Saturday, June 10, 2017

Perempuan, jangan matikan diri!


Menyelesaikan pendidikan tinggi sampai jenjang pascasarjana memang salah satu cita-cita saya. Alasannya lebih ke arah praktis: saya memutuskan untuk menjadi dosen, berarti wajar jika saya harus menempuh pendidikan pascasarjana. Kalau saya tidak mengisi diri dengan ilmu semaksimal mungkin, kasihan mahasiswa-mahasiswa saya kelak, tidak ada yang dapat saya bagikan atau kalaupun ada, yang saya bagikan itu dangkal dan sempit, sehingga tujuan pendidikan tinggi (menurut saya) yaitu membentuk manusia yang mampu berpikir kritis, kreatif, reflektif dan punya kepribadian kuat tidak dapat tercapai.
Saya amati, lebih sulit untuk perempuan menempuh pendidikan tinggi dibanding laki-laki, terutama perempuan yang sudah menikah. Kendala adalah fokus yang sudah bergeser, yaitu mengurus anak dan rumah tangga, hal yang menurut saya sangat baik, tetapi juga berpotensi tinggi memadamkan harapan untuk menggapai impian di luar ranah domestik.
Hidup memang harus dijalani dengan strategi-strategi kreatif dan kompromi sana sini tanpa mengorbankan hal-hal yang bersifat prinsip. Dengan melalui berbagai pertimbangan, akhirnya saya memutuskan untuk studi ke Jepang, saat anak saya masih belum genap berusia 2 tahun. Keluarga saya ikut hijrah ke Jepang dan dimulailah 6 tahun petualangan di negeri sakura.
Di permukaan terlihat sangat indah, keluarga mendukung studi saya. Tapi pada realitanya, hari demi hari itu sangat merepotkan. Waktu 24 jam itu tetap saja harus dibagi dengan mengurus anak dan rumah tangga, tidak bisa sepenuhnya sebagai mahasiswa "saja". Pahit menghadapi kenyataan, tapi di sisi lain tidak dapat protes, karena....siapa suruh kuliah lagi (di luar negeri pula) pada saat sudah berkeluarga?
Setidaknya, dari pengamatan saya, dunia memang belum bersahabat pada perempuan-perempuan berkeluarga yang punya niat mulia untuk sekolah di jenjang pascasarjana. Boleh sekolah, asal ingat kewajiban urus rumah. Boleh sekolah, asal jangan melupakan urusan urus anak. Boleh sekolah, asal tiap pagi masak dulu untuk seluruh keluarga. Boleh, tapi ada syaratnya. Berbeda dengan laki-laki, mereka sepertinya lebih mudah untuk menggapai impian sekolah lagi. Jika kasusnya seperti saya, yang sama-sama bawa keluarga, untuk mahasiswa laki-laki yang sudah berkeluarga, kelihatannya jauh lebih sederhana. Istri yang ikut langsung mengerjakan pekerjaan rumah dan urus anak. Suami tenang belajar di kampus. Berbeda dengan jika istri yang kuliah. Kuliah sih kuliah, tapi tetap multitasking dengan mengerjakan urusan domestik. Sering terbersit dalam benak saya ketika saya kuliah di Jepang tapi sedang berada di dapur, bukan di kampus: sebenarnya saya ke sini untuk kuliah atau pindah tempat masak, sih? (Padahal masaknya cuma manasin frozen food aja).
Awalnya kesal sih pasti, tapi saya mengingatkan diri sendiri: jangan mau kalah dengan sistem patriarki! Sekalipun bertukar peran itu logikanya sangat mungkin untuk dilakukan, tapi internalisasi nilai-nilai patriarki di mana laki-laki berperan utama di ranah publik dan perempuan di ranah privat, sudah sangat kuat tertanam di dalam diri kita. Makanya, perempuan yang sudah menikah studi pascasarjana bawa keluarga itu lebih condong menuai komentar negatif daripada positif. Setidaknya itu yang saya alami. Tapi saya berprinsip: jangan kalah dengan sistem! Jangan menyerah dengan berbagai macam komentar. Jika kelak saya tua dan akhirnya pahit hati karena harapan saya tidak tercapai, apakah orang-orang yang berkomentar negatif, yang menganggap saya aneh, mau berperan dalam menyembuhkan luka hati saya? Ngga, kan?
