Saturday, July 22, 2017

Shifuku (雌伏)


Sebenarnya kegiatan #nulisrandom2017 akan selesai hari ini, tapi karena berbagai kesibukan saya pada paruh akhir Juni 2017, saya jadi tidak bisa mengambil waktu untuk menulis setiap hari secara rutin. Tetapi, pasti saya akan selesaikan komitmen menulis 30 hari ini.
Pernah merasa kehidupan kita tidak naik level, karir mandeg, hidup begitu-begitu saja? Galau melihat teman-teman lain melakukan lompatan demi lompatan dan mereka melesat naik dengan gilang gemilang sementara kita tertinggal dan tidak tahu kapan keadaan akan berubah menjadi lebih baik? Atau kita pernah berhasil dalam hidup, setelah itu kita terpuruk dan terus berada dalam kondisi tersebut dalam jangka waktu lama?
Dalam bahasa Inggris, ada satu kata yang menggambarkan masa di mana kita sulit untuk maju, karena ada berbagai kesulitan, tantangan, faktor luar yang di luar kendali kita. Kata itu adalah "setback". Menurut kamus Cambridge, setback adalah "something that happens that delays or prevents a process from developing". Apa yang menghambat proses kemajuan? Bisa macam-macam. Bisa kondisi tiba-tiba dipecat lalu sulit mendapat pekerjaan lagi. Bisa penyakit yang membutuhkan waktu lama untuk proses penyembuhan. Dan khusus untuk perempuan, jika ia punya anak usia sekolah, apalagi balita atau batita, tenaga bisa terkuras habis hari demi hari mengurus anak-anak dan rumah tangga, padahal hati ini menjerit menginginkan kehidupan lain selain anak dan suami (dan sungguh itu bukanlah dosa, itu sangat wajar).
Semua juga tahu, masa-masa setback itu ngga enak. Ngga enaknya itu karena kita sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi banyak faktor di luar kendali kita yang membuat kita tidak dapat maju. Kita seperti terus bergerak di satu tempat dan tidak dapat melakukan lompatan untuk maju ke depan, karena ada faktor-faktor luar yang mengekang gerak kita.
Ketika saya menulis disertasi saya, Prof saya memperkenalkan saya pada satu kata baru dalam bahasa Jepang yang menurut saya sangat indah dan dalam artinya, yaitu: shifuku. Kata ini bukan diajarkan secara khusus kepada saya, tetapi kata ini muncul dalam disertasi yang telah diperbaiki beliau. Dalam satu paragraf kesimpulan, saya menulis "dalam tahun-tahun yang sulit, Enchi Fumiko yang memulai karirnya sejak usia 20an, terus bersabar dan bertahan, dan akhirnya pada usia 50an, akhirnya ia berhasil menjadi pengarang yang diakui di dalam dunia kesusastraan Jepang." Kata "bersabar dan bertahan" diganti oleh Prof saya dengan kata "shifuku". Karena saya baru pertama kali mendengar kata ini, maka saya mencarinya di kamus, dan inilah artinya: terus berusaha dan mempersiapkan diri, menanti waktu dan kesempatan untuk berkarya (bukan menanti dengan diam saja tanpa melakukan apa-apa).
Lebih "gila" lagi, menurut Prof saya, kata "shifuku" itu jadi makin dalam artinya jika ditelaah dengan pendekatan gender. Shifuku terdiri dari dua karakter, yaitu 雌 yang artinya female atau perempuan atau betina dan 伏 yang artinya membungkuk, menunduk, bersembunyi. Lawan kata shifuku adalah yuuhi yang terdiri dari dua karakter, yaitu 雄 yang artinya male atau laki-laki atau jantan dan 飛 yang artinya terbang atau melompat. Yuuhi sendiri memiliki arti "berkarya dengan gemilang dan berani".
Dalam masa-masa penantian untuk bisa lebih maju dan naik level, seorang perempuan memang menghadapi banyak tantangan yang lebih berat dibanding laki-laki. Wacana di balik ini semua adalah budaya patriarki yang sudah terinternalisasi, yang menganggap perempuan itu tempatnya di rumah dan jika mau berkarya di luar ranah domestik, butuh usaha lebih, karena meski tidak selalu diucapkan secara gamblang, di bawah sadar, tetap ada pemikiran "perempuan itu kalau mau karir-kariran itu cukup pekerjaan tambahan saja, utamanya jadi istri dan ibu. Jadi sebisa mungkin tidak perlu ambisius mengejar karir."
