Saturday, June 10, 2017

Manusia Berkualitas


Barometer seseorang itu berkualitas atau tidak adalah dari dua hal: karakter dan karyanya.
Ada orang yang otaknya pandai, tapi perilakunya suka nyinyir, sulit bekerja sama, tidak jujur, suka menipu, gila kekuasaan. Pada akhirnya, kepandaian orang-orang seperti ini bukannya memberi manfaat bagi orang banyak, malah meresahkan orang banyak.
Ada orang yang karakternya baik, tapi sayangnya tidak punya satu kemampuan tertentu yang dapat mendefinisikan keberadaan dirinya. Orang-orang seperti ini memang tidak meresahkan orang lain, tapi keberadaannya kurang greget, begitu-begitu saja, dan karya yang dihasilkannya tidak berdampak maksimal.
Manusia berkualitas itu harus memenuhi dua unsur ini: karakter dan karya. Salah satu contoh manusia berkualitas menurut saya adalah Papa saya sendiri.
Mengapa saya berani bilang kalau beliau itu berkualitas? Usia beliau tahun ini akan menginjak 74 tahun. Bukan usia yang muda. Apa yang terbayang dalam benak kita jika mendengar kata "tua"? Mungkin yang pertama terbayang di benak: lemah, lamban, penggerutu, tidak produktif. Tapi Papa saya mematahkan seluruh mitos itu. Setelah purnabakti dari universitas tempat beliau mengabdi selama lebih dari 30 tahun, beliau tetap aktif bekerja hingga hari ini. Orang mencari beliau karena kualitasnya, baik dalam hal karakter maupun karya. Hingga hari ini, beliau tetap dipercaya, tetap diminta untuk bekerja, tetap dihargai pemikirannya.
Tetapi, yang namanya kualitas itu tidak dapat dibangun hanya dalam satu hari. Ia adalah tumpukan demi tumpukan pembelajaran, pengalaman, kebijaksanaan dalam menghadapi hidup. Ia adalah hasil dari latihan diri selama bertahun-tahun. Ia diusahakan ada dalam diri seseorang dengan sedemikian rupa melalui usaha dan kerja keras orang itu sendiri.
Materi dapat diperoleh secara instant, kedudukan, jabatan atau gelar akademik dapat dibeli dengan uang di tengah dunia yang serba carut marut ini, tetapi kualitas dalam diri seseorang tidak akan bisa dibeli. Ia harus diusahakan sendiri oleh orang yang bersangkutan melalui tahun-tahun penuh kesulitan dan latihan yang cukup berat.
Seorang atlet tidak akan berjaya di medan olimpiade jika tidak didahului oleh latihan keras berkepanjangan yang penuh keringat dan air mata.
Seorang tukang kue tidak akan dapat menghasilkan kue yang lezat tiada tara jika tidak mengalami kegagalan berulang kali sampai akhirnya ia menemukan resep yang pas.
Seorang ibu tidak akan begitu saja dapat bersikap sabar menghadapi anaknya, jika ia tidak melatih dirinya setiap hari untuk dapat memiliki sikap sabar.
Dunia ini tidak melulu berisi orang baik. Mungkin ada masanya di mana kita menerima perlakuan tidak adil, dikucilkan, atau dijahati justru karena kita berkualitas. Sudah menjadi natur manusia untuk mudah iri dan merasa terancam pada orang yang punya kualitas mumpuni. Sangat mungkin kita malah tidak disukai karena kualitas diri kita, mengingat di dunia ini kita tidak selalu berhadapan dengan orang-orang yang menghargai karya dan karakter, tapi malah sebaliknya, orang-orang yang "ketakutan" dengan kualitas diri seseoranglah yang kita temui.
Jangan takut untuk menjadi orang yang berkualitas! Sungguh dunia butuh orang-orang yang memiliki kualitas karya dan karakter yang mumpuni, yang dapat menyebarkan semangat dan karya nyata perubahan sebuah masyarakat menjadi lebih baik.
Pada akhirnya, tidak ada satu orang pun yang dapat merebut kualitas diri kita. Selamanya ia akan menjadi harta yang sungguh berharga: bagi diri sendiri dan bagi orang lain.
Bogor, 4 Juni 2017
Rouli Esther Pasaribu

Menulis dan Sebuah Keabadian


Pramoedya Ananta Toer berkata, "Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi, selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."
Pertama kali baca kata-kata ini, saya kurang paham apa maksudnya. Pertama kali mengenal karya-karya beliau, usia saya masih awal 20an. Sekarang usia saya ada di penghujung 30an, dan sedikit lebih paham makna kata-kata beliau, berkat tahun-tahun penuh pengalaman yang sedikit mendewasakan diri ini.
Dalam sebuah essay yang ditulisnya, Oba Minako, seorang pengarang perempuan Jepang menyatakan bahwa dirinya terinspirasi menulis dan mengadakan refleksi diri karena membaca karya-karya pengarang perempuan Jepang yang hidup hampir 1000 tahun silam dari masa kini. Oba Minako terinspirasi atas karya-karya Murasaki Shikibu, Seishonagon, Michitsuna no Haha, para pengarang perempuan Jepang di jaman Heian (794-1192). Mereka menulis tentang opresi patriarki di dalam kehidupan bangsawan istana Jepang di masa itu. Hampir 1000 tahun kemudian, Oba Minako juga menulis, dan meski beliau meninggal pada tahun 2006, karyanya tetap berbicara hingga hari ini dan menginspirasi para perempuan setelah generasinya, salah satunya menginspirasi saya.
Seandainya beliau dan para pendahulunya tidak menulis, maka beliau akan hilang dari sejarah. Ide-ide dan pemikirannya menjadi dibatasi waktu-yaitu waktu semasa ia hidup. Begitu ia tidak ada lagi di dunia ini, maka pemikirannya pun tenggelam. Kecuali, ada orang lain yang berusaha mengabadikan pemikiran-pemikirannya. Tetapi, berapa banyak orang yang mau secara sukarela mengabadikan pemikiran kita, kecuali kita adalah orang yang benar-benar berpengaruh di dalam masyarakat dalam lingkup yang cukup luas.
Maka, menulis menjadi sebuah pilihan untuk mengabadikan diri. Menulis adalah inisiatif untuk mencatatkan diri dalam sejarah peradaban manusia.
Menulis tulisan singkat ini, membuat diri saya tersentil karena sampai hari ini, saya belum menghasilkan sebuah buku hasil karya saya. Tiap tahun, resolusi tahun barunya adalah menulis buku, tapi sampai hari ini, belum saya wujudkan secara serius. Kiranya tulisan ini menjadi pengingat untuk saya mulai bergerak.
Agar tulisan kita mumpuni, kita memang mesti banyak membaca dan banyak memiliki pengalaman hidup. Kedalaman hidup seseorang akan terlihat dari kualitas tulisan yang dihasilkannya. Sebuah pengingat lagi untuk saya agar rutin menargetkan diri untuk menyelesaikan buku demi buku agar dapat menghasilkan tulisan yang baik dan menginspirasi.
Karena, "Yang fana adalah waktu. Kita abadi" (Sapardi Djoko Damono). Jika kita menulis!
Bogor, 3 Juni 2017
Rouli Esther Pasaribu

Sudahkah Anda Membaca Buku Hari Ini?