Akhirnya, saya menyelesaikan studi saya. Keluarga saya juga baik-baik saja. Malah saya merasa, pilar-pilar utama keluarga seperti saling membantu, kompromi, kerjasama, toleransi, diskusi dalam memecahkan persoalan, semuanya terbangun maksimal pada saat saya, suami, dan anak saya tinggal di Osaka selama 6 tahun.
Masing-masing dari diri kita harus mendefinisikan apa sebenarnya yang kita inginkan. Jika memang sepenuhnya ingin menjadi Ibu dan istri, silakan lanjutkan. Tapi jika ada harapan atau keinginan lain selain menjadi ibu dan istri, jangan padamkan suara hati itu. Jangan matikan diri sendiri. Karena, kita, perempuan, pertama-tama adalah diri sendiri, sebelum menjadi istri dan ibu. Jiwa yang kosong hanya akan berujung pada kepahitan hati, dan jika hati sudah pahit, hidup pun akan menjadi pahit, tidak peduli sebanyak apa materi yang kita miliki.
Ini pesan saya untuk sesama perempuan: jangan matikan diri!
Bogor, 9 Juni 2017
Rouli Esther Pasaribu

Mengapa jengah pada perbedaan?


Tadi ada buka puasa bersama rekan-rekan kerja. Sambil buka puasa sambil bercakap-cakap. Salah satu topik pembicaraan adalah tentang dibully karena berbeda dari yang lain.
Ternyata saya dan satu dosen lagi, punya pengalaman dibully karena dulunya tinggal lumayan lama di Jepang. Saya dibully ketika masuk TK di Indonesia, beliau dibully saat masuk SD di Indonesia. Persoalannya sama: dibully karena tidak mengerti bahasa Indonesia.
Saya lahir di Kobe, Jepang, lalu tinggal di Shizuoka karena bapak saya studi di sana, selama 4 tahun pertama hidup saya. Saya pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia pada saat usia saya 4 tahun lebih sedikit dan langsung masuk salah satu TK.
Kalau banyak anak punya kenangan indah ketika TK, tidak demikian dengan saya. Sebaliknya, saya punya banyak kenangan buruk. Mengapa? Karena saya dibully, saya dianggap aneh, saya ngga punya teman. Semuanya karena saya tidak bisa bahasa Indonesia.
Saya menangis sengsara dan sangat kesepian saat saya masih TK. Hingga hari ini saya ingat wajah anak-anak yang mengejek saya. Sayangnya, guru-guru TK saya juga tidak berbuat apa-apa, mereka diam saja. Akhirnya supaya dapat bertahan, saya mati-matian menggunakan bahasa Indonesia dan secara sadar berusaha melupakan bahasa Jepang saya. Saya anggap bahasa Jepang ini musuh saya, penyebab saya mendapat banyak kesulitan.
Masuk SD, bully pun mereda karena saya sudah bisa Bahasa Indonesia. Tapi, peristiwa di TK meninggalkan luka untuk saya: saya benci identitas Jepang saya. Saya berangan-angan seandainya kedua orang tua saya asli Indonesia, jadi saya tidak perlu mengalami hal seperti ini.
Sekalipun masa SD saya cukup menyenangkan, tetap saya tidak menyukai identitas Jepang saya. Mengapa? Karena, setiap kali pelajaran Sejarah bagian masa kependudukan Jepang, saya pasti habis diejek. Saya diejek penjajah bangsa Indonesia oleh teman-teman saya. Memang bukan seluruh anak yang mengejek, tapi tetap saja, dibilang penjajah itu sangat tidak enak. Saya juga malu jika Mama ambil raport ke sekolah karena Mama saya tidak lancar berbahasa Indonesia dan saya pasti jadi ledekan karena punya Mama yang "berbeda" dengan mama yang lain.