Maka itu, mungkin itulah sebabnya, "terus berusaha dan mempersiapkan diri menanti waktu dan kesempatan yang tepat untuk berkarya" diwakilkan dengan dua karakter, yaitu "betina" dan "menunduk, bersembunyi,membungkuk", mengadaptasi pemikiran bahwa perempuan di dalam menjalani masa-masa setback, tidak tinggal diam, tapi terus berusaha, terus mempersiapkan diri, dan mengatur strategi sampai nanti tiba masanya untuk berkarya penuh. Ia bukan membungkuk tanpa arti, bukan bersembunyi dengan hanya merenungi nasib, tapi ia membungkuk, bersembunyi, menunduk sambil terus aktif mempersiapkan diri agar "layak" meraih sukses ketika saatnya tiba.
Kita tidak pernah tahu kapan kesempatan untuk berkarya maksimal itu tiba. Tetapi satu hal yang kita tahu, setback itu pasti akan ada akhirnya, sama dengan masa-masa sukses pun tidak abadi. Semua datang silih berganti dan dalam musim kehidupan apapun, tanggungjawab kita adalah terus mempersiapkan diri.
Jangan sampai ketika kesempatan tiba, kita tidak siap. Akhirnya kesempatan lewat dan kali ini kitalah yang menjadi penyebab tidak dapat keluar dari setback.
Sementara belum tiba saatnya untuk melesat terbang menggapai sukses atau yuuhi (雄飛), tetaplah melakukan shifuku (雌伏) dengan tidak terburu-buru, tetapi tidak goyah, pelan-pelan tetapi mantap.
30 Juni 2017
Rouli Esther Pasaribu

Late bloomer


Sudah ketinggalan berhari-hari untuk rangkaian kegiatan #nulisrandom2017 ini, yang seharusnya satu hari satu tulisan, tapi saya pasti selesaikan sampai target 30 hari meski pace-nya ngga sama dengan yang lain.
Pernah dengar istilah late bloomer? Ini istilah untuk orang yang mekar atau berhasil atau suksesnya "terlambat" dari ukuran rata-rata yang ditetapkan masyarakat.
Contohnya, Laura Ingals Wilder yang mengarang seri "Little House on the Prairie". Sampai hari ini buku-buku beliau terkenal dan dibaca, filmnya juga jadi legenda. Pasti kita ingat dong sosok keluarga Ingals yang terdiri dari Ma, Pa, Mary, Laura, Carrie. Usia berapa beliau menulis dan menerbitkan novelnya? 61 tahun!
Ada lagi contoh dua pengarang lain. Jean Rhys, pengarang "Wide Sargasso Sea". Tidak "seterkenal" Laura Ingals Wilder karena beliau pengarang dalam ranah sastra post kolonial dan sastra perempuan, tapi beliau menerbitkan buku pertamanya pada usia 76 tahun. Enchi Fumiko, pengarang yang saya teliti, sudah mengarang sejak usia 21 tahun, tapi baru sukses sebagai pengarang pada usia 49 tahun.
Para pengarang di atas berusia nyaris 50an, 60an, 70an ketika mereka pertama kali sukses di dunia sastra. Usia yang sudah dianggap tidak produktif lagi. Usia di mana apa yang dianggap wajar adalah diam duduk-duduk manis di rumah dan bukannya berkarya. Tapi faktanya bagaimana? Mereka bukan duduk-duduk manis, tapi malah semakin aktif berkarya menghasilkan buah. Mereka yang dianggap sudah terlambat untuk mekar, malah mengalami mekar sempurna di usia tuanya.
Betapa kita terbiasa mengkotak-kotakkan sukses tidaknya hidup seseorang dari apakah ia berhasil mencapai kesuksesan itu di usia "produktif". Betapa kita sering membatasi jalan hidup orang hanya karena hidupnya belum stabil pada usia tertentu.
Saya mengakui, saya termasuk orang yang "dianugerahi" hak istimewa untuk menjadi late bloomer. Saya kuliah S1 tidak dalam waktu 4 tahun, tapi sudah kayak anak kedokteran aja, saya selesai kuliah S1 dalam waktu 7 tahun. 3 tahun pertama saya kuliah di program diploma, lalu lanjut ke program S1, transfer kredit, dan harus tambah 2,5 tahun lagi. Ketika saya sudah siap sidang skripsi, saya mendapatkan kesempatan untuk studi di Jepang selama satu tahun. Karena persyaratannya adalah masih harus terdaftar sebagai mahasiswa di perguruan tinggi asal, maka saya menunda kelulusan saya, dan akhirnya saya menjalani sidang skripsi setelah saya kembali dari Jepang. Saya lulus kuliah S1 di usia 25 tahun.