Di jaman medsos merajalela begini, kita jadi lebih sulit ambil waktu untuk baca buku, karena baca berita-berita di portal news online jauh lebih "gampang", baca komentar orang-orang atau lihat-lihat foto-foto yang diupload di akun medsos itu lebih menarik, nonton YouTube atau video lebih asyik, singkatnya banyak kegiatan yang dapat menggantikan kegiatan baca buku yang dulu sebelum internet mudah diakses, termasuk salah satu kegiatan untuk mengisi waktu luang sekaligus memperkaya batin.
Saya pribadi berpendapat, sekalipun banyak aktivitas pengisi waktu luang yang dapat kita lakukan, tetap saja membaca buku Itu tidak boleh dilupakan. Atau lebih tepatnya, membaca buku itu sebuah kebutuhan, bukan sekedar pengisi waktu senggang.
Saya sedang mencoba proyek pribadi, membaca buku di pagi hari setelah bangun tidur selama 30 menit dan membaca buku di kereta 60 menit. Dengan demikian, dalam satu hari, ada 90 menit waktu yang saya alokasikan untuk baca buku. Mengenai jenis bukunya, saya pilih novel, karena saya mau membaca refleksi kehidupan melalui naratif-naratif yang ditawarkan dan menjadikannya sebagai sarana untuk berdialog dengan diri sendiri.
Dengan membaca, kita merenung, berpikir, berdialog. Dengan membaca kita memperkaya batin dan mendapat inspirasi dan semangat baru.
Dalam tahun-tahun kelamnya di penjara, Nelson Mandela mendapatkan inspirasi dan semangat dari puisi "Invictus" (arti: penakluk, pemenang) karya William Ernest Henley. Salah satu bagiannya berbunyi :
"It matters not how strait the gate,
how charged with punishments the scroll,
I am the master of my fate;
I am the captain of my soul"
Dari balik dinding penjara yang dingin, angkuh, dan sepi, Nelson Mandela mendapat kekuatan untuk bertahan, salah satunya melalui karya sastra berupa puisi yang dibacanya.
Sudahkah Anda membaca buku hari ini? Kalau belum, mari penuhi undangan memperkaya batin, membijakkan diri, berdialog secara mendalam dengan diri sendiri dan tokoh-tokoh dalam karya sastra, melalui berbagai buku yang telah ditulis oleh para pengarang, para pekerja kemanusiaan itu.
Selamat tenggelam dalam bacaan!
Bogor, 2 Juni 2017
Rouli Esther Pasaribu

Pancasila Bukan Utopia!

Selamat hari lahir Pancasila! Pertama kali kenal Pancasila, ketika duduk di bangku SD. Tahu sila pertama sampai kelima karena diajarkan pada pelajaran PMP alias Pendidikan Moral Pancasila. Tiap hari Senin upacara bendera, dengan kusyuk pasti menyebutkan lima sila itu.
Memang seperti indoktrinasi sih, tapi mungkin kita memang perlu diingatkan berulang-ulang soal Pancasila sebagai dasar negara ini (dasar lho dasar....artinya apapun yang kita lakukan sebagai warga negara, mestinya didasari nilai-nilai luhur ini). Biar ngga pada amnesia bahwa kita punya Pancasila dan ngga coba-coba ganti dasar negara dengan falsafah yang lain.
Jaman saya SD, harus banget menghafalkan 36 butir P4. Sekarang di SD, kayaknya sih tidak sampai harus menghafalkan 36 butir P4, ya, tapi kalau saya lihat materi pelajaran anak saya, tetap kok diajarkan tentang Pancasila dan nilai-nilai pengamalannya.
Saya suka tanya pada mahasiswa-mahasiswa saya, setelah selesai baca karya sastra: paling suka bagian yang mana? Nahhh...kalau saya ditanya, sila Pancasila mana yang paling powerful untuk kamu? Jawaban saya: sila ke-3, Persatuan Indonesia. Karena, kalau kita benar-benar menghayati sila ini, harusnya perpecahan bangsa itu ngga akan terjadi.
Saya mungkin sok idealis banget ya, tapi menurut saya, di jaman serba ngga pasti dan penuh kecurigaan sana sini dan goncang ganjing politik gini, saya merasa, yang paling kita butuhkan itu adalah harapan. Harapan bahwa kita bisa menjadi lebih baik, maju, damai, lebih menghormati satu dengan yang lain. Kalau belum-belum sudah pesimis, ya akhirnya, terjadilah sesuai dengan pikiran pesimismu.
Apapun itu, menyebarkan aura negatif yang bikin ngga damai itu sungguh meresahkan. Mungkin ada yang berpikir, ini wall gue, ini socmed gue, terserah gue mau nulis apa. Menurut saya, tetap ngga bisa "terserah" sih, karena meskipun wall gue, socmed gue, yang baca kan bukan hanya yang nulis! Dan socmed itu sudah merupakan sebuah masyarakat, di mana para penggunanya saling berinteraksi, jadi tetap kalau bicara atau mengeluarkan pendapat atau share sesuatu, harus pakai etika. Kalau dibilang apa yang diposting di socmed itu ngga ada hubungan dengan kepribadian yang bikin postingan tersebut, menurut saya sih tidak demikian. Sedikit banyak, postingan seseorang, berbicara mengenai kepribadian, pola pikir, cara pandang orang tersebut, meski memang tidak sepenuhnya terlihat dalam setiap postingan tersebut.
Jadi, di hari peringatan lahirnya Pancasila ini, mari kita jaga esensi keberagaman bangsa tercinta ini, yang konon katanya "Bhinneka Tunggal Ika". Kita sudah diajarkan semboyan negeri ini kan, jadi untuk apa kita masih cari semboyan lain, atau masih ngaku berbhinneka tunggal ika dan cinta Pancasila, tapi kenyataannya malah membela sekelompok SARA tertentu dan tidak menghormati yang berbeda dengan diri kita sendiri, baik dalam hal kesukuan, agama, ras, dan golongan?
Selamat memaknai kebhinnekaan dalam hidup, keragaman dalam berbangsa, dan lima sila sebagai dasar bertutur dan bertindak! Mari jadikan apa yang orang-orang sebut sebagai utopia dan hanya sekedar angan yang mustahil menjelma nyata menjadi berproses semakin hari semakin mendekati kenyataan!

