Saturday, July 22, 2017

"Ngajar-ngajar aja?"


Salah seorang teman saya pernah merasa jengkel karena ia ditanya oleh temannya setelah sekian lama tidak bertemu.
"Lu sekarang ngapain? Ngajar-ngajar aja?"
Jika kalimat ini dianalisa, ungkapan "ngajar-ngajar aja" itu jelas punya maksud tersirat agak meremehkan profesi sebagai pengajar. Mungkin dalam bayangan orang yang melemparkan pernyataan ini, profesi pengajar itu kayak bukan "kerja beneran", karena kita hanya berdiri di depan kelas sekitar 2 jam untuk satu mata pelajaran, dan kalau di perguruan tinggi, tidak setiap waktu dari jam 9 sampai 5 sore kita berdiri di depan kelas untuk mengajar.
Jadi, sebenarnya "ngajar-ngajar aja" itu ngapain aja dong kalau rata-rata sehari berdiri di depan kelasnya hanya 3-5 jam?
Dari pengalaman saya "ngajar-ngajar aja", justru yang paling menyita waktu itu bukan real time mengajar di depan para mahasiswanya, tapi justru persiapan sebelum mengajarnya, dan memeriksa tugas-tugas dan ujian para mahasiswa.
Persiapan sebelum mengajar, untuk persiapan besar, biasanya kita mendesain materi ajar untuk satu semester ke depan. Jika mengajarnya dengan tim atau kelompok, materi ajar ditentukan bersama-sama. Untuk yang tim, ada koordinatornya dan jika mengajar dalam tim, taat pada koordinator adalah mutlak.
Untuk yang mata kuliah yang saya pegang sendiri, saya biasanya membaca feedback dari para mahasiswa di semester lalu, kemudian saya berusaha memasukkan saran dari mereka, materi yang bagus saya pertahankan. Pemilihan materi juga makan waktu cukup lama. Biasanya saya akan mencari beberapa materi baru dan bahan bacaan, lalu digabung dengan materi yang sudah saya miliki sebelumnya, dan saya pelajari dulu semua materi itu. Dari semua materi itu, saya lalu melakukan seleksi, mana yang masuk ke materi primer, mana yang materi pendukung. Selanjutnya, saya juga harus memikirkan strategi bagaimana caranya agar di kelas mahasiswa sebisa mungkin tidak merasa bosan. Mereka harus diajak berpikir terus dan "dijebak" untuk aktif, entah lewat presentasi atau lewat pertanyaan, sehingga tidak terasa, tahu-tahu kuliah telah berakhir.
Setelah membuat desain besar materi pengajaran, selanjutnya adalah masuk ke hal-hal yang sifatnya detil dan berbasis harian, yaitu menyiapkan materi ajar per minggu. Ini meliputi membuat power point, membuat pertanyaan-pertanyaan untuk lembar tugas, dan yang paling penting, mempelajari materi. Saya punya buku catatan per mata kuliah dan semua urutan kegiatan di kelas dalam setiap pertemuan pasti saya tulis, berikut dengan alokasi waktunya. Untuk kuliah bahasa, catatan saya paling banyak, karena meliputi pola-pola kalimat yang akan diajarkan hari itu berikut contoh-contoh kalimatnya. Bahkan materi yang terlihat "gampang" seperti Bahasa Jepang dasar pun saya tulis, karena saya bukan dewa yang hafal segala hal di luar kepala.
Setelah semua beres, baru saya "mentas" di kelas. Selesai "mentas" di kelas, saya mempersiapkan lagi materi untuk pertemuan berikutnya dan memeriksa tugas-tugas dan ujian para mahasiswa. Begitu terus berulang hingga satu semester berakhir.
Jadi, sebenarnya "ngajar-ngajar aja" itu sesungguhnya bukan "ngajar-ngajar aja". Bukan hanya satu hari cuap-cuap di kelas selama dua jam, lalu sisanya santai-santai sambil minum kopi. Demi bisa cuap-cuap maksimal selama dua jam, proses sebelum dan sesudahnya itu makan waktu lama. Dan itulah semua rangkaian kegiatan dari apa yang mungkin sebagian orang menamakannya "ngajar-ngajar aja".
Jadi kalau ada yang bilang, "Kerjaan lu ngapain? Lu ngajar-ngajar aja ya?"
Mari kita, pengajar, bilang dengan mantap: "Gue bukan ngajar-ngajar aja. Gue ngajar, karena emang gue ini pengajar."
Pengajar, jangan merasa rendah diri jika kita bukan orang kantoran atau dokter atau pengacara, yang entah mengapa, dianggap paling keren sejagat di dalam kancah pekerjaan. Kita, guru, entah guru pendidikan usia dini, dasar, menengah, pendidikan tinggi, adalah orang-orang yang diberi hak istimewa untuk menyentuh hidup dan hati generasi penerus, melalui distribusi dan produksi ilmu, sekaligus juga melalui teladan sikap dan perbuatan. Kita bukan ngajar-ngajar aja, bukan gunting-gunting kertas atau nyanyi-nyanyi aja (kalau kita guru TK). Semua tindakan kita bermakna karena kita sedang dalam proses mendistribusikan ilmu pada generasi di bawah kita. Bagaimana mungkin hal mulia seperti ini dirangkum dalam ungkapan konyol "ngajar-ngajar aja", "gunting-gunting kertas aja ", "nyanyi-nyanyi aja"?
22 Juni 2017
Rouli Esther Pasaribu