Sementara orang lain pada umumnya sudah mulai stabil karirnya, saya tidak demikian. Saya lalu kuliah S2 di usia 26 tahun, sambil saya bekerja sebagai pengajar tidak tetap di sebuah perguruan tinggi swasta. Karir saya di bidang akademik dimulai di usia 26 tahun. Lalu saya menikah di usia 27 tahun, hamil dan lulus S2 di usia 28 tahun, dan melahirkan J di usia 29 tahun. Karir saya masih sebagai pengajar tidak tetap. Lalu di usia 30 tahun, saat anak saya masih berusia 1 tahun, saya mencoba mengikuti ujian beasiswa mombusho untuk studi di Jepang. Lulus. Lalu saya berangkat ke Jepang pada usia 31 tahun.
Batas pelamar beasiswa mombusho adalah 35 tahun pada saat keberangkatan. Saya yang saat berangkat berusia 31 tahun, termasuk yang tua. Ada yang usianya 30an tahun juga, tapi mereka kebanyakan sudah punya posisi yang stabil di tempat kerja. Mau tahu status saya saat berangkat ke Jepang? Pengangguran!
Lalu saya menghabiskan 6 tahun di Jepang untuk studi. Dalam tahun-tahun itu, tidak jarang saya mendapatkan komentar dari orang-orang terdekat, sehubungan dengan status pengangguran saya.
"Nanti gimana, udah lulus S3 tapi ngga punya kerja?"
"Orang kan biasanya sudah punya posisi jadi dosen tetap dulu, ngga kayak kamu yang sekolah dulu padahal belum punya posisi. Gimana tuh ntar?"
Saya sendiri juga tidak tahu akan bagaimana nanti. Tapi daripada ketakutan saat itu dan langsung pulang untuk cari posisi, lebih baik saya selesaikan studi saya dulu, dan akhirnya setelah 6 tahun, di usia 37 tahun, saya menyelesaikan studi saya.
Bayangkan, usia 37 tahun dan tidak punya pekerjaan. Gimana galaunya itu...tapi the show must go on. Memang saya yang memilih jadi akademisi, jadi kuliah sampai S3 adalah mutlak. Setelah saya pulang, karena tidak punya posisi, saya bukannya langsung berkarya tapi malah kerja di sekolah anak saya yang tidak ada hubungannya dengan studi Jepang. Dalam tahun itu, Prof selalu menyemangati saya untuk tidak menyerah dan terus melakukan shifuku.
Apa itu shifuku? Ini salah satu kosa kata dalam bahasa Jepang yang sangat indah menurut saya. Shifuku artinya terus berusaha dan mempersiapkan diri sambil menanti waktu untuk mekar sempurna tiba.
Lalu setelah saya bekerja satu tahun di sekolah anak saya, saya mulai merintis karir sebagai akademisi. Saat ini usia saya 39 tahun, seharusnya dalam "ukuran normal", saya ini sudah masuk ke level mid career, tapi hingga hari ini saya masih embrio. Tapi sekalipun posisi saya adalah embrio, saya punya prinsip: kualitas kerja tidak boleh menurun sekalipun karir masih belum stabil. Dan saya meyakini, setiap orang memang ada waktunya masing-masing untuk mekar sempurna.
Bayangkan jika Laura Ingals Wilder, Jean Rhys, Enchi Fumiko menyerah menjadi pengarang "hanya karena" usianya sudah lewat 40 tahun dan mereka belum berhasil. Selamanya mereka akan menjadi orang-orang biasa yang tenggelam dalam arus jaman. Kita tidak akan pernah membaca karya-karyanya yang sangat menginspirasi.
Karena setiap orang sudah punya waktunya masing-masing. Tinggal kita mau atau tidak mengikuti jalan hidup ini, atau menyerah karena merasa terlalu berat? Jika saya diberi hak istimewa sebagai late bloomer, maka jadilah! Jangan melawan garis hidup dan jangan melawan kata hati.
26 Juni 2017
Rouli Esther Pasaribu

"Ngajar-ngajar aja?"


Salah seorang teman saya pernah merasa jengkel karena ia ditanya oleh temannya setelah sekian lama tidak bertemu.
"Lu sekarang ngapain? Ngajar-ngajar aja?"
Jika kalimat ini dianalisa, ungkapan "ngajar-ngajar aja" itu jelas punya maksud tersirat agak meremehkan profesi sebagai pengajar. Mungkin dalam bayangan orang yang melemparkan pernyataan ini, profesi pengajar itu kayak bukan "kerja beneran", karena kita hanya berdiri di depan kelas sekitar 2 jam untuk satu mata pelajaran, dan kalau di perguruan tinggi, tidak setiap waktu dari jam 9 sampai 5 sore kita berdiri di depan kelas untuk mengajar.
Jadi, sebenarnya "ngajar-ngajar aja" itu ngapain aja dong kalau rata-rata sehari berdiri di depan kelasnya hanya 3-5 jam?
