Udah lama ga buka-buka blog, ga baca-baca blog juga. Ternyata, Achie udah mau sidang. Selamat ya Chie! Gw yang sidangnya tahun depan aja udah serem dari sekarang mikirin meja sidang. Jangankan sidang, serem gw mikirin mau defence tesis bulan depan.
Yoiiiiii, di jurusan gw, sebelum akhirnya maju sidang beneran, ada 4 kali defence. Defence 1 udah, bulan Maret kemarin. Defence 2, bulan depan. Defence 3, ntar bulan Oktober, dan defence 4, bulan desember. Trus sidang benerannya bulan Februari. Submit tesisnya awal januari, kalo ga submit ya ga bisa sidang dong. Dan, selang beberapa hari setelah sidang S2, ada ujian masuk S3. Lancarkan ya Tuhaaaaaan, jalanku ini.......
Dengan daftar defence2 kayak gitu, ya udah pastilah ya, setahun ini gw kerjanya ngerjain penelitian trus. Kalo siang2 di ruang penelitian, gw kadang suka mikir : what on earth I'm doing for? Gilaaa, ini bakal ada gunanya ga ya untuk masa depan gw nanti, satu kalimat dalam novel aja mesti gw telaah bener2. Belum tentu juga gw bakalan sukses kalo udah berhasil bikin nih tesis.
Trus, kemarin kan gw ikutan orientasi program pascasarjana yang mungkin akan gw masukin untuk studi S3 ntar. Gw emang lagi mikir mau pindah fakultas. Jurusan gw sekarang, cuma nyediain sampai jenjang S2. Mau masuk jurusan lain di fakultas yang sama, gw kayaknya ngerasa belum pas aja. Prof pembimbing gw yang ngasih tau kalo di fakultas lain, ada program yang lebih pas dengan apa yang ingin gw lakukan di masa depan. Katanya, kalo mau jadi pakar dalam pengajaran bahasa dan sastra jepang di negara sendiri, program di fakultas lain lebih cocok. Beliau juga jadi dosen di tempat ini. Belum tau sih ke depannya akhirnya milih yang mana, tapi kalo dengerin orientasinya kemarin, gw cukup sreg. Cuma ntar mesti diskusi lagi setelah prof pembimbing gw pulang dari sabatical-nya.
Satu perkataan yang kena banget pas gw ikut tuh orientasi. Ada satu profesor yang ngomong gini : Kenkyuu seikatsu wa hijoo ni kurakute, taihen na koto desu. Akarui seikatsu dewa arimasen. Mainichi seikoo dekiru ka doo ka wakaranai koto ni zutto isshoo kenmei ni yaru no wa, yappari shindoi desu. Oshietemoraitai hito wa wa, insei ni naranai de kudasai. Jibun de mitsukete, jibun de doryoku suru hito koso, insei ni muiteimasu.
(Kehidupan peneliti adalah kehidupan yang sangat gelap dan berat. Bukan kehidupan yang cerah. Setiap hari tekun mengerjakan hal yang belum tentu kita tahu akan sukses atau tidak, adalah hal yang sangat melelahkan. Orang yang ingin diajar, jangan jadi mahasiswa pascasarjana. Orang yang menemukan sesuatu sendiri, yang berusaha sendiri, cocok untuk jadi mahasiswa pascasarjana.)
Trus, si James kan lagi getol2nya belajar kanji tuh. Trus dia bilang sama gw : Eh, nih kanji 'kenkyuu' (penelitian), benar2 ngeri banget nih artinya. Terdiri dari dua karakter, ken dan kyuu. 'Ken' artinya : mengasah (migaku), yang dalam bahasa Inggris (grind) juga punya padanan arti mengerjakan suatu pekerjaan yang berat dan membosankan secara terus menerus. Sedang kanji 'kyuu', artinya seekstrim2nya, sedalam2nya sampai ngga bisa digali lagi. Gila, bener banget tuh ya, emang itulah gambaran dari arti kata 'penelitian' : mengasah sedalam2nya, mengerjakan pekerjaan yang berat dan membosankan dalam jangka waktu yang lama dengan ekstrim. Gila, tepat banget sumpah, itulah yang gw rasakan sekarang.
Bayangin aja, tiap hari ngerjain hal yang sama terus, otak mikiiir terus tiap hari, baca satu kalimat berulang2 sampai pusing. Hidup tuh beneran ngga santai deh jadinya. Dan ini bukan hanya perkara sebulan dua bulan, ini minimal setahun, sampai ntar lulus S2, dan kalo mau lanjut S3, ya tambah tiga tahun lagi, dan ini baru dasar ya bo. Selanjutnya, udah beneran jadi peneliti, ya menelitilah terus sampai selama2nya.
Tapi biar udah kesel2, tetap aja gw kerjain. Ya gimana, ini udah panggilan hidup gw soalnya. Biar otak katro, panggilan hidup gw emang jadi akademisi kan (atau itu sok2an gwnya aja yang ngerasa kayak gitu). Tapi gw rasa, biar otak minim, kalo masalah beneran mau jadi scholar mah, itu beneran murni kok impian gw. Sejak kuliah sastra jepang pertama kalinya, 15 tahun lalu, sampai hari ini, tetap impian gw adalah jadi scholar dalam bidang sastra jepang. Dan, kalaupun butuh waktu bertahun2 lagi untuk mencapainya, tetap impian gw adalah jadi scholar. Mungkin gw ngga bisa cepat jadi scholar karena gw ga jenius, ga brilian, tapi ketidakjeniusan gw membuat gw melihat banyak hal kan? Mulai dari kuliah D3 di UI, trus S1 di Unas, setahun japanese studies student di Kanazawa University, trus S2 di UI, trus jadi dosen tidak tetap di STBA LIA, trus setahun kenkyuusei di Osaka University, mau langsung S3 disuruh ulang S2 karena otak katro, akhirnya masuk lagi S2 di Osaka University, dan mudah2an deh ya, mohon doa restu....bisa lancar hingga jenjang S3 dan finally, berhasillah aku jadi scholar, amiiiiin.......
Coba aja nih ya, kalo gw brilian, pasti gw lulus UMPTN. Trus mungkin lulus 3,5 tahun, trus langsung keterima S2 di Jepang. Trus, setelah S2 di jepang, mungkin dapat beasiswa ke Amrik. Dan akhirnya, dalam usia di bawah 30 tahun, gw udah menggenggam gelar S3 dan udah jadi scholar hebat yang menerbitkan jurnal penelitian di mana-mana. Yaaaa....tapi kan itu kalo gw brilian, sedang kenyataannya adalah : gw ga brilian. I know, gw standar abis otaknya, I really know it.
Gw ga bilang orang2 brilian ga berjuang. Ngga. Orang2 brilian berjuang banget. Siapa aja yang mau sukses, pasti akan berjuang. Itu kalo mau kesuksesan sejati lho. Hanya, kalo ga brilian, bukan berarti kita ngga bisa sukses. Mungkin, butuh waktu lebih lama dari orang brilian, tapi waktu yang lebih lama pun, akan jadi pengalaman berharga tersendiri untuk kita.
Pada akhirnya, sekolah lagi saat udah punya anak, belagu2an S2 bahkan mau S3 di luar negeri, jauh dari keluarga dan handai taulan dan tanah air...itu semua hanya sebuah cara untuk menumpuk pengalaman kehidupan. Dan, saat ini gw lagi numpuk pengalaman. Gw ga tau ntar bakal jadi apa nih ya semua pengalaman gw, tapi satu hal yang gw tau, gw ngga salah menumpuk pengalaman hidup. Nyebelin atau ngga, disadari atau tidak, hanya dengan menumpuk pengalaman hidup, seseorang akan menjadi dewasa dan matang dalam menjalani kehidupannya. Untuk satu hal ini sih, gw haqul yakin.
What makes us a human? A story that we tell. Berbahagialah kita yang memiliki cerita untuk dibagikan.Sekonyol apapun itu.
Wednesday, June 15, 2011
Saturday, May 28, 2011
Satu puisi satu hari
Kalau orang bilang, sastra dapat membuat peka hati manusia, saya setuju. Soalnya, saya juga baru mengalaminya kemarin dulu. Seperti biasa, saya bangun di pagi hari, berdoa untuk memulai hari. Lalu tiba-tiba terpikir untuk membaca puisi karya Sapardi Djoko Damono, salah seorang penyair favorit saya. Saya baca di internet, puisi kesukaan saya yang berjudul "Aku ingin".
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
kepada hujan yang menjadikannya tiada
(Sapardi Djoko Damono)
Merinding ya bo baca nih puisi! Sapardi Djoko Damono berhasil menyingkap apa yang tersembunyi di dalam hati manusia banget deh.
Entah karena pengaruh ini puisi, entah karena apa, tapi pagi itu, saya pergi ke kampus tidak dengan tergesa-gesa, tapi lebih menikmati perjalanan saya yang biasanya ingin saya tempuh dengan segera itu. Dan saya sengaja berlama-lama sedikit di tepi danau kampus, yang selama ini selalu saya lewati tapi tidak pernah saya perhatikan. Ternyata, berdiam diri sebentar di tepi danau itu memberi ketenangan luar biasa. Setidaknya, sejenak bisa keluar dari hiruk pikuk kesibukan yang kerap kali menguras tenaga jiwa raga ini.
Berangkat dari pengalaman ini, saya mencanangkan gerakan "satu puisi satu hari" untuk saya. Ini adalah kegiatan membaca puisi di pagi hari, setelah berdoa memulai hari. Puisinya terserah, apa saja, yang memang lagi ingin saya baca, dan sumbernya dicari di internet. Kenapa saya pilih puisi, bukan novel atau cerpen, karena saya butuh bacaan yang ringkas tapi dalam makna. Waktu yang dibutuhkan tidak terlalu banyak, tapi karena dalam maknanya, maka saya akan memikirkan sendiri makna puisi tersebut. Dan, merenungkan arti kata-kata adalah kegiatan yang sangat bagus untuk mengasah kepekaan hati saya. Waktu saya terbatas, karena pagi-pagi, begitu anak dan suami saya bangun, akan dimulailah hari sibuk untuk saya, yang diawali dengan menyiapkan sarapan, mengurus keperluan anak sekolah, dan sebagainya. Bagaimana mungkin saya bisa menamatkan satu novel dengan waktu terbatas itu? Tapi, kalau puisi, dari segi waktu, sangat memungkinkan untuk dibaca dalam waktu singkat, sisanya kita tinggal mengendapkan kata-katanya di dalam pikiran, sampai akhirnya turun ke hati kita.
Terus terang saja, sejak anak saya lahir tanggal 16 Juni 2007, saya sudah jarang sekali membaca untuk kesenangan pribadi. Kalaupun saya membaca, itu karena tugas perkuliahan, berhubung saya kuliah di bidang sastra. Untuk kondisi saya sekarang ini, agak sulit untuk menamatkan novel dalam waktu singkat, tidak seperti ketika saya lajang dulu, di mana 24 jam penuh adalah milik saya dan novel pun bisa saya selesaikan dalam waktu singkat. Ketika kita sudah berkeluarga, banyak interupsi akan terjadi, entah itu interupsi anak yang tiba-tiba ngompol, suami yang bertanya kertas latihan paduan suaranya di mana, kewajiban untuk memasak karena sudah jamnya makan, dan sebagainya. Ini saya nyatakan bukan dalam arti negatif, tapi hanya membeberkan kenyataan bahwa jika sudah berkeluarga, namanya saja kita membagi hidup dengan orang lain, maka hidup yang tadinya hanya milik sendiri, menjadi terbagi dua, terbagi tiga, terbagi empat...tergantung jumlah anggota keluarga kita.