Trust


Masih lebih baik kehilangan harta daripada kehilangan kepercayaan dari orang lain. Meski, sebenarnya jangan sampai harta juga hilang sih.....
Tapi ungkapan di atas menunjukkan betapa menjaga kepercayaan itu bukan perkara mudah. Betapa sebuah hubungan bisa rusak karena sudah tidak ada kepercayaan lagi.
Salah satu negara yang cukup "rewel" urusan trust alias kepercayaan itu adalah Jepang. Selama beberapa tahun berkecimpung dalam bidang studi Jepang, saya merasa bahwa diam-diam orang-orang Jepang itu memperhatikan kinerja, ketulusan, dan terutama karakter kita. Apakah orang ini dapat dipercaya atau tidak, apakah orang ini sungguh-sungguh serius atau tidak.
Kalau saya bisa kuliah di Jepang, lalu ikut beberapa program untuk pengembangan studi Jepang yang butuh biaya tidak sedikit (untuk ukuran kemampuan finansial saya), itu karena adanya beasiswa dan dana yang saya dapatkan dari melamar program-program tersebut.
Namanya juga dibiayai ya, tentunya kita harus maksimal menunjukkan kinerja terbaik. Ada beberapa cerita tidak sedap yang saya dengar dari orang-orang di sekitar saya, yang terus terang saja agak bikin malu nama bangsa tercinta ini.
Ada yang diberi beasiswa untuk studi di Jepang, tapi yang bersangkutan malah sibuk bisnis di sana, jarang muncul di lab atau ruang penelitian setiap hari, akhirnya ketika lulus S2 tidak diberi rekomendasi untuk lanjut ke jenjang yang lebih tinggi, dan "tidak diurus" kelanjutan studinya oleh Profesornya.
Ada yang dapat beasiswa, ini sih bukan di Jepang tapi di negara lain, lalu yang bersangkutan bukannya bayar uang kuliah dengan beasiswa tersebut tapi malah uang beasiswa itu dialokasikan untuk beli tanah di kampung halaman. Sampai-sampai pihak kampus melacak mengapa yang bersangkutan belum bayar uang kuliah sekian lama, akhirnya entah bagaimana, ketahuan kalau uangnya digunakan untuk hal yang tidak seharusnya.
Yang kayak gini ini kan agak bikin miris ya? Sejatinya jika kita menerima beasiswa atau biaya lain untuk menunjang kemajuan diri ini, maka seharusnya digunakan sesuai keperluan. Kalau kita "tertangkap" kita akan dilabeli negatif dan kepercayaan pihak lain terhadap kita akan sedikit demi sedikit runtuh.
Masalahnya, kita mau pencitraan gimana juga, lama-lama karakter asli akan muncul. Dan kalau kita "pura-pura" baik, "pura-pura" sungguh-sungguh, "pura-pura" santun, ya terakhir-terakhirnya akan ketahuan juga.
Jadi, harusnya bagaimana? Jawabannya sudah jelas. Jagalah kepercayaan itu! Dengan kerja keras, dengan menunjukkan itikad baik, dengan bersikap jujur dan dapat diandalkan, dengan berpikir bahwa kepercayaan ini adalah hal yang sangat mahal harganya, sekalinya runtuh, sulit membangun kembali.
Lagipula kalau urusannya sudah hal yang sifatnya finansial seperti beasiswa, maka biar bagaimanapun juga, penerima beasiswa pasti disorot dan biasanya jika skalanya internasional, yang disorot sudah bukan diri pribadi tapi dari mana ia berasal.
Itu sebabnya selama saya studi di Jepang, saya selalu sadar dan menyadarkan diri untuk menjaga kelakuan dan menunjukkan itikad baik. Jangan sampai Indonesia dinilai jelek karena kelakuan saya.
Kita tahu, di kancah internasional, nama Indonesia bukan yang super dihormati, bukan yang super ditakuti. Ini fakta yang harus diterima. Bahwasanya negara tercinta ini masih banyak ketinggalan, harus kita terima dengan lapang dada. Tapi jangan berhenti hanya di menerima saja, tapi pikirkan sama-sama sumbangsih apa yang dapat kita berikan untuk bangsa kita.
Karena menjadi masyarakat global itu bukan berarti kita lupa pada jati diri kita. Menjadi masyarakat global juga bukan berarti kita menggerutu pada ketidaknyamanan negeri dan mengagungkan tempat lain. Menjadi masyarakat global pertama-tama adalah menjaga kepercayaan dan menerima uluran persahabatan dari berbagai daerah di belahan bumi ini, sekaligus juga di saat bersamaan, berpikir untuk memajukan tempat di mana kita berpijak. Ini adalah tanggungjawab kita terhadap hidup ini.
Membangun kepercayaan itu butuh waktu bertahun-tahun. Tetapi, meruntuhkannya, hanya butuh waktu sekejap. Baik-baiklah melangkah, baik-baiklah membawa diri.
21 Juni 2017
Rouli Esther Pasaribu

