Saturday, July 22, 2017

Patriarki hanya merugikan perempuan?


Kalau ada perempuan yang menyerukan kesetaraan perempuan, minta supaya perempuan tidak terbatasi ruang lingkupnya hanya pada ranah domestik, mungkin tidak sedikit dari antara kita yang menganggap perempuan-perempuan ini agak nyentrik, aneh, banyak maunya. Kok ngga terima "kodrat"? Kok ngga legowo dengan "peran perempuan"?
Pada umumnya, kita berpikir gerakan feminisme atau gerakan kesetaraan perempuan yang mencoba mendobrak norma-norma patriarki, "hanya" menguntungkan perempuan saja. Benar demikian?
Awalnya saya juga mengira demikian. Bahwa feminisme adalah perlawanan antara perempuan vs laki-laki. Ternyata bukan. Feminisme bukan persoalan antara laki-laki melawan perempuan. Feminisme sesungguhnya adalah pertentangan antara manusia yang melestarikan nilai-nilai patriarki dan manusia yang berusaha mendobrak nilai-nilai patriarki.
Tidak bisa dipungkiri, nilai-nilai patriarki masih kuat mengakar dalam hidup kita sehari-hari. Secara sederhana, patriarki adalah sebuah sistem di dalam masyarakat atau pemerintahan di mana laki-laki yang memiliki otoritas kuasa dan perempuan dipinggirkan dari otoritas kuasa tersebut. Secara kongkrit, pengejawantahan norma patriarki, misalnya:
Perempuan tugas utamanya adalah pada ranah domestik, sedang laki-laki menguasai ranah publik.
Mitos maskulin dan feminin,contoh: laki-laki adalah "benar-benar laki-laki" jika ia tegas, kuat, berjiwa pemimpin, ambisius, semangat mengukir prestasi, sedangkan perempuan adalah "benar-benar perempuan" jika ia lembut, pendiam, penurut, tidak ambisi, senang jadi homemaker.
Laki-laki adalah pihak yang menolong, melindungi, menafkahi, memberi kebahagiaan, dan perempuan adalah pihak yang ditolong, dilindungi, dinafkahi, diberi kebahagiaan. Contoh paling klasik dapat dilihat pada cerita dongeng Cinderella dan Snow White. Cinderella yang miskin berubah nasib menjadi kaya setelah menikah dengan pangeran, Snow White yang sudah mati karena makan apel beracun, hidup kembali setelah dicium pangeran (semoga ini pangerannya beda ya, kasihan kan kalau sama, Cinderella dan Snow White jadi korban poligami).
Laki-laki yang ikut membantu urus anak, beres-beres rumah dianggap heroik, dipuja-puja, sedang kalau perempuan ikut-ikutan kerja, cenderung mendapat penilaian kurang baik, dan sering dibarengi pertanyaan "Itu anaknya ngga apa-apa ga tuh?"
Laki-laki kalau hijrah ke luar negeri untuk kerja atau sekolah dan bawa anak istri, dianggap wajar, sebaliknya kalau perempuan yang bawa anak suami, dianggap aneh dan ngga jarang dianggap ga tahu diri dan merepotkan orang lain, sok ambisius dan tengil sejuta. Kok saya bisa ngomong gitu? Kan saya udah ngalamin sendiri! "Dosa" saya pada norma patriarki sudah sangat besar!
Dari contoh-contoh di atas, kelihatannya norma patriarki ini menguntungkan laki-laki dan merugikan perempuan ya. Tapi, laki-laki yang mana dulu, perempuan yang mana dulu?
Bagaimana dengan laki-laki yang diPHK dan sulit dapat kerja?
Bagaimana dengan laki-laki yang ikut istrinya ke luar negeri? (Itu suami saya!)
Bagaimana dengan laki-laki yang jiwanya lembut dan gampang nangis?
Bagaimana dengan laki-laki yang tidak ambisius mencetak prestasi?
Jelas untuk laki-laki seperti ini, norma patriarki merugikan. Membuat dirinya merasa tidak berguna, berada di posisi pinggiran dalam hidup bermasyarakat, dan terasingkan karena ia tidak mencapai standar laki-laki ideal berdasarkan norma patriarki.
Saya sudah merasakan punya suami yang berada dalam kondisi tidak punya pekerjaan dalam waktu yang cukup lama, karena ia dan anak saya mengikuti saya hijrah ke Jepang. Dalam tahun-tahun itu, saya menyadari bahwa untuk laki-laki, tidak punya kerja itu bebannya seperti perempuan yang tidak bisa punya anak. Merasa diri kurang lengkap dan pecundang. Saya juga mengamati, untuk mahasiswa laki-laki yang bawa istri, sepertinya tidak ada masalah besar, malah kayaknya istri senang tinggal di Jepang. Tapi kebalikannya, kalau mahasiswa perempuan yang bawa suami, benar-benar butuh waktu lama untuk suami dan istri tersebut merasa nyaman dengan kehidupan baru di Jepang.
Mengapa hal tersebut terjadi? Internalisasi norma patriarki yang sudah kuat mengakar dalam keseharian dan pedalaman batin kita! Di bawah sadar, kita merasa bahwa "yang benar", "yang wajar " itu adalah jika laki-laki dan perempuan berperan sesuai dengan pembagian tugas yang kaku antara ranah domestik dan publik. Negosiasi diperbolehkan, tapi hanya dalam batas-batas "yang wajar".
