahnya dalam bahasa Jepang.
Sekalipun persiapannya cukup menyita waktu, tapi emang terasa, kosa kata bahasa Jepang dan pengetahuan pun jadi bertambah. Selain itu, bisa kenal teman-teman care worker, jadi nambah kenalan baru. Trus juga, bisa punya penghasilan tambahan yang kerjaannya bisa dikerjakan dari rumah, jadi hemat waktu ga usah commuting dan ga usah ninggalin Joanna. Sisi positifnya emang banyak sih.
Paling sisi kurang menyenangkannya, waktu cukup tersita, jadi waktu untuk ngerjain research berkurang. Tapi emang ada harga yang harus dibayar kan ya. Istilahnya, kalau mau duit, ya mesti ngasih waktu dan tenaga ke situ dong, namanya juga nyari duit.
Jadi, ketika kerjaan ini selesai, gw ngerasa sedih. Sedihnya itu ya karena rutinitas selama 3 tahun ini berakhir. Selain itu, kantor yang mempekerjakan gw juga benar-benar memperlakukan gw dengan baik, gw merasa dihargai dan nyaman bekerja sama dengan mereka. Jadi emang gw ngerasa kehilangan sih.
Pengalaman yang sangat berharga selama hampir 3 tahun gw ngajar kursus online ini. Semoga teman-teman care worker lulus dalam ujian negara sertifikasi care worker di Jepang. Dan, as for me....ga ada lagi kerjaan sambilan ini, itu artinya : lebih serius ngerjain research, dapat tambahan waktu beberapa jam lagi kan?
What makes us a human? A story that we tell. Berbahagialah kita yang memiliki cerita untuk dibagikan.Sekonyol apapun itu.
Sunday, January 27, 2013
Tuesday, January 22, 2013
Pencerahan (lagi)
Sebenarnya ini basi sih. Udah tahu dari dulu, tapi jadi nyadar aja. Nyadar kembali maksudnya.
Bahwa...
Setiap orang itu punya jalan hidupnya masing-masing.
Mewujudkan impian itu ngga gampang, kalau gampang, semua orang pastinya berani bermimpi.
Kalau galau, tanya pada diri sendiri, tanya sama hati ini: sebenarnya apa yang paling saya inginkan? Coba korek sampai dasar hati. Dan tidak perlu menutup-nutupinya. Sama diri sendiri aja kok malu.
Daaaaaan....
Se-nerd apapun impian kita, sekatro apapun cita-cita kita, sebenarnya kita ngga usah malu. Lagi-lagi : sama diri sendiri kok malu?
Banggalah. Banggalah. Banggalah. Dengan apa yang kita punya, bukan dengan apa yang bukan menjadi milik kita.
Dan setelah segala perenungan itu, saya sampai pada satu kesimpulan :
Bahwa emang biar gimana pun juga, impian saya dari 15 tahun lalu tetap aja ga berubah. Jadi akademisi. Cuma karena ngerasa berat, penelitian mandek, belum ada juga tempat yang kiranya pasti menjadi tempat kerja, saya lalu berdalih : udahlahhhh...gw coba-coba lamar di perusahaan aja, udahlahhhh...gw usaha cupcakes aja, udahlahhhhhh...gw jadi ibu rumah tangga n ngemil siomay n berkebun n beberes rumah, gw seneng bangeet kok....
Yang mana sebenarnya adalah kata lain dari : menghindari diri dari situasi sulit.
Kalau udah usaha abis-abisan dan ternyata jalan untuk menjadi akademisi itu asli tertutup, ya itu lain cerita.
Tapi kalau nyerah sekarang, kayaknya terlalu kepagian deh ya. Ibaratnya mau maju perang, belum juga sampai ke medan laga, udah nurunin senjata, udahan ahhh, males, nyerah aja.
Yaaaa kaliiii...semua orang juga males kalau ketemu masalah.
Tapi namanya juga hidup, kalau mau ga ada masalah mah di sorga ajalahhhh...
Lagian kalau menghindar, ya selamanya kita ga akan bisa maju ke tahap berikutnya.
Jadi ya, biar kata sulit, marilah saya maju terus. Mau berhenti juga sekarang mah ngga bisa jack! Udah kepalang basah, nyebur aja sekalian.
Dua tahun lagi berjuang sepenuh hati. Percaya diri sendiri, dan di atas segalanya, tentu saja : percaya Tuhan.
Tuhan, sertai aku yang peragu ini. Amiiin.
Bahwa...
Setiap orang itu punya jalan hidupnya masing-masing.
Mewujudkan impian itu ngga gampang, kalau gampang, semua orang pastinya berani bermimpi.
Kalau galau, tanya pada diri sendiri, tanya sama hati ini: sebenarnya apa yang paling saya inginkan? Coba korek sampai dasar hati. Dan tidak perlu menutup-nutupinya. Sama diri sendiri aja kok malu.
Daaaaaan....
Se-nerd apapun impian kita, sekatro apapun cita-cita kita, sebenarnya kita ngga usah malu. Lagi-lagi : sama diri sendiri kok malu?
Banggalah. Banggalah. Banggalah. Dengan apa yang kita punya, bukan dengan apa yang bukan menjadi milik kita.
Dan setelah segala perenungan itu, saya sampai pada satu kesimpulan :
Bahwa emang biar gimana pun juga, impian saya dari 15 tahun lalu tetap aja ga berubah. Jadi akademisi. Cuma karena ngerasa berat, penelitian mandek, belum ada juga tempat yang kiranya pasti menjadi tempat kerja, saya lalu berdalih : udahlahhhh...gw coba-coba lamar di perusahaan aja, udahlahhhh...gw usaha cupcakes aja, udahlahhhhhh...gw jadi ibu rumah tangga n ngemil siomay n berkebun n beberes rumah, gw seneng bangeet kok....
Yang mana sebenarnya adalah kata lain dari : menghindari diri dari situasi sulit.
Kalau udah usaha abis-abisan dan ternyata jalan untuk menjadi akademisi itu asli tertutup, ya itu lain cerita.
Tapi kalau nyerah sekarang, kayaknya terlalu kepagian deh ya. Ibaratnya mau maju perang, belum juga sampai ke medan laga, udah nurunin senjata, udahan ahhh, males, nyerah aja.
Yaaaa kaliiii...semua orang juga males kalau ketemu masalah.
Tapi namanya juga hidup, kalau mau ga ada masalah mah di sorga ajalahhhh...
Lagian kalau menghindar, ya selamanya kita ga akan bisa maju ke tahap berikutnya.
Jadi ya, biar kata sulit, marilah saya maju terus. Mau berhenti juga sekarang mah ngga bisa jack! Udah kepalang basah, nyebur aja sekalian.
Dua tahun lagi berjuang sepenuh hati. Percaya diri sendiri, dan di atas segalanya, tentu saja : percaya Tuhan.
Tuhan, sertai aku yang peragu ini. Amiiin.
Saturday, January 19, 2013
Jangan khawatir...
Yuuhuuu sejuta kali!
Oh my God, tahun 2012 cuma bikin 19 postingan, beda jauh dengan tahun 2011 yang bikin 71 postingan. Berkurang drastis! Sibuk sih pasti iya, tapi sebenarnya bisa kan nyediain waktu untuk ngeblog. Hanya, terlanjur lama dianggurin, jadinya males, malah ga nulis-nulis. Kayaknya tahun 2013 ini mesti lebih rajin update blog ya, ayo dong teman-teman semuanya juga update blog biar kita bisa saling kasih support, hahaha.
Ngga muluk-muluk, seminggu satu postingan-lah. Kalo sehari satu postingan, sepertinya tak terkejar, jadi cukup seminggu satu postingan. Yang penting diupdate secara rutin. Sayang kan ya, punya blog kok dianggurin, sekalian aja blognya ditutup dong ya kalo gitu mah. Janji, mulai sekarang akan rutin update blog. Sekalian writing theraphy, hahahaha, sok Habibie banget sih gw. Tau dong ya, buku best seller "Habibie dan Ainun" itu, ditulis Habibie untuk bisa keluar dari kedukaan mendalam karena ditinggal wafat istri tercintanya. Kalau ga nulis, pilihannya Habibie bakal dimasukin ke RSJ, karena emang saat itu kondisinya udah kritis banget secara psikis. Habibie terus milih nulis tentang Ainun, demi supaya kondisi mentalnya bisa pulih kembali.
Desember 2012 kemarin, gw dan J dan J, pulang ke tanah air tercinta selama tiga minggu, ngelewatin natal dan tahun baru di Jakarta dan Bogor. Biar cuma tiga minggu, pengalaman mudiknya asli lengkap banget. Mulai dari menghadiri acara ulang tahun Bapak yang ke-70, yang seru dan mengharukan luar biasa. Seluruh keluarga James hadir lengkap, tujuh bersaudara dengan menantu anak, bahkan besan pun muncul. Bisa dibayangin gimana serunya itu. Melihat Bapak dan Mamak bahagia, uang ongkos pesawat yang lumayan juga besarnya itu, rasanya udah ga ada artinya lagi. Bersyukur banget kita bertiga ambil keputusan untuk pulang, untuk ngerayain ultah Bapak yang ke-70. Emang gw dari dulu itu semangat kalo ada lansia dipestain ulang tahunnya, entah mengapa, menurut gw ini lebih seru dari pesta kawin. Momentnya mengharukan aja gitu, karena biar ga seberapa, tapi kebahagiaan orang tua itu kan emang priceless banget ya bok, tiket pesawat Osaka-Jakarta pp pun jadi ga ada apa-apanya dibanding senyum bahagia dan haru Bapak dan Mamak. Boooook, mertua gw itu sampai jual sawah demi nyekolahin tujuh anaknya, pake ngutang di koperasi sekolah, kerja banting tulang dua-duanya demi supaya anak-anaknya jadi sarjana, jadi ngerayain ulang tahun mereka di restoran dengan ngundang orang lumayan banyak itu bukan hiperbola yawww, they deserve more than this, sebenernya, ini mah ga ada apa-apanya deh dibanding apa yang telah mereka lakukan untuk ke-7 anaknya. Gw aja termasuk yang kecipratan rejeki, bisa nikah sama salah satu anaknya, yaitu James. Itu abang-abang, kakak dan adik James, asli semuanya itu orang baik-baik, santun, yang laki-laki pada berhati mulia semua, sayang istri dan anak, paling kekurangannya, kalo lagi jalan-jalan, ditanya mau makan apa, jawabannya terserah, terserah...ya itu mah ngga esensial-lah kekurangannya. Yang perempuan juga baik-baik, pokoknya intinya, mereka bertujuh tuh orang baik-baiklah, kenapa bisa gitu? Jelas karena didikan bapak ibunya. Bapak mertua gw guru sejarah di SMA negeri di Kisaran, ibu mertua gw, bidan di puskesmas, dua-duanya pegawai negeri, gajih paling berapa sih, jelas bukan golongan konglomerat, tapi tujuh anak bisa lulus kuliah semua, di PTN pula. Btw, itu ibu mertua gw kagak ada tuh pake pembantu untuk ngasuh anak, padahal beliau working mom kan, anak tujuh beliau urus sendiri, ngelahirin pun ga hiperbola, konon pas ngelahirin James, jam setengah satu malam diantar ke rumah sakit pake motor, satu jam kemudian James lahir, jelas beliau ga pake operasi-operasian, semua tujuh-tujuhnya lahir normal, ga kayak gw, anak satu aja dilahirin pake operasi, dengan alasan: ga kuat diinduksi, cemennya sejuta banget yeee? Ya, udah pastilah ya, gw rasa, beliau adalah salah seorang perempuan terkuat di dunia.