Setiap orang punya waktunya masing-masing


Entah mengapa, manusia senang menyekat-nyekat fase hidup seseorang dengan melihat usianya dan jika seseorang sudah melampaui usia tertentu padahal diharapkan sudah mencapai satu tahap di usia tertentu itu dan yang bersangkutan belum mencapainya, maka orang itu dianggap agak aneh atau jadi bahan omongan karena hidupnya "tidak biasa".
Misalnya, menikah. Perempuan kalau sudah lewat 30 tahun dan belum ada tanda-tanda akan menikah, seringnya ditanya-tanya oleh orang-orang di sekitarnya.
"Kok belum ada calonnya sih?"
"Kapan nyusul nih? Kok adiknya udah duluan?"
Laki-laki, kalau kelamaan nganggur atau sudah berkeluarga dan belum dapat kerja, juga jadi bahan untuk ditanya-tanya.
"Sekarang ngapain?"
"Kok belum dapat kerja sih?"
"Kok ngga dapat-dapat kerja? Buka usaha aja kali, Ito..." (Ito: abang dalam Bahasa Batak)
Kalau agak anti mainstream udah ibu-ibu tapi kuliah lagi, di luar negeri pula, maka ngga jarang pertanyaan kayak gini akan muncul.
"Kok kuliah lagi sih?"
"Kok ninggalin anak dan suaminya sih?"
"Nanti suaminya di sana ngapain?"
"Ingat umur lho, udah ngga muda lagi."
Pertanyaan-pertanyaan di atas sih pertanyaan-pertanyaan yang saya terima ketika memutuskan untuk kuliah lagi.
Padahal ya, fase hidup masing-masing orang itu berbeda-beda. Ada seribu orang, berarti ada seribu cerita kehidupan. Lalu, kita ini semua punya kecenderungan ingin menyempitkan cerita-cerita itu menjadi hanya satu cerita saja: lulus kuliah umur sekian, mulai bekerja umur sekian, menikah umur sekian, punya anak umur sekian, punya rumah sendiri umur sekian. Padahal, hidup seseorang itu tidak selancar itu. Ada yang menikah muda baru lanjut kuliah lagi. Ada yang sudah punya anak dan berhenti bekerja, lalu ketika anaknya besar bekerja lagi. Ada yang kerjanya sudah bagus tapi kemudian dipecat dan butuh waktu lama untuk bekerja lagi. Ada yang nikahnya lambat karena berbagai faktor. Ada banyak cerita yang bervariasi dalam hidup setiap dari kita.
Setiap orang punya waktunya masing-masing. Mari lebarkan kisah, jangan hanya menyempitkan cerita menjadi satu naratif saja. Waktu kita bukan waktu orang lain. Cerita kita berbeda dengan cerita orang lain. Tidak ada cerita yang paling bagus, paling hebat, paling luar biasa. Bagus tidaknya sejarah hidup seseorang itu bukan tergantung standar masyarakat, tapi tergantung masing-masing orang yang menjalaninya. Dan setiap kisah itu bukan untuk dipertandingkan, karena masing-masing orang sudah punya pertandingan, perjuangan, dan jalannya sendiri, dan ia pertama-tama bertanding melawan dirinya sendiri, bukan melawan orang lain.
19 Juni 2017
Rouli Esther Pasaribu