Maka, tidak heran jika saya dianggap perempuan aneh karena angkut anak suami ke Jepang demi "so called post graduate study" ini. Suami saya dianggap aneh karena kok jadi laki-laki mau aja ikut istri, di sana ngga punya kerja tetap pula. Anak saya dikasihani banyak orang karena punya ibu yang tega meninggalkan dia dengan berangkat duluan ke Jepang. Coba sebaliknya: suami yang studi, saya yang ikut. Pasti ngga menuai perdebatan, semuanya dianggap wajar, wajar, wajar.
Kita hidup dalam masyarakat yang dibangun dalam konstruksi dominan patriarki. Persoalannya, manusia itu tidak bisa dikotak-kotakkan perannya dalam sebuah sistem yang kaku. Apalagi di jaman yang semakin sulit ini, kita harus lebih fleksibel dalam menyikapi nilai dan menerima keberagaman gaya hidup.
Mungkin kita harus mulai secara sadar melatih diri: untuk mendefinisikan hidup sesuai dengan pemikiran kritis kita, bukan hanya terima jadi warisan norma patriarki. Karena pada akhirnya, yang berbahagia adalah yang membebaskan pikirannya dari norma-norma yang mengikat yang menghambat kemajuan diri. Karena pada akhirnya, takut pada perubahan hanya akan membawa kesempitan pada pola pikir dan kita kehilangan banyak hal baik yang sebenarnya ada di luar tempurung patriarki.
7 Juli 2017
Rouli Esther Pasaribu

Pakai ART atau ngga?


Ini nih topik yang sempat hangat beberapa waktu yang lalu, tentang debat pakai Asisten Rumah Tangga (ART) atau ngga pakai ART. Saya sendiri agak bingung, kenapa hal kayak gini harus jadi masalah. Kan sebenarnya sederhana: kalau dirasa butuh ya pakai, ngga butuh ya ngga pakai. Kan beres?
Saya sendiri termasuk kubu mana? Maaf, saya paling anti polarisasi segala macam wacana seputar "good mom-bad mom". Menurut saya, belum tentu ibu yang ngga pakai ART, yang anti susu formula, yang kasih ASI eksklusif, yang masak tiap hari itu ibu yang baik. Belum tentu juga ibu yang pakai ART, yang kasih susu formula, yang ngga masak tiap hari itu ibu yang buruk. Terlalu murah ngga sih, melabeli baik buruknya ibu hanya dengan hal-hal di atas?
Jadi kalau sudah mulai ramai pertentangan bad mom vs good mom, saya sih ngga mau ikut-ikut. Buang energi maksimal itu sih. Termasuk soal heboh pakai ART atau ngga.
Saya perhatikan, yang ngga pakai ART itu suka ngerasa bangga dan anggap dirinya ngga level dengan yang pakai ART. Di mata ibu-ibu yang ngga pakai ART, ibu-ibu yang pakai ART ini suka dianggap manja, ngga peduli anak, sosialita. Bukannya masak di rumah malah arisan kongkow kongkow. Terus, ada juga yang benchmarking ke ibu-ibu Indonesia yang tinggal di negara-negara maju. Di situ ibu-ibu ngerjain segala sesuatunya sendiri tuhhhhh...kok lu-lu pada manja amat sih di Indonesia?
Sebagai orang yang pernah merasakan hidup di negara maju, saya hanya mau bilang, kondisi Indonesia dan negara maju itu beda. Misalnya di Jepang, meski ngga pakai ART, lingkungan dan sistem mendukung untuk hidup tetap nyaman dan aman. Di Jepang, ada daycare seharian penuh untuk menitipkan anak jika kita bekerja atau sekolah. Untuk tingkat SD, ada after school program sampai kelas 4 SD, jadi selesai sekolah, anak yang orang tuanya bekerja atau sekolah, bisa ikut kegiatan di gedung yang satu area dengan sekolah, dan memang diawasi caregiver bersertifikat. Jarak sekolah dengan rumah itu relatif dekat dan lingkungan sekitar cukup aman. Kita ga perlu pusing soal antar jemput anak.
Soal makanan, di Jepang itu umumnya masakan lebih simple. Cuma goreng salmon aja beres. Sementara di Indonesia salmon itu termasuk makanan mewah, di Jepang orang makan salmon sebagai makanan sehari-hari. Harga memang lebih terjangkau daripada salmon di Indonesia.
Intinya itu, banyak hal yang mempermudah hidup sehingga keberadaan ART itu tidak terasa sangat signifikan. Tapi kalau di Indonesia bagaimana? Terutama di kota-kota besar, kita ngeri juga melepas anak pergi pulang sekolah sendiri. Kalau orang tua dua-duanya bekerja, tidak ada after school program seperti di Jepang yang mudah dijangkau. Soal masakan juga masakan Indonesia cukup ribet. Singkat cerita, jika kita tidak punya support system yang kuat, mempekerjakan ART adalah salah satu pilihan untuk mempermudah hidup.
Terus gimana, pulang ke Indonesia saya pakai ART ngga? Saya sih ngga pakai. Bukan karena ingin jadi ibu teladan yang mau ngerjain semuanya sendiri, tapi memang karena rumah saya ini kecil dan kalau ada ART, privacy di rumah jadi ngga ada. Selain itu juga, puji syukurnya itu Mama dan Papa mau dititipi Joanna selama saya bekerja, dan Joanna juga bisa urus dirinya sendiri jadi tidak terlalu merepotkan Mama Papa. Jadi saya pikir, ngga pakai ART juga kehidupan masih bisa berjalan baik.