Saya baru mulai dapat berdamai dengan identitas kejepangan saya setelah saya masuk SMP. Dan betul-betul sepenuhnya berdamai setelah lulus SMA dan kuliah di jurusan Sastra Jepang. Ironis, satu hal yang paling saya benci dahulu, yaitu bahasa Jepang, sekarang malah jadi sumber utama saya dalam mencari uang. Tanpa kemampuan bahasa Jepang, asli saya ini tidak mungkin menghasilkan uang.
Saking membekasnya peristiwa saya dibully ketika TK, saya sangat takut ketika Joanna harus masuk SD Indonesia setelah 6 tahun tinggal di Jepang. Kondisinya persis seperti saya: dia sama sekali tidak lancar berbahasa Indonesia. Itulah sebabnya saya menerima tawaran bekerja di sekolah anak saya sekalipun tidak ada hubungannya dengan latar belakang pendidikan saya. Motif saya terutama adalah: saya harus jadi "orang dalam" di sekolah anak saya agar kalau terjadi kasus bully, saya gampang minta tolong dan komunikasi dengan pihak sekolah. Selain itu, saya ingin anak saya bisa merasa aman karena ada saya di gedung yang sama.
Syukurnya anak saya tidak mengalami bully. Memang kesulitan bahasa ada, tapi dia tidak dibully teman-teman sekelasnya. Dia juga hingga hari ini tidak anti bahasa Jepang dan saya usahakan dia terpapar bahasa Jepang setiap hari, melalui komik, anime, youtube. Sejauh ini anak saya tetap bisa berbicara bahasa Jepang, malah bangga bisa dua bahasa.
Saya harap tidak ada anak yang dibully karena dia berbeda. Mengapa sih kita sulit menerima sesuatu yang berbeda dengan kita? Mengapa kita jengah dengan perbedaan? Sepertinya dari kecil, kita harus dibiasakan dengan perbedaan, dan ditanamkan paham bahwa tidak sama dengan diri bukan berarti aneh, berbeda-beda itu wajar dan indah. Dan sekalipun di dalam sebuah kelompok masyarakat hanya ada satu orang yang tidak sama, entah itu tidak sama dalam hal SARA atau gender atau bahasa yang digunakan atau orientasi seksual atau yang bersangkutan mengalami disabilitas, tetap ia tidak layak dan tidak berhak dan tidak pantas untuk dibully, karena setiap orang tanpa terkecuali adalah manusia seutuhnya.
Bogor, 8 Juni 2017
Rouli Esther Pasaribu

"Gemuk ya, sekarang? Kamu gemuk banget, ya?"


Ini seri terakhir dari topik pertanyaan-pertanyaan ngga penting, setelah pertama-tama bahas pertanyaan tentang oleh-oleh, lalu pertanyaan tentang menikah, punya anak, tambah anak....nah bagian terakhir dari topik ini akan saya tutup dengan membahas pertanyaan soal bentuk tubuh.
Siapa yang pernah dikomentari soal bentuk tubuhnya? Terutama, bentuk tubuh yang gemuk atau jauh dari ideal ya.
Saya tentu saja pernah, malah sering. Lagi-lagi kesamaan yang saya temukan dari yang komentar: mereka ini ngga akrab-akrab amat dengan saya, dan ya....jika saya amati, kehidupannya bukan yang luar biasa dengan segudang prestasi. Malah, besar kemungkinan kelangsingannya itu adalah satu-satunya modal utama atau aset dirinya yang paling berharga.
Mengapa saya memasukkan pertanyaan soal bentuk badan ini sebagai pertanyaan yang sangat tidak bermutu, karena:
1. Orang yang bertanya ini kemungkinan besar hanya melihat hal lahiriah, dalam hal ini bentuk badan. Untuk orang kayak gini, kualitas batiniah seperti karakter, prestasi, pendidikan, mungkin ngga begitu penting. Nilai seseorang hanya ditentukan berdasarkan gemuk atau tidaknya tubuh yang bersangkutan.
2. Orang seperti ini agaknya perlu mengkonfirmasi diri bahwa dirinya punya tubuh yang lebih bagus bentuknya daripada yang dia komentari. "Gemuk ya sekarang?" ujarnya. Lalu, dalam hati mungkin ia berucap: "gue dong, langsing."