Naik level


Sebenarnya saya bukan orang yang suka-suka amat naik wahana mengerikan di amusement park seperti jet coaster tinggi banget yang lihatnya aja bikin stress.
Tapi, jika sedang berkunjung ke amusement park, biar saya takut, saya sengaja naik wahana seram itu. Tentu saja setelah mempertimbangkan faktor keamanan dan kesehatan, karena kalau "tidak amannya" sudah tidak masuk akal, ya saya tidak mau naik.
Ngapain kurang kerjaan amat, ibu-ibu sengaja naik wahana seram? Ya sebenarnya sih ini lebih kepada latihan saya melawan ketakutan sendiri. Jangan dikira saya ngga takut. Kalau sudah naik wahana seram gini, menurut suami saya, teriakan saya paling kencang dan belum juga wahana mulai bergerak, saya sudah teriak-teriak. Ya kaliiiii ibu-ibu nyaris 40 tahun naik jet coaster, bukan karena mau nemanin anak tapi karena emang "cari gara-gara" demi melawan ketakutan diri sendiri, sengaja naik wahana yang sebenarnya bikin kaki lemas, mengingat saya ini sebenarnya bukan orang yang suka naik mainan seram.
Tapi memang dalam hidup ini, kita harus melakukan sesuatu yang susah, yang kita anggap tidak mungkin untuk dapat kita lakukan. Tujuannya demi menaikkan level diri sendiri. Sewaktu kuliah di Jepang, saya disuruh Prof baca majalah-majalah Jepang jaman dulu yang tulisan kanjinya itu kanji kuno yang lihatnya aja bikin stress. Tapi beliau bilang, kalau sudah bisa baca 200an kanji kuno, ke depannya gampang, karena sudah tahu celah-celahnya. Saya awalnya tidak percaya, tapi karena tuntutan studi, ya saya baca juga meski otak saya kayak langsung di tempat fitness gitu, diperas tiada henti. Tapi setelah baca beberapa majalah, lama-lama mulai ketemu polanya, dan teori 200an kanji itu saya buktikan benar adanya.
Masih tentang pengalaman saat studi juga, saya disuruh baca completed work pengarang yang saya teliti. Ada 16 volume dan pengarang ini bukan pengarang jaman kontemporer, jadi bahasanya jauh lebih sulit daripada bahasa Jepang yang selama ini saya pelajari. Tapi kata Prof, mending belajar yang susah sekalian, yang ngga gampang, yang melampaui kemampuan kamu, karena sekali kamu bisa menaklukkan kesulitan ini, ini akan jadi modal kepercayaan diri dan harta kamu seumur hidup. Karena saya percaya pada beliau, mengingat beliau sudah berpengalaman, dan saya tahu tujuannya baik, yaitu demi kemajuan saya, maka meski sulit, saya ikuti kata-kata beliau.
Suatu hari, beliau meminjamkan sebuah novel karya pengarang Jepang kontemporer pada saya yang masih ada hubungan dengan tema penelitian saya.
"Nih, baca. Karena tiap hari sudah baca Enchi (pengarang yang saya teliti), pasti sekarang sudah bisa baca novel ini dengan gampang tanpa kamus."
Karena saya tiap hari bacanya novel-novel karya Enchi Fumiko yang saya teliti ini sampai saya muak,saya memang tidak sempat baca karya pengarang lain. Saya sebenarnya tidak begitu percaya kata-kata beliau, tapi namanya murid disuruh guru, apalagi di Jepang yang hubungan guru dan murid itu sudah seperti master kungfu terhadap muridnya, benar-benar satu guru kepada satu murid, ya saya ikuti kata-kata beliau. Kalau memang ada orang yang tulus mau mengeluarkan yang terbaik dari kita meski caranya menyakitkan, ya mesti disambut dengan sukacita kan?
Akhirnya saya baca novel pengarang Jepang kontemporer itu dan ternyata saya bisa baca tanpa lihat kamus. Tidak sia-sia saya melakukan "training diri" dengan baca karya-karya Enchi Fumiko setiap hari, sampai kadang saya mau nangis saking muaknya, tapi ternyata segala kemuakan dan kelelahan itu terbayar dengan naiknya level kemampuan yang tentunya akan jadi harta berharga seumur hidup.
Menaikkan level diri sendiri itu memang tidak mudah. Kita harus sengaja melakukan hal-hal sulit yang melebihi kemampuan kita. Secara sadar menghadapkan diri pada kesulitan memang tidak enak, tapi tidak enaknya itu lebih dari sepadan dibanding hasil yang pada akhirnya akan kita terima. Prosesnya memang lama dan harus sabar menjalaninya, tapi justru dari proses yang tidak instant itu, tanpa kita sadari, keringat, tangisan, kemuakan, daya upaya yang kita keluarkan itu sedikit demi sedikit, perlahan tapi pasti, akan berubah menjadi harta abadi berupa karakter, kemampuan, pengalaman, dan cerita yang abadi tertanam dalam diri kita.
Dan yang dapat menaikkan level diri sendiri itu hanya diri kita sendiri. Orang lain tidak akan bisa. Ini tanggung jawab kita pada hidup. Karena hidup itu seharusnya hari demi hari semakin menuju ke arah yang lebih baik, secara perlahan dalam usaha yang terus berkesinambungan tanpa henti.
Menaikkan level diri sendiri itu adalah proses seumur hidup. Pace waktunya berbeda-beda untuk setiap orang. Saya sendiri termasuk orang yang butuh waktu lama untuk naik level, tapi saya jalani saja meski kemajuan untuk saya bukan hal yang mudah saya dapatkan. Saat ini saya sedang berusaha menaikkan level diri sendiri untuk presentasi akademik dan menulis paper dalam bahasa Inggris. Selama ini saya ditraining dalam bahasa Jepang, sehingga mengerjakan urusan akademik dalam bahasa Inggris itu bukan hal mudah untuk saya. Tapi saya sadar saya harus menaikkan level kemampuan saya ini, karena itu adalah bentuk tanggung jawab dan syukur saya kepada hidup dan kepada Yang Memberi Kehidupan.
Jika kita semua berusaha untuk setiap hari semakin baik dalam menata hidup, maka dunia ini tentu akan semakin banyak dipenuhi orang-orang berkualitas yang dapat memberi perubahan positif di tengah-tengah masyarakat yang carut marut tiada habisnya ini.
18 Juni 2017
Rouli Esther Pasaribu