Yang sebenarnya saya ngga suka itu bukan masalah pakai ART atau tidak. Yang menurut saya sangat menyebalkan itu adalah gimana kelompok ibu-ibu yang pakai ART dan tidak itu saling merasa diri paling benar dan cenderung menjatuhkan yang lain. Ini sama saja dengan perdebatan ibu-ibu antara yang kasih ASI eksklusif dan tidak, yang melahirkan secara alamiah atau caesar, yang bekerja dan tidak bekerja, yang pesan catering dan masak sendiri. Sudahlah, kita jalan dengan jalan masing-masing aja yang penting kita nyaman. Bagus ngganya itu bukan bagian kita untuk menilai.
Lagipula, kok pakai atau tidak pakai ART, melahirkan alamiah atau caesar, ASI atau susu formula, mengapa harus dijadikan pencapaian sih. Konon katanya ada istilah S1 ASI kalau sukses ASI eksklusif 6 bulan, S2 ASI kalau ASI terus selama satu tahun, dan S3 ASI kalau ASI sampai 2 tahun. Jujur ya saya sih daripada Joanna S3 ASI, saya akan lebih bahagia kalau Joanna S3 beneran.
Hidup sebagai ibu itu adalah bagian dari keseharian dan gaya hidup. Ia adalah kewajaran, bukan keluarbiasaan. Ia adalah keberagaman, karena tidak pernah ada satu jalan hidup sebagai ibu yang paling benar atau paling salah.
6 Juli 2017
Rouli Esther Pasaribu

Menulis dan popularitas


Maret 2011, gempa bumi dan tsunami melanda bagian timur utara Jepang, yaitu di wilayah Tohoku. Saat itu saya sedang kuliah S2, sudah selesai tahun pertama dan sedang menikmati libur musim semi untuk masuk ke tahun kedua pada bulan April 2011.
Berdasarkan hasil pengamatan saya terhadap acara-acara TV di Jepang yang meliput tentang gempa bumi hebat tersebut, saya lalu menulis notes di Facebook, dengan judul "Say Yes! to Gambaru". Sebenarnya tidak ada sedikitpun niat khusus menuliskan tulisan itu. Sama dengan tulisan-tulisan saya yang lain, emang saya hanya ingin menulis saja, ingin berbagi saja. Tidak lebih dari itu.
Entah mengapa, tulisan itu jadi viral. Dishare di berbagai tempat, di milis, di media sosial. Dan berdasarkan tulisan saya, dibuatlah tulisan tentang semangat gambaru orang Jepang oleh seorang guru etos terkenal dan dimuat di Kompas halaman dua. Ada juga liputan di stasiun TV Indonesia yang konon menyebut-nyebut nama saya.
Akibat viralnya tulisan saya itu, saya menerima banyak permintaan pertemanan di FB saya. Saya terima. Banyak juga yang memuji tulisan saya, minta kenalan, dan sebagainya. Nahhhh di sini saya mulai mawas diri. Apa maksudnya mawas diri?
Saya menyadarkan diri saya sendiri, untuk tidak larut dalam pujian. Belum tentu tulisan saya itu luar biasa. Mungkin tulisan itu viral karena momentnya pas dan mungkin saya yang pertama menulis tentang gempa bumi itu dalam bentuk tulisan yang ringan. Kalau saya terus menerus melenakan diri dalam pujian, bisa-bisa saya ngga produktif. Lebih parah lagi, saya akan menganggap diri saya hebat, padahal kan faktanya saat itu saya adalah mahasiswa S2 yang sedang mengalami siksaan akademik di kampus tercinta. Hebat dari mananya?
Itu sebabnya saya dengan sengaja tidak membalas satu per satu komentar orang-orang yang membaca tulisan saya. Saya balas borongan dan "bersifat umum", seperti "terima kasih banyak sudah baca tulisan saya." Saya juga sengaja tidak membuat akun media sosial lain seperti twitter atau instagram. Ini semua saya lakukan agar jangan sampai saya jadi orang yang sok beken hanya karena satu tulisan saja. Sekarang sih saya punya akun twitter atau instagram tapi saya sama sekali tidak aktif. Jarang saya buka malah.
Sekarang ini sebenarnya mudah untuk kita menjadi terkenal. Posting saja satu tulisan dan jika momentnya tepat, tulisan itu jadi viral dan kita bisa tiba-tiba punya banyak penggemar. Tetapi, jadi terkenal itu menurut saya lebih banyak ngga enaknya daripada enaknya. Semua mata akan menyoroti kelakuan kita. Kita jadi ngga bebas. Dan begitu kita melakukan kesalahan, orang-orang dari berbagai penjuru akan membully kita dengan sadis.
Bagi saya, menulis itu jauh kaitannya dengan popularitas. Menulis untuk saya adalah kebutuhan jiwa. Namanya kebutuhan jiwa, berarti akan terus dilakukan demi kestabilan batin.
Beberapa orang pernah menyarankan untuk saya membukukan notes-notes FB saya yang jumlahnya ratusan itu. Ada juga yang menyarankan untuk kirim tulisan ke media. Tapi sampai hari ini saya belum pernah melakukan semua itu. Mengapa?
Saya hanya berpikir, kalau saya membukukan tulisan saya, orang jadi harus bayar dan usaha lebih untuk baca. Sedang kalau di FB gini kan gratis. Selain itu, saya memang punya komitmen sebagai akademisi: sebelum saya tulis-tulis buku non ilmiah, prioritas saya harus buku ilmiah dulu. Buku ilmiah terbit, baru deh nulis yang lain. Moga-moga deh ya, pada paruh pertama usia 40an, buku ilmiah pertama saya bisa beneran terbit. Mohon doa!
Sekitar dua tahun yang lalu, saya menghadiri sebuah konferensi di Surabaya. Di situ saya bertemu dengan seorang pengajar studi Jepang di daerah Jawa Timur. Setelah berkenalan, ia bertanya,
"Ini Rouli Esther yang menulis "Say Yes! to Gambaru" ya?