Selanjutnya, setelah perayaan ulang tahun itu, kita bertolak ke Bogor untuk ngerayain natal sama Mama Papa n jemaat GKRI BSB, ikutan natal sekolah minggu, trus ngebentuk choir dadakan untuk tampil di kebaktian malam natal tanggal 24 Desember. Seru bangetlah pastinya, bisa ketemu seluruh jemaat GKRI BSB. Natal di kampung halaman, ga ada yang bisa ngalahinlah, beda banget sama natal di Jepang yang ga gitu kerasa natalnya. Apalagi makanan yang disediakan jemaat malam itu, ajigileeee enaknya ampuuun, sampai saat ini kebayang terus siomaynya yang gede-gede banget itu, yummy maksimal itu mah. Setelah selesai ibadah di GKRI BSB, malam itu juga kita cabut lagi ke Jakarta, untuk ikut kebaktian natal keluarga di Rawa Sari. Sayangnya, kali ini yang datang ke Rawa Sari ga gitu banyak, jadi rada sepi, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tapi yang penting bisa silahturahmi dengan Inang dan Amang Rawasari, semoga mereka sehat terus ya Tuhaaaaan! Malam itu kita nginep di Jalan Putri, dan keesokan harinya tanggal 25 Desember, gw, J dan J dan Saur adiknya James bukannya ke gereja malah ke mall, kota kasablanka, wisata kuliner dan Joanna beli sepatu (ampuuuun dijeeee). Siangnya, kita silahturahmi ke rumah Amang Rani, ya masih satu wilayah di dekat jalan putri sih. Malamnya, kita ke Bandar Jakarta, penuh banget asli, tapi serulah rame-rame.
Tanggal 26-31 Desember, kita pergi liburan dengan keluarga James, ke Anyer, Puncak, Bandung. Asli ini serunya maksimal, semua menikmati, semua have fun. Papa Mamanya Martyna yang orang Polandia pun ikut dan kayaknya mereka enjoy banget bisa melihat gunung Krakatau dari dekat, kayaknya ini terkenal banget di Eropa yeeee. Anak-anak pun enjoy main bersama, Joanna, Kezia dan Karen bareng-bareng terus, padahal bahasanya beda-beda, tapi nyambung-nyambung aja, kerja mereka kan berenang melulu n main gadget, hahahaha.
Tanggal 31 Desember kita balik dari Bandung ke Jakarta, trus tutup tahun di Jakarta. Ya demi melestarikan tradisi batak, ga ada pergi-pergi pas malam tahun baru, semua di rumah untuk kebaktian bersama, trus ada acara mandok hata, cucu pun disuruh ngomong. Tanggal 1 Januari siang, setelah silahturahmi dengan sodara-sodara di Jakarta, kita bertolak ke Bogor, sorenya ketemu Ken Dedes, malamnya makan pizza hut sama keluarganya Pak Kaleb, trus selanjutnya, berhari-hari nginep di Bogor Baru, Joanna main sama Cleo dan Keio, trus Elos, Botas kita sambangin terus. Gw belanja lumayan banyak, pokoknya tetaplah ya kalo mau beli-beli, Elos is the best, diskon banyak, harga terjangkau, kualitas pun not bad. Gw luluran n facial, trus berhasil nonton Habibie dan Ainun, ohhh Reza Rahardian sungguh keren sekali!
Hari Sabtu, 5 Jan, kita balik lagi ke Jakarta, tepatnya ke Bekasi, mengunjungi Bang Henry dan keluarga yang baru pulang dari Medan.Trus, dari Bekasi kita ke five star untuk pijat refleksi, trus berakhir dengan makan di lapo.Hari Minggunya kita balik ke Bogor sebentar untuk ibadah di GKRI BSB, sekalian pamit-pamitan sama orang-orang GKRI BSB, trus langsung balik lagi ke Jakarta, ke mall ambasador dan kasablanka untuk tukar sepatu Joanna dan beli seprei, trus malamnya ke Epiwalk, makan bareng.
Senin pagi, 7 Jan, kita balik ke Bogor, ngabisin sisa liburan di Bogor, beli ini itu, dan tanggal 10 Jan, kita balik ke Osaka, hiks maksimal ini mah. Udahlah si Cleo nangis- nangisan pisah sama Jojo, belum lagi di airport si Mama nangis pisah sama Jojo, eh terakhir-terakhir Jojo nangis kenceng banget, udah di boarding room pun masih sesenggukan. Nih anak emang anti balik ke Osaka karena keenakan di Indonesia. Terutama karena dia udah kompak abisss sama sepupu-sepupunya baik dari pihak James maupun pihak gw. Dan Joanna itu cinta banget sama Obaachan, jadi berat abisss ninggalin Indonesia.
Gw sendiri ga nangis ketika meninggalkan Indonesia, tapi ohhh sesungguhnya dalam hati aku menangis piluuuu....yang paling rese dari pulang kampung adalah ketika kita harus balik lagi ke tanah perjuangan!
Dari hawa yang hangat bersahabat di Indonesia, begitu nginjekin kaki di Osaka, langsung kita disambut dengan dinginnya udara musim dingin. Seolah mengejek kita bertiga yang baru kembali dari dunia mimpi, lihatlaaaaaah...inilah realita kejam menanti : dunia dingin tak bersahabat. Yaaaaa bayangin aja deh bokkk, dari yang 30 derajat, tiba-tiba jadi 3 derajat, itu kan ekstrim banget ya bedanya? dari yang tiap hari ketemu banyak sodara, tau-tau tinggal bertiga lagi...itu kan ekstrim abis ya perubahannya?
Dan perubahan ekstrim ini, bener-bener membuat gw agak depresi. Mulailah galau ini itu, khawatir ini itu, serem ini itu. Ngerasa labil, ngerasa serem ga bisa lulus on time, ngerasa goblok kuliah ga pinter-pinter, ngerasa takut ntar lulus gw jadi pengangguran, ga ada satu pun universitas atau perusahaan yang mau nerima tenaga gw, terus akhirnya gw mikir, mungkin gw ada di Jepang untuk disadarkan tugas sesungguhnya yang harus gw emban, yaitu jadi ibu rumah tangga, mungkin gw kuliah S3 untuk tahu bahwa gw akan menjadi ibu rumah tangga. Bukannya gw ngehina IRT ya, ga sama sekali, tapi ini gw udah hopeless orang macam gw ga akan dapat kerjaan, jadi berdalih bahwa tugas utama gw ya jadi IRT. Gw takut banget sama penelitian, takut banget sama kehidupan, pokoknya takut abis sama segala-galanya. Dan makin gw nge-shock setelah mengetahui junior gw yang tadinya berencana melanjutkan studi S3, akhirnya mundur, ga jadi lanjutin, karena dia ngerasa, research itu bukan dunianya, plus April ntar dia mau nikah sama orang Jepang dan udah keterima kerja part time di perusahaan Jepang-Rusia (negara asalnya). Ya, emaaaaang, untuk setiap orang itu ada jalannya masing-masing, cuma galau aja gw jadi ga punya temen, dan kenyataannya adalah : cuma gw booook, satu-satunya murid S3 Prof gw, kagak ada temen, asli gw sendiri. Makinlah gw ngerasa kesepian, oh my God, gw ngerasa oon banget, masuk-masuk S3 gini padahal kemampuan ga ada, udah minder abislah gw, dan yang lebih ngeri lagi, gw jadi kehilangan pegangan, apa sebenarnya yang gw inginkan di masa depan? Jangan-jangan emang sebenarnya yang gw inginkan itu adalah ngantar anak les trus nungguin Joanna ngeles, sambil ngemil siomay or baso? Kalau emang ternyata bener itu yang gw inginkan, gw ngerasa rugi banget datang ke Jepang jauh-jauh gini. Kenapa ga nyadarnya itu pas masih di Indonesia aja? Kenapa baru mikir pengen nganter anak les itu sekarang?
Kok ya kayaknya hidup orang-orang itu enak banget, udah kerja, mapan, tenang, stabil? Sedang gw masih jahhhh di sini, ngais-ngais ilmu, mending juga gw jadi orang berilmu. Jadi nyesel gitulah, kenapa sih dulu ga langsung aja kerja di perusahaan Jepang, begitu lulus S1. Sekarang gw udah mapan, kali, dan ga perlu lagi capek-capek sekolah yang nguras otak gini. Ampuuun dijeeee kenapa gw nyusahin diri sendiri gini sih?