Dari pengalaman saya "ngajar-ngajar aja", justru yang paling menyita waktu itu bukan real time mengajar di depan para mahasiswanya, tapi justru persiapan sebelum mengajarnya, dan memeriksa tugas-tugas dan ujian para mahasiswa.
Persiapan sebelum mengajar, untuk persiapan besar, biasanya kita mendesain materi ajar untuk satu semester ke depan. Jika mengajarnya dengan tim atau kelompok, materi ajar ditentukan bersama-sama. Untuk yang tim, ada koordinatornya dan jika mengajar dalam tim, taat pada koordinator adalah mutlak.
Untuk yang mata kuliah yang saya pegang sendiri, saya biasanya membaca feedback dari para mahasiswa di semester lalu, kemudian saya berusaha memasukkan saran dari mereka, materi yang bagus saya pertahankan. Pemilihan materi juga makan waktu cukup lama. Biasanya saya akan mencari beberapa materi baru dan bahan bacaan, lalu digabung dengan materi yang sudah saya miliki sebelumnya, dan saya pelajari dulu semua materi itu. Dari semua materi itu, saya lalu melakukan seleksi, mana yang masuk ke materi primer, mana yang materi pendukung. Selanjutnya, saya juga harus memikirkan strategi bagaimana caranya agar di kelas mahasiswa sebisa mungkin tidak merasa bosan. Mereka harus diajak berpikir terus dan "dijebak" untuk aktif, entah lewat presentasi atau lewat pertanyaan, sehingga tidak terasa, tahu-tahu kuliah telah berakhir.
Setelah membuat desain besar materi pengajaran, selanjutnya adalah masuk ke hal-hal yang sifatnya detil dan berbasis harian, yaitu menyiapkan materi ajar per minggu. Ini meliputi membuat power point, membuat pertanyaan-pertanyaan untuk lembar tugas, dan yang paling penting, mempelajari materi. Saya punya buku catatan per mata kuliah dan semua urutan kegiatan di kelas dalam setiap pertemuan pasti saya tulis, berikut dengan alokasi waktunya. Untuk kuliah bahasa, catatan saya paling banyak, karena meliputi pola-pola kalimat yang akan diajarkan hari itu berikut contoh-contoh kalimatnya. Bahkan materi yang terlihat "gampang" seperti Bahasa Jepang dasar pun saya tulis, karena saya bukan dewa yang hafal segala hal di luar kepala.
Setelah semua beres, baru saya "mentas" di kelas. Selesai "mentas" di kelas, saya mempersiapkan lagi materi untuk pertemuan berikutnya dan memeriksa tugas-tugas dan ujian para mahasiswa. Begitu terus berulang hingga satu semester berakhir.
Jadi, sebenarnya "ngajar-ngajar aja" itu sesungguhnya bukan "ngajar-ngajar aja". Bukan hanya satu hari cuap-cuap di kelas selama dua jam, lalu sisanya santai-santai sambil minum kopi. Demi bisa cuap-cuap maksimal selama dua jam, proses sebelum dan sesudahnya itu makan waktu lama. Dan itulah semua rangkaian kegiatan dari apa yang mungkin sebagian orang menamakannya "ngajar-ngajar aja".
Jadi kalau ada yang bilang, "Kerjaan lu ngapain? Lu ngajar-ngajar aja ya?"
Mari kita, pengajar, bilang dengan mantap: "Gue bukan ngajar-ngajar aja. Gue ngajar, karena emang gue ini pengajar."
Pengajar, jangan merasa rendah diri jika kita bukan orang kantoran atau dokter atau pengacara, yang entah mengapa, dianggap paling keren sejagat di dalam kancah pekerjaan. Kita, guru, entah guru pendidikan usia dini, dasar, menengah, pendidikan tinggi, adalah orang-orang yang diberi hak istimewa untuk menyentuh hidup dan hati generasi penerus, melalui distribusi dan produksi ilmu, sekaligus juga melalui teladan sikap dan perbuatan. Kita bukan ngajar-ngajar aja, bukan gunting-gunting kertas atau nyanyi-nyanyi aja (kalau kita guru TK). Semua tindakan kita bermakna karena kita sedang dalam proses mendistribusikan ilmu pada generasi di bawah kita. Bagaimana mungkin hal mulia seperti ini dirangkum dalam ungkapan konyol "ngajar-ngajar aja", "gunting-gunting kertas aja ", "nyanyi-nyanyi aja"?
22 Juni 2017
Rouli Esther Pasaribu

Trust


Masih lebih baik kehilangan harta daripada kehilangan kepercayaan dari orang lain. Meski, sebenarnya jangan sampai harta juga hilang sih.....
Tapi ungkapan di atas menunjukkan betapa menjaga kepercayaan itu bukan perkara mudah. Betapa sebuah hubungan bisa rusak karena sudah tidak ada kepercayaan lagi.