Saya jawab: "Iya"
"Saya pakai tulisan Rouli pada mata kuliah masyarakat Jepang, untuk mengajarkan tentang gambaru pada mahasiswa-mahasiswa saya"
Saya jawab: "Terima kasih banyak. Saya jadi terharu."
Beneran, saya sangat terharu saat itu. Meskipun saya tidak pernah dibayar karena apa yang saya tulis, tapi kalau dengar kisah kayak gini, rasanya senang banget. Di titik itu saya ingin terus dan terus menulis.
Jadi, menulis itu menurut saya, tidak ada kaitan dengan popularitas. Mungkin saya memang orang yang sok idealis, tapi sungguh, meminjam idenya Rene Descartes "Cogito ergo sum" (Aku berpikir maka aku ada), saya pun dengan mantap berkata dari lubuk hati saya: "Aku menulis maka aku ada"
Bogor, 5 Juli 2017
Rouli Esther Pasaribu

"Kuliah di jurusan apa? di mana?"


Tahun 1996, saya lulus SMA dan mendaftar ikut UMPTN (sekarang namanya SBMPTN) alias Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Saya mendaftar ke Jurusan Sastra Jepang dan Jurusan Sastra Jerman Fakultas Sastra UI (sekarang namanya FIB Fakultas Ilmu Budaya). Keterima? Ngga! Saya ngga lolos masuk di pilihan pertama dan kedua saya.
Karena memang maunya Jurusan Sastra Jepang atau Jerman,saya juga mendaftar di program D3 Bahasa Jepang dan Bahasa Jerman Fakultas Sastra UI. Garis hidup lalu membawa saya kuliah di program D3 Bahasa Jepang Fakultas Sastra UI. Seandainya saat itu saya diterimanya di jurusan Jerman, mungkin saat ini saya jadi dosen studi Jerman kali ya....dan mungkin sudah kelilling Eropa (ngareeeeep....)
Nahhhh, setelah mulai kuliah ini, keseruan-keseruan rese mulai timbul. Biasalah ya, halak kita ini kan doyan basa basi, termasuk tanya-tanya soal kuliah.
Kasus 1
"Kuliah di mana?"
Saya jawab:"UI"
"Jurusan apa?"
Saya jawab: "D3 Bahasa Jepang"
"Kok D3 sih? Nanggung lho ngga dapat gelar."
Saya jawab: "ngga keterima di S1nya"
"Ohhh...moga2 nanti bisa lanjut sampai S1 ya."
Kasus 2
"Ambil jurusan apa?"
Saya jawab: "Bahasa Jepang"
"Ntar kerjanya gimana tuh ya?"
"Belum tahu"
"Moga-moga cepat dapat kerja ya"
Kasus 3
"Program diploma UI kan kayak swastanya UI ya bayarnya mahal"
Saya jawab: "Iya, lebih mahal dari yang S1nya"
"Kenapa ngga masuk S1?"
Saya jawab: "Ngga diterima"
"Ntar gimana tuh abis lulus, lanjut S1 di tempat yang sama bisa ga tuh?"
Saya jawab: "Kalau di tempat yang sama sepertinya ngga bisa."
Dari percakapan-percakapan itu, saya yang saat itu berusia akhir belasan tahun, mengambil kesimpulan:
1. Kalau ngga lulus UMPTN, biar namanya UI, langsung dicapnya UI kw (ya apalah saya ini dibanding anak rantau macam suami saya dan saudara-saudaranya yang nembus jurusan favorit di PTN ternama. Sembahhhhh!!!!)
2. Jurusan sastra kayaknya emang belum dianggap bisa memberikan masa depan cerah. Terutama untuk generasi di atas saya, empat besar jurusan yang akan memberikan kesuksesan adalah: kedokteran, teknik, ekonomi, hukum.
Meskipun agak gondok dengan ucapan-ucapan halak kita ini, tapi diam-diam ucapan-ucapan itu saya jadikan bahan pemikiran demi menuju masa depan yang lebih baik. Biar bagaimanapun tidak dapat dipungkiri, namanya universitas negeri, pasti punya nama besar. Lulusannya sudah pasti lebih diperhitungkan karena nama besar itu. Setelah lulus program D3 Bahasa Jepang UI, saya lalu melanjutkan studi S1 di jurusan Sastra Jepang Universitas Nasional. Saya kan mau jadi dosen, langkah pertama mesti lulus S1 dulu dong.
Selama saya kuliah S1 di Unas, saya lalu melakukan berbagai macam cara untuk meng-upgrade kemampuan diri. Benchmarking saya adalah lulusan S1 Sastra Jepang UI. Saya melakukan riset, mereka ini punya nilai tambah apa saja. Lalu saya temukan empat hal ini: pernah studi di Jepang selama satu tahun, menang lomba pidato bahasa Jepang, ikut les bahasa Jepang di Japan Foundation, lulus ujian kemampuan bahasa Jepang minimal N2. Selama saya menempuh studi S1 di Unas, saya upayakan untuk memenuhi empat hal ini. Kan saya mau jadi dosen Sastra Jepang, kualitas dasar ini harus terpenuhi.
Selesai kuliah S1, saya lanjut kuliah S2 di Program Pascasarjana Kajian Wilayah Jepang UI dan di saat yang sama, saya mulai mengajar di jurusan Bahasa Jepang pada sebuah perguruan tinggi swasta. 2,5 tahun kemudian saya lulus, tetapi saya merasa diri ini masih kurang ilmu, kasihan mahasiswa-mahasiswa saya nanti. Dan lagi, demi nilai tambah, sepertinya jika memang memungkinkan, studi pascasarjana di Jepang memang harus dijalankan, demi peningkatan kualitas diri yang lebih baik.