Ruang untuk berbagi


Selama mengikuti kegiatan #nulisrandom2017 ini, salah satu hal yang membuat hati saya senang adalah jika saya mendapat respon positif berupa komentar yang ditulis oleh para pembaca sekalian. Dari semua respon positif itu, saya sangat senang jika tulisan saya menjadi sarana bagi pembaca untuk mengidentifikasi diri, berdialog dengan diri, bahkan kemudian, mendorong pembaca untuk membagikan juga pengalamannya di kolom komentar.
"Consciousness raising" atau "mengangkat, menumbuhkan kesadaran" adalah sikap dasar saya dalam menulis. Jika kita melihat sejarah gerakan perempuan, pada gerakan feminisme gelombang kedua tahun 1960an akhir di Amerika, beberapa tokoh feminis mencanangkan program Consciousness Raising (CR). Inti dari program ini adalah meningkatkan kesadaran para perempuan bahwa masalah yang ia hadapi di dalam rumah tangga, misalnya kekerasan dalam rumah tangga, marital rape, konflik batin antara ingin bekerja dan kewajiban mengurus rumah tangga, semuanya itu bukan masalah yang bersifat pribadi yang harus disimpan sendiri, tetapi masalah-masalah di atas merupakan bagian dari sebuah opresi yang tersistem di dalam masyarakat patriarki.
Kegiatan CR diadakan secara sederhana dalam kelompok-kelompok kecil, di rumah-rumah masing-masih anggota kelompok yang dilakukan secara bergiliran. Beberapa perempuan membentuk kelompok-kelompok kecil, dan di dalam kelompok-kelompok ini, para perempuan saling menceritakan masalah mereka yang selama ini selalu mereka pendam karena mereka menganggap masalah yang mereka hadapi adalah masalah pribadi yang tidak boleh dibagikan kepada siapapun, dan norma dominan tidak memberi legitimasi bahwa masalah perempuan adalah masalah yang layak untuk dibahas dan dengan semena-mena memberi label "remeh" pada masalah-masalah seperti lelah mengurus anak, ingin menunda kehamilan, ingin punya kegiatan lain selain mengurus rumah tangga, lelah tiap hari harus melayani anak dan suami, dan sebagainya.
Melalui berbagi persoalan di kelompok CR, para perempuan ini mulai terangkat kesadarannya, mulai menyadari bahwa diri mereka diopresi, bahwa ada harapan untuk mengubah nasib. Dengan rutin hadir dalam kelompok CR, para perempuan ini juga secara mental tentu akan lebih sehat karena ada teman untuk berbagi dan mencurahkan perasaan.
Sekalipun saya dan teman-teman yang membaca tulisan saya tidak bertemu langsung di suatu tempat, tetapi sebenarnya kita sedang melakukan consciousness raising. Saya melempar sebuah isu yang biasanya saya kemas dalam nada reflektif dan dirangkum lewat pengalaman personal saya, dan teman-teman yang membaca menanggapi, dengan memberi like atau ikut bersuara melalui kolom komentar, entah itu membagikan pengalaman pribadi yang mirip dengan yang saya tulis atau memberikan pendapat. Lalu terjadi dialog, pertama-tama dengan diri sendiri, lalu dengan orang lain. Dan yang sangat saya harapkan, setelah kita berbagi pengalaman ini, semoga kita mendapatkan suntikan semangat untuk menjalani kehidupan di dunia nyata, mengingat bahwa di tempat lain pun begitu banyak orang yang berjuang, sama seperti kita.
Sekalipun masalah yang kita hadapi tidak lantas menjadi lebih ringan, tetapi hanya dengan mengetahui bahwa orang lain juga mengalami atau pernah mengalami hal yang sama, sudah cukup memberikan suntikan semangat untuk kita. Sekalipun realita tidak bertambah ringan, setidaknya beban hati agak berkurang.
Di tengah hiruk pikuk dunia yang ritmenya terasa sangat cepat, kita sungguh perlu mencari, bahkan menciptakan ruang untuk berbagi. Orang yang tidak pernah berbagi kisah atau masalahnya, akan kewalahan mengolah stress karena semuanya ia pendam sendiri. Memang ada kalanya "silence is golden", tapi hal ini tidak berlaku mutlak untuk setiap masalah. Bungkam, atau dibungkam, kadang dapat berpotensi sebagai penghilang jiwa, pembunuh kesadaran, penyebab utama kelelahan batin.
Kita bertanggungjawab atas kesehatan lahir batin kita sendiri. Karena itu, mari berbagi dan ciptakan ruang untuk berbagi!
14 Juni 2017
Rouli Esther Pasaribu

Monday, June 12, 2017

Menjadi ibu, senangkah?