Terus-terusan gw larut dalam perasaan khawatir, akhirnya gw udah ga tahan lagi dengan so called depresi ini, akhirnya gw curhat sama Ibu Kazuko, itu tuh dosen pembimbing gw pas S2 di Indonesia, yang udah gw anggap kayak ibu sendiri. Beliau tuh ya, emang maksimal baiknya, maksimal bijaknya, dan maksimal berempatinya. Beliau ga banyak ngomong, dan dengan logis menuturkan, bahwa depresi gw ini berasal dari perubahan yang sangat ekstrim dari Indonesia yang cerah ceria secara cuaca dan lingkungan, menuju Jepang yang dingin amat sangat, baik secara fisik maupun mental. Apalagi tahun ini, Jepang emang dingin banget, dan emang antara cuaca dan psikologi manusia itu, konon berhubungan banget. Trus mengenai ketakutan gw kagak dapat kerjaan, beliau menenangkan hati gw, itu ngga apa-apa, ngga usah takut, dan ngga usah takut juga James ga dapat kerjaan (ini juga hal yang gw takutin banget), pasti akan tersedia pekerjaan untuk gw dan James. Selanjutnya, jitu banget ya ini, beliau menuliskan Matius 6, "Hal kekhawatiran". Gila, ini bener banget, asli ini mah gw bangetlah, yang khawatir melulu sama ini itu. Terakhirnya di ayat 33 dibilang, "carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, makan semuanya itu akan ditambahkan kepadamu". Trus beliau bilang, kapanpun perlu, silakan email saya, lewat skype pun kita bisa ngomong, silakan kontak kapan saja. Ihhhh gw udah mau nangis baca email itu. Kena banget tuh ke gw.
Trus gw mikirin terus perkataan beliau di email itu, gw hubungin sama kehidupan gw. Gw schock karena junior gw ga lanjutin S3. Tapi namanya orang, kan jalan hidup emang beda-beda? Dia ke Jepang, emang tujuannya biar bisa ke Jepang, tanpa ada niat mau nyerap ilmu lalu berbakti pada bangsanya kelak. Nah begitu dapat kerja dan dapat jodoh orang Jepang, ya ngapainlah dia nyengsarain diri dengan kuliah S3. Istilahnya, dia pakai sarana kuliah di Jepang itu untuk keluar dari negaranya. Sedangkan pada gw, kondisinya berbeda. Gw keluar dari negara gw untuk smentara, datang ke negara yang lebih maju dari negara gw, untuk nyerap ilmunya dan pulang lagi ke negara gw demi mencerdaskan kehidupan bangsa. Gila, bullshit banget yeeee, hari gini masih ngomong mencerdaskan kehidupan bangsa. Kali karena pengen sok2an mencerdaskan kehidupan bangsa, akhirnya malah sekarang diriku menjadi sengsara. Gimana mau mencerdaskan kehidupan bangsa kalo ilmunya ga cukup untuk dibagikan? Ya jadi orang berilmu kan ga gampang ya bok, shaolin aja perlu tempaan bertahun-tahun demi jadi seorang master kungfu.
Tapi biar bullshit kedengerannya, ya gimana atuh, itulah yang ada dalam otak gw. Saking udah hopelessnya gw sama dunia akademik ini, berkali-kali gw mencoba membayangkan diri gw jadi yang lain. Pekerja kantoran yang pake high heels, rapat sana sini, seorang event organizer, news caster, ibu rumah tangga yang punya usaha jualan cup cakes, ibu rumah tangga yang rumpi sana sini sambil makan siomay, wedding organizer, guru SD, kepala sekolah SD, ibu kost, pengusaha restoran, semua gw coba bayangkan, dan gw udah ikhlas kalo akhirnya gw kerja bukan di bidang akademik, tapi misalnya jadi wedding organizer, kalau ternyata itu emang yang Tuhan mau. Tapi juga, biar stress research gini, gw ga bisa boongin diri, bahwa the ultimate dream, biar gw bilangnya ga mungkin, gw udah ga suka research, gw ga mau jadi akademisi, dan sejenisnya....adalah, tetaplah di dasar hati terdalam, jika dikulik, yang berdiri di situ bukanlah Rouli yang lagi bikin cupcakes, bukan Rouli yang jadi penyiar, bukan Rouli yang newscaster....tapi Rouli yang dosen sastra Jepang di perguruan tinggi, bimbing mahasiswa, ngajar mahasiswa, ngerjain penelitian, presentasi di seminar, nyemangatin mahasiswa yang baru belajar bahasa Jepang untuk ikut lomba pidato....gw ga bisa bohong, bayangan itu yang muncul dalam benak gw.
Sejak usia 20 tahun, gw udah memimpikan hal ini, dan ini udah tahun ke-15 gw masih tertatih-tatih mendaki jalan untuk meraih impian gw. Entah berapa lama lagi waktu dibutuhkan, gw juga sebenarnya udah mulai kehilangan pegangan, tapi yang gw tahu, satu fase S3 ini emang harus gw selesaikan, gw ga bisa ambil jalan pintas dengan udahan kuliah, misalnya. Impian itu emang enak pas kita bayangkan, tapi ngejarnya itu ga enak, namanya juga impian, pastilah susah diraih. Giliran ga enaknya yang gw rasain, langsung gw berdalih bahwa ini bukan impian gw, ini bukan impian gw, padahal mah tetap aja ini impian gw, hanya gw ga suka sama bagian harus berusahanya. Ini kan ga bener ya?
Gw ga beharap muluk-muluk, gw hanya berharap agar selalu ada ketenangan batin dan kekuatan, untuk menyelesaikan apa yang telah dimulai, sesulit apapun itu. Semoga gw kuat. Selamat tahun baru 2013. All the best for 2013!
Oh my God, tahun 2012 cuma bikin 19 postingan, beda jauh dengan tahun 2011 yang bikin 71 postingan. Berkurang drastis! Sibuk sih pasti iya, tapi sebenarnya bisa kan nyediain waktu untuk ngeblog. Hanya, terlanjur lama dianggurin, jadinya males, malah ga nulis-nulis. Kayaknya tahun 2013 ini mesti lebih rajin update blog ya, ayo dong teman-teman semuanya juga update blog biar kita bisa saling kasih support, hahaha.
Ngga muluk-muluk, seminggu satu postingan-lah. Kalo sehari satu postingan, sepertinya tak terkejar, jadi cukup seminggu satu postingan. Yang penting diupdate secara rutin. Sayang kan ya, punya blog kok dianggurin, sekalian aja blognya ditutup dong ya kalo gitu mah. Janji, mulai sekarang akan rutin update blog. Sekalian writing theraphy, hahahaha, sok Habibie banget sih gw. Tau dong ya, buku best seller "Habibie dan Ainun" itu, ditulis Habibie untuk bisa keluar dari kedukaan mendalam karena ditinggal wafat istri tercintanya. Kalau ga nulis, pilihannya Habibie bakal dimasukin ke RSJ, karena emang saat itu kondisinya udah kritis banget secara psikis. Habibie terus milih nulis tentang Ainun, demi supaya kondisi mentalnya bisa pulih kembali.
Desember 2012 kemarin, gw dan J dan J, pulang ke tanah air tercinta selama tiga minggu, ngelewatin natal dan tahun baru di Jakarta dan Bogor. Biar cuma tiga minggu, pengalaman mudiknya asli lengkap banget. Mulai dari menghadiri acara ulang tahun Bapak yang ke-70, yang seru dan mengharukan luar biasa. Seluruh keluarga James hadir lengkap, tujuh bersaudara dengan menantu anak, bahkan besan pun muncul. Bisa dibayangin gimana serunya itu. Melihat Bapak dan Mamak bahagia, uang ongkos pesawat yang lumayan juga besarnya itu, rasanya udah ga ada artinya lagi. Bersyukur banget kita bertiga ambil keputusan untuk pulang, untuk ngerayain ultah Bapak yang ke-70. Emang gw dari dulu itu semangat kalo ada lansia dipestain ulang tahunnya, entah mengapa, menurut gw ini lebih seru dari pesta kawin. Momentnya mengharukan aja gitu, karena biar ga seberapa, tapi kebahagiaan orang tua itu kan emang priceless banget ya bok, tiket pesawat Osaka-Jakarta pp pun jadi ga ada apa-apanya dibanding senyum bahagia dan haru Bapak dan Mamak. Boooook, mertua gw itu sampai jual sawah demi nyekolahin tujuh anaknya, pake ngutang di koperasi sekolah, kerja banting tulang dua-duanya demi supaya anak-anaknya jadi sarjana, jadi ngerayain ulang tahun mereka di restoran dengan ngundang orang lumayan banyak itu bukan hiperbola yawww, they deserve more than this, sebenernya, ini mah ga ada apa-apanya deh dibanding apa yang telah mereka lakukan untuk ke-7 anaknya. Gw aja termasuk yang kecipratan rejeki, bisa nikah sama salah satu anaknya, yaitu James. Itu abang-abang, kakak dan adik James, asli semuanya itu orang baik-baik, santun, yang laki-laki pada berhati mulia semua, sayang istri dan anak, paling kekurangannya, kalo lagi jalan-jalan, ditanya mau makan apa, jawabannya terserah, terserah...ya itu mah ngga esensial-lah kekurangannya. Yang perempuan juga baik-baik, pokoknya intinya, mereka bertujuh tuh orang baik-baiklah, kenapa bisa gitu? Jelas karena didikan bapak ibunya. Bapak mertua gw guru sejarah di SMA negeri di Kisaran, ibu mertua gw, bidan di puskesmas, dua-duanya pegawai negeri, gajih paling berapa sih, jelas bukan golongan konglomerat, tapi tujuh anak bisa lulus kuliah semua, di PTN pula. Btw, itu ibu mertua gw kagak ada tuh pake pembantu untuk ngasuh anak, padahal beliau working mom kan, anak tujuh beliau urus sendiri, ngelahirin pun ga hiperbola, konon pas ngelahirin James, jam setengah satu malam diantar ke rumah sakit pake motor, satu jam kemudian James lahir, jelas beliau ga pake operasi-operasian, semua tujuh-tujuhnya lahir normal, ga kayak gw, anak satu aja dilahirin pake operasi, dengan alasan: ga kuat diinduksi, cemennya sejuta banget yeee? Ya, udah pastilah ya, gw rasa, beliau adalah salah seorang perempuan terkuat di dunia.