Singkat cerita, semesta merestui niat saya untuk studi di Jepang, dan akhirnya dari tahun 2009-2015, terdamparlah saya di Osaka University, demi menimba ilmu pengetahuan dan ilmu kehidupan.
Saat ini, saya utamanya sedang dalam tahap embrio merintis karir dan mengajar di perguruan tinggi tempat saya ngga lulus UMPTN itu. Rekan-rekan kerja saya semuanya orang-orang yang memang pintar, bukan macam saya yang harus tambal sana sini, jungkir balik sana sini, menempuh berbagai cara (halal tapi ya!) demi meningkatkan kualitas diri. Tetapi, mau emang pintar dari lahir atau yang model saya, berusaha mengimbangi modal awal yang pas-pasan dengan bekerja keras dan berusaha maksimal, terakhir-terakhirnya orang-orang akan melihat kualitas diri kita.
Berita baiknya, kualitas diri itu bisa ditingkatkan. Asal kita mau dan benar-benar usaha. Mungkin karena cerita hidup saya yang tidak serta merta kuliah di perguruan tinggi ternama, hingga hari ini saya melihat orang lebih kepada kualitas perseorangannya, bukan pada dari mana ia lulus atau di mana ia bekerja.
Tidak semua orang dikaruniai otak cerdas dari lahir. Tidak semua orang juga "beruntung" , hanya dengan sekali mencoba, bisa sekolah di tempat yang sudah punya nama besar. Tetapi, semua orang dikaruniai otak untuk memikirkan strategi hidup dan hikmat untuk melangkah tahap demi tahap. Terus berproses meningkatkan kualitas diri adalah tanggungjawab kita terhadap hidup ini. Agar berguna kita bagi diri sendiri, agar diri memberi manfaat pada hidup orang lain.
5 Juli 2017
Rouli Esther Pasaribu

Shift kedua


Tahun 1989, Arlie Russell Hochschild, seorang Profesor Sosiologi dari University of California Berkeley menerbitkan buku berjudul "The Second Shift". Buku ini adalah hasil riset beliau selama tahun 1970an-1980an terhadap 50 pasang suami istri yang sama-sama bekerja dan berbagi beban pekerjaan rumah tangga di Amerika Serikat. Melalui wawancara dan observasi yang intens dalam kurun waktu yang cukup lama, beliau mendapati fakta bahwa meskipun jaman telah berubah, dalam arti perempuan dapat berkarya di ranah publik, bisa punya pekerjaan di luar rumah dan karir dengan gaji yang cukup bagus, tetap saja yang mengerjakan second shift alias shift kedua (shift pertama adalah pekerjaan di kantor) lebih banyak itu adalah perempuan dibanding laki-laki. "The second shift" sendiri adalah istilah yang diciptakan oleh Prof Hochschild untuk menyebut pekerjaan profesional yang dibayar di ranah publik sebagai shift pertama dan pekerjaan rumah tangga di dalam ranah domestik sebagai shift kedua atau "the second shift".
Dalam bukunya, Prof Hochschild mengemukakan bahwa perempuan mengadaptasi perubahan dengan cepat, maju dan berkarya, hanya yang kerap kali terjadi adalah perempuannya saja yang berubah, sedang lingkungan sekitarnya tetap stagnan dan tidak ikut berubah, atau kalaupun ikut berubah, tidak serevolusioner perubahan pemikiran dan perilaku perempuan.
Saya pertama kali membaca buku "The Second Shift" di perpustakaan pusat Osaka University, Toyonaka campus. Buku ini ada di rak buku-buku gender studies, salah satu rak yang paling sering saya kunjungi selama enam tahun menggunakan perpustakaan tercinta ini. Membaca buku Prof Hochschild membuat saya berkali-kali berujar dalam hati, "ini benar banget! ini benar banget!"
Sering mendengar ungkapan-ungkapan seperti ini dari orang-orang di sekitar kita?
"Suami gue sih baik banget, waktu hari ibu, dia ijinin gue untuk me time dan dia yang ngerjain seluruh kerjaan rumah."
"Suami lu baik banget sih mau bantuin ngurus anak dan cuci piring segala."
"Suami kayak si A langka lho, karena mau siaga urus anak. Enak banget ya punya suami kayak gitu."
Tanpa mengecilkan arti suami siaga urus anak, suami ikut membantu pekerjaan rumah tangga dan tanpa mengurangi rasa hormat saya pada suami-suami ini, saya sebenarnya agak miris dengan pernyataan-pernyataan di atas. Mengapa?
Karena, bottom line-nya, di balik pernyataan-pernyataan tersebut, wacana patriarki tetap bermain dengan sangat kuat: perempuanlah pelaku utama ranah domestik, laki-laki "hanya" pemeran pembantu. Dengan kata lain, perempuan penggerak utama kegiatan harian di dalam rumah tangga: masak, beres-beres, cuci-jemur-gosok baju, sapu-pel, buang sampah, sikat kamar mandi dan toilet, you name it. Laki-laki mungkin bergerak dalam bidang memperbaiki genteng bocor atau cuci mobil atau memperbaiki saluran air, tapi kita tidak tiap hari memperbaiki genteng bocor, bukan? Sedang masak, cuci-jemur baju, sapu-pel, ini semua basisnya harian (oke di rumah saya pel lantai hanya kalau lagi mood saja, ngga jelas rentang waktunya berapa lama).