3. Lagi-lagi, tubuh itu ranah pribadi yang empunya tubuh. Orang lain ngga boleh ikut campur soal tubuh yang bukan miliknya. Kita semua tahu, overweight itu ngga sehat, makan kebanyakan itu tidak memberi manfaat untuk kesehatan. Tapi, segala dampak negatif tubuh yang kegemukan, tetap tidak dapat menjadi legitimasi untuk mengomentari bentuk tubuh seseorang, karena ya itu tadi, tubuh itu ranah privat, hal yang bersifat pribadi milik si empunya tubuh itu sendiri. Di sini kata kuncinya: respect atau hormati atau hargai tubuh orang lain!
4. Ada kalanya yang komentar soal bentuk tubuh ini, sebenarnya juga bukan orang yang badannya keren-keren amat. Malah beberapa yang melayangkan komentar kepada saya, malah lebih besar badannya dari saya. Makanya saya juga agak bingung ketika dibilang, "Kamu gemuk banget ya sekarang" oleh orang-orang ini. Membuat saya ingin balik bertanya, "Apakah badan Anda juga seperti super model?" Tapi karena saya secara sadar melatih diri untuk tidak komentar soal tubuh orang lain, maka saya hanya tersenyum basi saja.
Lalu, apa yang harus kita lakukan agar fenomena komentar soal bentuk tubuh ini tidak semakin mewabah?
Sederhana. Jangan menjadi salah satunya! Latih diri untuk selalu sadar tidak mengomentari soal bentuk tubuh. Selain itu, kalau untuk saya, langkah praktis lain yang saya lakukan adalah, saya selalu menyelipkan sesi perkuliahan mengenai gender dan bentuk tubuh dalam perkuliahan saya, dan terakhirnya, saya mengajak para mahasiswa saya untuk mengajukan pertanyaan reflektif: "Apakah saya sudah menghargai tubuh orang lain, salah satunya dengan tidak berkomentar sembarangan tentang tubuh orang lain tersebut?"
Semakin banyak manusia yang tidak usil komentar soal bentuk tubuh orang lain, semakin dekat kita menuju masyarakat yang bebas dari pencelaan bentuk tubuh! Siap naik level? Siaaaaaap kannnnn!
Bogor, 7 Juni 2017
Rouli Esther Pasaribu

"Kapan nikah? Kapan punya anak? Kapan tambah anak?"


Setelah kemarin kita membahas pertanyaan tidak bermutu berupa "mana oleh-olehnya?", hari ini saya mau membahas three in one pertanyaan yang ngga kalah rendah levelnya, yaitu pertanyaan seputar menikah dan punya anak.
Mengapa saya bilang ketiga pertanyaan ini sungguh menyebalkan, karena persoalan menikah, punya anak, dan tambah anak itu persoalan pribadi. Yang akan menentukan seseorang akan menikah atau tidak itu urusan orang itu sendiri, yang menentukan mau punya anak atau tambah anak juga kembali pada yang bersangkutan. Yang bertanya ngga punya andil yang signifikan, kan, misalnya menyumbang sejumlah uang untuk biaya pernikahan atau ikut serta dalam pengasuhan anak atau mempersiapkan tabungan pendidikan untuk anak.
Karena urusan nikah, punya anak dan tambah anak ini urusan pribadi, jadi yang paling bijak adalah jangan tanya-tanya ketiga hal tersebut. Saya perhatikan, pada umumnya, dibanding rasa bahagia ditanya hal-hal tersebut, reaksi yang terjadi adalah yang ditanya malah jengah, malas, jengkel.
Coba deh bayangkan....
"Kapan nikah? Jangan lama-lama ya..."
(Yang ditanya itu baru banget putus sama pacarnya. Bikin pengen nangis di tempat ga sih pertanyaan kayak gini?)
"Kapan punya anak?"
(Yang ditanya baru ditawari posisi pekerjaan yang bagus di kantor, baik dari segi gaji dan fasilitas, dan pekerjaan ini adalah pekerjaan yang diperjuangkan dari dulu. Tapi syaratnya ngga boleh punya anak dulu selama dua tahun. Ehhh terus ditanya pertanyaan seperti ini oleh tante-tante bersasak tinggi yang meyakini kebahagiaan perempuan hanya dapat terpenuhi dengan satu cara: punya anak. Jengkel ngga, sih?)