Tulisan ini terinspirasi dari salah satu komentar pada tulisan saya sebelumnya. Selama mengikuti rangkaian kegiatan #nulisrandom2017 ini, saya menulis berdasarkan kata hati saja. Apa yang ingin saya tulis, itu yang saya tulis. Demikian juga halnya ketika saya membaca komentar tentang capeknya jadi ibu. Saya jadi tergelitik untuk mengupas hal ini lebih dalam.
Dalam bukunya yang menjadi salah satu dasar gerakan feminisme gelombang 2 di Amerika, yaitu "Feminine Mystique", Betty Friedan menyebut masalah depresi, kekosongan, ketidakbahagiaan yang dialami perempuan kulit putih yang tinggal di pinggiran kota, sebagai "a problem that has no name" atau "masalah yang tak mempunyai nama". Jadi, pada masa itu, perempuan dianggap pasti bahagia, pasti bersukacita, pasti batinnya puas, jika ia menjadi ibu dan istri. Perempuan-perempuan kulit putih yang diwawancarai oleh Betty Friedan ini adalah perempuan-perempuan yang secara materi berkecukupan karena suaminya punya pekerjaan bagus. Masyarakat menjadikan perempuan-perempuan ini sebagai role model kebahagiaan sejati wanita. Materi cukup, status mulia sebagai istri dan ibu, ratu dapur, dicintai anak dan suami. Kurang apalagi? Tetapi ternyata Friedan menemukan perempuan-perempuan ini tidak bahagia. Mereka merasa kosong, depresi, galau. Sering mereka diam-diam menangis dan minum anggur ketika anak-anak mereka pergi sekolah. Mereka merasa sesuatu tidak beres dengan mereka, tapi mereka tidak berani mengakui mereka punya masalah. Mereka bahkan merasa mereka salah karena mereka tidak bahagia dengan kehidupan yang konon dimitoskan sebagai kehidupan sempurna dambaan setiap perempuan Amerika saat itu. Tapi melalui wawancara demi wawancara oleh Betty Friedan, kebenaran itu terkuak. Kebenaran bahwa perempuan-perempuan ini tidak bahagia hidup dalam mitos bahagia versi masyarakat patriarki di Amerika setelah Perang Dunia 2 berakhir, yaitu mitos bahagia menjadi ibu dan istri dari seorang laki-laki yang cukup mapan. Sampai-sampai, masalah depresi mereka tidak diakui sebagai masalah, dianggap masalah konyol, cemen, tidak ada artinya, dibanding masalah-masalah seperti masalah kenegaraan, politik, ekonomi.
Lebih dari setengah abad setelah Betty Friedan menemukan istilah "A problem that has no name", tetapi hingga hari ini, fenomena "masalah tak bernama" ini masih kita temui dalam hidup sehari-hari perempuan, spesifiknya kali ini yang mau saya bahas adalah perempuan yang adalah ibu.
Sebelum benar-benar menjadi ibu, kita, perempuan, terus menerus mendengar kisah demi kisah bahwa menjadi ibu itu adalah kebahagiaan sejati dan terbesar seorang perempuan. Bukan hanya mendengar cerita-cerita dari orang-orang di sekitar kita, tetapi juga kita melihat melalui role model di dunia iklan, majalah, film, drama TV mengenai sosok seorang ibu yang wajahnya selalu penuh sukacita dalam mengasuh anak. Masa-masa hamil cantik, melahirkan cantik, dan mengasuh anak secara cantik. Membuat kita yang belum mengalami hal tersebut menjadi tidak sabar ingin mengalami kebahagiaan sejati bersama buah hati.
Mengingat saya memang orang yang sejak dulu selalu mempertanyakan segala sesuatu, saya diam-diam sudah curiga dengan iklan-iklan cantik tentang ibu yang hamil atau mengasuh batita. Saya pikir, masa iya calon ibu bisa tetap cantik di saat sedang kepayahan muntah-muntah morning sickness. Saya pikir, masa iya ibu tetap bisa senyum bahagia jika ia tidak tidur semalaman karena anaknya segar bugar di malam hari.
"Kecurigaan" saya ternyata benar. Selama hamil, saya sangat jauh dari kata cantik. Mana nih kulit bersinar? Yang ada kulit saya makin kusam. Dan entah karena pengaruh hormon atau apa, badan saya menjadi lebih bau daripada biasanya. Setiap malam saya mengeluarkan banyak keringat padahal sudah tidur di ruang ber-AC. Benar-benar aneh.
Semakin hari beban di perut semakin berat, saya semakin lelah, tetapi saya tidak diberi ruang untuk boleh mengeluh. Kalau tampang saya tidak bersukacita, saya biasanya dibilang ngga boleh bete, ntar anaknya bisa ngerasa, jangan stress, nanti anaknya ikutan stress. Mengerti sih yang mereka semua bilang, tapi kok ya ngga ada yang mengerti isi hati saya? Bahkan menyebut diri ini lelah pun seperti tidak diperkenankan.