Untuk kondisi saya saat ini (ibu, istri, mahasiswa sok sibuk di tanah gambaru a.k.a Jepang), membaca novel tebal, bahkan cerpen singkat sekali pun, agak sulit untuk dilakukan. Waktu yang ada sudah termanfaatkan penuh untuk urusan perkuliahan, rumah tangga, kerja sambilan, dan tentu saja, ngeblog atau nulis notes. Tetapi, kalau puisi, rasanya masih bisa dilakukan, karena waktu yang perlu disediakan pun relatif singkat, tetapi segi humanisnya tetap sedalam ketika membaca novel, bahkan lebih dalam, tergantung dari karyanya.
Saya tidak muluk-muluk, cukup satu puisi satu hari, sebagai suplemen makanan jiwa saya.
Tiap hari kita bergerak di dalam rutinitas yang tidak jarang membuat kita kalang kabut karena merasa banyak sekali yang perlu diurus. Sering kali hal ini membuat kita kehilangan esensi dari hidup itu sendiri. Kita akhirnya hanya berakhir di penghujung hari sebagai budak rutinitas, tanpa memahami mengapa kita ada dalam rutinitas tersebut.
Saya rasa, salah satu kunci supaya kita tidak menjadi edan di jaman edan ini adalah, berusaha menjaga keseimbangan hidup. Memang ini yang paling sulit untuk dilakukan. Bertekun di dalam satu hal itu jauh lebih mudah daripada menaruh perhatian secara seimbang pada semua hal. Tetapi, keseimbangan itu yang membuat kita tetap dapat berdiri tegak, bukan? Jika tidak seimbang, jika berat sebelah, tubuh kita akan doyong, terpelecok, dan akhirnya jatuh.
Membaca satu puisi untuk satu hari, rasanya adalah salah satu cara yang tepat untuk saya menyeimbangkan jiwa, selain menulis blog/notes dan berdoa (rohani banget nihyeee?). Hari ini saya membaca puisi karya WS Rendra, berjudul "Jalan Sagan 9, Yogya". Saya pertama kali membaca puisi ini sekitar 7 tahun yang lalu, ketika kuliah di S2 Kajian Jepang UI, dalam keadaan masih lajang namun sudah memutuskan untuk hendak menikah dengan orang yang kelak akan menjadi teman hidup saya (berbelit-belit banget, James maksudnya, hahahaha). Ini bagian yang paling saya suka dari "Jalan Sagan 9, Yogya" :
Kekasihku,
ada saat-saat kita tak berdaya bukan oleh duka
tetapi kerna terharu semata.
Mengharukan dan menyenangkan
bahwa sementara kita tempuh hari-hari yang keras
sesuatu yang indah masih berada
tertinggal pada kita,
Sangat mendebarkan
menemukan satu bunga
yang dulu — telah lama
kitalah penanamnya.
(WS Rendra)
Satu puisi satu hari, demi keseimbangan jiwa raga dan menjaga diri tetap sadar, di tengah-tengah jaman yang menuntut mobilitas dan kecepatan bagi setiap penghuni yang bergerak di dalamnya.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
kepada hujan yang menjadikannya tiada
(Sapardi Djoko Damono)
Merinding ya bo baca nih puisi! Sapardi Djoko Damono berhasil menyingkap apa yang tersembunyi di dalam hati manusia banget deh.
Entah karena pengaruh ini puisi, entah karena apa, tapi pagi itu, saya pergi ke kampus tidak dengan tergesa-gesa, tapi lebih menikmati perjalanan saya yang biasanya ingin saya tempuh dengan segera itu. Dan saya sengaja berlama-lama sedikit di tepi danau kampus, yang selama ini selalu saya lewati tapi tidak pernah saya perhatikan. Ternyata, berdiam diri sebentar di tepi danau itu memberi ketenangan luar biasa. Setidaknya, sejenak bisa keluar dari hiruk pikuk kesibukan yang kerap kali menguras tenaga jiwa raga ini.
Berangkat dari pengalaman ini, saya mencanangkan gerakan "satu puisi satu hari" untuk saya. Ini adalah kegiatan membaca puisi di pagi hari, setelah berdoa memulai hari. Puisinya terserah, apa saja, yang memang lagi ingin saya baca, dan sumbernya dicari di internet. Kenapa saya pilih puisi, bukan novel atau cerpen, karena saya butuh bacaan yang ringkas tapi dalam makna. Waktu yang dibutuhkan tidak terlalu banyak, tapi karena dalam maknanya, maka saya akan memikirkan sendiri makna puisi tersebut. Dan, merenungkan arti kata-kata adalah kegiatan yang sangat bagus untuk mengasah kepekaan hati saya. Waktu saya terbatas, karena pagi-pagi, begitu anak dan suami saya bangun, akan dimulailah hari sibuk untuk saya, yang diawali dengan menyiapkan sarapan, mengurus keperluan anak sekolah, dan sebagainya. Bagaimana mungkin saya bisa menamatkan satu novel dengan waktu terbatas itu? Tapi, kalau puisi, dari segi waktu, sangat memungkinkan untuk dibaca dalam waktu singkat, sisanya kita tinggal mengendapkan kata-katanya di dalam pikiran, sampai akhirnya turun ke hati kita.
Terus terang saja, sejak anak saya lahir tanggal 16 Juni 2007, saya sudah jarang sekali membaca untuk kesenangan pribadi. Kalaupun saya membaca, itu karena tugas perkuliahan, berhubung saya kuliah di bidang sastra. Untuk kondisi saya sekarang ini, agak sulit untuk menamatkan novel dalam waktu singkat, tidak seperti ketika saya lajang dulu, di mana 24 jam penuh adalah milik saya dan novel pun bisa saya selesaikan dalam waktu singkat. Ketika kita sudah berkeluarga, banyak interupsi akan terjadi, entah itu interupsi anak yang tiba-tiba ngompol, suami yang bertanya kertas latihan paduan suaranya di mana, kewajiban untuk memasak karena sudah jamnya makan, dan sebagainya. Ini saya nyatakan bukan dalam arti negatif, tapi hanya membeberkan kenyataan bahwa jika sudah berkeluarga, namanya saja kita membagi hidup dengan orang lain, maka hidup yang tadinya hanya milik sendiri, menjadi terbagi dua, terbagi tiga, terbagi empat...tergantung jumlah anggota keluarga kita.
Untuk kondisi saya saat ini (ibu, istri, mahasiswa sok sibuk di tanah gambaru a.k.a Jepang), membaca novel tebal, bahkan cerpen singkat sekali pun, agak sulit untuk dilakukan. Waktu yang ada sudah termanfaatkan penuh untuk urusan perkuliahan, rumah tangga, kerja sambilan, dan tentu saja, ngeblog atau nulis notes. Tetapi, kalau puisi, rasanya masih bisa dilakukan, karena waktu yang perlu disediakan pun relatif singkat, tetapi segi humanisnya tetap sedalam ketika membaca novel, bahkan lebih dalam, tergantung dari karyanya.
Saya tidak muluk-muluk, cukup satu puisi satu hari, sebagai suplemen makanan jiwa saya.
Tiap hari kita bergerak di dalam rutinitas yang tidak jarang membuat kita kalang kabut karena merasa banyak sekali yang perlu diurus. Sering kali hal ini membuat kita kehilangan esensi dari hidup itu sendiri. Kita akhirnya hanya berakhir di penghujung hari sebagai budak rutinitas, tanpa memahami mengapa kita ada dalam rutinitas tersebut.
Saya rasa, salah satu kunci supaya kita tidak menjadi edan di jaman edan ini adalah, berusaha menjaga keseimbangan hidup. Memang ini yang paling sulit untuk dilakukan. Bertekun di dalam satu hal itu jauh lebih mudah daripada menaruh perhatian secara seimbang pada semua hal. Tetapi, keseimbangan itu yang membuat kita tetap dapat berdiri tegak, bukan? Jika tidak seimbang, jika berat sebelah, tubuh kita akan doyong, terpelecok, dan akhirnya jatuh.
Membaca satu puisi untuk satu hari, rasanya adalah salah satu cara yang tepat untuk saya menyeimbangkan jiwa, selain menulis blog/notes dan berdoa (rohani banget nihyeee?). Hari ini saya membaca puisi karya WS Rendra, berjudul "Jalan Sagan 9, Yogya". Saya pertama kali membaca puisi ini sekitar 7 tahun yang lalu, ketika kuliah di S2 Kajian Jepang UI, dalam keadaan masih lajang namun sudah memutuskan untuk hendak menikah dengan orang yang kelak akan menjadi teman hidup saya (berbelit-belit banget, James maksudnya, hahahaha). Ini bagian yang paling saya suka dari "Jalan Sagan 9, Yogya" :
Kekasihku,
ada saat-saat kita tak berdaya bukan oleh duka
tetapi kerna terharu semata.
Mengharukan dan menyenangkan
bahwa sementara kita tempuh hari-hari yang keras
sesuatu yang indah masih berada
tertinggal pada kita,
Sangat mendebarkan
menemukan satu bunga
yang dulu — telah lama
kitalah penanamnya.
(WS Rendra)
Satu puisi satu hari, demi keseimbangan jiwa raga dan menjaga diri tetap sadar, di tengah-tengah jaman yang menuntut mobilitas dan kecepatan bagi setiap penghuni yang bergerak di dalamnya.
Saturday, May 21, 2011
10 hari untuk 20 halaman
Seolah-olah gw kayak anak kelas satu SD yang baru belajar membaca ya, dibutuhkan waktu 10 hari untuk memahami 20 halaman. Pada kenyataannya, gw memang masih berada di tingkat dasar, bahkan play group, mungkin, dalam dunia akademik yang saat ini sedang gw tekuni. Ya, to say the truth, gw butuh 10 hari untuk memahami 20 halaman artikel ilmiah tulisan Gayatri Spivak.
Baiklah, baiklah, siapakah Spivak? Beliau memang bukan artis ibu kota, bukan juga penyanyi terkenal. Mungkin ngga banyak yang tahu siapa beliau, tapi kalau kita menekuni studi gender, postkolonial, culture studies...singkat cerita, ilmu humaniora, pasti akan ada satu saat di mana kita bersinggungan dengan beliau. Tentu saja melalui buku-buku dan artikel-artikel ilmiahnya yang OMG, susah banget untuk dipahami.
Gayatri Spivak itu scholar (ilmuwan dalam bidang humaniora) dari Amerika Serikat. Beliau orang India, dan profesor di Columbia University. Kayaknya kalo ngebahas karya-karyanya, ini notes pasti bakalan jadi topik yang sangat membosankan, kan ngga semua orang yang baca notes ini suka sastra atau humanities studies, jadi kita skip dulu deh ya bagian tersebut.