Bogor, 1 Juni 2017
Rouli Esther Pasaribu

Wednesday, November 6, 2013

Second mid defense, jogging, kerja sambilan, Joanna, dan...sepatu ungu

Woohooo!

Recent updates ya cyiiin.

Pertama, second mid defense, tanggal 29 Oktober. Bertepatan dengan ulang tahun Papa ke-70, ternyata hari ini sungguh membawa kebaikan. Setelah mid defense pertama bulan Desember tahun lalu, harusnya di yang kedua ini ada progress dong ya. Selama ini yang gw takutin, gimana kalau dari yang pertama ke yang kedua, ga ada progress yang signifikan. Trus ntar jadi makin tertekan, selain itu image gw pasti jelek, kesannya kayak orang kurang mau usaha abis-abisan.

Seperti di postingan sebelumnya, dari Desember tahun lalu ke Oktober kemarin, ya hampir tiap hari gw ngerjain penelitian gw, dan sempat putus asa karena sepertinya tak ada hasil, tapi di awal bulan Oktober, sedikit demi sedikit bangunan dasar disertasi gw mulai kelihatan dan ternyata Prof (yang selama ini selalu mengkritik gw, ya itu emang gwnya ga bisaeun sih jadi banyak dikritik) setuju dengan jalan pemikiran gw. Praise the Lord, ini benar-benar only by His grace. Setelah mematangkan beberapa konsep besar, maka pada tanggal 29 Oktober, gw presentasikan apa yang selama ini gw kerjakan. Selain Prof yang selama ini selalu ngebimbing gw, ada dua Prof lagi, dan mereka juga memberi tanggapan yang cukup bagus, intinya tiga Prof mengakui bahwa ada kemajuan yang signifikan, daftar isi yang gw rancang disetujui, dan bisa masuk ke proses penulisan dan analisa yang mendalam. Starting from this month, gw punya waktu 1 tahun lebih 1 bulan untuk merampungkan disertasi gw. Ini akan menjadi perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran, ketekunan, semangat pantang menyerah. Semoga gw bisa melaluinya. Gw tahu, prosesnya ga akan lancar, pasti banyak kesulitannya, tapi harapan gw, sekalipun sulitnya banyak, tapi tetap gw bisa bersukacita dan penuh damai sejahtera, jadi ngejalanin semuanya juga bisa tenang, amiiiiin. Dan....semoga akhirnya gw bisa lulus tepat waktu. Setelah itu gw asli benar-benar ga tau gimana kehidupan gw dan keluarga kecil gw ini selanjutnya, tapi harapan gw, semoga ada mujizat lagi, sementara gw terus berusaha melakukan yang terbaik. Yang di dalam kuasa gw, gw usahakan sebaik mungkin, tapi yang di luar kuasa gw, sperti misalnya dapat kerja yang bagus, itu bagian Tuhan. Yang paling gw butuhkan adalah James dan gw dapat kerjaan tetap dengan gajih yang cukup bagus. Asli ini butuh mujizat, mengingat usia kita berdua sudah ga muda lagi. Gw tetap berharap bisa jadi akademisi, tapi kita ga tau kan ya gimana kehendak Tuhan? Jika seandainya Tuhan berkehendak gw menjadi yang lain, bukan akademisi, semoga gw dapat menerima hal tersebut dengan ikhlas dan tetap bersukacita dengan segala jalan Tuhan, dan yakin bahwa yang disediakan Tuhan, itu yang terbaik.

Bisa dibilang, mid defense Oktober kemarin itu adalah yang terbaik sepanjang gw kuliah 4,5 tahun ini. Untuk pertama kalinya setelah 4,5 tahun, Prof bilang yang gw presentasikan itu bagus, dan kemampuan gw lumayan naik level. Gw benar-benar bersyukur, meski untuk jadi profesional ya jalan masih panjang ya, ga bisa dikarbit. Setidaknya ada kemajuan. Ya ngeri dong ya, udah lebih dari setengah masa studi gw jalanin, dibayarin pula sama pemerintah Jepang, masa ga ada sama sekali kemajuan? Malu-maluin diri sendiri dan bangsa Indonesia. Semoga ya semoga, harapan gw, setelah ini, gw bisa lebih baik lagi dan naikin level gw lagi. Dan gw berharap, semoga nanti gw lulus bukan karena belas kasihan, tapi emang lulus karena memenuhi syarat untuk lulus studi S3. Mudah-mudahan ya terkabul deh harapan ini.

Kedua, gw mulai aktif jogging lagi. Sempat malas-malasan, tapi terus ngerasa terancam karena sekarang James rajin banget jogging, dan berat badannya itu dikit lagi udah 70 kg! Gila, terancam tingkat dewa dong gw. Ntar bedanya sama gw cuma 2 kg gitu, yang benar aja, masa ntar kita tukar-tukaran kaos dan jeans? Selama ini, setelah gw muat baju XL di counter cewek, gw udah senang banget. Trus motivasi nurunin BB ya hilang drastislah. Asal jangan lebih dari 70 kg aja, itu prinsip gw. Tapi melihat James gila olahraga gitu, ya mau ga mau gw genjot juga diri sendiri ini. Akhirnya pasang target lagi, padahal udah malas ya nurun-nurunin BB gini. Target gw, 65 kg. Paling aman sebenarnya 60 kg, ga mungkin kan James mau BBnya 60 kg. Tapi 60 kg sungguh terlalu indah untuk menjadi kenyataan, gw set goal-nya 65 kg dululah, baru setelah itu mikir, mau lanjut turunin atau ga (kayaknya ga ya, mengingat gw kan hobbynya makan hahaha).