Salah satu negara yang cukup "rewel" urusan trust alias kepercayaan itu adalah Jepang. Selama beberapa tahun berkecimpung dalam bidang studi Jepang, saya merasa bahwa diam-diam orang-orang Jepang itu memperhatikan kinerja, ketulusan, dan terutama karakter kita. Apakah orang ini dapat dipercaya atau tidak, apakah orang ini sungguh-sungguh serius atau tidak.
Kalau saya bisa kuliah di Jepang, lalu ikut beberapa program untuk pengembangan studi Jepang yang butuh biaya tidak sedikit (untuk ukuran kemampuan finansial saya), itu karena adanya beasiswa dan dana yang saya dapatkan dari melamar program-program tersebut.
Namanya juga dibiayai ya, tentunya kita harus maksimal menunjukkan kinerja terbaik. Ada beberapa cerita tidak sedap yang saya dengar dari orang-orang di sekitar saya, yang terus terang saja agak bikin malu nama bangsa tercinta ini.
Ada yang diberi beasiswa untuk studi di Jepang, tapi yang bersangkutan malah sibuk bisnis di sana, jarang muncul di lab atau ruang penelitian setiap hari, akhirnya ketika lulus S2 tidak diberi rekomendasi untuk lanjut ke jenjang yang lebih tinggi, dan "tidak diurus" kelanjutan studinya oleh Profesornya.
Ada yang dapat beasiswa, ini sih bukan di Jepang tapi di negara lain, lalu yang bersangkutan bukannya bayar uang kuliah dengan beasiswa tersebut tapi malah uang beasiswa itu dialokasikan untuk beli tanah di kampung halaman. Sampai-sampai pihak kampus melacak mengapa yang bersangkutan belum bayar uang kuliah sekian lama, akhirnya entah bagaimana, ketahuan kalau uangnya digunakan untuk hal yang tidak seharusnya.
Yang kayak gini ini kan agak bikin miris ya? Sejatinya jika kita menerima beasiswa atau biaya lain untuk menunjang kemajuan diri ini, maka seharusnya digunakan sesuai keperluan. Kalau kita "tertangkap" kita akan dilabeli negatif dan kepercayaan pihak lain terhadap kita akan sedikit demi sedikit runtuh.
Masalahnya, kita mau pencitraan gimana juga, lama-lama karakter asli akan muncul. Dan kalau kita "pura-pura" baik, "pura-pura" sungguh-sungguh, "pura-pura" santun, ya terakhir-terakhirnya akan ketahuan juga.
Jadi, harusnya bagaimana? Jawabannya sudah jelas. Jagalah kepercayaan itu! Dengan kerja keras, dengan menunjukkan itikad baik, dengan bersikap jujur dan dapat diandalkan, dengan berpikir bahwa kepercayaan ini adalah hal yang sangat mahal harganya, sekalinya runtuh, sulit membangun kembali.
Lagipula kalau urusannya sudah hal yang sifatnya finansial seperti beasiswa, maka biar bagaimanapun juga, penerima beasiswa pasti disorot dan biasanya jika skalanya internasional, yang disorot sudah bukan diri pribadi tapi dari mana ia berasal.
Itu sebabnya selama saya studi di Jepang, saya selalu sadar dan menyadarkan diri untuk menjaga kelakuan dan menunjukkan itikad baik. Jangan sampai Indonesia dinilai jelek karena kelakuan saya.
Kita tahu, di kancah internasional, nama Indonesia bukan yang super dihormati, bukan yang super ditakuti. Ini fakta yang harus diterima. Bahwasanya negara tercinta ini masih banyak ketinggalan, harus kita terima dengan lapang dada. Tapi jangan berhenti hanya di menerima saja, tapi pikirkan sama-sama sumbangsih apa yang dapat kita berikan untuk bangsa kita.
Karena menjadi masyarakat global itu bukan berarti kita lupa pada jati diri kita. Menjadi masyarakat global juga bukan berarti kita menggerutu pada ketidaknyamanan negeri dan mengagungkan tempat lain. Menjadi masyarakat global pertama-tama adalah menjaga kepercayaan dan menerima uluran persahabatan dari berbagai daerah di belahan bumi ini, sekaligus juga di saat bersamaan, berpikir untuk memajukan tempat di mana kita berpijak. Ini adalah tanggungjawab kita terhadap hidup ini.
Membangun kepercayaan itu butuh waktu bertahun-tahun. Tetapi, meruntuhkannya, hanya butuh waktu sekejap. Baik-baiklah melangkah, baik-baiklah membawa diri.