Mengapa akhirnya gw membaca artikel ilmiah karya beliau, ya itu tak lain dan tak bukan, karena tugas kuliah. Jadi ceritanya, semester ini gw ngambil mata kuliah "gender theories", isinya ya teori gender-lah. Trus, tiap minggu, satu orang mahasiswa disuruh presentasi dan mimpin diskusi. Kita dikasih bahan bacaan sama dosennya. Sumpah, kelas ini menarik banget (untuk gw), soalnya bahan bacaan yang dikasih adalah artikel-artikel ilmiah yang jadi inti untuk memahami studi gender. Trus kuliahnya diberikan dalam bahasa Inggris, bahan bacaannya juga dalam bahasa Inggris, dan dosen pengampunya juga half japanese, half american, jadi udah native speaker-lah itungannya, dalam bahasa Inggris. Emang gw pribadi, sengaja nyari kelas berbahasa inggris, karena gw pengen meningkatkan kemampuan bahasa inggris gw yang super katro ini. Dan, hampir semua buku-buku dan artikel ilmiah mengenai teori sastra, ditulis dalam bahasa Inggris, jadi mau ga mau deh ya, biarpun katro kemampuan Inggris gw, tetap aja ga bisa dihindari, untuk berhadapan dengan bahasa inggris.
Giliran gw untuk presentasi adalah hari Rabu kemarin (18 Mei), dan gw kebagian ngebahas artikelnya Spivak. Di awal perkuliahan, kita boleh milih mau bahas mana. Dengan sok tau, gw pilih Spivak. Kenapa? Karena, pas gw masih di Indonesia, gw pernah ikut seminar di FIB UI, tuh seminar tuh seminar skala internasional, soalnya ada speaker dari luar negeri segala, trus banyak banget pemakalah dari luar, dan semuanya tentu aja speaking speaking english all the time....nah, sebagai makhluk paling oon di tempat itu, tentu aja gw ngga ngerti apaan yang mereka bahas, gw cuma pura-pura ngerti dan pasang tampang penuh senyum aja, padahal dalam hati ngerasa banget terintimidasi karena ga ngerti apapun yang mereka semua, orang-orang pintar itu, perbincangkan. Satu nama yang gw inget sering banget dibahas di seminar itu adalah Gayatri Spivak dan Homi Baba. Dengan gobloknya gw ngira, Homi Baba itu temennya Ali baba, belakangan gw baru tau kalo beliau adalah scholar di bidang studi postkolonial, sama kayak Spivak. Jadi, ketika ada daftar artikel ilmiah yang harus dipresentasikan di kelas, gw pilih Spivak, dengan asumsi, ini orang happening banget dibahas di ranah humaniora Indonesia, jadi kalo ntar gw balik ke tanah air dan banyak orang speak speak Spivak, gw bisalah mungkin sedikit sok tau nimbrung dikit-dikit, bukan cuma pasang senyum palsu padahal dalam hati ingin tenggelam ditelan bumi.
Tapi mana gw tau, kalo ternyata Spivak itu nulis dengan bahasa yang sangat sulit dimengerti untuk mahasiswa tingkat kroco macam gw?
Ketika artikel ilmiah yang harus gw presentasikan itu dibagi di kelas, gw udah rada curiga, bahwa Spivak ini kayaknya bukan artikel main-main. Dari penampakannya aja udah mengerikan. karena berjumlah 20 halaman, sedang yang kemarin-kemarin itu, paling sekitar 10 halaman. Dan ketika gw mulai membaca tuh artikel, mulai deh ya, ketakutan dan kepanikan menjalar menyerang gw, soalnya gw ga ngerti apa-apa yang dibahas di artikel itu. Dan gw nyesel banget, kenapa dari semua artikel itu, gw milih Spivak. Kenapa gw ga pilih yang lain aja, yang bahasanya lebih sederhana-lah. Tapi nasi sudah menjadi bubur, dan satu-satunya cara untuk bertahan, adalah, membuat bagaimana supaya bubur pun bisa tetap enak untuk dimakan.
Belajar dari pengalaman gw tahun lalu pas presentasi di kuliah Shandeee yang berakhir dengan mengenaskan (gw dimarahin di depan kelas karena ngga bisa nyelesain presentasi gw sampai selesai, trus ga ngerti apa-apa yang gw presentasikan, sumpah, rasanya gw pengen banget lenyap dari kelas itu saat itu), gw sadar bahwa satu minggu ngga akan cukup untuk level gw, kalo mau memahami artikel ilmiah. Makanya, mulai dari liburan golden week (3, 4, 5 Mei), gw udah coba-coba curi-curi baca Spivak, tapi ga gitu efektif sih, karena itu hari libur dan kalo libur kan Joanna ada selalu setia bersama gw 24 jam full time. Jadi gw ikhlasin dulu ga baca Spivak, dan prioritasin baca buku dongeng anak-anak, hahahaha.
Akhirnya, mulai hari Senin, 9 Mei, gw bisa produktif baca Spivak. Hari Kamis, 12 Mei, gw berhasil menyelesaikan 20 halaman itu, dengan susah payah, tiga kali gw baca ulang. Begitu banyak pertanyaan, begitu banyak kalimat yang ngga gw ngerti. Trus yang bikin lebih repot lagi, Spivak suka banget pake istilah yang susah-susah, yang bikin gw mesti menelusuri arti kata itu. Satu kata aja butuh waktu kurang lebih satu jam, untuk menelusuri artinya. Hari Jumat, Sabtu, Minggu, gw pakai untuk meringkas tuh artikel, sekalian nulis interpretasi gw dan pertanyaan-pertanyaan gw. Untuk artikel ilmiah kayak gini, sepertinya gw butuh konfirmasi akan interpretasi gw, bener ngga pemahaman gw, sekalian bagian yang gw ga ngerti sama sekali juga mesti gw tanyakan. Gw nanya sama Prof Capo, lewat email. Beliau itu visiting professor di Osaka University tahun lalu, dan udah balik ke amrik. Tahun lalu gw ngambil kuliah beliau, tercerahkan banyak hal, dan emang orangnya juga baik banget, ga takut deh nanya sama beliau. Bisa dibilang, ini bagian terberat, 3 hari begadang, jumat, sabtu, minggu, untuk meringkas pemahaman dan pertanyaan-pertanyaan gw. Soalnya ini pake bahasa inggris ya bo. Hari Minggu malam, 15 Mei, gw pakai untuk tidur semalaman, karena udah 3 hari begadang, gw takut ntar malah drop, repot deh gw, paling sebel soalnya kalo sakit. Lagian, setelah Sabtu subuh gw kirim tuh pertanyaan-pertanyaan dan interpretasi gw, emang untuk sementara ga ada yang bisa gw lakukan, selain menunggu feedback dari Prof Capo.
Senin pagi, email gw udah dibalas, jadi tahap berikutnya adalah menyaring ulang dan ambil point-point penting untuk dibahas di presentasi, bikin resume dan alur presentasi. Setelah ngerasa putus asa berhari-hari membaca Spivak, gw benar-benar merasa dikuatkan karena Prof Capo bilang, pemahaman gw udah bener dan cukup close reading. Ini mendongkrak kepercayaan diri gw, bahwa gw bisa “menaklukkan” artikel ini dan memahami point-pointnya. Gw baca ulang sekali lagi, dan entah mengapa, sambil ngerjain resume dan alur presentasi, pas gw baca ulang lagi tuh artikel (udah kelima kalinya kali nih ya…), gw ngerasa tercerahkan dan bisa nangkap point-point penting dari artikel itu.
Akhirnya, segala hal yang berhubungan dengan artikel Spivak ini selesai Rabu subuh, 18 Mei, jam setengah tiga pagi. Jam sembilan pagi, setelah nganter Joanna ke daycare, gw ngga ngerjain Spivak lagi, karena gw mesti nyiapin materi kerja sambilan karena rabu malamnya gw ngajar online. Setelah makan siang, gw berangkat ke kampus, jam setengah dua, trus ngeprint dan fotokopi resume. Tau-tau udah jam setengah tiga aja, dan gw bersiap-siap masuk kelas, karena kelas gender theories ini mulainya jam 14.40. Sebelum masuk kelas, gw berdoa, biar presentasi berjalan lancar dan gw ngga keselipet lidah ngomong bahasa Inggris. Gw udah ngasih semua kemampuan gw mempelajari artikel Spivak, gw berterima kasih Tuhan tolong gw, dan gw minta Tuhan yang sempurnakan semuanya.
Sebenernya sih, kalo dibilang ngomong bahasa Inggris pun, ngga natural keluar dari mulut gw ya, karena semua yang mau gw bicarakan, udah gw tulis di kertas presentasi gw dan gw baca kertas tersebut. Sampai alur-alurnya pun gw tulis, abis ngomong ini, baca kutipan ini, halaman segini di resume yang gw bagiin ke seisi kelas. Gw belum bisa ngomong bahasa Inggris yang natural cas cis cus langsung keluar dari mulut gw gitu, soalnya yahhhhh emang harus diakui dengan besar hati, bahasa inggris gw tuh standar abis deh.
Presentasi berjalan lancar, dan ternyata, pemahaman gw akan tuh artikel Spivak, emang benar begitu adanya. Gila, gw seneng banget waktu prof bilang, “Very excellent presentation”. Bukannya gw gila pujian, tapi gw ngerasa kerja keras gw berbuah nyata, dan gw berhasil menang melawan diri sendiri, meski ini hanya sebuah kemenangan kecil.
Satu motivasi utama yang membuat gw ingin melanjutkan studi di Jepang adalah karena ketika di Indonesia gw bekerja sebagai dosen bahasa dan sastra Jepang di salah satu perguruan tinggi swasta, gw ngerasa ilmu gw cetek banget. Salah satu barometer yang bikin gw yakin bahwa gw emang masih sangat cetek dan bisa dibilang hampir ngga tau apa-apa, adalah, ketika mengikuti seminar internasional di FIB UI itu. Kalo ga salah, judul seminarnya “World literature”. Ya ampun, jujur aja, gw banyakan bengongnya selama seminar, trus galau setengah mati ngeliat begitu banyak orang pintar berseliweran di seminar itu. Banyak pemakalah di seminar itu yang umurnya masih muda, mungkin seumur gw, bahkan lebih muda, tapi ilmunya jago banget dan bahasa inggrisnya juga cas cis cus abis. Ketika melihat semua itu, di dalam keminderan ngga ngerti apa-apa, gw berjanji dalam hati, bahwa suatu hari nanti, gw juga akan bisa seperti orang-orang ini, jadi pemakalah, ikut serta dalam diskusi, dan jadi scholar dalam bidang humaniora. Mungkin untuk gw yang kemampuannya standar, butuh waktu lebih lama untuk bisa mencapai tahap jadi pemakalah, tulis jurnal ilmiah, dan akhirnya jadi scholar, tapi tidak apa-apa, asal gw sabar dan tetap tekun, suatu hari nanti, gw akan mencapai tahap itu.
10 hari, 20 halaman untuk memahami artikel Spivak yang berjudul “Three Women’s Texts and a Critique of Imperialism”. (Konon, ini katanya artikel basic Spivak. Gila, basic aja kayak gini, gimana yang intermediate dan advance ya?) Ini tahun ketiga gw di Jepang, dan to say the truth, ini adalah artikel ilmiah pertama yang bisa gw klaim, gw ngerti point-pointnya, dan gw bisa menceritakan ulang isinya. Rasanya, harus gw koreksi, bukan 10 hari 20 halaman untuk memahami Spivak. Mungkin lebih tepat jika dikatakan, 4,5 tahun untuk memahami Spivak (yang tingkat dasar). Dengan perincian : 2,5 tahun masa-masa studi S2 gw di Indonesia, 1 tahun masa studi research student di Jepang, 1 tahun masa studi master tahun pertama kemarin di Jepang. Setelah melewati puluhan artikel ilmiah yang ngga gw ngerti maksudnya.