Selanjutnya, setelah perayaan ulang tahun itu, kita bertolak ke Bogor untuk ngerayain natal sama Mama Papa n jemaat GKRI BSB, ikutan natal sekolah minggu, trus ngebentuk choir dadakan untuk tampil di kebaktian malam natal tanggal 24 Desember. Seru bangetlah pastinya, bisa ketemu seluruh jemaat GKRI BSB. Natal di kampung halaman, ga ada yang bisa ngalahinlah, beda banget sama natal di Jepang yang ga gitu kerasa natalnya. Apalagi makanan yang disediakan jemaat malam itu, ajigileeee enaknya ampuuun, sampai saat ini kebayang terus siomaynya yang gede-gede banget itu, yummy maksimal itu mah. Setelah selesai ibadah di GKRI BSB, malam itu juga kita cabut lagi ke Jakarta, untuk ikut kebaktian natal keluarga di Rawa Sari. Sayangnya, kali ini yang datang ke Rawa Sari ga gitu banyak, jadi rada sepi, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tapi yang penting bisa silahturahmi dengan Inang dan Amang Rawasari, semoga mereka sehat terus ya Tuhaaaaan! Malam itu kita nginep di Jalan Putri, dan keesokan harinya tanggal 25 Desember, gw, J dan J dan Saur adiknya James bukannya ke gereja malah ke mall, kota kasablanka, wisata kuliner dan Joanna beli sepatu (ampuuuun dijeeee). Siangnya, kita silahturahmi ke rumah Amang Rani, ya masih satu wilayah di dekat jalan putri sih. Malamnya, kita ke Bandar Jakarta, penuh banget asli, tapi serulah rame-rame.
Tanggal 26-31 Desember, kita pergi liburan dengan keluarga James, ke Anyer, Puncak, Bandung. Asli ini serunya maksimal, semua menikmati, semua have fun. Papa Mamanya Martyna yang orang Polandia pun ikut dan kayaknya mereka enjoy banget bisa melihat gunung Krakatau dari dekat, kayaknya ini terkenal banget di Eropa yeeee. Anak-anak pun enjoy main bersama, Joanna, Kezia dan Karen bareng-bareng terus, padahal bahasanya beda-beda, tapi nyambung-nyambung aja, kerja mereka kan berenang melulu n main gadget, hahahaha.
Tanggal 31 Desember kita balik dari Bandung ke Jakarta, trus tutup tahun di Jakarta. Ya demi melestarikan tradisi batak, ga ada pergi-pergi pas malam tahun baru, semua di rumah untuk kebaktian bersama, trus ada acara mandok hata, cucu pun disuruh ngomong. Tanggal 1 Januari siang, setelah silahturahmi dengan sodara-sodara di Jakarta, kita bertolak ke Bogor, sorenya ketemu Ken Dedes, malamnya makan pizza hut sama keluarganya Pak Kaleb, trus selanjutnya, berhari-hari nginep di Bogor Baru, Joanna main sama Cleo dan Keio, trus Elos, Botas kita sambangin terus. Gw belanja lumayan banyak, pokoknya tetaplah ya kalo mau beli-beli, Elos is the best, diskon banyak, harga terjangkau, kualitas pun not bad. Gw luluran n facial, trus berhasil nonton Habibie dan Ainun, ohhh Reza Rahardian sungguh keren sekali!
Hari Sabtu, 5 Jan, kita balik lagi ke Jakarta, tepatnya ke Bekasi, mengunjungi Bang Henry dan keluarga yang baru pulang dari Medan.Trus, dari Bekasi kita ke five star untuk pijat refleksi, trus berakhir dengan makan di lapo.Hari Minggunya kita balik ke Bogor sebentar untuk ibadah di GKRI BSB, sekalian pamit-pamitan sama orang-orang GKRI BSB, trus langsung balik lagi ke Jakarta, ke mall ambasador dan kasablanka untuk tukar sepatu Joanna dan beli seprei, trus malamnya ke Epiwalk, makan bareng.
Senin pagi, 7 Jan, kita balik ke Bogor, ngabisin sisa liburan di Bogor, beli ini itu, dan tanggal 10 Jan, kita balik ke Osaka, hiks maksimal ini mah. Udahlah si Cleo nangis- nangisan pisah sama Jojo, belum lagi di airport si Mama nangis pisah sama Jojo, eh terakhir-terakhir Jojo nangis kenceng banget, udah di boarding room pun masih sesenggukan. Nih anak emang anti balik ke Osaka karena keenakan di Indonesia. Terutama karena dia udah kompak abisss sama sepupu-sepupunya baik dari pihak James maupun pihak gw. Dan Joanna itu cinta banget sama Obaachan, jadi berat abisss ninggalin Indonesia.
Gw sendiri ga nangis ketika meninggalkan Indonesia, tapi ohhh sesungguhnya dalam hati aku menangis piluuuu....yang paling rese dari pulang kampung adalah ketika kita harus balik lagi ke tanah perjuangan!
Dari hawa yang hangat bersahabat di Indonesia, begitu nginjekin kaki di Osaka, langsung kita disambut dengan dinginnya udara musim dingin. Seolah mengejek kita bertiga yang baru kembali dari dunia mimpi, lihatlaaaaaah...inilah realita kejam menanti : dunia dingin tak bersahabat. Yaaaaa bayangin aja deh bokkk, dari yang 30 derajat, tiba-tiba jadi 3 derajat, itu kan ekstrim banget ya bedanya? dari yang tiap hari ketemu banyak sodara, tau-tau tinggal bertiga lagi...itu kan ekstrim abis ya perubahannya?
Dan perubahan ekstrim ini, bener-bener membuat gw agak depresi. Mulailah galau ini itu, khawatir ini itu, serem ini itu. Ngerasa labil, ngerasa serem ga bisa lulus on time, ngerasa goblok kuliah ga pinter-pinter, ngerasa takut ntar lulus gw jadi pengangguran, ga ada satu pun universitas atau perusahaan yang mau nerima tenaga gw, terus akhirnya gw mikir, mungkin gw ada di Jepang untuk disadarkan tugas sesungguhnya yang harus gw emban, yaitu jadi ibu rumah tangga, mungkin gw kuliah S3 untuk tahu bahwa gw akan menjadi ibu rumah tangga. Bukannya gw ngehina IRT ya, ga sama sekali, tapi ini gw udah hopeless orang macam gw ga akan dapat kerjaan, jadi berdalih bahwa tugas utama gw ya jadi IRT. Gw takut banget sama penelitian, takut banget sama kehidupan, pokoknya takut abis sama segala-galanya. Dan makin gw nge-shock setelah mengetahui junior gw yang tadinya berencana melanjutkan studi S3, akhirnya mundur, ga jadi lanjutin, karena dia ngerasa, research itu bukan dunianya, plus April ntar dia mau nikah sama orang Jepang dan udah keterima kerja part time di perusahaan Jepang-Rusia (negara asalnya). Ya, emaaaaang, untuk setiap orang itu ada jalannya masing-masing, cuma galau aja gw jadi ga punya temen, dan kenyataannya adalah : cuma gw booook, satu-satunya murid S3 Prof gw, kagak ada temen, asli gw sendiri. Makinlah gw ngerasa kesepian, oh my God, gw ngerasa oon banget, masuk-masuk S3 gini padahal kemampuan ga ada, udah minder abislah gw, dan yang lebih ngeri lagi, gw jadi kehilangan pegangan, apa sebenarnya yang gw inginkan di masa depan? Jangan-jangan emang sebenarnya yang gw inginkan itu adalah ngantar anak les trus nungguin Joanna ngeles, sambil ngemil siomay or baso? Kalau emang ternyata bener itu yang gw inginkan, gw ngerasa rugi banget datang ke Jepang jauh-jauh gini. Kenapa ga nyadarnya itu pas masih di Indonesia aja? Kenapa baru mikir pengen nganter anak les itu sekarang?
Kok ya kayaknya hidup orang-orang itu enak banget, udah kerja, mapan, tenang, stabil? Sedang gw masih jahhhh di sini, ngais-ngais ilmu, mending juga gw jadi orang berilmu. Jadi nyesel gitulah, kenapa sih dulu ga langsung aja kerja di perusahaan Jepang, begitu lulus S1. Sekarang gw udah mapan, kali, dan ga perlu lagi capek-capek sekolah yang nguras otak gini. Ampuuun dijeeee kenapa gw nyusahin diri sendiri gini sih?
Terus-terusan gw larut dalam perasaan khawatir, akhirnya gw udah ga tahan lagi dengan so called depresi ini, akhirnya gw curhat sama Ibu Kazuko, itu tuh dosen pembimbing gw pas S2 di Indonesia, yang udah gw anggap kayak ibu sendiri. Beliau tuh ya, emang maksimal baiknya, maksimal bijaknya, dan maksimal berempatinya. Beliau ga banyak ngomong, dan dengan logis menuturkan, bahwa depresi gw ini berasal dari perubahan yang sangat ekstrim dari Indonesia yang cerah ceria secara cuaca dan lingkungan, menuju Jepang yang dingin amat sangat, baik secara fisik maupun mental. Apalagi tahun ini, Jepang emang dingin banget, dan emang antara cuaca dan psikologi manusia itu, konon berhubungan banget. Trus mengenai ketakutan gw kagak dapat kerjaan, beliau menenangkan hati gw, itu ngga apa-apa, ngga usah takut, dan ngga usah takut juga James ga dapat kerjaan (ini juga hal yang gw takutin banget), pasti akan tersedia pekerjaan untuk gw dan James. Selanjutnya, jitu banget ya ini, beliau menuliskan Matius 6, "Hal kekhawatiran". Gila, ini bener banget, asli ini mah gw bangetlah, yang khawatir melulu sama ini itu. Terakhirnya di ayat 33 dibilang, "carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, makan semuanya itu akan ditambahkan kepadamu". Trus beliau bilang, kapanpun perlu, silakan email saya, lewat skype pun kita bisa ngomong, silakan kontak kapan saja. Ihhhh gw udah mau nangis baca email itu. Kena banget tuh ke gw.