Selain itu, saya diam-diam sudah lama mengamati kecenderungan ini: seolah-olah karena perempuan "boleh" bekerja di luar rumah, maka ia harus "membayar hak istimewa" ini dengan giat mengerjakan pekerjaan rumah tangga lebih daripada laki-laki. Giat mengerjakan pekerjaan rumah tangga ini sebenarnya juga bukan karena laki-laki yang menuntut, tetapi saya perhatikan, lebih karena perempuan merasa bersalah karena ia telah menghabiskan banyak waktu di luar rumah, jadi ia "menebusnya" dengan mengerjakan mungkin dua pertiga dari pekerjaan rumah tangga atau bisa juga tindakannya ini karena ia merasa harus menunjukkan rasa syukur sudah "diijinkan" untuk beraktivitas di luar rumah, jadi ia meresponnya dengan sigap menyelesaikan urusan pekerjaan rumah tangga.
Salah satu solusi agar baik suami maupun istri sama-sama nyaman tidak dibebani house cores yang membludak adalah dengan mempekerjakan ART. Tapi tetap saja ini tidak mengubah wacana dasar pembagian tugas laki-laki di luar rumah dan perempuan di dalam rumah. Apalagi jika kita tinggal di negara maju, yang tenaga kerja sangat mahal sehingga budaya mempekerjakan ART itu tidak lazim.
Satu lagi yang juga menurut saya melelahkan adalah anggapan bahwa manager rumah tangga itu harus istri. Contoh sederhana, pertanyaan-pertanyaan seperti ini biasanya ditujukan pada ibu atau istri:
"Hari ini makan apa?"
"Kapan kita belanja?" (Bahan makanan ya, bukan baju atau sepatu!)
"Ngga ada makanan lho di rumah."
Pertanyaan balik dari saya sebenarnya juga tidak kalah sederhana: kalau ngga ada makanan, mengapa tidak langsung inisiatif buka kulkas dan masak, kalau tidak ada bahan makanan, mengapa tidak langsung gerak belanja ke pasar atau supermarket atau tukang sayur. Mengapa harus selalu menunggu inisiatif dari perempuan? Lagi-lagi ini karena di bawah sadar, kita sudah dididik dan diinternalisasikan dengan nilai-nilai pembagian tugas berdasarkan gender yang kaku: perempuan adalah ratu pekerjaan rumah tangga dan laki-laki adalah raja pekerjaan profesional.
Sampai saat tulisan ini ditulis, saya belum tahu solusinya bagaimana agar second shift ini bisa benar-benar terbagi secara adil. Memang menurut saya dalam basis yang kecil seperti misalnya keluarga inti, sudah banyak pekerjaan rumah tangga yang juga dirambah laki-laki. Sekalipun kehadiran laki-laki untuk urusan house cores pada umumnya bukan sebagai pemeran utama tapi sebagai pemeran pembantu, tetap saja eksistensi pemeran pembantu itu harus disyukuri, mengingat sampai pada generasi orang tua saya misalnya, pembagian peran suami istri dalam sebuah keluarga itu masih kaku. Tetapi dalam level makro, misalnya acara kenegaraan atau acara adat, tetap saja aneh kan jika kita melihat pemandangan laki-laki dan perempuan sama-sama sibuk di dapur dan sama-sama aktif dalam acara? Ini pertanda patriarki memang masih menjadi konstruksi dominan di dalam kehidupan bermasyarakat.
Tahun 2012, buku "The Second Shift" karya Arlie Russell Hochschild dicetak ulang. Mungkin dicetak ulang karena meski terbit pertama kali pada tahun 1989, tema yang diangkat beliau tetap relevan untuk kondisi saat ini.
"Most women without children spend much more time than men on housework; with children, they devote more time to both housework and child care. Just as there is a wage gap between men and women in workplace, there is a "leisure gap" between them at home. Most women work one shift at the office or factory, and a "second shift" at home. (Arlie Russell Hochschild)
Untuk kita renungkan bersama.
1 Juli 2017
Rouli Esther Pasaribu

Shifuku (雌伏)


Sebenarnya kegiatan #nulisrandom2017 akan selesai hari ini, tapi karena berbagai kesibukan saya pada paruh akhir Juni 2017, saya jadi tidak bisa mengambil waktu untuk menulis setiap hari secara rutin. Tetapi, pasti saya akan selesaikan komitmen menulis 30 hari ini.
Pernah merasa kehidupan kita tidak naik level, karir mandeg, hidup begitu-begitu saja? Galau melihat teman-teman lain melakukan lompatan demi lompatan dan mereka melesat naik dengan gilang gemilang sementara kita tertinggal dan tidak tahu kapan keadaan akan berubah menjadi lebih baik? Atau kita pernah berhasil dalam hidup, setelah itu kita terpuruk dan terus berada dalam kondisi tersebut dalam jangka waktu lama?
Dalam bahasa Inggris, ada satu kata yang menggambarkan masa di mana kita sulit untuk maju, karena ada berbagai kesulitan, tantangan, faktor luar yang di luar kendali kita. Kata itu adalah "setback". Menurut kamus Cambridge, setback adalah "something that happens that delays or prevents a process from developing". Apa yang menghambat proses kemajuan? Bisa macam-macam. Bisa kondisi tiba-tiba dipecat lalu sulit mendapat pekerjaan lagi. Bisa penyakit yang membutuhkan waktu lama untuk proses penyembuhan. Dan khusus untuk perempuan, jika ia punya anak usia sekolah, apalagi balita atau batita, tenaga bisa terkuras habis hari demi hari mengurus anak-anak dan rumah tangga, padahal hati ini menjerit menginginkan kehidupan lain selain anak dan suami (dan sungguh itu bukanlah dosa, itu sangat wajar).