Seorang anak playgroup pun, pada saatnya nanti, pasti akan bisa lulus universitas. Asal dia terus menerus bertekun dan sabar menuntut ilmu dan ngga nyerah. “Just do your best and let GOD work in it.” Ini sebuah kebenaran yang sangat indah dan menguatkan, bukan?
Baiklah, baiklah, siapakah Spivak? Beliau memang bukan artis ibu kota, bukan juga penyanyi terkenal. Mungkin ngga banyak yang tahu siapa beliau, tapi kalau kita menekuni studi gender, postkolonial, culture studies...singkat cerita, ilmu humaniora, pasti akan ada satu saat di mana kita bersinggungan dengan beliau. Tentu saja melalui buku-buku dan artikel-artikel ilmiahnya yang OMG, susah banget untuk dipahami.
Gayatri Spivak itu scholar (ilmuwan dalam bidang humaniora) dari Amerika Serikat. Beliau orang India, dan profesor di Columbia University. Kayaknya kalo ngebahas karya-karyanya, ini notes pasti bakalan jadi topik yang sangat membosankan, kan ngga semua orang yang baca notes ini suka sastra atau humanities studies, jadi kita skip dulu deh ya bagian tersebut.
Mengapa akhirnya gw membaca artikel ilmiah karya beliau, ya itu tak lain dan tak bukan, karena tugas kuliah. Jadi ceritanya, semester ini gw ngambil mata kuliah "gender theories", isinya ya teori gender-lah. Trus, tiap minggu, satu orang mahasiswa disuruh presentasi dan mimpin diskusi. Kita dikasih bahan bacaan sama dosennya. Sumpah, kelas ini menarik banget (untuk gw), soalnya bahan bacaan yang dikasih adalah artikel-artikel ilmiah yang jadi inti untuk memahami studi gender. Trus kuliahnya diberikan dalam bahasa Inggris, bahan bacaannya juga dalam bahasa Inggris, dan dosen pengampunya juga half japanese, half american, jadi udah native speaker-lah itungannya, dalam bahasa Inggris. Emang gw pribadi, sengaja nyari kelas berbahasa inggris, karena gw pengen meningkatkan kemampuan bahasa inggris gw yang super katro ini. Dan, hampir semua buku-buku dan artikel ilmiah mengenai teori sastra, ditulis dalam bahasa Inggris, jadi mau ga mau deh ya, biarpun katro kemampuan Inggris gw, tetap aja ga bisa dihindari, untuk berhadapan dengan bahasa inggris.
Giliran gw untuk presentasi adalah hari Rabu kemarin (18 Mei), dan gw kebagian ngebahas artikelnya Spivak. Di awal perkuliahan, kita boleh milih mau bahas mana. Dengan sok tau, gw pilih Spivak. Kenapa? Karena, pas gw masih di Indonesia, gw pernah ikut seminar di FIB UI, tuh seminar tuh seminar skala internasional, soalnya ada speaker dari luar negeri segala, trus banyak banget pemakalah dari luar, dan semuanya tentu aja speaking speaking english all the time....nah, sebagai makhluk paling oon di tempat itu, tentu aja gw ngga ngerti apaan yang mereka bahas, gw cuma pura-pura ngerti dan pasang tampang penuh senyum aja, padahal dalam hati ngerasa banget terintimidasi karena ga ngerti apapun yang mereka semua, orang-orang pintar itu, perbincangkan. Satu nama yang gw inget sering banget dibahas di seminar itu adalah Gayatri Spivak dan Homi Baba. Dengan gobloknya gw ngira, Homi Baba itu temennya Ali baba, belakangan gw baru tau kalo beliau adalah scholar di bidang studi postkolonial, sama kayak Spivak. Jadi, ketika ada daftar artikel ilmiah yang harus dipresentasikan di kelas, gw pilih Spivak, dengan asumsi, ini orang happening banget dibahas di ranah humaniora Indonesia, jadi kalo ntar gw balik ke tanah air dan banyak orang speak speak Spivak, gw bisalah mungkin sedikit sok tau nimbrung dikit-dikit, bukan cuma pasang senyum palsu padahal dalam hati ingin tenggelam ditelan bumi.
Tapi mana gw tau, kalo ternyata Spivak itu nulis dengan bahasa yang sangat sulit dimengerti untuk mahasiswa tingkat kroco macam gw?
Ketika artikel ilmiah yang harus gw presentasikan itu dibagi di kelas, gw udah rada curiga, bahwa Spivak ini kayaknya bukan artikel main-main. Dari penampakannya aja udah mengerikan. karena berjumlah 20 halaman, sedang yang kemarin-kemarin itu, paling sekitar 10 halaman. Dan ketika gw mulai membaca tuh artikel, mulai deh ya, ketakutan dan kepanikan menjalar menyerang gw, soalnya gw ga ngerti apa-apa yang dibahas di artikel itu. Dan gw nyesel banget, kenapa dari semua artikel itu, gw milih Spivak. Kenapa gw ga pilih yang lain aja, yang bahasanya lebih sederhana-lah. Tapi nasi sudah menjadi bubur, dan satu-satunya cara untuk bertahan, adalah, membuat bagaimana supaya bubur pun bisa tetap enak untuk dimakan.
Belajar dari pengalaman gw tahun lalu pas presentasi di kuliah Shandeee yang berakhir dengan mengenaskan (gw dimarahin di depan kelas karena ngga bisa nyelesain presentasi gw sampai selesai, trus ga ngerti apa-apa yang gw presentasikan, sumpah, rasanya gw pengen banget lenyap dari kelas itu saat itu), gw sadar bahwa satu minggu ngga akan cukup untuk level gw, kalo mau memahami artikel ilmiah. Makanya, mulai dari liburan golden week (3, 4, 5 Mei), gw udah coba-coba curi-curi baca Spivak, tapi ga gitu efektif sih, karena itu hari libur dan kalo libur kan Joanna ada selalu setia bersama gw 24 jam full time. Jadi gw ikhlasin dulu ga baca Spivak, dan prioritasin baca buku dongeng anak-anak, hahahaha.
Akhirnya, mulai hari Senin, 9 Mei, gw bisa produktif baca Spivak. Hari Kamis, 12 Mei, gw berhasil menyelesaikan 20 halaman itu, dengan susah payah, tiga kali gw baca ulang. Begitu banyak pertanyaan, begitu banyak kalimat yang ngga gw ngerti. Trus yang bikin lebih repot lagi, Spivak suka banget pake istilah yang susah-susah, yang bikin gw mesti menelusuri arti kata itu. Satu kata aja butuh waktu kurang lebih satu jam, untuk menelusuri artinya. Hari Jumat, Sabtu, Minggu, gw pakai untuk meringkas tuh artikel, sekalian nulis interpretasi gw dan pertanyaan-pertanyaan gw. Untuk artikel ilmiah kayak gini, sepertinya gw butuh konfirmasi akan interpretasi gw, bener ngga pemahaman gw, sekalian bagian yang gw ga ngerti sama sekali juga mesti gw tanyakan. Gw nanya sama Prof Capo, lewat email. Beliau itu visiting professor di Osaka University tahun lalu, dan udah balik ke amrik. Tahun lalu gw ngambil kuliah beliau, tercerahkan banyak hal, dan emang orangnya juga baik banget, ga takut deh nanya sama beliau. Bisa dibilang, ini bagian terberat, 3 hari begadang, jumat, sabtu, minggu, untuk meringkas pemahaman dan pertanyaan-pertanyaan gw. Soalnya ini pake bahasa inggris ya bo. Hari Minggu malam, 15 Mei, gw pakai untuk tidur semalaman, karena udah 3 hari begadang, gw takut ntar malah drop, repot deh gw, paling sebel soalnya kalo sakit. Lagian, setelah Sabtu subuh gw kirim tuh pertanyaan-pertanyaan dan interpretasi gw, emang untuk sementara ga ada yang bisa gw lakukan, selain menunggu feedback dari Prof Capo.
Senin pagi, email gw udah dibalas, jadi tahap berikutnya adalah menyaring ulang dan ambil point-point penting untuk dibahas di presentasi, bikin resume dan alur presentasi. Setelah ngerasa putus asa berhari-hari membaca Spivak, gw benar-benar merasa dikuatkan karena Prof Capo bilang, pemahaman gw udah bener dan cukup close reading. Ini mendongkrak kepercayaan diri gw, bahwa gw bisa “menaklukkan” artikel ini dan memahami point-pointnya. Gw baca ulang sekali lagi, dan entah mengapa, sambil ngerjain resume dan alur presentasi, pas gw baca ulang lagi tuh artikel (udah kelima kalinya kali nih ya…), gw ngerasa tercerahkan dan bisa nangkap point-point penting dari artikel itu.
Akhirnya, segala hal yang berhubungan dengan artikel Spivak ini selesai Rabu subuh, 18 Mei, jam setengah tiga pagi. Jam sembilan pagi, setelah nganter Joanna ke daycare, gw ngga ngerjain Spivak lagi, karena gw mesti nyiapin materi kerja sambilan karena rabu malamnya gw ngajar online. Setelah makan siang, gw berangkat ke kampus, jam setengah dua, trus ngeprint dan fotokopi resume. Tau-tau udah jam setengah tiga aja, dan gw bersiap-siap masuk kelas, karena kelas gender theories ini mulainya jam 14.40. Sebelum masuk kelas, gw berdoa, biar presentasi berjalan lancar dan gw ngga keselipet lidah ngomong bahasa Inggris. Gw udah ngasih semua kemampuan gw mempelajari artikel Spivak, gw berterima kasih Tuhan tolong gw, dan gw minta Tuhan yang sempurnakan semuanya.
Sebenernya sih, kalo dibilang ngomong bahasa Inggris pun, ngga natural keluar dari mulut gw ya, karena semua yang mau gw bicarakan, udah gw tulis di kertas presentasi gw dan gw baca kertas tersebut. Sampai alur-alurnya pun gw tulis, abis ngomong ini, baca kutipan ini, halaman segini di resume yang gw bagiin ke seisi kelas. Gw belum bisa ngomong bahasa Inggris yang natural cas cis cus langsung keluar dari mulut gw gitu, soalnya yahhhhh emang harus diakui dengan besar hati, bahasa inggris gw tuh standar abis deh.
Presentasi berjalan lancar, dan ternyata, pemahaman gw akan tuh artikel Spivak, emang benar begitu adanya. Gila, gw seneng banget waktu prof bilang, “Very excellent presentation”. Bukannya gw gila pujian, tapi gw ngerasa kerja keras gw berbuah nyata, dan gw berhasil menang melawan diri sendiri, meski ini hanya sebuah kemenangan kecil.