Trus gw mikirin terus perkataan beliau di email itu, gw hubungin sama kehidupan gw. Gw schock karena junior gw ga lanjutin S3. Tapi namanya orang, kan jalan hidup emang beda-beda? Dia ke Jepang, emang tujuannya biar bisa ke Jepang, tanpa ada niat mau nyerap ilmu lalu berbakti pada bangsanya kelak. Nah begitu dapat kerja dan dapat jodoh orang Jepang, ya ngapainlah dia nyengsarain diri dengan kuliah S3. Istilahnya, dia pakai sarana kuliah di Jepang itu untuk keluar dari negaranya. Sedangkan pada gw, kondisinya berbeda. Gw keluar dari negara gw untuk smentara, datang ke negara yang lebih maju dari negara gw, untuk nyerap ilmunya dan pulang lagi ke negara gw demi mencerdaskan kehidupan bangsa. Gila, bullshit banget yeeee, hari gini masih ngomong mencerdaskan kehidupan bangsa. Kali karena pengen sok2an mencerdaskan kehidupan bangsa, akhirnya malah sekarang diriku menjadi sengsara. Gimana mau mencerdaskan kehidupan bangsa kalo ilmunya ga cukup untuk dibagikan? Ya jadi orang berilmu kan ga gampang ya bok, shaolin aja perlu tempaan bertahun-tahun demi jadi seorang master kungfu.
Tapi biar bullshit kedengerannya, ya gimana atuh, itulah yang ada dalam otak gw. Saking udah hopelessnya gw sama dunia akademik ini, berkali-kali gw mencoba membayangkan diri gw jadi yang lain. Pekerja kantoran yang pake high heels, rapat sana sini, seorang event organizer, news caster, ibu rumah tangga yang punya usaha jualan cup cakes, ibu rumah tangga yang rumpi sana sini sambil makan siomay, wedding organizer, guru SD, kepala sekolah SD, ibu kost, pengusaha restoran, semua gw coba bayangkan, dan gw udah ikhlas kalo akhirnya gw kerja bukan di bidang akademik, tapi misalnya jadi wedding organizer, kalau ternyata itu emang yang Tuhan mau. Tapi juga, biar stress research gini, gw ga bisa boongin diri, bahwa the ultimate dream, biar gw bilangnya ga mungkin, gw udah ga suka research, gw ga mau jadi akademisi, dan sejenisnya....adalah, tetaplah di dasar hati terdalam, jika dikulik, yang berdiri di situ bukanlah Rouli yang lagi bikin cupcakes, bukan Rouli yang jadi penyiar, bukan Rouli yang newscaster....tapi Rouli yang dosen sastra Jepang di perguruan tinggi, bimbing mahasiswa, ngajar mahasiswa, ngerjain penelitian, presentasi di seminar, nyemangatin mahasiswa yang baru belajar bahasa Jepang untuk ikut lomba pidato....gw ga bisa bohong, bayangan itu yang muncul dalam benak gw.
Sejak usia 20 tahun, gw udah memimpikan hal ini, dan ini udah tahun ke-15 gw masih tertatih-tatih mendaki jalan untuk meraih impian gw. Entah berapa lama lagi waktu dibutuhkan, gw juga sebenarnya udah mulai kehilangan pegangan, tapi yang gw tahu, satu fase S3 ini emang harus gw selesaikan, gw ga bisa ambil jalan pintas dengan udahan kuliah, misalnya. Impian itu emang enak pas kita bayangkan, tapi ngejarnya itu ga enak, namanya juga impian, pastilah susah diraih. Giliran ga enaknya yang gw rasain, langsung gw berdalih bahwa ini bukan impian gw, ini bukan impian gw, padahal mah tetap aja ini impian gw, hanya gw ga suka sama bagian harus berusahanya. Ini kan ga bener ya?
Gw ga beharap muluk-muluk, gw hanya berharap agar selalu ada ketenangan batin dan kekuatan, untuk menyelesaikan apa yang telah dimulai, sesulit apapun itu. Semoga gw kuat. Selamat tahun baru 2013. All the best for 2013!
Friday, November 16, 2012
Aku kembali!
Gileeee lama banget ga ngeblog ya. Alasan kenapa ga ngeblog : 1. (Sok) sibuk. 2. Semua orang juga pada ga update blog, jadi gw ikut2an, kesannya keren kalo ga update, kan kesannya sibuk. 3. Kalo ngeblog setiap jam, takut dikira kurang kerjaan, ceritanya mau membentuk pencitraan gw rajin banget n sibuk banget belajar.....padahal sebenarnya....ya gw males sih, jujur aja. Tapi dari semua alasan itu, sebenernya gw ga ngeblog karena : gw males aja. Anti klimaks banget nih ya?
Tapi sekarang mau ngeblog dengan tenang pun kayaknya ga bisa nih, biasalah soalnya Joanna lagi melek, hahahaha. Akhir-akhir ini sih kehidupan cukup menyibukkan jiwa raga, dengan dua kerja sambilan dan deadline jurnal yang kurang dari satu bulan lagi, dan presentasi penelitian bulan depan. Ya intinya emang gw lagi tersita banget sih waktunya.
Trus biasa deh ya, bete-betean kan gw, karena ngerasa sibuk banget. Kesel banget ajalah, kok kayaknya ini kerjaan ga ada abis2nya. Terus gw tuh kesel sama kerja sambilan, karena ini menyita waktu cukup banyak. Bukan hanya waktu, fisik juga terkuras capek. Ya emang gw ini kayak ga tau bersyukur gitu ya. Giliran ga ada duit, minta duit, giliran ada jalannya dapet duit, ngejalaninnya sambil bete-bete gini, bukannya bersyukur.
Tapi terus, empat hari yang lalu, gw ketemu sama salah satu orang Indonesia di kampus. Sebut aja namanya A, dia itu ikut suaminya yang kuliah di sini, di kampus yang sama dengan gw. Trus kita ketemua karena si A minta bantuan gw untuk ngebacain surat dalam bahasa Jepang, karena dia ga bisa bahasa Jepang. Trus, setelah gw selesai nerjemahin isi suratnya, dia nanya-nanya sama gw, ada lowongan kerjaansambilan ga, dia pengen banget, kalau ada, kasih tau dia. Gw bilang, biasanya lowongan yang datang ke saya, ya kerjaan yang ada hubungannya dengan bahasa Jepang. Dia bilang, dia ga bisa bahasa Jepang dan saat ini, sedang kerja sambilan seminggu sekali, dari pagi sampai sore, bersih-bersih kantor NPO gitu. Gajihnya ternyata perjamnya jauh dengan yang gw dapat perjam. Dia bilang, dia pengen banget kerja sambilan biar bisa beli sedikit-sedikit apa yang dia inginkan.
Ya ampuuuun, gw denger cerita si A, ngerasa malu banget sama diri gw, kok ya gw ngga tau bersyukur amat. Ada orang, sesama orang Indonesia, nyari-nyari kerjaan sambilan, bahkan kerja bersih-bersih pun dia lakonin demi dapatin duit. Bukannya gw nganggep rendah kerja bersih-bersih, tapi point gw di sini adalah, gw udah dikasih enak, kerja yang sekali kerja itu hanya dua jam, trus yang satu itu bahkan tempatnya di dalam rumah, karena gw ngajar online, terus yang satu lagi, itu pun capek fisiknya hanya saat perjalanan, karena kerjaan gw itu, ke sekolah dasar, jadi penerjemah anak kelas 6 SD yang baru datang dari Indonesia bulan Juli kemarin. Itu pun satu kali datang, gw kerjanya hanya dua jam, dan upah yang gw dapat, bisa sama dengan si A yang kerjanya seharian, dari pagi sampai sore.
Denger cerita A, gw bener-bener ngerasa, gw ini orang yang ga tau diuntung, udah dikasih enak, tapi masih aja ngeluh. Trus gw itu suka kesel karena gw bisa bahasa Jepang trus apa-apa jadi gw semua yang ngerjain. Ihhh asli nih ya, gw emang harus dipejret banget pake ketapel. Orang mah berusaha supaya bisa bahasa Jepang, nah ini gw bisa bahasa Jepang malah sebel karena "gara-gara" bahasa Jepang ini gw jadi ga bisa hidup nyantai-nyantai. Ampuuuuun dijeeeee, udah ga tau bersyukur, alasan keselnya itu pun cetek banget, karena gw ga bisa hidup santai. Terus akhir2 ini juga gw lagi kesel karena gw udah capek berjuang-juang gini, maunya udahlah, gw punya duit banyak trus tiap hari shopping di mall, beli-beli barang mahal, liburan terus, makan dari kafe ke kafe, pokoknya bukan hidup yang research research research melulu melototin satu kata tanpa ada jaminan nih research kelak berguna ga sih untuk hidup gw kelak. Tapi, di hari yang sama juga, sebelum gw ketemu si A ini, gw dengerin kuliahnya Prof Gayatri Chakravorty Spivak, guru besar Univ Columbia Amrik, yang lagi datang ke Jepang, trus beliau kasih kuliah spesial di Osaka university. Di dalam dunia ilmu humanities, Spivak itu ngetop banget, apalagi untuk yang dalemin postcolonial studies, gender, subaltern studies. Harus satu postingan tersendiri nih untuk membahas Spivak, yang sebenarnya pasti ini topik membosankan untuk hampir semua orang (mungkin yang semangat hanya gw). Gila, itu kuliahnya bnr2 menstimulasi gw secara intelektual, ibarat orang jenuh pelayanan, trus ikut KKR, jadi terbakar semangat, hanya ini orang jenuh belajar, denger Spivak, jadi terangsang secara intelektual (maafkan ini bahasanya kok agak2 porno ya). Ibaratnya, kuliah Spivak itu kayak KKR intelektual-lah.
Satu kalimat beliau yang nyessss nancep di hati gw :
"Education calls for humility. I do not know, so I learn. I do not understand, so I ask."
Gilaaaaa, itu kan pergumulan gw banget tuh, yang ngerasa makin lama di sini kok ya makin oon, makin ga tau apa-apa, makin banyak ga ngertinya, trus jadi galau maksimal, kok otak gw kosong abissss?