Ketiga, gw dapat kerja sambilan lagi, dari pertengahan November sampai Desember. Kerjaannya sama kayak kemarin-kemarin, ngajar bahasa Indonesia untuk orang Jepang. Sebenarnya sih maunya ya konsentrasi aja ngerjain disertasi ya, tapi kan namanya realita, kita emang butuh uang tambahan, jadi gw terima tawaran ini. Namanya rejeki Tuhan yang ngasih kan ya. Pas banget emang lagi butuh banyak biaya, karena tahun depan, bulan April, Joanna mau masuk SD. Kemarin aja kita udah abis banyak banget untuk beli ransel anak Jepang yang ujubilehhh mahalnya. Gw aja ga punya tas semahal itu! Tapi mau ga dibeliin juga ga tega, karena SEMUA anak Jepang ke sekolah dengan ransel itu. Kalau Jojo tasnya beda sendiri, kasian kan. Apalagi di Jepang ini, ransel SD ini benar-benar simbol masuk SD gitu. Jadi peraturan tidak tertulisnya, ini hal yang wajib dipenuhi ortu untuk anaknya.

Keempat, Joanna sekarang lagi bersiap-siap untuk big event di sekolahnya, yaitu jalan kaki ke satsukiyama. Intinya, kelas Joanna ini akan jalan kaki ke satu tempat bernama satsukiyama, yang jarak tempuhnya 3 jam sekali jalan, jadi pulang pergi mereka jalan kaki 6 jam. Nah dari minggu lalu, mereka dilatih untuk jalan agak-agak jauh, kayak hari ini mereka pergi jalan ke satu tempat yang ditempuh dengan jarak 1 jam. Filosofinya sih melatih mental anak biar gambaru dan ga cepat nyerah, trus kerjasama dengan tim, saling menyemangati, sekaligus melatih daya tahan tubuh biar kuat di tengah musim gugur hampir masuk ke musim dingin ini. Tadi pagi pas anter Joanna, gw udah ga tega lihat Joanna bakal jalan kaki jauh gitu, bawa ransel pula, karena mereka sekalian mau piknik di situ, belum lagi mereka ga boleh pakai jaket, cuma pakai baju tangan panjang sehelai aja plus celana panjang bahan kain, gw udah ngeri, apa anaknya ga kedinginan? Ternyata pas malamnya gw tanya, Joanna malah semangat banget nyeritain kisah jalan kakinya, kelihatan dia bangga karena kuat jalan kaki lama, dan dia bahkan kasih tahu, aturan-aturan kalo jalan kaki rombongan tuh gimana, kayak kalo baris dua-dua tuh kapan, trus bikin jadi satu barisan itu kapan, dan mereka harus tertib ikutin petunjuk dan aba-aba guru-gurunya. Trus yang gw kagum, dia bisa memetakan perjalanannya secara detil, gw rasa ini satu milestone lagi ya untuk Joanna. Emang terasa ya, anak ini udah lewat masa balita, secara psikologis dia jadi lebih berkembang, selain fisiknya tentu aja, itu mah udah pasti. Semoga Joanna sehat terus, berkembang makin baik dari hari ke hari, amiiin.

Segini dulu sih recent updates-ku. Ohya, satu lagi update terbaru: James dan gw baru beli sepatu jogging baru. Kalo beli dua, dapat potongan harga, dan itu potongan harganya cukup signifikan. Tapi yang bikin gw bahagia, bukan hanya sekedar harga sepatunya yang reasonable, tapi gw berhasil dapat sepatu olahraga warna ungu. Selama ini gw selalu beli sepatu olahraga di counter laki-laki, karena kaki gw in ukuran 41, dan di Jepang, ukuran terbesar untuk cewek itu 40 (karena kaki cewek Jepang kecil-kecil). Entah mengapa, pas gw coba sepatu ungu ini, yang ukuran 40, dengan pesimis ga bakal muat, eh kok ternyata muat? Mungkin karena lebarnya lumayan ya, jadi size 40 pun termasuk 40 yang besar jadi gw masih muat. Ya ampun seneng banget asli, apalagi sepatunya itu ga kesempitan di gw. Ya tau kan ya sepatu olahraga laki-laki itu ga menarik warna-warnanya, kalo ga item, ya putih atau abu-abu, paling keren pun biru tua. Sedangkan gw itu pengen banget punya sepatu olahraga yang warnanya lucu-lucu, kayak hijau muda, pink, dan yang paling gw inginkan itu sepatu olahraga warna ungu. Makanya begitu beneran dapat, senangnya banget-banget.

Ntar update lagi ya, aloha!






Friday, October 11, 2013

Invictus

Baru aja nonton film Invictus yang dibintangi Morgan Freeman dan Matt Damon. Terlalu keren nih film, asli! Udah lama ga dapat pengalaman batin yang kaya setelah nonton, macam yang gw rasain abis nonton Invictus. Highly recommended, banyak banget pelajaran yang bisa dipetik. Mengutip kata-kata Dian Sastro, "Kalo nonton film, loe dapet pelajaran apa dari film itu?" Hahahahaha, sippp deh DiSas, kali ini gw dapet banyaaaaak banget dari Invictus.

Invictus ini temanya berat tapi dikemasnya ringan dan menarik. Bukan yang ringan macam film abg yang cuma cinta-cintaan ga jelas ya. Ringan di sini maksudnya, mudah dicerna dan jalan ceritanya juga menarik, tiap adegan tuh ada maknanya, dari awal kita ga sempat bosan lihat film ini. Ga kerasa aja dua jam abis untuk nonton nih film, saking kerennya. Istilahnya, ga sempat merem sedikit pun deh saking terpakunya.