Satu motivasi utama yang membuat gw ingin melanjutkan studi di Jepang adalah karena ketika di Indonesia gw bekerja sebagai dosen bahasa dan sastra Jepang di salah satu perguruan tinggi swasta, gw ngerasa ilmu gw cetek banget. Salah satu barometer yang bikin gw yakin bahwa gw emang masih sangat cetek dan bisa dibilang hampir ngga tau apa-apa, adalah, ketika mengikuti seminar internasional di FIB UI itu. Kalo ga salah, judul seminarnya “World literature”. Ya ampun, jujur aja, gw banyakan bengongnya selama seminar, trus galau setengah mati ngeliat begitu banyak orang pintar berseliweran di seminar itu. Banyak pemakalah di seminar itu yang umurnya masih muda, mungkin seumur gw, bahkan lebih muda, tapi ilmunya jago banget dan bahasa inggrisnya juga cas cis cus abis. Ketika melihat semua itu, di dalam keminderan ngga ngerti apa-apa, gw berjanji dalam hati, bahwa suatu hari nanti, gw juga akan bisa seperti orang-orang ini, jadi pemakalah, ikut serta dalam diskusi, dan jadi scholar dalam bidang humaniora. Mungkin untuk gw yang kemampuannya standar, butuh waktu lebih lama untuk bisa mencapai tahap jadi pemakalah, tulis jurnal ilmiah, dan akhirnya jadi scholar, tapi tidak apa-apa, asal gw sabar dan tetap tekun, suatu hari nanti, gw akan mencapai tahap itu.
10 hari, 20 halaman untuk memahami artikel Spivak yang berjudul “Three Women’s Texts and a Critique of Imperialism”. (Konon, ini katanya artikel basic Spivak. Gila, basic aja kayak gini, gimana yang intermediate dan advance ya?) Ini tahun ketiga gw di Jepang, dan to say the truth, ini adalah artikel ilmiah pertama yang bisa gw klaim, gw ngerti point-pointnya, dan gw bisa menceritakan ulang isinya. Rasanya, harus gw koreksi, bukan 10 hari 20 halaman untuk memahami Spivak. Mungkin lebih tepat jika dikatakan, 4,5 tahun untuk memahami Spivak (yang tingkat dasar). Dengan perincian : 2,5 tahun masa-masa studi S2 gw di Indonesia, 1 tahun masa studi research student di Jepang, 1 tahun masa studi master tahun pertama kemarin di Jepang. Setelah melewati puluhan artikel ilmiah yang ngga gw ngerti maksudnya.
Seorang anak playgroup pun, pada saatnya nanti, pasti akan bisa lulus universitas. Asal dia terus menerus bertekun dan sabar menuntut ilmu dan ngga nyerah. “Just do your best and let GOD work in it.” Ini sebuah kebenaran yang sangat indah dan menguatkan, bukan?
Bedanya kuliah saat lajang dan sudah menikah
Orang bilang, masa-masa kuliah itu masa paling asyik, bebas, cihuy. Iya, itu benar sekali. Dengan satu syarat tambahan yang penting banget : "Jika kamu adalah mahasiswa lajang". Selama 33 tahun usia gw, gw udah ngerasain jadi mahasiswa lajang dan mahasiswa berkeluarga. Lebih ringan mana? To say the truth : enakan jadi mahasiswa lajang.
Oke, oke, emang kuliah itu ga gampang. Stress sama tugas, dikejar-kejar deadline makalah, iya banget, bikin otak jadi mumet. Belum lagi pusing mikirin penelitian, dan frustrasi karena ngerasa ga pinter-pinter. Gw rasa itu dialamin semua orang yang lagi menuntut ilmu.
Tapi nih yaaaa.....kalau kita masih lajang, satu hak istimewa yang kita miliki, yang tidak dimiliki orang yang udah berkeluarga, adalah : kebebasan untuk ngatur waktu dan jadwal semau kita sendiri. Hari ini mau begadang sampai pagi ngerjain tugas dan hari berikutnya balas dendam tidur hingga sore, dengan bebas kita bisa lakuin itu. Mau seharian nontonin acara TV, ga akan ada yang protes. Seharian di ruang penelitian, dan ngerjain penelitian hingga larut malam dan baru pulang ke rumah jam 12 malam, bahkan nginep di ruang penelitian pun, ngga ada masalah. Males masak dan mau delivery makanan restoran, tidak usah berpikir telalu panjang mengenai masalah keuangan. Saat liburan tiba, bisa dengan bebas meng-explore berbagai tempat wisata dengan biaya murah meriah dan melakukan hal-hal seru seperti tidur di kafe internet (yaelaaaaah...ini seru ya? ga ada yang lebih seru nih roul?).
Namun, begitu kita berkeluarga, segala keseruan-keseruan yang gw sebutkan di atas, tidak lagi dapat dilakukan. Ya, bukannya total tidak bisa dilakukan, tapi dengan jujur mesti kita akui, bahwa di titik kita memutuskan untuk berkeluarga, maka ada serangkaian tanggungjawab yang mengikutinya. Kita bisa-bisa aja kalo mau lepas dari tanggungjawab itu, dengan tetap bergaya hidup bebas ala lajang ibu kota, tapi ya itu semua kembali ke pribadi masing-masing. Terus terang aja, kalo gw, ngerasa bersalah kalo bersenang-senang sendirian tanpa melibatkan J dan J. Gw tau, gw tau, mungkin para feminis dan pejuang hak azasi perempuan akan bilang : ini kan hidup elu, elu berhak bersenang-senang, me time, dong, me time, bla bla bla......tapi tetap aja sih ya, menurut gw mah me time itu konsep yang nanggung banget. Kenapa? Soalnya, begitu waktu 'me time' beres, kita mesti balik lagi ke rutinitas sehari-hari. Tetap aja bebasnya ngga bisa ngalahin kebebasan para lajang. Untuk ini mah gw yakin 100 persen.
Satu hal yang gw rasain banget sebagai mahasiswa yang udah berkeluarga dan punya anak balita adalah, waktu kita untuk ngerjain kegiatan akademik benar-benar terbatas. Hanya di jam-jam Joanna ada di daycare, yang gw bisa benar-benar manfaatkan untuk belajar, ngikutin perkuliahan dan ngerjain tugas. Lewat dari jam-jam itu, maka gw kerjanya ngurus Joanna, masak, ngerjain kerjaan rumah tangga, kerja sambilan, dan beristirahat. Kalo udah ada anak di samping kita, lebih baik ga usah ngerjain hal-hal yang menuntut konsentrasi tinggi. Soalnya, ga akan beres, daripada sakit hati digrecokin anak, lebih baik ikhlasin aja, ga usah kerjain, dan kerjainlah hal-hal yang butuh konsentrasi tinggi ketika anak ngga bersama-sama dengan kita atau dia lagi tidur. Makanya kalo ada Joanna, selain gw ngurusin dia, gw ngisi waktu dengan ngerjain kerjaan rumah tangga, karena kegiatan ini hanya butuh tenaga fisik aja, ngga usah pake mikir.
Waktu awal-awal gw di Jepang, gw akui, gw stress banget. Stressnya itu adalah karena ngerasa terbudaki banget dengan perkuliahan dan ngurus rumah tangga. Gw ngerasa ga sanggup banget, pokoknya manja abis deh. Akhirnya di penghujung hari, gw cuma bisa nangis-nangis dan kesel banget sama keadaan. Dan sirik pangkat sejuta pada setiap mahasiswa di muka bumi ini yang menyandang predikat lajang. Ya, mereka punya perbedaan yang sangat signifikan dengan gw. Satu hari 24 jam, seluruhnya adalah milik mereka, sedangkan gw, 1 hari 24 jam, sebagian besar bukanlah milik gw, tapi milik Joanna. Setelah berlelah-lelah ria di kampus, mereka bisa pulang ke rumah dan tidur nyenyak kapanpun mereka mau, sedangkan gw, mau lelah kayak apapun juga, pulang ke rumah masih disibukkan dengan segudang kerjaan rumah dan pengasuhan anak. Kita kesampingkan dulu deh ya, kebahagiaan motherhood dan wifehood di sini. Pada kenyataannya, sebagai orang yang menjalani tiga peran dalam satu nyawa (ibu, istri, mahasiswa), gw berakhir di penghujung hari dengan keadaan exhausted.
Tapi seiring berjalannya waktu, dan sambil mengamati para mahasiswa (perempuan) yang juga udah berkeluarga dan kuliah lagi, maka gw menarik satu kesimpulan yang kayaknya mah mesti gw terapkan sebelum gw jadi gila beneran. Apaan tuh? Gampang diucapkan tapi sulit dilakukan. IKHLAS. Ya udahlah ya, daripada sirik-sirikan sama mahasiswa lajang, mending terima dulu kondisi bahwa gw udah menikah. Dan pertanyaan bottom line kedua yang ga kalah pentingnya adalah : kalo emang iya gw sirik banget sama mahasiswa yang masih lajang, apakah itu berarti gw mau menukar J dan J demi sebuah status lajang dan semua kebebasan yang terkandung di dalamnya? Untuk yang ini, gw yakin jawabannya : TIDAK. So......kalau yakin jawabannya tidak, ya udah, jalanilah kuliah sambil ngurus anak balita, kan emang ini keputusan yang gw buat dalam keadaan sadar?
Bertanggungjawab terhadap keputusan yang kita ambil memang bukan pekerjaan yang mudah. Itu menuntut daya tahan dan ketekunan untuk ngga dikit-dikit pengen berhenti, dikit-dikit pengen udahan. Lagi-lagi nih ya, jujur gw akui, ada saat-saat di mana gw udah bete banget kuliah (yaelaaaah padahal S2 aja belum beres), dan pengen udahan aja. Ada bangeeeeeet, banyak banget malah, saat-saat di mana gw males banget ngurus Joanna, males banget sama family things dan berharap banget bahwa gw masih lajang yang cukup hidup ngurusin diri gw sendiri aja tanpa mesti mikirin orang lain sama pentingnya kayak gw mikirin diri sendiri. Tapi terus gw mikir lagi. Saat-saat perkuliahan dengan materi yang seru, ngedapetin informasi baru, belajar banyak ilmu, adalah harta yang berharga banget untuk gw. Capek-capeknya ngurus Joanna, diimbangi dengan episode-episode mengharukan bersamanya. Bukankah hal yang sangat indah, bahwa meski gw nyebelin banget orangnya, tapi ada dua orang yang tetap aja mencintai gw dengan sepenuh hati mereka, yaitu J dan J?
Ngga bisa bangun siang semau-maunya gw, ngga bisa ngabisin weekend selain dengan acara wisata ke koen (taman)-perpustakaan-Mr. Donut, ngga bisa delivery makanan restoran kapan aja gw mau, ngga bisa diam di ruang penelitian sampai tengah malam......itu semua lebih dari layak, untuk ditukar dengan adanya J dan J di samping gw.
Hidup berkeluarga itu emang ngga gampang, tapi satu hal yang pasti : menjadi ibu dan istri sungguh akan mendewasakan gw, karena gw ditempa setiap hari untuk benar-benar belajar mencintai orang lain dalam keseharian. Dan bersusah payah untuk sebuah kedewasaan, memang sudah sewajarnya dilakukan oleh orang yang mau maju dalam hidupnya, bukan?
Oke, oke, emang kuliah itu ga gampang. Stress sama tugas, dikejar-kejar deadline makalah, iya banget, bikin otak jadi mumet. Belum lagi pusing mikirin penelitian, dan frustrasi karena ngerasa ga pinter-pinter. Gw rasa itu dialamin semua orang yang lagi menuntut ilmu.