Tapi mungkin, itu sebenarnya hakekat pendidikan. Bikin orang nyadar kalo dia oon, jadi nyari jawab atas segala pertanyaan yang berkecamuk di otaknya.
Trus setelah dengerin kuliah Spivak itu, gw ketemu orang Indonesia ini. Gw ngerasa malu banget, ga tau bersyukur. Gw dan si A sama-sama orang Indonesia, sama-sama ada di wilayah yang sama di Osaka, tapi gw sebenernya mendapatkan kemewahan-kenewahan yang belum tentu semua orang Indonesia bisa dapatkan. Pas ngasih kuliah, Spivak bilang, audience yang datang hari ini, mahasisswa2 pascasarjana di Osaka uni, salah satu universitas terbaik di Jepang, ga sembarang orang bisa kuliah di sini, jadi di Jepang, kita udah termasuk golongan elit cerdik cendekia (lepas dari beneran ga kita cerdik cendekia ya). Segitu tuh ceritanya kita golongan elit di Jepang, nah di antara golongan elit itu, gw berada. Gw kan orang Indonesia, kalau dilihat dari sabang sampai merauke, ditotal, berapa banyak orang Indonesia yang bisa kuliah di luar negeri? Di negara maju, dan di salah satu tempat terbaik di negara maju itu pula. Berarti, gw double elit kan (ini ga ada hubungan dengan masalah berapa banyak materi yang gw punya ya). Gw bener-bener malu sama diri sendiri, asli ini mah dibolak balik dari segala sisi, gw ga tau bersyukur, ga tau terima kasih.
Ya wajarlah ya research di sini susah, bikin stress, soalnya emang standar juga tinggi, kalau terbirit-birit, ya resiko, sekaligus harusnya jadi kebanggaan, nih gw lagi ngerjain sesuatu yang sulit, yang ngga semua orang di Indonesia bisa dapatin kesempatan kayak gini.
Intinya begitulah, apa yang dirasa sulit untuk gw, bisa jadi sebenarnya, itu sesuatu yang malah didamba-dambakan orang lain. Trus kalo udah gini gw masih aja marah-marah, kesel-kesel, gw rasa, gw dirajam orang sekampung pun bukan hal yang aneh. Dan, mungkin aja, di luar sana, ada orang yang pingin banget hidupnya kayak gw. Ya kali aja kan, ada, kita ga tau. Jadi lebih baik bersyukurlah, karena emang seharusnya begitu.
Hahahaha, ngakunya ga mau tulis panjang-panjang, jadi panjang juga nih postingan. Joanna lagi anteng soalnya, asyik ngelukis-lukis, jadi gw bisa ngeblog bentar. Oke udah ya, mau pergi untuk vaksin influenza nih. Guys, tinggalin komen dong, untuk bahan kita berdiskusi, cieeeee....
Tapi sekarang mau ngeblog dengan tenang pun kayaknya ga bisa nih, biasalah soalnya Joanna lagi melek, hahahaha. Akhir-akhir ini sih kehidupan cukup menyibukkan jiwa raga, dengan dua kerja sambilan dan deadline jurnal yang kurang dari satu bulan lagi, dan presentasi penelitian bulan depan. Ya intinya emang gw lagi tersita banget sih waktunya.
Trus biasa deh ya, bete-betean kan gw, karena ngerasa sibuk banget. Kesel banget ajalah, kok kayaknya ini kerjaan ga ada abis2nya. Terus gw tuh kesel sama kerja sambilan, karena ini menyita waktu cukup banyak. Bukan hanya waktu, fisik juga terkuras capek. Ya emang gw ini kayak ga tau bersyukur gitu ya. Giliran ga ada duit, minta duit, giliran ada jalannya dapet duit, ngejalaninnya sambil bete-bete gini, bukannya bersyukur.
Tapi terus, empat hari yang lalu, gw ketemu sama salah satu orang Indonesia di kampus. Sebut aja namanya A, dia itu ikut suaminya yang kuliah di sini, di kampus yang sama dengan gw. Trus kita ketemua karena si A minta bantuan gw untuk ngebacain surat dalam bahasa Jepang, karena dia ga bisa bahasa Jepang. Trus, setelah gw selesai nerjemahin isi suratnya, dia nanya-nanya sama gw, ada lowongan kerjaansambilan ga, dia pengen banget, kalau ada, kasih tau dia. Gw bilang, biasanya lowongan yang datang ke saya, ya kerjaan yang ada hubungannya dengan bahasa Jepang. Dia bilang, dia ga bisa bahasa Jepang dan saat ini, sedang kerja sambilan seminggu sekali, dari pagi sampai sore, bersih-bersih kantor NPO gitu. Gajihnya ternyata perjamnya jauh dengan yang gw dapat perjam. Dia bilang, dia pengen banget kerja sambilan biar bisa beli sedikit-sedikit apa yang dia inginkan.
Ya ampuuuun, gw denger cerita si A, ngerasa malu banget sama diri gw, kok ya gw ngga tau bersyukur amat. Ada orang, sesama orang Indonesia, nyari-nyari kerjaan sambilan, bahkan kerja bersih-bersih pun dia lakonin demi dapatin duit. Bukannya gw nganggep rendah kerja bersih-bersih, tapi point gw di sini adalah, gw udah dikasih enak, kerja yang sekali kerja itu hanya dua jam, trus yang satu itu bahkan tempatnya di dalam rumah, karena gw ngajar online, terus yang satu lagi, itu pun capek fisiknya hanya saat perjalanan, karena kerjaan gw itu, ke sekolah dasar, jadi penerjemah anak kelas 6 SD yang baru datang dari Indonesia bulan Juli kemarin. Itu pun satu kali datang, gw kerjanya hanya dua jam, dan upah yang gw dapat, bisa sama dengan si A yang kerjanya seharian, dari pagi sampai sore.
Denger cerita A, gw bener-bener ngerasa, gw ini orang yang ga tau diuntung, udah dikasih enak, tapi masih aja ngeluh. Trus gw itu suka kesel karena gw bisa bahasa Jepang trus apa-apa jadi gw semua yang ngerjain. Ihhh asli nih ya, gw emang harus dipejret banget pake ketapel. Orang mah berusaha supaya bisa bahasa Jepang, nah ini gw bisa bahasa Jepang malah sebel karena "gara-gara" bahasa Jepang ini gw jadi ga bisa hidup nyantai-nyantai. Ampuuuuun dijeeeee, udah ga tau bersyukur, alasan keselnya itu pun cetek banget, karena gw ga bisa hidup santai. Terus akhir2 ini juga gw lagi kesel karena gw udah capek berjuang-juang gini, maunya udahlah, gw punya duit banyak trus tiap hari shopping di mall, beli-beli barang mahal, liburan terus, makan dari kafe ke kafe, pokoknya bukan hidup yang research research research melulu melototin satu kata tanpa ada jaminan nih research kelak berguna ga sih untuk hidup gw kelak. Tapi, di hari yang sama juga, sebelum gw ketemu si A ini, gw dengerin kuliahnya Prof Gayatri Chakravorty Spivak, guru besar Univ Columbia Amrik, yang lagi datang ke Jepang, trus beliau kasih kuliah spesial di Osaka university. Di dalam dunia ilmu humanities, Spivak itu ngetop banget, apalagi untuk yang dalemin postcolonial studies, gender, subaltern studies. Harus satu postingan tersendiri nih untuk membahas Spivak, yang sebenarnya pasti ini topik membosankan untuk hampir semua orang (mungkin yang semangat hanya gw). Gila, itu kuliahnya bnr2 menstimulasi gw secara intelektual, ibarat orang jenuh pelayanan, trus ikut KKR, jadi terbakar semangat, hanya ini orang jenuh belajar, denger Spivak, jadi terangsang secara intelektual (maafkan ini bahasanya kok agak2 porno ya). Ibaratnya, kuliah Spivak itu kayak KKR intelektual-lah.
Satu kalimat beliau yang nyessss nancep di hati gw :
"Education calls for humility. I do not know, so I learn. I do not understand, so I ask."
Gilaaaaa, itu kan pergumulan gw banget tuh, yang ngerasa makin lama di sini kok ya makin oon, makin ga tau apa-apa, makin banyak ga ngertinya, trus jadi galau maksimal, kok otak gw kosong abissss?
Tapi mungkin, itu sebenarnya hakekat pendidikan. Bikin orang nyadar kalo dia oon, jadi nyari jawab atas segala pertanyaan yang berkecamuk di otaknya.
Trus setelah dengerin kuliah Spivak itu, gw ketemu orang Indonesia ini. Gw ngerasa malu banget, ga tau bersyukur. Gw dan si A sama-sama orang Indonesia, sama-sama ada di wilayah yang sama di Osaka, tapi gw sebenernya mendapatkan kemewahan-kenewahan yang belum tentu semua orang Indonesia bisa dapatkan. Pas ngasih kuliah, Spivak bilang, audience yang datang hari ini, mahasisswa2 pascasarjana di Osaka uni, salah satu universitas terbaik di Jepang, ga sembarang orang bisa kuliah di sini, jadi di Jepang, kita udah termasuk golongan elit cerdik cendekia (lepas dari beneran ga kita cerdik cendekia ya). Segitu tuh ceritanya kita golongan elit di Jepang, nah di antara golongan elit itu, gw berada. Gw kan orang Indonesia, kalau dilihat dari sabang sampai merauke, ditotal, berapa banyak orang Indonesia yang bisa kuliah di luar negeri? Di negara maju, dan di salah satu tempat terbaik di negara maju itu pula. Berarti, gw double elit kan (ini ga ada hubungan dengan masalah berapa banyak materi yang gw punya ya). Gw bener-bener malu sama diri sendiri, asli ini mah dibolak balik dari segala sisi, gw ga tau bersyukur, ga tau terima kasih.
Ya wajarlah ya research di sini susah, bikin stress, soalnya emang standar juga tinggi, kalau terbirit-birit, ya resiko, sekaligus harusnya jadi kebanggaan, nih gw lagi ngerjain sesuatu yang sulit, yang ngga semua orang di Indonesia bisa dapatin kesempatan kayak gini.