21 Juni 2017
Rouli Esther Pasaribu

Setiap orang punya waktunya masing-masing


Entah mengapa, manusia senang menyekat-nyekat fase hidup seseorang dengan melihat usianya dan jika seseorang sudah melampaui usia tertentu padahal diharapkan sudah mencapai satu tahap di usia tertentu itu dan yang bersangkutan belum mencapainya, maka orang itu dianggap agak aneh atau jadi bahan omongan karena hidupnya "tidak biasa".
Misalnya, menikah. Perempuan kalau sudah lewat 30 tahun dan belum ada tanda-tanda akan menikah, seringnya ditanya-tanya oleh orang-orang di sekitarnya.
"Kok belum ada calonnya sih?"
"Kapan nyusul nih? Kok adiknya udah duluan?"
Laki-laki, kalau kelamaan nganggur atau sudah berkeluarga dan belum dapat kerja, juga jadi bahan untuk ditanya-tanya.
"Sekarang ngapain?"
"Kok belum dapat kerja sih?"
"Kok ngga dapat-dapat kerja? Buka usaha aja kali, Ito..." (Ito: abang dalam Bahasa Batak)
Kalau agak anti mainstream udah ibu-ibu tapi kuliah lagi, di luar negeri pula, maka ngga jarang pertanyaan kayak gini akan muncul.
"Kok kuliah lagi sih?"
"Kok ninggalin anak dan suaminya sih?"
"Nanti suaminya di sana ngapain?"
"Ingat umur lho, udah ngga muda lagi."
Pertanyaan-pertanyaan di atas sih pertanyaan-pertanyaan yang saya terima ketika memutuskan untuk kuliah lagi.
Padahal ya, fase hidup masing-masing orang itu berbeda-beda. Ada seribu orang, berarti ada seribu cerita kehidupan. Lalu, kita ini semua punya kecenderungan ingin menyempitkan cerita-cerita itu menjadi hanya satu cerita saja: lulus kuliah umur sekian, mulai bekerja umur sekian, menikah umur sekian, punya anak umur sekian, punya rumah sendiri umur sekian. Padahal, hidup seseorang itu tidak selancar itu. Ada yang menikah muda baru lanjut kuliah lagi. Ada yang sudah punya anak dan berhenti bekerja, lalu ketika anaknya besar bekerja lagi. Ada yang kerjanya sudah bagus tapi kemudian dipecat dan butuh waktu lama untuk bekerja lagi. Ada yang nikahnya lambat karena berbagai faktor. Ada banyak cerita yang bervariasi dalam hidup setiap dari kita.
Setiap orang punya waktunya masing-masing. Mari lebarkan kisah, jangan hanya menyempitkan cerita menjadi satu naratif saja. Waktu kita bukan waktu orang lain. Cerita kita berbeda dengan cerita orang lain. Tidak ada cerita yang paling bagus, paling hebat, paling luar biasa. Bagus tidaknya sejarah hidup seseorang itu bukan tergantung standar masyarakat, tapi tergantung masing-masing orang yang menjalaninya. Dan setiap kisah itu bukan untuk dipertandingkan, karena masing-masing orang sudah punya pertandingan, perjuangan, dan jalannya sendiri, dan ia pertama-tama bertanding melawan dirinya sendiri, bukan melawan orang lain.
19 Juni 2017
Rouli Esther Pasaribu

Naik level


Sebenarnya saya bukan orang yang suka-suka amat naik wahana mengerikan di amusement park seperti jet coaster tinggi banget yang lihatnya aja bikin stress.
Tapi, jika sedang berkunjung ke amusement park, biar saya takut, saya sengaja naik wahana seram itu. Tentu saja setelah mempertimbangkan faktor keamanan dan kesehatan, karena kalau "tidak amannya" sudah tidak masuk akal, ya saya tidak mau naik.
Ngapain kurang kerjaan amat, ibu-ibu sengaja naik wahana seram? Ya sebenarnya sih ini lebih kepada latihan saya melawan ketakutan sendiri. Jangan dikira saya ngga takut. Kalau sudah naik wahana seram gini, menurut suami saya, teriakan saya paling kencang dan belum juga wahana mulai bergerak, saya sudah teriak-teriak. Ya kaliiiii ibu-ibu nyaris 40 tahun naik jet coaster, bukan karena mau nemanin anak tapi karena emang "cari gara-gara" demi melawan ketakutan diri sendiri, sengaja naik wahana yang sebenarnya bikin kaki lemas, mengingat saya ini sebenarnya bukan orang yang suka naik mainan seram.