Tapi nih yaaaa.....kalau kita masih lajang, satu hak istimewa yang kita miliki, yang tidak dimiliki orang yang udah berkeluarga, adalah : kebebasan untuk ngatur waktu dan jadwal semau kita sendiri. Hari ini mau begadang sampai pagi ngerjain tugas dan hari berikutnya balas dendam tidur hingga sore, dengan bebas kita bisa lakuin itu. Mau seharian nontonin acara TV, ga akan ada yang protes. Seharian di ruang penelitian, dan ngerjain penelitian hingga larut malam dan baru pulang ke rumah jam 12 malam, bahkan nginep di ruang penelitian pun, ngga ada masalah. Males masak dan mau delivery makanan restoran, tidak usah berpikir telalu panjang mengenai masalah keuangan. Saat liburan tiba, bisa dengan bebas meng-explore berbagai tempat wisata dengan biaya murah meriah dan melakukan hal-hal seru seperti tidur di kafe internet (yaelaaaaah...ini seru ya? ga ada yang lebih seru nih roul?).
Namun, begitu kita berkeluarga, segala keseruan-keseruan yang gw sebutkan di atas, tidak lagi dapat dilakukan. Ya, bukannya total tidak bisa dilakukan, tapi dengan jujur mesti kita akui, bahwa di titik kita memutuskan untuk berkeluarga, maka ada serangkaian tanggungjawab yang mengikutinya. Kita bisa-bisa aja kalo mau lepas dari tanggungjawab itu, dengan tetap bergaya hidup bebas ala lajang ibu kota, tapi ya itu semua kembali ke pribadi masing-masing. Terus terang aja, kalo gw, ngerasa bersalah kalo bersenang-senang sendirian tanpa melibatkan J dan J. Gw tau, gw tau, mungkin para feminis dan pejuang hak azasi perempuan akan bilang : ini kan hidup elu, elu berhak bersenang-senang, me time, dong, me time, bla bla bla......tapi tetap aja sih ya, menurut gw mah me time itu konsep yang nanggung banget. Kenapa? Soalnya, begitu waktu 'me time' beres, kita mesti balik lagi ke rutinitas sehari-hari. Tetap aja bebasnya ngga bisa ngalahin kebebasan para lajang. Untuk ini mah gw yakin 100 persen.
Satu hal yang gw rasain banget sebagai mahasiswa yang udah berkeluarga dan punya anak balita adalah, waktu kita untuk ngerjain kegiatan akademik benar-benar terbatas. Hanya di jam-jam Joanna ada di daycare, yang gw bisa benar-benar manfaatkan untuk belajar, ngikutin perkuliahan dan ngerjain tugas. Lewat dari jam-jam itu, maka gw kerjanya ngurus Joanna, masak, ngerjain kerjaan rumah tangga, kerja sambilan, dan beristirahat. Kalo udah ada anak di samping kita, lebih baik ga usah ngerjain hal-hal yang menuntut konsentrasi tinggi. Soalnya, ga akan beres, daripada sakit hati digrecokin anak, lebih baik ikhlasin aja, ga usah kerjain, dan kerjainlah hal-hal yang butuh konsentrasi tinggi ketika anak ngga bersama-sama dengan kita atau dia lagi tidur. Makanya kalo ada Joanna, selain gw ngurusin dia, gw ngisi waktu dengan ngerjain kerjaan rumah tangga, karena kegiatan ini hanya butuh tenaga fisik aja, ngga usah pake mikir.
Waktu awal-awal gw di Jepang, gw akui, gw stress banget. Stressnya itu adalah karena ngerasa terbudaki banget dengan perkuliahan dan ngurus rumah tangga. Gw ngerasa ga sanggup banget, pokoknya manja abis deh. Akhirnya di penghujung hari, gw cuma bisa nangis-nangis dan kesel banget sama keadaan. Dan sirik pangkat sejuta pada setiap mahasiswa di muka bumi ini yang menyandang predikat lajang. Ya, mereka punya perbedaan yang sangat signifikan dengan gw. Satu hari 24 jam, seluruhnya adalah milik mereka, sedangkan gw, 1 hari 24 jam, sebagian besar bukanlah milik gw, tapi milik Joanna. Setelah berlelah-lelah ria di kampus, mereka bisa pulang ke rumah dan tidur nyenyak kapanpun mereka mau, sedangkan gw, mau lelah kayak apapun juga, pulang ke rumah masih disibukkan dengan segudang kerjaan rumah dan pengasuhan anak. Kita kesampingkan dulu deh ya, kebahagiaan motherhood dan wifehood di sini. Pada kenyataannya, sebagai orang yang menjalani tiga peran dalam satu nyawa (ibu, istri, mahasiswa), gw berakhir di penghujung hari dengan keadaan exhausted.
Tapi seiring berjalannya waktu, dan sambil mengamati para mahasiswa (perempuan) yang juga udah berkeluarga dan kuliah lagi, maka gw menarik satu kesimpulan yang kayaknya mah mesti gw terapkan sebelum gw jadi gila beneran. Apaan tuh? Gampang diucapkan tapi sulit dilakukan. IKHLAS. Ya udahlah ya, daripada sirik-sirikan sama mahasiswa lajang, mending terima dulu kondisi bahwa gw udah menikah. Dan pertanyaan bottom line kedua yang ga kalah pentingnya adalah : kalo emang iya gw sirik banget sama mahasiswa yang masih lajang, apakah itu berarti gw mau menukar J dan J demi sebuah status lajang dan semua kebebasan yang terkandung di dalamnya? Untuk yang ini, gw yakin jawabannya : TIDAK. So......kalau yakin jawabannya tidak, ya udah, jalanilah kuliah sambil ngurus anak balita, kan emang ini keputusan yang gw buat dalam keadaan sadar?
Bertanggungjawab terhadap keputusan yang kita ambil memang bukan pekerjaan yang mudah. Itu menuntut daya tahan dan ketekunan untuk ngga dikit-dikit pengen berhenti, dikit-dikit pengen udahan. Lagi-lagi nih ya, jujur gw akui, ada saat-saat di mana gw udah bete banget kuliah (yaelaaaah padahal S2 aja belum beres), dan pengen udahan aja. Ada bangeeeeeet, banyak banget malah, saat-saat di mana gw males banget ngurus Joanna, males banget sama family things dan berharap banget bahwa gw masih lajang yang cukup hidup ngurusin diri gw sendiri aja tanpa mesti mikirin orang lain sama pentingnya kayak gw mikirin diri sendiri. Tapi terus gw mikir lagi. Saat-saat perkuliahan dengan materi yang seru, ngedapetin informasi baru, belajar banyak ilmu, adalah harta yang berharga banget untuk gw. Capek-capeknya ngurus Joanna, diimbangi dengan episode-episode mengharukan bersamanya. Bukankah hal yang sangat indah, bahwa meski gw nyebelin banget orangnya, tapi ada dua orang yang tetap aja mencintai gw dengan sepenuh hati mereka, yaitu J dan J?
Ngga bisa bangun siang semau-maunya gw, ngga bisa ngabisin weekend selain dengan acara wisata ke koen (taman)-perpustakaan-Mr. Donut, ngga bisa delivery makanan restoran kapan aja gw mau, ngga bisa diam di ruang penelitian sampai tengah malam......itu semua lebih dari layak, untuk ditukar dengan adanya J dan J di samping gw.
Hidup berkeluarga itu emang ngga gampang, tapi satu hal yang pasti : menjadi ibu dan istri sungguh akan mendewasakan gw, karena gw ditempa setiap hari untuk benar-benar belajar mencintai orang lain dalam keseharian. Dan bersusah payah untuk sebuah kedewasaan, memang sudah sewajarnya dilakukan oleh orang yang mau maju dalam hidupnya, bukan?
Tuesday, April 26, 2011
Kuliah di saat udah punya anak
Bukannya nganggep enteng para lajang yang lagi nuntut ilmu, tapi sebagai orang yang udah ngerasain kuliah ketika lajang dan kuliah ketika udah berkeluarga dan punya anak, jujur aja, gw merasa kuliah di saat masih lajang, jauh lebih mudah daripada kuliah ketika udah punya anak.
Gw tau, namanya manusia, mau itu lajang atau udah berkeluarga atau udah tua dan memutuskan ga mau berkeluarga sekalipun....semua pasti punya persoalannya masing-masing. Hanya, dari kacamata gw yang udah nyobain kuliah ketika lajang dan kuliah ketika udah punya anak, gw merasa kuliah dalam kondisi punya anak adalah jauuuuuh lebih berat daripada kuliah saat masih lajang dan belum punya anak.
Eh, btw, ga deh, gw juga pernah nyobain satu model perkuliahan lagi : kuliah dalam kondisi udah punya suami tapi belum punya anak. Nah, kalo udah punya suami tapi belum punya anak sih itungannya sama aja kayak masih lajang ya, ga kerasa berat ketika kuliah. Lalu, kenapa kuliah ketika udah punya anak itu terasa lebih berat?
Ya, well...karena begitu punya anak, kita udah ga bisa lagi hidup semau2nya diatur sama kita sendiri. Jujur, jadwal kita tuh yang ngatur anak. Terus mungkin orang bisa bilang, kan lu orangtua, atur dong anak lu....yaaaah, I wish, gw juga maunya gitu, tapi sama anak, kita ngga bisa gitu. Setelah hampir 4 tahun gw jadi ibu, gw mempelajari bahwa lebih baik kita yang ngikutin jadwal anak, daripada kita maksain jadwal kita ke anak, yang ada bete, perang urat syaraf dan jadinya berantem2an.
Sekarang aja Joanna udah nyaris 4 tahun, udah mulai mandiri. Pas masih newborn dan batita, adeuuuh, jangan tanya, repotnya ngurus Joanna. Okelah, Joanna emang menngemaskan dan lucu, tapi di balik kelucuannya, to say the truth, rese2nya juga banyak. Gw inget, pas dia masih newborn, kan dia pernah tuh sakit, trus rewel pol, semalaman ga mau lepas minum ASI dari nenen gw. Ehhhhh gwnya saat itu juga semaleman kena diare, jadi 5 menit sekali ke WC, puncaknya malah gw muntah. Gila, udah mau semaput gitu tuh ya gw, mana ada hak istirahat sih gw, yang ada gw harus terus nyusuin dia, sampe nangis2 kesel gw semalaman, ngerasa menderita dan terjajah banget. Tapi bayi 2 bulan macam joanna, mana ngerti sih?
Kalo orang bilang jadi orangtua tuh pekerjaan paling sulit di dunia, benarlah demikian adanya. Gw udah pernah jadi anak, jadi mahasiswa, jadi pengajar, jadi penerjemah, jadi istri....tapi hingga 33 tahun gw hidup, belum ada yang bisa ngalahin susahnya jadi orangtua.Menjadi orangtua tuh asli, kita ga bisa lagi mikirin diri kita sendiri, yang pertama harus kita pikirin adalah anak, bukan kita. Jauh2 deh udah egoisme diri, karena sejak anak lahir, pusat hidup kita adalah anak, bukan lagi orangtua. Bagi orangtua, anak selalu menjadi yang terutama, meski bagi anak, orangtua belum tentu menjadi yang terutama untuknya.