"Kapan tambah anak?"
(Yang ditanya bulan lalu baru aja menjalani operasi pengangkatan rahim dan masih dalam proses pemulihan. Sebenarnya ingin tambah anak, tapi kondisi tidak memungkinkan. Di saat sedang galau, datang pertanyaan ini, bagaikan palu godam menghujam pedalaman hati).
Itu hanya beberapa skenario yang mungkin dapat terjadi jika kita menanyakan pertanyaan-pertanyaan di atas. Mungkin ada yang biasa aja ditanya begitu, tapi ada juga, dan saya rasa justru ini adalah mayoritas...orang jengah kalau ditanya pertanyaan-pertanyaan kepo seputar pernikahan dan prokreasi.
Bagaimana dengan saya? Pernah ditanya pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas? Tentu saja pernah. Adik saya menikah duluan. Saya pribadi ngga masalah, malah sebenarnya ini yang saya harapkan: saya ingin mematahkan mitos pernikahan itu harus anak tertua (perempuan) duluan baru adik-adiknya. Kok ya ini ngga adil ya menurut saya. Kan namanya dapat jodoh itu bukan berarti yang lahir lebih dulu yang harus dapat jodoh duluan. Kalau memang jalannya yang dapat jodoh duluan itu si adik gimana? Masa kita mau melawan skenario Yang Maha Kuasa?
Di pesta pernikahan adik saya, habislah diri saya ditanya-tanya: Kapan nikah, kapan nikah, kapan nikah? Saya perhatikan para penanya ini. Pada umumnya manusia-manusia standar yang kehidupannya juga bukan yang keren-keren amat. Okelah, senyum aja dan tinggalkan.
Bagaimana dengan pertanyaan kapan punya anak? Tentu saya tidak luput dari pertanyaan ini. Saya perhatikan profil para penanyanya. Satu benang merah yang saya dapatkan, orang-orang ini adalah orang-orang yang punya paham bahwa kebahagiaan perempuan, terutama dan sejatinya hanya akan tercapai jika ia punya anak. Lain dari itu, seperti karir bagus, pendidikan tinggi, prestasi banyak, hmmm menurut mereka, semua itu hanya kebahagiaan semu atau sok bahagia. Mau bahagia? Punya anak! Segera!
Lanjut ke pertanyaan ketiga. "Kapan tambah anak?" Variasi dari pertanyaan ini, "Ngga mau dikasih adik nih? Kasian lho, ntar ngga punya teman." atau, "Masa cuma satu sih?" Nahhhh pertanyaan soal tambah anak ini masih sering saya terima hingga saat ini. Saya memang seorang ibu, tapi ibu dari "hanya" satu orang anak. Apalagi anak saya tahun ini akan berusia 10 tahun, makin getol orang-orang bertanya kapan tambah anak.
Untuk hal ini, saya bilang saja terus terang, "saya sudah sangat bahagia dengan satu anak." Biasanya saya masih dicecar, "Tapi kan kasihan anaknya ngga punya teman main." Lalu yang bertanya itu biasanya akan konfirmasi pada anak saya, "Kamu mau punya adik, kan?" Yang dijawab tegas oleh anak saya, "Ngga!". Case closed, yang bertanya hanya dapat tersenyum kecut.
Setiap orang itu sudah punya pandangan, jalan hidup, pertimbangan masing-masing. Ngga usah kita tanya persoalan paling pribadi dalam hidup mereka, kecuali mereka yang mulai lebih dulu untuk curhat, nah baru kita kasih pandangan.
Lalu mungkin ada yang bilang, "ini kan bentuk perhatian..." Beneeeer nih perhatian? Perhatian atau kepo atau nyinyir atau pengen ikut campur? Perhatian sejati tidak akan membuat kesal orang yang diberi perhatian.
"Nanya gini kan cuma basa basi...." Banyaaaaak pertanyaan lain yang dapat ditanyakan kalau mau basa basi.
"Eh udah nonton film ini ga?"
"Udah nyobain restoran ini ga?"
"Udah makan di sini ga? Enak dan murah lho..."