Semua juga tahu, masa-masa setback itu ngga enak. Ngga enaknya itu karena kita sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi banyak faktor di luar kendali kita yang membuat kita tidak dapat maju. Kita seperti terus bergerak di satu tempat dan tidak dapat melakukan lompatan untuk maju ke depan, karena ada faktor-faktor luar yang mengekang gerak kita.
Ketika saya menulis disertasi saya, Prof saya memperkenalkan saya pada satu kata baru dalam bahasa Jepang yang menurut saya sangat indah dan dalam artinya, yaitu: shifuku. Kata ini bukan diajarkan secara khusus kepada saya, tetapi kata ini muncul dalam disertasi yang telah diperbaiki beliau. Dalam satu paragraf kesimpulan, saya menulis "dalam tahun-tahun yang sulit, Enchi Fumiko yang memulai karirnya sejak usia 20an, terus bersabar dan bertahan, dan akhirnya pada usia 50an, akhirnya ia berhasil menjadi pengarang yang diakui di dalam dunia kesusastraan Jepang." Kata "bersabar dan bertahan" diganti oleh Prof saya dengan kata "shifuku". Karena saya baru pertama kali mendengar kata ini, maka saya mencarinya di kamus, dan inilah artinya: terus berusaha dan mempersiapkan diri, menanti waktu dan kesempatan untuk berkarya (bukan menanti dengan diam saja tanpa melakukan apa-apa).
Lebih "gila" lagi, menurut Prof saya, kata "shifuku" itu jadi makin dalam artinya jika ditelaah dengan pendekatan gender. Shifuku terdiri dari dua karakter, yaitu 雌 yang artinya female atau perempuan atau betina dan 伏 yang artinya membungkuk, menunduk, bersembunyi. Lawan kata shifuku adalah yuuhi yang terdiri dari dua karakter, yaitu 雄 yang artinya male atau laki-laki atau jantan dan 飛 yang artinya terbang atau melompat. Yuuhi sendiri memiliki arti "berkarya dengan gemilang dan berani".
Dalam masa-masa penantian untuk bisa lebih maju dan naik level, seorang perempuan memang menghadapi banyak tantangan yang lebih berat dibanding laki-laki. Wacana di balik ini semua adalah budaya patriarki yang sudah terinternalisasi, yang menganggap perempuan itu tempatnya di rumah dan jika mau berkarya di luar ranah domestik, butuh usaha lebih, karena meski tidak selalu diucapkan secara gamblang, di bawah sadar, tetap ada pemikiran "perempuan itu kalau mau karir-kariran itu cukup pekerjaan tambahan saja, utamanya jadi istri dan ibu. Jadi sebisa mungkin tidak perlu ambisius mengejar karir."
Maka itu, mungkin itulah sebabnya, "terus berusaha dan mempersiapkan diri menanti waktu dan kesempatan yang tepat untuk berkarya" diwakilkan dengan dua karakter, yaitu "betina" dan "menunduk, bersembunyi,membungkuk", mengadaptasi pemikiran bahwa perempuan di dalam menjalani masa-masa setback, tidak tinggal diam, tapi terus berusaha, terus mempersiapkan diri, dan mengatur strategi sampai nanti tiba masanya untuk berkarya penuh. Ia bukan membungkuk tanpa arti, bukan bersembunyi dengan hanya merenungi nasib, tapi ia membungkuk, bersembunyi, menunduk sambil terus aktif mempersiapkan diri agar "layak" meraih sukses ketika saatnya tiba.
Kita tidak pernah tahu kapan kesempatan untuk berkarya maksimal itu tiba. Tetapi satu hal yang kita tahu, setback itu pasti akan ada akhirnya, sama dengan masa-masa sukses pun tidak abadi. Semua datang silih berganti dan dalam musim kehidupan apapun, tanggungjawab kita adalah terus mempersiapkan diri.
Jangan sampai ketika kesempatan tiba, kita tidak siap. Akhirnya kesempatan lewat dan kali ini kitalah yang menjadi penyebab tidak dapat keluar dari setback.
Sementara belum tiba saatnya untuk melesat terbang menggapai sukses atau yuuhi (雄飛), tetaplah melakukan shifuku (雌伏) dengan tidak terburu-buru, tetapi tidak goyah, pelan-pelan tetapi mantap.
30 Juni 2017
Rouli Esther Pasaribu

Late bloomer


Sudah ketinggalan berhari-hari untuk rangkaian kegiatan #nulisrandom2017 ini, yang seharusnya satu hari satu tulisan, tapi saya pasti selesaikan sampai target 30 hari meski pace-nya ngga sama dengan yang lain.
Pernah dengar istilah late bloomer? Ini istilah untuk orang yang mekar atau berhasil atau suksesnya "terlambat" dari ukuran rata-rata yang ditetapkan masyarakat.
Contohnya, Laura Ingals Wilder yang mengarang seri "Little House on the Prairie". Sampai hari ini buku-buku beliau terkenal dan dibaca, filmnya juga jadi legenda. Pasti kita ingat dong sosok keluarga Ingals yang terdiri dari Ma, Pa, Mary, Laura, Carrie. Usia berapa beliau menulis dan menerbitkan novelnya? 61 tahun!
Ada lagi contoh dua pengarang lain. Jean Rhys, pengarang "Wide Sargasso Sea". Tidak "seterkenal" Laura Ingals Wilder karena beliau pengarang dalam ranah sastra post kolonial dan sastra perempuan, tapi beliau menerbitkan buku pertamanya pada usia 76 tahun. Enchi Fumiko, pengarang yang saya teliti, sudah mengarang sejak usia 21 tahun, tapi baru sukses sebagai pengarang pada usia 49 tahun.