Intinya begitulah, apa yang dirasa sulit untuk gw, bisa jadi sebenarnya, itu sesuatu yang malah didamba-dambakan orang lain. Trus kalo udah gini gw masih aja marah-marah, kesel-kesel, gw rasa, gw dirajam orang sekampung pun bukan hal yang aneh. Dan, mungkin aja, di luar sana, ada orang yang pingin banget hidupnya kayak gw. Ya kali aja kan, ada, kita ga tau. Jadi lebih baik bersyukurlah, karena emang seharusnya begitu.
Hahahaha, ngakunya ga mau tulis panjang-panjang, jadi panjang juga nih postingan. Joanna lagi anteng soalnya, asyik ngelukis-lukis, jadi gw bisa ngeblog bentar. Oke udah ya, mau pergi untuk vaksin influenza nih. Guys, tinggalin komen dong, untuk bahan kita berdiskusi, cieeeee....
Wednesday, August 8, 2012
Enchi Fumiko
Pas ngerjain tesis S2 kemarin, udah nyesel setengah mampus kenapa sih gw milih Enchi Fumiko untuk gw teliti. Karya2nya suram, terus suka ga bisa ketangkep maknanya kalo cuma dibaca selewat2 gitu, dan dibaca dengan teliti pun tetap aja butuh waktu untuk memahaminya. Tapi belakangan, terutama setelah mulai bisa menganggap bahwa adalah wajar menghabiskan waktu seharian untuk meneliti, gw mulai merasa bersyukur, gw milih Enchi. Padahal mah, sebetulnya alasan gw milih beliau, itu semata2 karena karyanya pernah dibahas pas kuliah dan gw males mikir lagi (alasan tercetek sejagat raya).
Lama2 gw ngerasa, Enchi itu pas banget dengan yang gw harapkan. Akhir2 ini gw liat, karya2 sastra perempuan itu, banyak yang mengusung isu seksualitas perempuan. Cuma, sering kali penyajiannya terlalu vulgar, dan diumbar-umbar. Ya emang itu kebebasan orang berpendapat sih, tapi kalau berdasarkan selera gw, terus terang, rasanya males yang terlalu mengumbar seks gitu. Ini bukannya gw bilang karya sastra yang frontal mengedepankan isu seksualitas, berarti jelek lho, Lagi2 ini masalah selera, bukan masalah mutu ya.
Karya2 Enchi itu ngga mengumbar seksualitas, tapi lebih menekankan ke psikologi perempuan yang direpresi. Isi karya2nya emang suram super, tentang perempuan yang teropresi dalam rumah tangga, ga punya anak karena rahimnya diangkat, yang ga bahagia dengan perkawinannya. Pertama2 gw baca, ya ampun nih orang tega amat ya bikin cerita, kok perempuan dimarjinalkan sampai abis2an seperti ini? Bacanya aja miris.
Master piece Enchi adalah Onna Zaka (terjemahan bahasa Inggris : the waiting years) dan Onna Men (terjemahan bahasa inggris : the mask). Tapi sebenarnya selain dua ini, banyak karyanya yang dalem banget maknanya. Onna Zaka termasuk relatif mudah dimengerti dan bikin hati berdarah-darah bacanya. Dulu rasaan saya pernah juga nulis tentang Onna Zaka di blog ini, kalo ga salah pake judul bahasa Inggris "The Waiting Years". Untuk Onna Zaka, edisi bahasa Inggrisnya kalo ga salah ada di perpustakaan the Japan Foundation, gedung summitmas, Jl. Jendral Sudirman, Jakarta. Silakan ditengok, jika berminat.
Orang bilang, ga ada pertemuan yang kebetulan. Demikian juga pertemuan gw dengan Enchi Fumiko. Hidup Enchi juga inspiratif abis. Pertama2 mulai karir di dunia sastra dengan nulis drama pada umur 20an tahun, tapi trus pindah ke nulis novel, cerpen. Cuma beliau tetap aja ga ngetop2, ga diakui juga, mungkin karena bayang2 bapaknya yang Prof tersohor di Univ Tokyo, jadi Enchi ga dianggep sebagai satu pribadi mandiri. Menikah di usia 25 tahun, ga bahagia dengan pernikahannya, udah mikirin mau pisah tapi tetap bertahan karena ada anak. Trus pas jaman perang dunia dua, rumahnya kebakar, trus karena sakit, beliau dioperasi pengangkatan payudara dan rahim. Bisa bayangin ga nih? Tapi beliau tetap menulis meski udah ancur2an kayak gitu. Baru di usianya yang ke-49 tahun, beliau dapat penghargaan atas salah satu cerpennya (itu tahun 1953), dan sejak itulah nama beliau stabil di dunia sastra Jepang, dan terus berkarya sampai meninggal di usia 81 tahun.
Sumpah top sekalilah Enchi Fumiko ini. Kalau mau tau lebih banyak tentang beliau, sebagai pengantar, silakan liat http://en.wikipedia.org/wiki/Fumiko_Enchi Kalau bahasa Jepang, family name yang pertama, baru namanya, jadi kalau dalam bahasa Inggris, namanya ditulis Fumiko Enchi. Tapi kok gw lebih nyaman nyebutnya Enchi Fumiko ya? Lebih cocok aja gitu, hahahahaha.
Lama2 gw ngerasa, Enchi itu pas banget dengan yang gw harapkan. Akhir2 ini gw liat, karya2 sastra perempuan itu, banyak yang mengusung isu seksualitas perempuan. Cuma, sering kali penyajiannya terlalu vulgar, dan diumbar-umbar. Ya emang itu kebebasan orang berpendapat sih, tapi kalau berdasarkan selera gw, terus terang, rasanya males yang terlalu mengumbar seks gitu. Ini bukannya gw bilang karya sastra yang frontal mengedepankan isu seksualitas, berarti jelek lho, Lagi2 ini masalah selera, bukan masalah mutu ya.
Karya2 Enchi itu ngga mengumbar seksualitas, tapi lebih menekankan ke psikologi perempuan yang direpresi. Isi karya2nya emang suram super, tentang perempuan yang teropresi dalam rumah tangga, ga punya anak karena rahimnya diangkat, yang ga bahagia dengan perkawinannya. Pertama2 gw baca, ya ampun nih orang tega amat ya bikin cerita, kok perempuan dimarjinalkan sampai abis2an seperti ini? Bacanya aja miris.
Master piece Enchi adalah Onna Zaka (terjemahan bahasa Inggris : the waiting years) dan Onna Men (terjemahan bahasa inggris : the mask). Tapi sebenarnya selain dua ini, banyak karyanya yang dalem banget maknanya. Onna Zaka termasuk relatif mudah dimengerti dan bikin hati berdarah-darah bacanya. Dulu rasaan saya pernah juga nulis tentang Onna Zaka di blog ini, kalo ga salah pake judul bahasa Inggris "The Waiting Years". Untuk Onna Zaka, edisi bahasa Inggrisnya kalo ga salah ada di perpustakaan the Japan Foundation, gedung summitmas, Jl. Jendral Sudirman, Jakarta. Silakan ditengok, jika berminat.
Orang bilang, ga ada pertemuan yang kebetulan. Demikian juga pertemuan gw dengan Enchi Fumiko. Hidup Enchi juga inspiratif abis. Pertama2 mulai karir di dunia sastra dengan nulis drama pada umur 20an tahun, tapi trus pindah ke nulis novel, cerpen. Cuma beliau tetap aja ga ngetop2, ga diakui juga, mungkin karena bayang2 bapaknya yang Prof tersohor di Univ Tokyo, jadi Enchi ga dianggep sebagai satu pribadi mandiri. Menikah di usia 25 tahun, ga bahagia dengan pernikahannya, udah mikirin mau pisah tapi tetap bertahan karena ada anak. Trus pas jaman perang dunia dua, rumahnya kebakar, trus karena sakit, beliau dioperasi pengangkatan payudara dan rahim. Bisa bayangin ga nih? Tapi beliau tetap menulis meski udah ancur2an kayak gitu. Baru di usianya yang ke-49 tahun, beliau dapat penghargaan atas salah satu cerpennya (itu tahun 1953), dan sejak itulah nama beliau stabil di dunia sastra Jepang, dan terus berkarya sampai meninggal di usia 81 tahun.
Sumpah top sekalilah Enchi Fumiko ini. Kalau mau tau lebih banyak tentang beliau, sebagai pengantar, silakan liat http://en.wikipedia.org/wiki/Fumiko_Enchi Kalau bahasa Jepang, family name yang pertama, baru namanya, jadi kalau dalam bahasa Inggris, namanya ditulis Fumiko Enchi. Tapi kok gw lebih nyaman nyebutnya Enchi Fumiko ya? Lebih cocok aja gitu, hahahahaha.
Sekilas tentang studi S3
Bulan Agustus, load studi lagi berat2nya nih. Ya emang ga seberat tesis kemarin itu ya, tapi tetap aja tiap hari mesti mikir dan baca buku. Soalnya, akhir Agustus ntar, rencana mau presentasi penelitian di Thailand. Ini presentasi kecil2an doang, yang presentasi mahasiswa pascasarjana dari Osaka University dan Chulalongkorn University dan Thamasat University. Lha kok gw bisa ikut2an di sini?
Ya, soalnya di sini, kalo mau dapat ijin nulis disertasi, mesti presentasi dan ngirim tulisan ilmiah ke jurnal dulu. Ini yg biasa dilakuin di studi S3 tingkat 1 dan 2. Ntar tingkat 3, baru ngumpul2in tulisan ilmiah yang udah kita presentasikan, trus dilihat lagi yang kurang2nya, diramu, sampai akhirnya jadi disertasi. Jadi dari awal emang udah jadi persyaratan sih untuk nulis disertasi, harus ada presentasi ginian.