Pertanyaan-pertanyaan itu sungguh lebih asyik daripada yang jleb! rese nyebelin seperti pertanyaan seputar pernikahan dan prokreasi.
Satu lagi, biasanya yang suka ditanya soal nikah dan punya anak ini adalah perempuan. Internalization of patriarchy at its best! Sukses membuat orang berpikir secara tak sadar bahwa kebahagiaan sejati perempuan hanya dapat dipenuhi dalam pernikahan dan punya anak.
Setiap orang itu beda-beda, jangan kita paksakan paham kita pada yang lain. Kebahagiaan itu multi tafsir, multi definisi, tidak hanya satu. Siap naik level dengan tidak kepo tanya-tanya seputar pernikahan dan punya anak? Siap kan yaaaaaa!
Bogor, 6 Juni 2017
Rouli Esther Pasaribu

"Oleh-olehnya mana?"


Dulu pernah nulis juga di FB tentang perilaku orang kita yang doyan banget minta oleh-oleh, entah itu beneran minta atau hanya basa basi menyambung percakapan.
Jujur, saya ngga simpati pada geng minta oleh-oleh ini. Bahkan mendengar pernyataan ini saja sudah bikin saya jengkel, apalagi jika yang mengeluarkan pernyataan ini mengejar-ngejar minta oleh-oleh beneran, intinya kejar terus sampai sukses mendapatkan....sebuah gantungan kunci atau magnet kulkas!
Belum lagi orang yang ngga tahu diri nitip-nitip ini itu. Nitip tapi bayar sih ngga, alias yang bayar akhirnya yang beliin. Gondok ngga tuh?
Saya secara sadar menjaga agar jangan sampai dari mulut saya tercetus pernyataan: "oleh-olehnya mana", "jangan lupa oleh-olehnya " . Bahkan jika yang bepergian adalah keluarga sendiri, saya tidak akan mau minta oleh-oleh. Mengapa?
1. Minta oleh-oleh itu menyusahkan orang yang bepergian.
Yang pertama, jelas menyusahkan secara finansial. Yang kedua, menyusahkan secara fisik (yang bersangkutan harus repot keluar masuk toko cari oleh-oleh). Yang ketiga, menyusahkan secara waktu (misalnya alokasi waktu yang seharusnya dipakai untuk sight seeing jadi berkurang karena harus cari oleh-oleh). Yang keempat, menyusahkan secara tempat di bagasi (harusnya yang jalan-jalan dapat lebih leluasa menaruh barang-barangnya di bagasi, tapi karena oleh-oleh, ia harus berbagi tempat dengan space untuk oleh-oleh tersebut).
2. Minta oleh-oleh itu agak menjatuhkan harga diri.
Mungkin ini pemikiran saya saja, tapi sejujurnya saya agak gengsi memperjuangkan sebuah gantungan kunci atau sekotak cokelat. Maksudnya, kalau "hanya" gantungan kunci, saya masih bisa beli sendiri. Selain itu, dengan kita bilang, "oleh-olehnya mana?", derajat kita jadi agak dangkal karena kita hanya menginginkan benda yang bersifat materi saja, bukannya mendoakan agar yang jalan-jalan itu dapat kembali dengan selamat setelah menempuh perjalanan jauh.
3. Yang suka minta oleh-oleh itu, jujur, di dalam hidupnya pada umumnya agak standar sih.
Saya tahu ini agak norak, tapi saya perhatikan, tukang minta oleh-oleh ini pada umumnya bukan orang yang hidupnya punya prestasi mumpuni. Semacam pengikut dan yang puas dengan kehidupan standar aja. Sama halnya dengan yang suka tanya-tanya atau komen, "kamu gemukan ya", "kapan mau punya anak?", "kok ngga ASI, kenapa dikasih sufor?", "kok ngga nikah-nikah", "lahirnya cesar, takut ngelahirin normal ya"....pada umumnya tukang tanya ngga penting gini, hidupnya bukan yang wah banget karya-karya nyatanya. Standar, jujur aja.