Lalu anak saya lahir. Saya harus mengakui bahwa bertemu dengan anak saya untuk pertama kalinya adalah pertemuan terindah untuk saya. Saya langsung menangis bahagia begitu Joanna lahir. Bayi besar ini (bukan bayi kecil karena anak ini emang beneran besar dari lahir) betul-betul anak saya. Jadi, gambaran dasarnya atau bottom line-nya memang benar: menjadi ibu itu memang membuat hati sukacita.
Tetapi, dalam kesehariannya, bahagia itu tidak selalu menyertai. Dalam malam-malam kelam saat payudara saya sakit dan bengkak plus saya demam karena ASI macet pada tiga hari pertama, kejengkelan melingkupi hati saya. Di malam-malam panjang saat saya harus menyusui Joanna dan dilanjutkan dengan dia rewel jika saya mencoba tidur, saya meradang melihat suami saya tidur nyenyak dan saya sungguh ingin memindahkan payudara saya ke dadanya agar dia gantian menyusui dan saya tidur. Tidak jarang saya membangunkan suami saya agar dia ikut begadang, intinya harus senasib dia ngga tidur juga. Pada masa-masa newborn saat Joanna sakit dan semalaman dia harus tidur dengan menyusu pada saya, dan jika saya tinggalkan sebentar ia akan menangis kencang, sementara saya juga terserang diare dan lima menit sekali saya ke kamar mandi, saya menyusui sambil menangis jengkel dan kesal dan berteriak dalam hati, "Tuhan, impian saya ini mau sekolah di Jepang, bukannya terperangkap dalam diare dan menyusui dalam saat bersamaan dan satu malaman!"
Namun, di hari-hari sengsara itu, saya seolah-olah "dipaksa" untuk tetap merasa oke, baik-baik saja, bahagia, tidak ada masalah, dengan berbagai macam ungkapan dari sekitar seperti:
"Ntar anaknya cepat gede, ngga kerasa lho, jadi begadangnya harus dinikmati."
"Dinikmatin aja masa-masa sekarang."
"Senang ya punya mainan baru, tiap hari ada aja ya kebisaan barunya."
"Ibunya harus happy terus dong ya biar anaknya happy juga."
Jika saya nekat bilang, "Saya capek, saya ngga merasa senang menyusui tengah malam, saya ingin tidur", pasti yang ada saya dipandang aneh dan sebelum saya mengeluh lebih lanjut, saya sudah dibungkam. "Eh jangan ngomong gitu! Harus bersyukur punya anak!" Ya, karena persoalan yang saya hadapi adalah persoalan tanpa nama, maka begitu saya mencoba memberinya nama, langsung ada usaha untuk mematahkannya, karena suara saya bukan representasi norma patriarki yang berterima di dalam masyarakat.
Saya hanya ingin kita semua lebih bersimpati dan memahami para ibu, terutama ibu baru. Saya ngga hiperbola jika saya bilang, menjadi ibu itu "life changing experience." Beautiful yet stressful, happy but sad in the same time. Semua perasaan campur aduk, dan keadaan jadi makin runyam karena di satu sisi kita dikondisikan harus bahagia terus, tapi di sisi lain, kita tidak dapat menampik bahwa kita lelah, stress, capek, dan rindu kebebasan masa lajang.
Ibu itu bukan sosok malaikat yang sempurna, yang selalu siap mengalah, yang bahagia dapat berkorban setiap saat. Bukan. Ibu itu manusia biasa, seorang perempuan dengan segala emosinya. Kadang dia senang, kadang dia sedih. Kadang dia marah, kadang dia lembut hati. Membungkam suara-suara kemarahan seorang ibu berarti tidak mengakui ibu sebagai manusia utuh dengan emosi lengkapnya.
Sekarang bayangkan, seorang perempuan, mulai dari dia hamil, sudah mengalami perubahan pada tubuhnya. Emangnya saya ngga serem, 9 bulan bawa-bawa makhluk hidup di dalam perut? Setelah melahirkan, ritme hidup pun berubah. Harus ngikutin jadwal anak. Iya memang pada akhirnya kita bisa menyesuaikan diri, tapi itu semua butuh waktu. Butuh proses, tidak bisa instant. Herannya, tidak sedikit dari antara kita yang menganggap ibu itu manusia sakti. Stress free, anger free,dan selalu penuh sukacita karena sumber bahagianya sudah nyata: anak. Just give us time to breath, just give us a break!
Kita, perempuan, harus bersuara, harus memberi nama pada "a problem that has no name". Jangan bungkam dan jangan mau dibungkam. Menjadi ibu itu adalah bahagia dan sedih di saat bersamaan, senang dan susah di dalam satu sejarah kehidupan. Bukan hanya bahagia, bukan hanya sedih. Menjadi ibu adalah merasakan sukacita dan rasa marah secara bersamaan, di dalam satu dasar yang kuat, yang kita namai: cinta tak bersyarat.
12 Juni 2017
Rouli Esther Pasaribu