Ceritanya tentang Nelson Mandela (yang diperankan oleh Morgan Freeman), yang baru kepilih jadi presiden Afrika Selatan dan mikir gimana caranya untuk nyatuin negara, trus dia pakai cara, nyemangatin tim rugby nasional Afsel di world cup rugby. Kapten timnya namanya Francois (lupa lengkapnya), diperankan Matt Damon. Ya kan Afsel itu isu apartheidnya parah banget ya, biar kata presidennya kulit hitam, tapi tetap aja yang kulit putih banyak yang ga mau ngakuin, trus yang kulit hitam karena udah punya presiden yang sewarna kulitnya, jadi ngerasa bisa balas dendan ke kulit putih. Nah tim rugby ini isinya kulit putih semua, kecuali satu orang. Di sinilah kerennya Nelson Mandela. Dia semangatin tim rugby ini yang tadinya underdog abis, sebagai simbol bahwa ga ada perbedaan kulit putih dan hitam, semuanya satu di bawah naungan negara Afrika Selatan. Aduuuuh keren banget deh pokoknya, gw sampai mikir, mestinya tim PSSI didekati secara khusus sama presiden Indonesia, trus dikobarkan semangat persatuan bangsanya, untuk bungkam ribut-ribut karena SARA di negara kita tercinta ini. Tapi hmmm...gw rasa sih mesti manusia sehebat Mandela yang bisa lakuin hal ini, secara kemanusiaannya udah diuji banget, bayangin aja, beliau dipenjara 27 tahun, trus begitu bebas dan jadi presiden, beliau malah ngajak orang kulit hitam n putih untuk bersatu bangun bangsa, padahal kan secara pribadi beliau itu dijeblosin ke penjara oleh kaum kulit putih. Bisa aja kan beliau balas dendan karena udah punya power, tapi ini ga sama sekali, malah beliau berdiri merangkul semua golongan. Leader tuh emang mestinya gini nih! Tapi ya, Nelson Mandela gitu lho, 27 tahun di penjara dan tak tergoyahkan, bahkan murni semurni-murninya berdiri di atas kemanusiaan. Semoga kelak Indonesia juga punya pemimpin ala Nelson, amiiiiin.

Invictus itu sendiri sebenarnya judul puisi jaman Victoria, dikarang oleh penyair Inggris, namanyaWilliam Ernest Henley. Puisi ini dikarang tahun 1888. Arti invictus (bahasa latin) itu "unconquerable" alias tak terkalahkan. Kalau tertarik lebih lanjut bisa google sendiri ya, ini gw kutip highlightnya aja.

Beyond this place of wrath and tears
Looms but the Horror of the shade
And yet the menace of the years
Finds and shall find me unafraid

It matters not how strait the gate
How charged with punishments the scroll
I am the master of my fate
I am the captain of my soul

Bisa dilihat sendiri deh ya, intinya gimana. Intinya, no matter what, seberat apapun hidup, ga akan ada yang bisa kalahin kita, karena kita adalah tuan atas nasib kita sendiri, kapten atas jiwa kita sendiri. Intinya, kita yang menguasai keadaan, bukan keadaan yang menguasai kita. Wooohooooo!!!!

Ceritanya, Nelson Mandela itu selama 27 tahun dipenjara, dia baca karya sastra gitu, termasuk puisi ini, dan puisi inilah yang  nguatin dia, yang menginspirasi dia untuk terus bertahan jalanin kehidupan di penjara. Gila ya gilaaaaaa....kata Nelson, kadang waktu beban berat nindih hidup, kita butuh inspirasi, dan inspirasi itu banyak didapat dari puisi, dari kata-kata yang membangun, kita butuh kata-kata. Oh my God, sebuah penguatan asli, untuk gw yang sering ngerasa penelitian menemukan obat kanker jauuuuh lebih keren dan berguna dibanding penelitian di bidang sastra yang gw kerjain ini. Intinya invictus-lah gitu, unconquerable, dan Nelson mendapat inspirasi tersebut dari puisi. Btw, yang ngarang puisi ini, yaitu William Henley, dia divonis sakit TBC trus kakinya harus diamputansi, dan selama puluhan tahun, dia hidup hanya dengan satu kaki, dan di masa-masa berat inilah lahir "Invictus".

Bikin banyak mikir banget deh film Invictus ini. Tentang rasa kebangsaan, tentang kemanusiaan, tentang memaafkan, tentang sastra, tentang inspirasi, tentang kekuatan sebuah kata, tentang kekuatan karya sastra, tentang berjuang, tentang menguasai keadaan, tentang maju terus meski jalan terlihat gelap....makin dipikir makin banyak yang bisa digali, benar-benar oh my God deh pokoknya nih film.

Minggu ini, bisa dibilang gw mengalami momen invictus. Tentu saja hidup gw ga ada apa-apanya dibanding Nelson or William. Gw ngga dipenjara 27 tahun, gw ga diamputansi kakinya, ya cemen abislah hidup gw kalau dibanding penderitaan mereka berdua. Tapi, invictus tetaplah invictus, medan perang setiap orang berbeda-beda, dan hidup setiap orang sebenarnya punya perjuangannya sendiri-sendiri, ngga bisa dibandingin satu dengan yang lain. Jadi, meskipun hidup gw ga sespektakuler Nelson, tetap ada perjuangan yang harus dijalani, dan meskipun dalam skala lebih kecil dari Nelson, gw pun berhak merasakan momen invictus dan wajib menjalani hidup dengan prinsip invictus.

Tapi kalau pembaca sekalian (ampun kayak ada aja gitu yang baca blog gw?) ngikutin blog gw, ya pasti taulah ya, gimana stressnya gw dengan kehidupan perkuliahan di sini. Beban studi yang menurut gw berat, dan itu ditambah lagi dengan gw bawa keluarga, jadinya yang harus dipikirin makin banyak. Ibarat, kalau lajang "hanya" mikirin studi, gw mikirinnya ya studi iya, keluarga iya, plus putar otak mikir nyari duit tambahan gimana, biar ada sedikit yang bisa ditabung.

Masih ingat banget, gimana pas awal datang ke sini, gw ga ngerti sama sekali kuliah Prof gw, trus dikasih bacaan bahasa Jepang, ya gw ga ngerti, baca satu halaman aja mencernanya lama banget. Saat itu, 4,5 tahun yang lalu, gw stress, ngerasa ga akan mungkinlah bisa beresin kuliah gw di sini karena otak gw ga nyampe, dan entah berapa puluh kali gw mikir, betapa mombusho itu salah banget milih gw untuk studi di sini, karena yang gw lihat, orang-orang lain tuh kayaknya bisa aja nyesuain diri n lancar aja kuliahnya, sedang gw ya gitu deh, selalu dapat banyak kritik dari Prof. Gw tau sih maksud dari kritik itu bukan menjatuhkan tapi membangun, tapi tiap kali ketemu Prof ditegur terus, dimarahin, dikritik, lama-lama kan kita mikir, emang asli gw goblok banget kali ya? Ingat masa-masa research student dan studi master, asli itu rasanya nightmare banget, masih ingat bagaimana tertekannya gw.