Terus sikap saya pribadi terhadap tukang minta oleh-oleh gimana? Saya sih ngga saya ladenin. Saya hanya mau membelikan oleh-oleh untuk orang yang memang mau saya kasih oleh-oleh. Itu pun jumlahnya tidak banyak. Bukannya belagu, saya kan ngga punya dana berlebih karena memang bukan orang kaya raya secara materi, dan jika saya bepergian ke suatu tempat, saya sudah punya jadwal setiap harinya mau ngapain, tidak bisa saya seharian cari-cari oleh-oleh terus.
Daripada ya kita minta oleh-oleh kepada yang bepergian, lebih baik kita lantunkan doa agar yang bepergian itu dapat kembali dengan selamat tak kurang satu apapun. Kalau ngga tahan pengen makan coklat oleh-oleh, tuhhhh di gi**t, care**ur, hyper**rt banyak, namanya coklat rasanya sama aja kan?
Naik level yuuuuuuk, jangan minta rejeki kepada yang bepergian, tapi mohonkan rejeki, terutama rejeki keselamatan kepada yang bepergian!
Bogor, 5 Juni 2017
Rouli Esther Pasaribu
LikeShow more reactions
Comment

Manusia Berkualitas


Barometer seseorang itu berkualitas atau tidak adalah dari dua hal: karakter dan karyanya.
Ada orang yang otaknya pandai, tapi perilakunya suka nyinyir, sulit bekerja sama, tidak jujur, suka menipu, gila kekuasaan. Pada akhirnya, kepandaian orang-orang seperti ini bukannya memberi manfaat bagi orang banyak, malah meresahkan orang banyak.
Ada orang yang karakternya baik, tapi sayangnya tidak punya satu kemampuan tertentu yang dapat mendefinisikan keberadaan dirinya. Orang-orang seperti ini memang tidak meresahkan orang lain, tapi keberadaannya kurang greget, begitu-begitu saja, dan karya yang dihasilkannya tidak berdampak maksimal.
Manusia berkualitas itu harus memenuhi dua unsur ini: karakter dan karya. Salah satu contoh manusia berkualitas menurut saya adalah Papa saya sendiri.
Mengapa saya berani bilang kalau beliau itu berkualitas? Usia beliau tahun ini akan menginjak 74 tahun. Bukan usia yang muda. Apa yang terbayang dalam benak kita jika mendengar kata "tua"? Mungkin yang pertama terbayang di benak: lemah, lamban, penggerutu, tidak produktif. Tapi Papa saya mematahkan seluruh mitos itu. Setelah purnabakti dari universitas tempat beliau mengabdi selama lebih dari 30 tahun, beliau tetap aktif bekerja hingga hari ini. Orang mencari beliau karena kualitasnya, baik dalam hal karakter maupun karya. Hingga hari ini, beliau tetap dipercaya, tetap diminta untuk bekerja, tetap dihargai pemikirannya.
Tetapi, yang namanya kualitas itu tidak dapat dibangun hanya dalam satu hari. Ia adalah tumpukan demi tumpukan pembelajaran, pengalaman, kebijaksanaan dalam menghadapi hidup. Ia adalah hasil dari latihan diri selama bertahun-tahun. Ia diusahakan ada dalam diri seseorang dengan sedemikian rupa melalui usaha dan kerja keras orang itu sendiri.
Materi dapat diperoleh secara instant, kedudukan, jabatan atau gelar akademik dapat dibeli dengan uang di tengah dunia yang serba carut marut ini, tetapi kualitas dalam diri seseorang tidak akan bisa dibeli. Ia harus diusahakan sendiri oleh orang yang bersangkutan melalui tahun-tahun penuh kesulitan dan latihan yang cukup berat.
Seorang atlet tidak akan berjaya di medan olimpiade jika tidak didahului oleh latihan keras berkepanjangan yang penuh keringat dan air mata.
Seorang tukang kue tidak akan dapat menghasilkan kue yang lezat tiada tara jika tidak mengalami kegagalan berulang kali sampai akhirnya ia menemukan resep yang pas.
Seorang ibu tidak akan begitu saja dapat bersikap sabar menghadapi anaknya, jika ia tidak melatih dirinya setiap hari untuk dapat memiliki sikap sabar.