Benernya sih males ya, tapi kalau ga ada ketentuan seperti ini, emang mahasiswa ga bisa dikontrol, beneran ngerjain disertasinya atau ga. Coba aja misalnya masuk program S3, trus ya udah, dilepas gitu aja, tau2 udah tingkat 3,belum ngerjain apa2. Nah dengan adanya sistim kayak gini kan seengganya maksa mahasiswa untuk serius dari awal. Untuk makhluk tukang nunda macam gw, emang bagus sih ada sistem begini, jadi mau ga mau, gw "terpaksa" belajar tiap hari. Lagipula, kalo targetnya itu dibagi2 per-satu tulisan ilmiah kecil, bebannya jadi lumayan berkurang, dan di satu waktu kita bisa fokus hanya di satu bagian itu aja. Istilahnya, nyicil kerjaan dikit2 jadi ga kerasa begitu berat.
Tempat untuk presentasi ilmiah gini ada banyak, mulai dari yang kelas berat (isinya Prof semua), sampai yang kelas ringan, yang emang sengaja dibuat untuk mahasiswa pascasarjana yang baru belajar meneliti. Tentu aja gw milih kelas ringan dulu dong. Nah, yang di Thailand ini, termasuk kelas ringan. Sengaja gw untuk awal ini milih yang di luar negeri, maksudnya supaya ntar kelak kalau di Indonesia mesti cantumin CV, kan kalau pernah presentasi di negara lain selain Jepang (yang emang tempat studi), akan baik juga, mudah2an bisa jadi nilai tambah, apalagi ini bisa sekalian liat studi Jepang di Thailand itu dikelolanya kayak gimana, karena akan ada mahasiswa2 dari universitas di Thailand juga yang presentasi.
Kegalauan gw, ya ninggalin J dan J sih, apalagi James jadinya harus ngurus Joanna sendirian selama 6 hari. Emang ini programnya bukan presentasi penelitian aja, tapi juga ada tour dan workshop. Jujur sih, untuk wisata2 gitu, gw agak males ya, secara ga gitu kenal sama orang2nya, gw kan susah akrab sama orang baru, trus ga enak juga ntar gimana perasaan gw kalo bengong sendiri gitu. Takut ga bisa gabung sama orang2 lain sih. Tapi semua rangkaian acaranya mesti diikuti, ga bisa cuma presentasi aja trus kita pulang. Jadi, acaranya hari pertama wisata di pinggiran Bangkok (tapi gw udah nyampe malam sebelumnya karena hari pertama itu jadwalnya dari pagi), hari kedua presentasi penelitian, hari ketiga dan keempat workshop sampai malam. Pulang baru hari kelima, hari keempatnya nginep lagi semalam karena pesawatnya baru besoknya jam 11 siang. Ya mudah2an aja deh, gw ga ngerasa sendirian2 banget. Trus kebayang bakal kangen abis sama Joanna, bawaan pengen cepat2 pulang melulu. Makanya, gw ga minat deh extend2 untuk wisata pribadi gitu di Thailand. Entah ya, pas masih lajang sih, sendirian juga hayuuuuk dijabanin, sekarang mah kalo ga ada J dan J jadinya males. Mungkin gw udah berubah, tapi gw sekarang emang paling ngerasa nyaman ngapa2in kalo sama2 J dan J, sekalipun itu berarti bikin gw jadi ngikutin kemauan Joanna ya, kan ga bisa kita travelling semau2nya kalo ada anak kecil. Semoga aja selama gw di Thailand, semuanya aman, lancar, J dan J ga ada masalah, dan terutama, James dikasih kekuatan ngurus Joanna sendirian.
Selain Thailand, jurusan juga nyediain tempat untuk presentasi penelitian di dalam kampus. Ini juga mau gw cobain sih, gw liat2, yang bisa gw ikutin tuh ada dua. Lumayanlah ya. Dengan Thailand ini, udah dapat tiga presentasi. Trus, untuk jurnal ilmiah, yang Thailand ini juga akan keluar jurnal ilmiahnya, selain itu, jurnal dalam kampus juga mau gw coba, lagi-lagi ini karena standarnya ga gitu berat, untuk pemula. Udah gw liat sih, setidaknya ada 3 jurnal yang bisa dijadiin target masukin tulisan ilmiah. Untuk presentasi, selain Thailand dan di dalam kampus, kalau bisa, gw mau sekali presentasi di Indonesia, dan satu kali lagi, yang agak grande ya, seperti simposium ilmiah studi Jepang se-Asia Tenggara. Mudah2an bisa sih, tapi yang agak grande ini, ntar dulu, tunggu penelitian gw rampung kurang lebih 80 persen, ya di akhir studi sih maunya, jadi kalau mau presentasi juga, setidaknya udah ngelewatin presentasi tingkat ringan dulu, biar ada bekalnya dulu. Jujur, gw sih ga ngotot deh penelitian mesti outstanding, keren, dapat penghargaan, dll. Biar masalahnya sepele, yang penting original. Nyari originality emang susah, tapi ini tugas peneliti, harus ada originalitas dalam penelitian.
Sejak akhir Juli lalu, gw mulai dengan ngerjain makalah untuk tugas akhir kuliah, setelah itu beres, lanjut ngerjain penelitian, dan tadi baru bimbingan sama Prof. Meski banyak kurangnya, tapi Prof ngasih banyak insight yang cukup mencerahkan. Emang mesti tuh ya bimbingan itu, meski seram, tapi kalau ternyata setelahnya mendapatkan aufklarung alias enlightement alias pencerahan, segala usaha yang dikeluarkan untuk persiapan bimbingan, jadi terasa sepadan. Mudah2an kekejar deh ngerjain analisis yang mendalam, mengingat waktu presentasinya tinggal kurang dari 3 minggu, dan deadline resume itu tanggal 20 Agustus, berarti waktunya semakin sempit.
Waktu studi S2 kemarin, gw ngerasa tertekan abis, beban banget rasanya belajar, trus yang ada galau melulu. Hanya, setelah setahun kemarin stress ngerjain tesis, gw merasa mulai memetik hasilnya. Emang sih secara hasil nyata, itu tesis S2 asli kacang, pas sidang pun gw abis2an dikritik, tapi untuk gw pribadi, karena ngerjain tesis S2 itulah, gw jadi ngerasa bahwa belajar, baca buku tiap hari itu kewajaran dan emang harus berusaha lebih kalau mau maju mah. Akhirnya, liat teks berbahasa Jepang, gw sekarang bisa lebih tenang, meski ngga seluruhnya gw ngerti ya. Tapi setidaknya, secara mental lebih tenang, jadi mau belajar juga pikiran tenang. Kalo dulu sebelum ngerjain tesis S2 itu, bawaan tuh udah pikiran negatif terus, yang ngerasa susahlah, galaulah, yakin ga bisalah, minderlah, dll. Sekali lagi, bukannya trus gw brilian, hebat, outstanding. Sebenernya otak gw sih sama2 aja, hanya sikap mental dalam melihat sebuah masalah itu yang sedikit berubah, dan perubahan ini berdampak positif karena gw jadi ngerasa tenang dalam belajar. Sekarang itu, kalo ketemu masalah pas lagi meneliti, gw bisa nganggep itu sebagai kewajaran. Ya namanya lagi research, pasti ga bisa langsung kejawab semua. Trus, kalo baca karya ilmiah orang lain, mulai berusaha untuk mempertanyakan, ngga menelan semuanya begitu aja. Mudah2an deh, prinsip Rene Descartes (atau Francis Bacon ya? Gw lupa), yang bilang, "Cogito ergo sum" (Saya berpikir maka saya ada), bisa terinternalisasi dalam diri gw ya.
Pas stress ngerjain tesis S2 itu, gw udah mikir, mau udahan aja, ga lanjut ke S3, langsung balik aja ke Indonesia biar hidup gw santai. Tapi sekarang gw bersyukur, tetap lanjut. Meski resikonya banyak, ntar juga pulang belum tau juga nasib gw dan James gimana, terutama dalam hal pekerjaan, tapi sekarang gw yakin, bahwa gw ngambil keputusan yang benar. Gw rasa, gw harus menyelesaikan apa yang sudah gw mulai, trus kalo gw ga enak gitu sama J dan J karena mereka jadi ikut ke Jepang demi nemanin gw studi, ya sebagai ucapan terima kasihnya (meskipun ga cukup sih), gw mesti berusaha dalam studi ini dengan semaksimal mungkin dan ga galau2 mengasihani diri ga jelas. Mudah2an bisa ya.
Ke depannya, gw berharap bisa jadi researcher, bukan hanya sekedar dosen yang ngajar mahasiswa terus pulang tanpa ngerjain penelitian, tapi di tanah air, sepertinya profesi researcher masih kurang dihargai ya? Ya ngga tau juga sih, ntar jadinya gimana. Sekarang mending studi aja beresin, dan terus berharap dan percaya, bahwa Tuhan sudah menyediakan masa depan yang terbaik untuk gw dan keluarga.
Thursday, August 2, 2012
Kembali lagi!
Udah lama abissss nih ga nulis blog. Mudah-mudahan mulai sekarang bisa lebih rajin nulis, meski ga bisa terlalu sering juga karena banyak kesibukan lain yang cukup menyita waktu.
Tadi iseng-iseng liat statistik blog, huehehe...ternyata ada juga yang mampir ke blog ini. Kalau mau ninggalin komen, silakan ya, jangan sungkan-sungkan. Bukannya pingin banyak-banyak dikomentari, tapi kan kalau tau siapa-siapa aja yang baca, rasanya lebih seru. Ihhhh, kali itu yang mampir ga sengaja buka blog ini kali, trus langsung cabut? geer abis nih ya saya.
Okeeee, ntar saya nulis-nulis lagi. Udah subuh nih, karena tadi baru nulis satu notes, hal yang lama tidak saya kerjakan.
See you then!
Tadi iseng-iseng liat statistik blog, huehehe...ternyata ada juga yang mampir ke blog ini. Kalau mau ninggalin komen, silakan ya, jangan sungkan-sungkan. Bukannya pingin banyak-banyak dikomentari, tapi kan kalau tau siapa-siapa aja yang baca, rasanya lebih seru. Ihhhh, kali itu yang mampir ga sengaja buka blog ini kali, trus langsung cabut? geer abis nih ya saya.
Okeeee, ntar saya nulis-nulis lagi. Udah subuh nih, karena tadi baru nulis satu notes, hal yang lama tidak saya kerjakan.
See you then!
Subscribe to:
Posts (Atom)