Dan gw juga ga akan lupa, gimana Prof gw bilang tesis S2 gw itu busuk banget, rubbish istilahnya-lah, bilangnya di depan murid-murid lain pula. Gw bukannya pahit dikatain gitu ya, itu sih gw udah biasalah, yang bikin pahit itu adalah emang KENYATAAN tuh tesis busuk banget, istilahnya gw sendiri juga sadar, kalau gw pulang ke Indonesia dengan kemampuan setara tesis S2 gw itu, bisa dipastikan gw ga akan bisa berkarya sebagai dosen dan peneliti, saking ceteknya pengetahuan yang gw punya. Dan, kecetekan pengetahuan ini bikin takut banget dong ya. Apa sih gunanya gelar master kalau ternyata dalamnya kosong? yang ada malah malu-maluin diri sendiri dan almamater. Ini juga yang bikin gw galau mau lanjut S3 tapi lebih galau lagi kalau ga lanjut karena ya pulang ke Indonesia dalam kondisi rubish itu kan asli akan merusak masa depan banget ya. Akhirnya gw beranikan diri tetap lanjut, sambil nyiapin mental untuk penyiksaan akademik yang pastinya akan lebih berat dibanding S2.

Tahun pertama studi S3, gw tetap galau. Galaunya itu karena setelah menyadari kesalahan gw dalam belajar, gw terus mencoba mengubah diri, tapi kok titik terang tidak kunjung gw dapatkan. Gw habiskan 8 jam sehari di perpustakaan, bahkan ada hari-hari di mana gw tambah juga bangun subuh untuk belajar. Tetap aja gw ngerasa gelap. Gw ngeri dengan sebegitu banyak buku yang harus gw baca, semuanya dalam bahasa Jepang atau beberapa ada dalam bahasa Inggris, yang jelas ga ada satupun yang bahasa Indonesia. Gw baca, tapi banyak yang gw ga ngerti. Gw habiskan berjam-jam di perpustakaan sambil kesepian dan rasanya pengen teriak, sebenarnya what on earth I`m doing for sihhhh? Di luar sana banyak orang yang ga belajar kayak gini tapi hidupnya mapan, sejahtera dan bahagia. Kenapa gw di sini sengaja menyusahkan diri? Tapi udah ga ada pilihan, mau mundur udah telat, the only way hanya bergerak maju. Terbayang James, terbayang Joanna, kalau gw ga belagu datang ke Jepang gini (dan gw belajarnya sastra yang mana hasil penelitiannya bukan yang praktikal macam nemuin obat AIDS, jadi wajar kalo orang mikir, apa sih yang lu perjuangin, abstrak abis!), mereka mungkin lebih sejahtera. Tapi ini gw udah seret dua orang ini. Cuma gw ga mau ngulangin kesalahan yang dulu, yang ngerasa frustrasi ngerasa bersalah trus akhirnya cuma berakhir di mengasihani diri. Gw memilih untuk hidup dengan prinsip invictus, situasi bisa kayak gimana aja, yang penting gw ga boleh terkalahkan oleh situasi. Maka, sambil galau, gw terus bertahan di perpustakaan, ngantuk-ngantuk pun gw terus baca buku-buku referensi.

Setahun berlalu, ga ada perubahan berarti. Mid defense pertama gw bulan Desember 2012, gw dapat banyak kritikan dan Prof bilang gw tetap aja kurang banget materinya untuk bikin disertasi. Siapa yang ga ngeri diginiin? Waktu jalan terus kan ya cyiiiin. Lagi-lagi gw ini bukan pahit dimarahinnya, tapi lebih ke pahit karena kenyataan emang gw garing banget di dunia research ini. Sampai akhirnya satu waktu gw putuskan, ya gw selesaikanlah studi gw semampu gw, setelah itu, pulang ke Indonesia, gw akan tinggalkan semua kegiatan akademik ini, karena gw ga kompeten at all. Udah lebih dari setengah masa studi gw lewati, tetap aja ga ada kemajuan. Apa yang bisa gw harapkan di dua tahun terakhir ini?

Bulan Maret 2013, gw putuskan untuk bangkit kembali, dan mulai lagi berusaha tenang dari awal, menekuni data penelitian meski semua masih gelap. Tak disangka-sangka, di sini mulai sedikit ada titik baliknya. Sedikit ada titik terang, meski masih jauh banget sih. Pra penjurian disertasi bulan Mei 2013, itu untuk pertama kalinya gw ngerasa rada mending dalam presentasi. Tanggapan Prof juga cukup baik, meski kritiknya tetaplah banyak banget, tapi gw merasa, setidaknya di bulan Mei 2013 itu, ini kali pertama beliau sedikit menunjukkan ketertarikan terhadap penelitian gw. Setelah Mei 2013, berikutnya adalah Oktober 2013. Akhir bulan ini gw harus mid defense yang kedua. Sebelumnya, pada libur musim panas, gw menghabiskan waktu gw dengan mengerjakan penelitian, baca buku referensi, dan tulis satu jurnal. Itu jurnal dalam kampus sih, berhasil tembus, tapi gw rasa, semua juga nembus deh di jurnal ini, karena ini jurnal dalam kampus. Tapi gw anggap ini sebuah pencapaian, bisa tulis jurnal. Meski gw dapat banyak sekali kritik dari Prof (lagi-lagi yaaaa), itu semua gw terima dengan lapang dada, anggap aja itu artinya Prof peduli sama gw, daripada dikacangin trus dibiarin gitu aja ga dibimbing trus tau-tau terakhir dijatuhin, kan itu lebih gawat lagi.

Nah, trus minggu ini, gw harus kasih progress report research gw selama musim panas kemarin, apa aja pencapaian gw, perkembangan penelitian gw. Entah ya gw juga ga tau, tapi mungkin beginilah cara kerja aufklarung. Proses sampai ke enlightment alias aufklarung ini lama dan gelap banget, tapi di satu saat, tiba-tiba aja eureka! Tercerahkan semua puzzle yang selama ini berserakan. Itulah yang gw alami dan asli cuma bisa sujud syukur. Gw merinding. Gw ngerasa udah dapat gambaran besar disertasi gw dari awal sampai akhir kayak gimana. Semua yang selama ini gw pelajari, tiba-tiba keluar dan bisa diramu dengan sistematis dalam bentuk bab-bab disertasi. Masih sih banyak yang harus dikerjain, tapi bangunan besarnya udah mulai solid dan kongkrit.