Dunia ini tidak melulu berisi orang baik. Mungkin ada masanya di mana kita menerima perlakuan tidak adil, dikucilkan, atau dijahati justru karena kita berkualitas. Sudah menjadi natur manusia untuk mudah iri dan merasa terancam pada orang yang punya kualitas mumpuni. Sangat mungkin kita malah tidak disukai karena kualitas diri kita, mengingat di dunia ini kita tidak selalu berhadapan dengan orang-orang yang menghargai karya dan karakter, tapi malah sebaliknya, orang-orang yang "ketakutan" dengan kualitas diri seseoranglah yang kita temui.
Jangan takut untuk menjadi orang yang berkualitas! Sungguh dunia butuh orang-orang yang memiliki kualitas karya dan karakter yang mumpuni, yang dapat menyebarkan semangat dan karya nyata perubahan sebuah masyarakat menjadi lebih baik.
Pada akhirnya, tidak ada satu orang pun yang dapat merebut kualitas diri kita. Selamanya ia akan menjadi harta yang sungguh berharga: bagi diri sendiri dan bagi orang lain.
Bogor, 4 Juni 2017
Rouli Esther Pasaribu

Menulis dan Sebuah Keabadian


Pramoedya Ananta Toer berkata, "Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi, selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."
Pertama kali baca kata-kata ini, saya kurang paham apa maksudnya. Pertama kali mengenal karya-karya beliau, usia saya masih awal 20an. Sekarang usia saya ada di penghujung 30an, dan sedikit lebih paham makna kata-kata beliau, berkat tahun-tahun penuh pengalaman yang sedikit mendewasakan diri ini.
Dalam sebuah essay yang ditulisnya, Oba Minako, seorang pengarang perempuan Jepang menyatakan bahwa dirinya terinspirasi menulis dan mengadakan refleksi diri karena membaca karya-karya pengarang perempuan Jepang yang hidup hampir 1000 tahun silam dari masa kini. Oba Minako terinspirasi atas karya-karya Murasaki Shikibu, Seishonagon, Michitsuna no Haha, para pengarang perempuan Jepang di jaman Heian (794-1192). Mereka menulis tentang opresi patriarki di dalam kehidupan bangsawan istana Jepang di masa itu. Hampir 1000 tahun kemudian, Oba Minako juga menulis, dan meski beliau meninggal pada tahun 2006, karyanya tetap berbicara hingga hari ini dan menginspirasi para perempuan setelah generasinya, salah satunya menginspirasi saya.
Seandainya beliau dan para pendahulunya tidak menulis, maka beliau akan hilang dari sejarah. Ide-ide dan pemikirannya menjadi dibatasi waktu-yaitu waktu semasa ia hidup. Begitu ia tidak ada lagi di dunia ini, maka pemikirannya pun tenggelam. Kecuali, ada orang lain yang berusaha mengabadikan pemikiran-pemikirannya. Tetapi, berapa banyak orang yang mau secara sukarela mengabadikan pemikiran kita, kecuali kita adalah orang yang benar-benar berpengaruh di dalam masyarakat dalam lingkup yang cukup luas.
Maka, menulis menjadi sebuah pilihan untuk mengabadikan diri. Menulis adalah inisiatif untuk mencatatkan diri dalam sejarah peradaban manusia.
Menulis tulisan singkat ini, membuat diri saya tersentil karena sampai hari ini, saya belum menghasilkan sebuah buku hasil karya saya. Tiap tahun, resolusi tahun barunya adalah menulis buku, tapi sampai hari ini, belum saya wujudkan secara serius. Kiranya tulisan ini menjadi pengingat untuk saya mulai bergerak.
Agar tulisan kita mumpuni, kita memang mesti banyak membaca dan banyak memiliki pengalaman hidup. Kedalaman hidup seseorang akan terlihat dari kualitas tulisan yang dihasilkannya. Sebuah pengingat lagi untuk saya agar rutin menargetkan diri untuk menyelesaikan buku demi buku agar dapat menghasilkan tulisan yang baik dan menginspirasi.
Karena, "Yang fana adalah waktu. Kita abadi" (Sapardi Djoko Damono). Jika kita menulis!
Bogor, 3 Juni 2017
Rouli Esther Pasaribu