Setelah menjalani gimana rasanya kuliah dalam kondisi punya anak balita, gw makin ngerasain betapa jadi orangtua tuh emang ngga gampang. Thank God, Joanna bisa diterima masuk ke daycare, jadi dari pagi hingga sore, tiap senin sampai jumat, dia bisa gw taro di daycare sementara gw kuliah. Di saat dia di daycare selama 7 jam sehari, di saat itulah gw kerjain semua tugas kuliah, penelitian dan ikutan kuliah tatap muka, bimbingan sama prof. Di luar itu, gw sengaja ga kerjain yang berat2 karena fokus gw adalah ngurus joanna. Sabtu minggu, ga pernah gw ikut acara hura2 ala mahasiswa, party-party forget it deh, karena ya sabtu minggu, gw udah full urus anak. Mau ikut acara2 senang2 juga gwnya ngga sampai segitunya, ya ga tega juga sama Joanna, udah sepanjang hari di daycare, masa sabtu minggu gw tinggalin juga?
Dan ohya, satu lagi, kalo anak sakit, itu mah udah deh ya, asli kita ga akan bisa ngapa2in karena mesti jaga anak kita. Daycare juga ga bisa digunakan karena yang bisa dibawa ke daycare hanya anak yang sehat, kalo sakit ya mesti diam di rumah dijaga ortunya. Kayak kemarin dan hari ini nih, gw bener2 ga bisa ngapa2in, diem aja di rumah jagain joanna yang demam tinggi karena kena radang tenggorokan. Rewel2nya anak kalo lagi sakit, beuuuuuh ga akan ada yang bisa ngalahin, tapi ya namanya punya anak, diterima2 aja dengan lapang dada. Mending lepasin aja dulu semuanya, jangan idealis mau belajar, mau ini itu, mau kerjain penelitian. Kalo anak sakit, ikhlas aja stop semua kegiatan untuk jaga anak. Soalnya, kalo pengen segala2nya serba sempurna, yang ada malah kita capek ati sendiri, jadi lebih baik santai2 ajalah, jangan terlalu diambil pusing untuk hal-hal yang ga penting.
Setelah punya anak, satu hal yang gw pelajari banget adalah : gw belajar untuk ga meributkan hal-hal sepele. Hidup udah berat, lepas dari orangtua dan ngebangun keluarga sendiri itu bener2 sama aja artinya dengan nerjunin diri ke alam belantara real life, so....ga usahlah gw ribet dengan hal-hal sepele. Dan satu hal lagi yang gw pelajari, khususnya setelah dua tahun di jepang ini : gw boleh berjuang2, boleh niat gambaru dan sebagainya, tapi gw ga mau maksain harus gambaru kayak si A, B, C dan yang lain2nya. Gw akan berjuang dengan cara gw sendiri, pelan2, lambat2, yang penting di my own space. Gw ga mau maksain gw mesti punya waktu bebas sama kayak mahasiswa yang belum punya anak. Kondisinya aja udah beda, jadi ngapain gw mesti nyama2in diri?
But, after all these keribetan punya anak, still, dengan yakin gw bisa bilang : hidup gw jauh lebih lengkap dan bahagia setelah ada J dan J. Lebih berat, iya pasti, istilahnya mah, kehidupan gw saat lajang, asli enak banget dibanding sekarang, tapi kalo dari segi kualitas dan pengalaman hidup, dengan mantap gw bisa bilang : hidup gw jauh lebih berkualitas dan dalam maknanya setelah gw berkeluarga. Thank God!!!!
Gw tau, namanya manusia, mau itu lajang atau udah berkeluarga atau udah tua dan memutuskan ga mau berkeluarga sekalipun....semua pasti punya persoalannya masing-masing. Hanya, dari kacamata gw yang udah nyobain kuliah ketika lajang dan kuliah ketika udah punya anak, gw merasa kuliah dalam kondisi punya anak adalah jauuuuuh lebih berat daripada kuliah saat masih lajang dan belum punya anak.
Eh, btw, ga deh, gw juga pernah nyobain satu model perkuliahan lagi : kuliah dalam kondisi udah punya suami tapi belum punya anak. Nah, kalo udah punya suami tapi belum punya anak sih itungannya sama aja kayak masih lajang ya, ga kerasa berat ketika kuliah. Lalu, kenapa kuliah ketika udah punya anak itu terasa lebih berat?
Ya, well...karena begitu punya anak, kita udah ga bisa lagi hidup semau2nya diatur sama kita sendiri. Jujur, jadwal kita tuh yang ngatur anak. Terus mungkin orang bisa bilang, kan lu orangtua, atur dong anak lu....yaaaah, I wish, gw juga maunya gitu, tapi sama anak, kita ngga bisa gitu. Setelah hampir 4 tahun gw jadi ibu, gw mempelajari bahwa lebih baik kita yang ngikutin jadwal anak, daripada kita maksain jadwal kita ke anak, yang ada bete, perang urat syaraf dan jadinya berantem2an.
Sekarang aja Joanna udah nyaris 4 tahun, udah mulai mandiri. Pas masih newborn dan batita, adeuuuh, jangan tanya, repotnya ngurus Joanna. Okelah, Joanna emang menngemaskan dan lucu, tapi di balik kelucuannya, to say the truth, rese2nya juga banyak. Gw inget, pas dia masih newborn, kan dia pernah tuh sakit, trus rewel pol, semalaman ga mau lepas minum ASI dari nenen gw. Ehhhhh gwnya saat itu juga semaleman kena diare, jadi 5 menit sekali ke WC, puncaknya malah gw muntah. Gila, udah mau semaput gitu tuh ya gw, mana ada hak istirahat sih gw, yang ada gw harus terus nyusuin dia, sampe nangis2 kesel gw semalaman, ngerasa menderita dan terjajah banget. Tapi bayi 2 bulan macam joanna, mana ngerti sih?
Kalo orang bilang jadi orangtua tuh pekerjaan paling sulit di dunia, benarlah demikian adanya. Gw udah pernah jadi anak, jadi mahasiswa, jadi pengajar, jadi penerjemah, jadi istri....tapi hingga 33 tahun gw hidup, belum ada yang bisa ngalahin susahnya jadi orangtua.Menjadi orangtua tuh asli, kita ga bisa lagi mikirin diri kita sendiri, yang pertama harus kita pikirin adalah anak, bukan kita. Jauh2 deh udah egoisme diri, karena sejak anak lahir, pusat hidup kita adalah anak, bukan lagi orangtua. Bagi orangtua, anak selalu menjadi yang terutama, meski bagi anak, orangtua belum tentu menjadi yang terutama untuknya.
Setelah menjalani gimana rasanya kuliah dalam kondisi punya anak balita, gw makin ngerasain betapa jadi orangtua tuh emang ngga gampang. Thank God, Joanna bisa diterima masuk ke daycare, jadi dari pagi hingga sore, tiap senin sampai jumat, dia bisa gw taro di daycare sementara gw kuliah. Di saat dia di daycare selama 7 jam sehari, di saat itulah gw kerjain semua tugas kuliah, penelitian dan ikutan kuliah tatap muka, bimbingan sama prof. Di luar itu, gw sengaja ga kerjain yang berat2 karena fokus gw adalah ngurus joanna. Sabtu minggu, ga pernah gw ikut acara hura2 ala mahasiswa, party-party forget it deh, karena ya sabtu minggu, gw udah full urus anak. Mau ikut acara2 senang2 juga gwnya ngga sampai segitunya, ya ga tega juga sama Joanna, udah sepanjang hari di daycare, masa sabtu minggu gw tinggalin juga?
Dan ohya, satu lagi, kalo anak sakit, itu mah udah deh ya, asli kita ga akan bisa ngapa2in karena mesti jaga anak kita. Daycare juga ga bisa digunakan karena yang bisa dibawa ke daycare hanya anak yang sehat, kalo sakit ya mesti diam di rumah dijaga ortunya. Kayak kemarin dan hari ini nih, gw bener2 ga bisa ngapa2in, diem aja di rumah jagain joanna yang demam tinggi karena kena radang tenggorokan. Rewel2nya anak kalo lagi sakit, beuuuuuh ga akan ada yang bisa ngalahin, tapi ya namanya punya anak, diterima2 aja dengan lapang dada. Mending lepasin aja dulu semuanya, jangan idealis mau belajar, mau ini itu, mau kerjain penelitian. Kalo anak sakit, ikhlas aja stop semua kegiatan untuk jaga anak. Soalnya, kalo pengen segala2nya serba sempurna, yang ada malah kita capek ati sendiri, jadi lebih baik santai2 ajalah, jangan terlalu diambil pusing untuk hal-hal yang ga penting.
Setelah punya anak, satu hal yang gw pelajari banget adalah : gw belajar untuk ga meributkan hal-hal sepele. Hidup udah berat, lepas dari orangtua dan ngebangun keluarga sendiri itu bener2 sama aja artinya dengan nerjunin diri ke alam belantara real life, so....ga usahlah gw ribet dengan hal-hal sepele. Dan satu hal lagi yang gw pelajari, khususnya setelah dua tahun di jepang ini : gw boleh berjuang2, boleh niat gambaru dan sebagainya, tapi gw ga mau maksain harus gambaru kayak si A, B, C dan yang lain2nya. Gw akan berjuang dengan cara gw sendiri, pelan2, lambat2, yang penting di my own space. Gw ga mau maksain gw mesti punya waktu bebas sama kayak mahasiswa yang belum punya anak. Kondisinya aja udah beda, jadi ngapain gw mesti nyama2in diri?
But, after all these keribetan punya anak, still, dengan yakin gw bisa bilang : hidup gw jauh lebih lengkap dan bahagia setelah ada J dan J. Lebih berat, iya pasti, istilahnya mah, kehidupan gw saat lajang, asli enak banget dibanding sekarang, tapi kalo dari segi kualitas dan pengalaman hidup, dengan mantap gw bisa bilang : hidup gw jauh lebih berkualitas dan dalam maknanya setelah gw berkeluarga. Thank God!!!!
Sunday, April 24, 2011
Happy easter!
Happy easter 2011! hmmmm...paskah yang aneh. Joanna demam tinggi di gereja cobaaaaa.....akhirnya ga jadi ikut sunday school presentation dan ga ikut nyari telor paskah. Lemas to the maks judulnya!Pagi-pagi sebenarnya gelagatnya udah rada mencurigakan, tapi pas diukur suhu, ga demam, akhirnya tetap dibawa ke gereja, ternyata begitu sampai di stasiun dekat gereja tuh, dia mulai ngeluh, shindoi, shindoi...(artinya : capek, capek....)
Akhirnya setelah ngasih telor paskah yang udah gw rebus dan minta tolong guru sekolah minggu lain untuk gantiin gw mimpin acara kuis sekolah minggu, gw ikutan kebaktian di lantai bawah karena Joanna rewel banget ga mau ditinggal sedikit pun. Joanna tidur terus sepanjang ibadah, bangun bentar, trus tidur lagi, lemes banget deh pokoknya. Setelah James selesai latihan musik (abis ibadah), kita buru-buru aja pulang, tapi makan siang dulu karena lemes banget juga, berhubung harus isi bensin juga nih untuk ngangkut Joanna yang ga kuat jalan karena demam. Di jalan dia tidur, di kereta juga, sampai rumah diukur suhu, ternyata 39 derajat celsius. Asli demam ini mah. Setelah dikasih obat penurun panas, sekarang dia tidur. Ga tau deh nih ya, tau-tau aja nih anak demam, padahal kemarin masih sehat tuh. Belum tau sih nih anak sakit apa, mudah2an hanya kecapean aja, kalo masih demam2 juga berkepanjangan, besok mau bawa ke dokter rencananya.