Minggu ini gw kasih progress report ke Prof, gw jelaskan garis besar disertasi gw, apa-apa aja yang mau ditulis. Di luar dugaan, dan ini untuk pertama kalinya, setelah 4,5 tahun gw di sini.....beliau bilang dengan jelas ke gw. "Rouli, kamu improve banyak sekali, penelitian kamu sangat menarik, ini belum pernah ada yang mengerjakan di Jepang, dan saya sangat tertarik untuk mengetahui lebih lanjut progress penelitian kamu. Dulu saya benar-benar tidak merasa tertarik dengan penelitian kamu, tapi sekarang saya sungguh ingin tahu lebih dalam." Rabbiiiiiiii........pengakuan ini sungguh rasanya tak terlukiskan! 4,5 tahun gw dimarahin melulu, dan untuk kali pertama, orang yang selalu marahin gw ngakuin hasil kerja gw. Maksud gw, bukannya gw brilian, bukannya gw jenius, tapi ternyata emang benar ya kalo hard work itu suatu hari emang akan memberi buahnya, tapi emang lama sih ga bisa instant. Gw sebenarnya udah siap kalau pas kasih progress report itu gw akan dimarahin lagi. Tapi di luar dugaan, karya gw ternyata diakui. Emang gw ga dapat piala, gw juga bukan orang-orang berbakat yang dapat penghargaan ini itu, bukan juga orang yang bisa ikutan simposium besar, masih jauhlah itu....tapiiii...setiap orang punya perjuangan sendiri untuk dihadapi kan? Dan untuk gw, mungkin emang piala, penghargaan, simposium itu bukan bagian gw, jadi ga usah pusingin hal-hal itu, lebih baik fokus ke my own battle.

Sekalipun hanya gw sendiri yang merasa, gw merasa, hari itu pas kasih progress report, gw merasa ini momen invictus gw. Masih awal sih, tapi gw bersyukur sekali pada Tuhan. Just do your best and let God work in it itu emang bener banget ya, nyata dalam hidup ini.

Semoga moment invictus di awal Oktober 2013 ini bisa menjadi penyemangat untuk gw terus berjuang menyelesaikan studi gw. Selesai tepat waktu dan bisa nebus tesis busuk gw, itu yang gw harapkan.









Sunday, September 22, 2013

Ketika hidup tidak lagi sesederhana jaman dulu

Akhir-akhir ini gw merasa, akses orang untuk ngerasa sirik itu, jauh lebih terbuka daripada jaman dulu. Jaman dulu itu kapan? Sebelum kemerdekaan Indonesia, atau lebih edan lagi dulunya, pas jaman barok gitu? Ngga sih, ngga sejebot itu. Yang gw maksud jaman dulu di sini adalah jaman ketika social media belum menjamur. Yaaaa...jaman gw SD, SMP, SMA, kuliah di Indonesia, awal-awal menikah, jad dosen ga tetap di sebuah perguruan tinggi swasta. Tahun 1980an sampai tahun 2000an awal. Tapi menginjak plus minus tahun 2010an, itu yang namanya socmed, ampun-ampunan ya membahananya. Pertamanya sih friendster doang ya, sekitar tahun 2007an ya kalau ga salah. Trus blog, facebook, twitter, trus sekarang instagram, line, path, banyak bangetlah.

Gw sih jujur ya, ga punya akun instagram, line, path. Ga tau juga sih itu semua apa gunanya. Emang gaptek sih gw. Friendster dulu punya, tapi trus tutup kan ya. Facebook masih aktif sampai sekarang. Twitter punya, tapi itu fungsinya lebih untuk chat sama Ria lewat DM sih. Facebook juga bukan yang update status tiap jam gitu, atau posting foto sering banget. Ya kadang-kadang aja update status, kadang-kadang aja upload foto. Dulu sering nulis notes, tapi akhir-akhir ini agak jarang. Blog, akhir-akhir ini gw coba aktifin lagi. Sayang ya, udah nulis lumayan banyak, udah ada blognya tapi trus jarang update.

Kembali lagi ke topik awal. Akses orang untuk merasa sirik. Ya mungkin aja ya, ada orang yang kalo liat orang lain sukses, trus dia bisa ngerasa bahagia, atau bisa trus suportif gitu. Tapi gw rasa, banyak yang kalo liat orang lain sukses, yang ada malah galau karena diri sendiri ga seperti itu. Jujur, gw termasuk golongan kedua. Gw sih perasaannya bukan dominan sirik ya, tapi lebih ke labil. Labil karena diri ini ngga termasuk orang-orang sukses itu. Galau karena hidup gw sekarang masih aja ga jelas masa depannya. Trus khawatir, akan bagaimanakah hidupku ini nanti? Apalagi ya apalagiiii...di sekeliling gw, banyak banget manusia sukses. Trus jadinya ngebanding-bandingin diri sendiri sama orang lain. Kok dia bisa gitu sih, kok dia hebat sih, kok dia keren sih, lha kok gw katro sih? Kok ga ada sih tanda-tanda sukses akan menghampiri diriku? Sampai kapan lagi aku harus bertahan dalam ketidakjelasan hidup ini? Trus ya ujung-ujungnya jadi mengasihani diri sendiri gitulah, labil dan ngerasa ga berdaya. Picisan banget emang gw, tapi itulah yang kurasakan.

Jujur, kalo liat si A, B, C, dll ngeposting foto atau status sukses di socmed, gw tuh langsung ngerasa galau karena diri ini belumlah seperti mereka. Trus gw berusaha menguatkan diri dengan bilang, semua orang ada rejekinya masing-masing, semua orang ada waktunya masing-masing untuk bersinar, emang saat ini belum waktu gw, emang mungkin gw suksesnya ntar pas umur 70 tahun, jadi bertahan aja terus, dan sebagainya. Cuma namanya perasaan ya, tetap aja galau ini tak dapat dibendung. Sebegini labilnyakah gw? Ya emang iya sih, ini mesti diakui.