Tapi memang dalam hidup ini, kita harus melakukan sesuatu yang susah, yang kita anggap tidak mungkin untuk dapat kita lakukan. Tujuannya demi menaikkan level diri sendiri. Sewaktu kuliah di Jepang, saya disuruh Prof baca majalah-majalah Jepang jaman dulu yang tulisan kanjinya itu kanji kuno yang lihatnya aja bikin stress. Tapi beliau bilang, kalau sudah bisa baca 200an kanji kuno, ke depannya gampang, karena sudah tahu celah-celahnya. Saya awalnya tidak percaya, tapi karena tuntutan studi, ya saya baca juga meski otak saya kayak langsung di tempat fitness gitu, diperas tiada henti. Tapi setelah baca beberapa majalah, lama-lama mulai ketemu polanya, dan teori 200an kanji itu saya buktikan benar adanya.
Masih tentang pengalaman saat studi juga, saya disuruh baca completed work pengarang yang saya teliti. Ada 16 volume dan pengarang ini bukan pengarang jaman kontemporer, jadi bahasanya jauh lebih sulit daripada bahasa Jepang yang selama ini saya pelajari. Tapi kata Prof, mending belajar yang susah sekalian, yang ngga gampang, yang melampaui kemampuan kamu, karena sekali kamu bisa menaklukkan kesulitan ini, ini akan jadi modal kepercayaan diri dan harta kamu seumur hidup. Karena saya percaya pada beliau, mengingat beliau sudah berpengalaman, dan saya tahu tujuannya baik, yaitu demi kemajuan saya, maka meski sulit, saya ikuti kata-kata beliau.
Suatu hari, beliau meminjamkan sebuah novel karya pengarang Jepang kontemporer pada saya yang masih ada hubungan dengan tema penelitian saya.
"Nih, baca. Karena tiap hari sudah baca Enchi (pengarang yang saya teliti), pasti sekarang sudah bisa baca novel ini dengan gampang tanpa kamus."
Karena saya tiap hari bacanya novel-novel karya Enchi Fumiko yang saya teliti ini sampai saya muak,saya memang tidak sempat baca karya pengarang lain. Saya sebenarnya tidak begitu percaya kata-kata beliau, tapi namanya murid disuruh guru, apalagi di Jepang yang hubungan guru dan murid itu sudah seperti master kungfu terhadap muridnya, benar-benar satu guru kepada satu murid, ya saya ikuti kata-kata beliau. Kalau memang ada orang yang tulus mau mengeluarkan yang terbaik dari kita meski caranya menyakitkan, ya mesti disambut dengan sukacita kan?
Akhirnya saya baca novel pengarang Jepang kontemporer itu dan ternyata saya bisa baca tanpa lihat kamus. Tidak sia-sia saya melakukan "training diri" dengan baca karya-karya Enchi Fumiko setiap hari, sampai kadang saya mau nangis saking muaknya, tapi ternyata segala kemuakan dan kelelahan itu terbayar dengan naiknya level kemampuan yang tentunya akan jadi harta berharga seumur hidup.
Menaikkan level diri sendiri itu memang tidak mudah. Kita harus sengaja melakukan hal-hal sulit yang melebihi kemampuan kita. Secara sadar menghadapkan diri pada kesulitan memang tidak enak, tapi tidak enaknya itu lebih dari sepadan dibanding hasil yang pada akhirnya akan kita terima. Prosesnya memang lama dan harus sabar menjalaninya, tapi justru dari proses yang tidak instant itu, tanpa kita sadari, keringat, tangisan, kemuakan, daya upaya yang kita keluarkan itu sedikit demi sedikit, perlahan tapi pasti, akan berubah menjadi harta abadi berupa karakter, kemampuan, pengalaman, dan cerita yang abadi tertanam dalam diri kita.
Dan yang dapat menaikkan level diri sendiri itu hanya diri kita sendiri. Orang lain tidak akan bisa. Ini tanggung jawab kita pada hidup. Karena hidup itu seharusnya hari demi hari semakin menuju ke arah yang lebih baik, secara perlahan dalam usaha yang terus berkesinambungan tanpa henti.
Menaikkan level diri sendiri itu adalah proses seumur hidup. Pace waktunya berbeda-beda untuk setiap orang. Saya sendiri termasuk orang yang butuh waktu lama untuk naik level, tapi saya jalani saja meski kemajuan untuk saya bukan hal yang mudah saya dapatkan. Saat ini saya sedang berusaha menaikkan level diri sendiri untuk presentasi akademik dan menulis paper dalam bahasa Inggris. Selama ini saya ditraining dalam bahasa Jepang, sehingga mengerjakan urusan akademik dalam bahasa Inggris itu bukan hal mudah untuk saya. Tapi saya sadar saya harus menaikkan level kemampuan saya ini, karena itu adalah bentuk tanggung jawab dan syukur saya kepada hidup dan kepada Yang Memberi Kehidupan.
Jika kita semua berusaha untuk setiap hari semakin baik dalam menata hidup, maka dunia ini tentu akan semakin banyak dipenuhi orang-orang berkualitas yang dapat memberi perubahan positif di tengah-tengah masyarakat yang carut marut tiada habisnya ini.