Tapiiiii, demam atau ngga, sakit atau sehat, tetap aja HE lives! You ask me how I know He lives...He lives within my heart!!! Happy easter!!!
Akhirnya setelah ngasih telor paskah yang udah gw rebus dan minta tolong guru sekolah minggu lain untuk gantiin gw mimpin acara kuis sekolah minggu, gw ikutan kebaktian di lantai bawah karena Joanna rewel banget ga mau ditinggal sedikit pun. Joanna tidur terus sepanjang ibadah, bangun bentar, trus tidur lagi, lemes banget deh pokoknya. Setelah James selesai latihan musik (abis ibadah), kita buru-buru aja pulang, tapi makan siang dulu karena lemes banget juga, berhubung harus isi bensin juga nih untuk ngangkut Joanna yang ga kuat jalan karena demam. Di jalan dia tidur, di kereta juga, sampai rumah diukur suhu, ternyata 39 derajat celsius. Asli demam ini mah. Setelah dikasih obat penurun panas, sekarang dia tidur. Ga tau deh nih ya, tau-tau aja nih anak demam, padahal kemarin masih sehat tuh. Belum tau sih nih anak sakit apa, mudah2an hanya kecapean aja, kalo masih demam2 juga berkepanjangan, besok mau bawa ke dokter rencananya.
Tapiiiii, demam atau ngga, sakit atau sehat, tetap aja HE lives! You ask me how I know He lives...He lives within my heart!!! Happy easter!!!
Thursday, April 21, 2011
speed up
Setelah kemarin pagi jam setengah empat ngirim tuh rencana penelitian ke email prof, kemarin siang sekitar jam satu, udah ada balasan dari beliau. Biar suka nyuruh gambaru-gambaru ala tentara, gw bersyukur banget ngedapetin pembimbing kayak prof gw, yang cepat tanggap selalu kalau dimintai bantuan.
Sebenarnya sih dengan yang penelitian sekarang, gw udah bisa jalan, udah disetujui. Sekarang masuk bagian paling penting, yaitu analisis. Ini butuh waktu lama nih pastinya. Sedang waktu yang gw punya ga banyak kan, tahun depan bulan februari udah harus sidang, dan bulan januari awal, udah harus masukin tesis ke tata usaha kampus dan prof penguji. Di sini emang deadline2 akademik udah dikasih tau di awal tahun ajaran, dan harus dipenuhi, kalo ga dipenuhi, ya lulusnya ditunda setahun lagi. Di sini sidang tesis pun hanya setahun sekali, yaitu bulan februari itu, ga bisa ada beberapa kali sidang dalam setahun. Tapi btw, tesis di sini ternyata ngga kayak di Indonesia yang ada halaman ucapan terima kasih. Di sini mah langsung aja halaman pertama abstrak, hahahaha. Padahal gw tadinya udah mau lebay tuh bilang2 terima kasih ke semua orang (tsaaaah...). Ya, Jepang emang kayaknya anti banget nih mengumbar-umbar perasaan, pokoknya berjuang deh lu, kan berjuang itu sebuah kewajaran, doh! Dan, ternyata juga, di sini ga ada hard cover2an, depannya juga ga ada logo kampus, pokoknya kalo diliat sekilas, ga menarik banget, jilidnya aja soft cover warna kuning muda gitu, trus depannya ditempelin kertas dengan tulisan tangan bahwa ini tesis (form-nya dari tata usaha kampus). Kalo ngejilid dan copy tesisnya sih gratis, ada satu ruang khusus untuk urusan itu, hanya yang ngerjain kita sendiri emang, pihak kampus hanya menyediakan peralatannya. Di sini kan apa2 mahal ya, jadi sebisa mungkin biaya ditekan, yang penting efisien, sehingga kayak tesis aja, ga ada hard cover2an, semuanya soft cover. Emang lebih enteng sih, meski penampakannya ngga keren.
Trus, prof menyayangkan gw karena libur musim semi kemarin ngga ada kemajuan penelitian (ohyeeee gw nyantai2 terus soalnya), tapi kata beliau, mulai sekarang mesti nge-speed up ngerjain penelitiannya, sehingga pas libur musim panas, udah mulai bisa nulis. Buset, gw ngerasa kayak tentara disuruh maju ke medan perang. Emang di sini kayaknya haram banget gitu ya, nyantai lama-lama, pokoknya di jepang tuh paling haram malas-malasan deh, itu kayaknya ngga boleh banget di sini. Liburan ya cukup weekend aja, ngga usah sebulan penuh kayak gw, hahahahhaha. Tadinya gw sempat mikir, mau pulang ke Indonesia bulan agustus, tapi akhirnya gw urungkan niat gw, ga berani pulang gw sampai tesis beres, soalnya kalo dari email beliau mah, jelas-jelas beliau mengharuskan liburan musim panas ini gw manfaatkan untuk ngerjain penelitian, bukannya pulang kampung! Ya udah deh gw ga jadi pulkam dulu, nyolot banget soalnya, udah otak standar, penelitian belum rampung, pake sok2 pulang segala pula. Lama-lama bakal dikirain, nih anak niat ga sih kuliah? kok kerjanya nyantai dan pulkam melulu, manja banget.
Ya udah nih ya, ga ada pilihan, mesti speed up ngerjain penelitian, tiap hari datang ke kampus untuk belajar. Beneran, gw datang ke jepang, ngerasa banget bahwa di sini, kerja keras tuh udah it's a must, dan kerja keras tuh bukan sebuah prestasi, tapi emang sebuah keharusan kalo mau bertahan hidup. Di sini, ngga hebat sama sekali kalo seseorang kerja keras, karena emang dianggapnya, semua orang ya mesti kerja keras kalo mau ngejalanin hidup. Ga hiperbola kalo gw bilang, di sini HARAM hukumnya kalo nyantai-nyantai!
Jujur, sejak datang ke jepang, gw ngerasa kayak masuk camp gambaru, kayak dulu tentara Nazi masukin orang-orang Yahudi ke camp untuk kerja rodi gitu. Ya, ngga sesadis itu tentu, tapi secara abstrak, filosofinya kayak gitu, serasa hidup di dunia militer gambaru gitu deh, spartan banget, hahahahaha. Manja dan cengeng dan melow emang udah haram banget kayaknya di sini ya, pokoknya jangan ngaku diri lu manusia deh kalo lu ga mau gambaru. Doh, segitunya deh nih jepang, yo wis-lah, ala dorama jepang : watashi, gambarimasu! (meski sebenernya sih gw pengennya nyantai2, hahahahaha....)
Sebenarnya sih dengan yang penelitian sekarang, gw udah bisa jalan, udah disetujui. Sekarang masuk bagian paling penting, yaitu analisis. Ini butuh waktu lama nih pastinya. Sedang waktu yang gw punya ga banyak kan, tahun depan bulan februari udah harus sidang, dan bulan januari awal, udah harus masukin tesis ke tata usaha kampus dan prof penguji. Di sini emang deadline2 akademik udah dikasih tau di awal tahun ajaran, dan harus dipenuhi, kalo ga dipenuhi, ya lulusnya ditunda setahun lagi. Di sini sidang tesis pun hanya setahun sekali, yaitu bulan februari itu, ga bisa ada beberapa kali sidang dalam setahun. Tapi btw, tesis di sini ternyata ngga kayak di Indonesia yang ada halaman ucapan terima kasih. Di sini mah langsung aja halaman pertama abstrak, hahahaha. Padahal gw tadinya udah mau lebay tuh bilang2 terima kasih ke semua orang (tsaaaah...). Ya, Jepang emang kayaknya anti banget nih mengumbar-umbar perasaan, pokoknya berjuang deh lu, kan berjuang itu sebuah kewajaran, doh! Dan, ternyata juga, di sini ga ada hard cover2an, depannya juga ga ada logo kampus, pokoknya kalo diliat sekilas, ga menarik banget, jilidnya aja soft cover warna kuning muda gitu, trus depannya ditempelin kertas dengan tulisan tangan bahwa ini tesis (form-nya dari tata usaha kampus). Kalo ngejilid dan copy tesisnya sih gratis, ada satu ruang khusus untuk urusan itu, hanya yang ngerjain kita sendiri emang, pihak kampus hanya menyediakan peralatannya. Di sini kan apa2 mahal ya, jadi sebisa mungkin biaya ditekan, yang penting efisien, sehingga kayak tesis aja, ga ada hard cover2an, semuanya soft cover. Emang lebih enteng sih, meski penampakannya ngga keren.
Trus, prof menyayangkan gw karena libur musim semi kemarin ngga ada kemajuan penelitian (ohyeeee gw nyantai2 terus soalnya), tapi kata beliau, mulai sekarang mesti nge-speed up ngerjain penelitiannya, sehingga pas libur musim panas, udah mulai bisa nulis. Buset, gw ngerasa kayak tentara disuruh maju ke medan perang. Emang di sini kayaknya haram banget gitu ya, nyantai lama-lama, pokoknya di jepang tuh paling haram malas-malasan deh, itu kayaknya ngga boleh banget di sini. Liburan ya cukup weekend aja, ngga usah sebulan penuh kayak gw, hahahahhaha. Tadinya gw sempat mikir, mau pulang ke Indonesia bulan agustus, tapi akhirnya gw urungkan niat gw, ga berani pulang gw sampai tesis beres, soalnya kalo dari email beliau mah, jelas-jelas beliau mengharuskan liburan musim panas ini gw manfaatkan untuk ngerjain penelitian, bukannya pulang kampung! Ya udah deh gw ga jadi pulkam dulu, nyolot banget soalnya, udah otak standar, penelitian belum rampung, pake sok2 pulang segala pula. Lama-lama bakal dikirain, nih anak niat ga sih kuliah? kok kerjanya nyantai dan pulkam melulu, manja banget.
Ya udah nih ya, ga ada pilihan, mesti speed up ngerjain penelitian, tiap hari datang ke kampus untuk belajar. Beneran, gw datang ke jepang, ngerasa banget bahwa di sini, kerja keras tuh udah it's a must, dan kerja keras tuh bukan sebuah prestasi, tapi emang sebuah keharusan kalo mau bertahan hidup. Di sini, ngga hebat sama sekali kalo seseorang kerja keras, karena emang dianggapnya, semua orang ya mesti kerja keras kalo mau ngejalanin hidup. Ga hiperbola kalo gw bilang, di sini HARAM hukumnya kalo nyantai-nyantai!
Jujur, sejak datang ke jepang, gw ngerasa kayak masuk camp gambaru, kayak dulu tentara Nazi masukin orang-orang Yahudi ke camp untuk kerja rodi gitu. Ya, ngga sesadis itu tentu, tapi secara abstrak, filosofinya kayak gitu, serasa hidup di dunia militer gambaru gitu deh, spartan banget, hahahahaha. Manja dan cengeng dan melow emang udah haram banget kayaknya di sini ya, pokoknya jangan ngaku diri lu manusia deh kalo lu ga mau gambaru. Doh, segitunya deh nih jepang, yo wis-lah, ala dorama jepang : watashi, gambarimasu! (meski sebenernya sih gw pengennya nyantai2, hahahahaha....)
Subscribe to:
Posts (Atom)