Para pengarang di atas berusia nyaris 50an, 60an, 70an ketika mereka pertama kali sukses di dunia sastra. Usia yang sudah dianggap tidak produktif lagi. Usia di mana apa yang dianggap wajar adalah diam duduk-duduk manis di rumah dan bukannya berkarya. Tapi faktanya bagaimana? Mereka bukan duduk-duduk manis, tapi malah semakin aktif berkarya menghasilkan buah. Mereka yang dianggap sudah terlambat untuk mekar, malah mengalami mekar sempurna di usia tuanya.
Betapa kita terbiasa mengkotak-kotakkan sukses tidaknya hidup seseorang dari apakah ia berhasil mencapai kesuksesan itu di usia "produktif". Betapa kita sering membatasi jalan hidup orang hanya karena hidupnya belum stabil pada usia tertentu.
Saya mengakui, saya termasuk orang yang "dianugerahi" hak istimewa untuk menjadi late bloomer. Saya kuliah S1 tidak dalam waktu 4 tahun, tapi sudah kayak anak kedokteran aja, saya selesai kuliah S1 dalam waktu 7 tahun. 3 tahun pertama saya kuliah di program diploma, lalu lanjut ke program S1, transfer kredit, dan harus tambah 2,5 tahun lagi. Ketika saya sudah siap sidang skripsi, saya mendapatkan kesempatan untuk studi di Jepang selama satu tahun. Karena persyaratannya adalah masih harus terdaftar sebagai mahasiswa di perguruan tinggi asal, maka saya menunda kelulusan saya, dan akhirnya saya menjalani sidang skripsi setelah saya kembali dari Jepang. Saya lulus kuliah S1 di usia 25 tahun.
Sementara orang lain pada umumnya sudah mulai stabil karirnya, saya tidak demikian. Saya lalu kuliah S2 di usia 26 tahun, sambil saya bekerja sebagai pengajar tidak tetap di sebuah perguruan tinggi swasta. Karir saya di bidang akademik dimulai di usia 26 tahun. Lalu saya menikah di usia 27 tahun, hamil dan lulus S2 di usia 28 tahun, dan melahirkan J di usia 29 tahun. Karir saya masih sebagai pengajar tidak tetap. Lalu di usia 30 tahun, saat anak saya masih berusia 1 tahun, saya mencoba mengikuti ujian beasiswa mombusho untuk studi di Jepang. Lulus. Lalu saya berangkat ke Jepang pada usia 31 tahun.
Batas pelamar beasiswa mombusho adalah 35 tahun pada saat keberangkatan. Saya yang saat berangkat berusia 31 tahun, termasuk yang tua. Ada yang usianya 30an tahun juga, tapi mereka kebanyakan sudah punya posisi yang stabil di tempat kerja. Mau tahu status saya saat berangkat ke Jepang? Pengangguran!
Lalu saya menghabiskan 6 tahun di Jepang untuk studi. Dalam tahun-tahun itu, tidak jarang saya mendapatkan komentar dari orang-orang terdekat, sehubungan dengan status pengangguran saya.
"Nanti gimana, udah lulus S3 tapi ngga punya kerja?"
"Orang kan biasanya sudah punya posisi jadi dosen tetap dulu, ngga kayak kamu yang sekolah dulu padahal belum punya posisi. Gimana tuh ntar?"
Saya sendiri juga tidak tahu akan bagaimana nanti. Tapi daripada ketakutan saat itu dan langsung pulang untuk cari posisi, lebih baik saya selesaikan studi saya dulu, dan akhirnya setelah 6 tahun, di usia 37 tahun, saya menyelesaikan studi saya.
Bayangkan, usia 37 tahun dan tidak punya pekerjaan. Gimana galaunya itu...tapi the show must go on. Memang saya yang memilih jadi akademisi, jadi kuliah sampai S3 adalah mutlak. Setelah saya pulang, karena tidak punya posisi, saya bukannya langsung berkarya tapi malah kerja di sekolah anak saya yang tidak ada hubungannya dengan studi Jepang. Dalam tahun itu, Prof selalu menyemangati saya untuk tidak menyerah dan terus melakukan shifuku.
Apa itu shifuku? Ini salah satu kosa kata dalam bahasa Jepang yang sangat indah menurut saya. Shifuku artinya terus berusaha dan mempersiapkan diri sambil menanti waktu untuk mekar sempurna tiba.
Lalu setelah saya bekerja satu tahun di sekolah anak saya, saya mulai merintis karir sebagai akademisi. Saat ini usia saya 39 tahun, seharusnya dalam "ukuran normal", saya ini sudah masuk ke level mid career, tapi hingga hari ini saya masih embrio. Tapi sekalipun posisi saya adalah embrio, saya punya prinsip: kualitas kerja tidak boleh menurun sekalipun karir masih belum stabil. Dan saya meyakini, setiap orang memang ada waktunya masing-masing untuk mekar sempurna.
Bayangkan jika Laura Ingals Wilder, Jean Rhys, Enchi Fumiko menyerah menjadi pengarang "hanya karena" usianya sudah lewat 40 tahun dan mereka belum berhasil. Selamanya mereka akan menjadi orang-orang biasa yang tenggelam dalam arus jaman. Kita tidak akan pernah membaca karya-karyanya yang sangat menginspirasi.
Karena setiap orang sudah punya waktunya masing-masing. Tinggal kita mau atau tidak mengikuti jalan hidup ini, atau menyerah karena merasa terlalu berat? Jika saya diberi hak istimewa sebagai late bloomer, maka jadilah! Jangan melawan garis hidup dan jangan melawan kata hati.
26 Juni 2017
Rouli Esther Pasaribu