18 Juni 2017
Rouli Esther Pasaribu

Ruang untuk berbagi


Selama mengikuti kegiatan #nulisrandom2017 ini, salah satu hal yang membuat hati saya senang adalah jika saya mendapat respon positif berupa komentar yang ditulis oleh para pembaca sekalian. Dari semua respon positif itu, saya sangat senang jika tulisan saya menjadi sarana bagi pembaca untuk mengidentifikasi diri, berdialog dengan diri, bahkan kemudian, mendorong pembaca untuk membagikan juga pengalamannya di kolom komentar.
"Consciousness raising" atau "mengangkat, menumbuhkan kesadaran" adalah sikap dasar saya dalam menulis. Jika kita melihat sejarah gerakan perempuan, pada gerakan feminisme gelombang kedua tahun 1960an akhir di Amerika, beberapa tokoh feminis mencanangkan program Consciousness Raising (CR). Inti dari program ini adalah meningkatkan kesadaran para perempuan bahwa masalah yang ia hadapi di dalam rumah tangga, misalnya kekerasan dalam rumah tangga, marital rape, konflik batin antara ingin bekerja dan kewajiban mengurus rumah tangga, semuanya itu bukan masalah yang bersifat pribadi yang harus disimpan sendiri, tetapi masalah-masalah di atas merupakan bagian dari sebuah opresi yang tersistem di dalam masyarakat patriarki.
Kegiatan CR diadakan secara sederhana dalam kelompok-kelompok kecil, di rumah-rumah masing-masih anggota kelompok yang dilakukan secara bergiliran. Beberapa perempuan membentuk kelompok-kelompok kecil, dan di dalam kelompok-kelompok ini, para perempuan saling menceritakan masalah mereka yang selama ini selalu mereka pendam karena mereka menganggap masalah yang mereka hadapi adalah masalah pribadi yang tidak boleh dibagikan kepada siapapun, dan norma dominan tidak memberi legitimasi bahwa masalah perempuan adalah masalah yang layak untuk dibahas dan dengan semena-mena memberi label "remeh" pada masalah-masalah seperti lelah mengurus anak, ingin menunda kehamilan, ingin punya kegiatan lain selain mengurus rumah tangga, lelah tiap hari harus melayani anak dan suami, dan sebagainya.
Melalui berbagi persoalan di kelompok CR, para perempuan ini mulai terangkat kesadarannya, mulai menyadari bahwa diri mereka diopresi, bahwa ada harapan untuk mengubah nasib. Dengan rutin hadir dalam kelompok CR, para perempuan ini juga secara mental tentu akan lebih sehat karena ada teman untuk berbagi dan mencurahkan perasaan.
Sekalipun saya dan teman-teman yang membaca tulisan saya tidak bertemu langsung di suatu tempat, tetapi sebenarnya kita sedang melakukan consciousness raising. Saya melempar sebuah isu yang biasanya saya kemas dalam nada reflektif dan dirangkum lewat pengalaman personal saya, dan teman-teman yang membaca menanggapi, dengan memberi like atau ikut bersuara melalui kolom komentar, entah itu membagikan pengalaman pribadi yang mirip dengan yang saya tulis atau memberikan pendapat. Lalu terjadi dialog, pertama-tama dengan diri sendiri, lalu dengan orang lain. Dan yang sangat saya harapkan, setelah kita berbagi pengalaman ini, semoga kita mendapatkan suntikan semangat untuk menjalani kehidupan di dunia nyata, mengingat bahwa di tempat lain pun begitu banyak orang yang berjuang, sama seperti kita.
Sekalipun masalah yang kita hadapi tidak lantas menjadi lebih ringan, tetapi hanya dengan mengetahui bahwa orang lain juga mengalami atau pernah mengalami hal yang sama, sudah cukup memberikan suntikan semangat untuk kita. Sekalipun realita tidak bertambah ringan, setidaknya beban hati agak berkurang.
Di tengah hiruk pikuk dunia yang ritmenya terasa sangat cepat, kita sungguh perlu mencari, bahkan menciptakan ruang untuk berbagi. Orang yang tidak pernah berbagi kisah atau masalahnya, akan kewalahan mengolah stress karena semuanya ia pendam sendiri. Memang ada kalanya "silence is golden", tapi hal ini tidak berlaku mutlak untuk setiap masalah. Bungkam, atau dibungkam, kadang dapat berpotensi sebagai penghilang jiwa, pembunuh kesadaran, penyebab utama kelelahan batin.
Kita bertanggungjawab atas kesehatan lahir batin kita sendiri. Karena itu, mari berbagi dan ciptakan ruang untuk berbagi!
14 Juni 2017
Rouli Esther Pasaribu