Trus gw mikir, jaman belum marak nih socmed, orang mau sirik atau galau, aksesnya lebih terbatas. Hidup tuh dulu rasanya benar-benar private. Yang tahu kita ya hanya orang-orang terdekat kita aja. Sekarang ini, sekalipun hanya level permukaan, seluruh dunia bisa tahu kita lagi ngapain kalau kita ngepost di twitter or facebook or apalah. Trus karena asyik dengan socmed, justru orang yang dekat dengan kita di dunia nyata, malah jadi jauh. Soalnya kita jadi asyik dengan smartphone kita padahal anak ada di samping kita menuntut perhatian (ya itu gw sendiri sih contohnya). Manusia jadi kurang paham gimana caranya komunikasi verbal ya. Soalnya, apapun itu, dibahasnya via komen facebook-lah, retweet twitter-lah, dll. Satu-satunya keuntungan signifikan yang gw rasakan dengan adanya facebook sih, gw jadi bisa terhubung dengan para pemain teater koma dan sempat menyampaikan pujian tulus pada almarhum Dudung Hadi, aktor teater koma yang keren banget dedikasinya itu, sebelum beliau meninggal.

Coba deh, dulu sebelum socmed marak, kita ngapain sih di waktu senggang? Baca buku, nonton TV, nulis diary, tidur siang, dengerin radio. Kirim-kirim lagu, nelepon ke radio Lesmana atau KISI FM (Ya ampuuuun ini mah Bogor jadul banget yeeee? Gw tuuuuuh saban siang pas SMP kerjanya nelpon melulu ke radio Lesmana atau KISI FM untuk kirim-kirim lagu. Lagunya "Shower me with your love" yang dinyanyiin Surface. Ya ampuuun bokis amat nih ya, padahal siapa juga love-nya, jaman SMP kagak ada juga orang yang gw taksir hahahahaha). Malam sebelum tidur, kalo gw mah dulu, kalo ga baca novel yang gw pinjam di perpus, ya gw dengerin radio. KISI dong ya pasti, Acaranya, tiap Senin dan Kamis, jam delapan sampai sepuluh malem, Kisi-kisi kita, itu tuuuuh semacam curhat pemirsa via surat, tentang problem cinta gitu, yang dibahas sama penyiarnya, trus diselingi lagu-lagu gitu. Dari SD sampai SMA, gw hobby banget baca buku sambil tiduran di kamar. Ga butuhlah kemana-mana, di kamar aja cukup. Inget banget, satu sore, di Bogor hujan deras banget. Dari jam dua siang sampai sekitar jam enam sore, gw di kamar, namatin novelnya Marga T yang gw pinjem dari perpus kampus. Pas itu gw kelas I SMA deh kalau ga salah. Begitu beres, udah sekitar jam enam, mandi, trus dipanggil makan malam sama Mama. Trus tau-tau udah malam, ya paling gw ngerjain PR, trus tidur. Sederhana banget ya dulu? Ga ada tuh posting status, upload foto, berantem-beranteman di socmed ala abg jaman sekarang.

Kalau Joanna ngga berhenti-berhenti main Ipad, trus kayak mati gaya gitu mau nyari kegiatan lain, gw selalu bilang, dulu Mama sejak kelas dua SD, ngisi waktunya itu dengan baca buku yang ga ada gambarnya, sebanyak 100an halaman. Itu novel-novel Enid Blyton kayak serial St Claire, si badung, Malory Towers, Lima Sekawan, Sapta Siaga, Pasukan Mau Tahu, serial sirkus, Nodi, trus novel-novel Astrid Lindgren kayak Madita, Pipi si kaus kaki panjang, serial Bullerbyn, itu semua udah gw khatam-kan sebelum lulus SD. Trus komik Nina yang dulu menurut gw keren banget itu, bacaan gw jaman SD banget tuh. Menginjak SMP dan SMA, gw mulai baca novel cinta-cintaan gitulah, karya Marga T dan Mira W. Selain itu, gw juga baca buku-buku sastra klasik Indonesia modern, kayak karya-karya Sutan Takdir Alishjabana, Marah Rusli, Abdul Muis. Masuk kuliah, bacaan bertambah dengan karya-karya Pramoedya Ananta Toer, Ayu Utami, Fira Basuki, Djenar Mahesa Ayu, YB Mangunwijaya, Dee. Gw rasa, selain emang dari dulu gw diperkenalkan dengan buku sama si Mama, yang bikin gw suka baca juga adalah, karena dulu tuh kagak ada yang namanya facebook, path, instagram dan sebagainya itu. Ga ada rasa gelisah karena ga bersentuhan dengan internet. Nyari informasinya ngga lewat googling gitu, tapi lewat buku aja. Gw sampai sekarang males lho baca di Ipad. Maunya baca buku itu yang beneran buku dari kertas, bisa gw coret-coret. Ya orang beda-beda ya, mungkin  gw emang kuno banget kali.

Manusia tuh dulu rasanya lebih manusia ya daripada sekarang. Sekarang tuh orang bisa sewot lho, hanya karena salah paham di twitter, misalnya. Susah banget sih, berantem capek-capek via twitter,  ngetik banyak-banyak. Kenapa ga telpon aja orangnya, atau ajak ketemuan langsung, tanya masalahnya apa, trus selesaikan baik-baik. Kenapa sih kalau kita bete sama orang, seluruh dunia mesti tau via socmed? Ya, yang ngeliat sih seneng-seneng aja ya, dapat hiburan drama gratis. Tapi itu kan bikin yang berantem itu terkesan negatif ya? Mengumbar-ngumbar perasaan, apalagi kalau itu ternyata dengan suami atau istri atau pacar atau keluarga sendiri. Itu kan malah malu banget tuh ya?

Ya, ini hanya pendapat ngalor ngidul gw soal socmed. Social media itu emang jadi sarana bersosialisasi dan berkomunikasi dengan begitu banyak orang, jarak antar benua udah ngga jadi masalah lagi karena kita semua terhubung dalam dunia maya, tetapi ironisnya, lama-lama, hubungan antar manusia di dunia nyata, yang justru harusnya paling signifikan, malah makin lama jadi makin terasa renggang karena semua pada sibuk gaul di socmed. Hidup memang tidak lagi sesederhana jaman dulu ya. Mungkin yang harus selalu kita ingat sekarang ini adalah, bagaimana kita bisa menyederhanakan hidup tanpa mengurangi kualitas hidup itu sendiri. Selalu ingat bahwa yang paling penting dalam hidup ini adalah keseharian di dunia nyata, bukan segelintir episode hidup yang telah kita filter, yang kita perlihatkan di socmed. Sekian.