"Anak sumber kebahagiaan?"

Di dalam masyarakat kita yang masih bergerak, berjalan menurut norma patriarki, anak dianggap sebagai pemenuhan kebutuhan batin sejati dari seorang perempuan. Setelah menikah, saya juga sangat sering menerima komentar dari kanan kiri, berupa :
"Kapan punya anak? Jangan ditunda-tunda ya."
"Udah hamil? Cepetan tuh, papa mamanya udah pengen gendong cucu." (Padahal Papa Mama saya satu kalipun tidak pernah mendesak saya untuk buru-buru punya anak, karena mereka emang orang-orang level tinggi yang sangat menghormati kebebasan individu dan paham betul, namanya punya anak, pertama-tama harus timbul niat mulia dari yang bersangkutan).
Herannya, suami saya jarang dapat pertanyaan seputar anak. Hanya saya saja yang dibombardir pertanyaan seputar kehamilan dan punya anak.
Setelah menikah, saya dan suami memang sengaja menunda dulu untuk punya anak. Alasan pribadi dari saya, saya merasa belum siap dengan perubahan mendadak, dari lajang menjadi istri, terus tahu-tahu harus langsung jadi ibu. Apalagi karakter saya yang jauh dari sifat-sifat legowo, nrimo, pasrah, penurut, pengalah ini, membuat saya banyak mengalami konflik batin, karena menurut saya, kebebasan masa lajang itu memang sesuatu yang tidak akan mungkin lagi kita dapatkan setelah menikah dan saya ini kan pada dasarnya memang menyukai kesendirian dan selalu butuh ruang untuk diri sendiri.
Kurang lebih hampir satu tahun menunda punya anak, akhirnya suatu hari, wangsit ingin punya anak itu muncul di hati saya. Bulan September 2006 saya hamil, tepat satu tahun setela.h saya menikah, dan bulan Juni 2007, anak saya lahir.
Selama satu tahun pertama pernikahan dari September 2005-September 2006, banyak komentar seputar hamil dan punya anak yang ditujukan untuk saya, dan sekalipun saat itu saya sebenarnya bukan orang yang hancur-hancur amat dalam hidup ini, artinya saya punya pekerjaan, sedang kuliah S2, sudah pernah merasakah studi di Jepang selama satu tahun, punya kemampuan....tapi tetap saja, dunia menganggap hidup saya ini tidak lengkap, kurang bahagia, kurang ada prestasi, karena......status saya sebagai perempuan yang sudah berkeluarga ini tidak segera diikuti dengan kehamilan demi melahirkan seorang manusia. Seolah-olah segala macam pencapaian pernah studi di Jepang, lulus ujian kemampuan bahasa Jepang, punya pekerjaan, sedang studi S2 itu asli tidak ada artinya, karena saya belum hamil. Seolah-olah hamil itu sebuah pencapaian, sebuah prestasi, sesuatu yang harus ada untuk setiap perempuan yang telah menikah (di Indonesia ini).
Lalu anak saya lahir dan tentu saja, saya sangat mencintainya. Tetapi, mohon jangan salah dulu mengartikan cinta pada anak ini. Cinta pada anak tidak serta merta diikuti dengan siap mengalah dan siap nrimo segala hal demi anak. Cinta pada anak untuk saya, tidak serta merta diikuti dengan siap mengorbankan cita-cita pribadi dan melupakan diri saya sebagai Rouli dan cukup puas hanya dengan satu gelar "Mama Joanna".
Mungkin ada ibu yang begitu anaknya lahir, langsung tenggelam dalam kasih bersama buah hati dan merasa amat sangat bahagia karenanya. Untuk saya, tidak seperti itu. Jujur, masa-masa anak saya newborn, itu sangat melelahkan untuk saya, dan dibanding bahagianya, menurut saya pribadi, lebih banyak melelahkan dan capek hatinya. Di masa-masa wajah saya muram karena enam bulan pertama saya tidak pernah tidur beneran (karena anak saya ini jadwal ngajak mainnya ngga kenal kompromi, biasanya dia mulai on itu jam 2 sampai 6 pagi), lagi-lagi banyak yang berkomentar,
"Gini nikmatnya punya anak. Dinikmati aja, nanti anak cepat besar lho."
"Namanya jadi ibu, ya mesti sabar dong. Dinikmati begadang-begadangnya."
"Pulang kerja begitu lihat anak, capeknya pasti hilang kan? Itulah anak ya, kita jadi semangat terus tiap hari."
Sambil mendengarkan komentar-komentar tersebut, saya sambil berujar dalam hati, "Kok yang orang-orang ini bilang ke saya ngga saya rasakan ya?"
Sejujurnya, kalau pulang kerja lihat anak, saya bukannya capeknya hilang, malah makin capek, membayangkan nanti malam hingga pagi harus begadang. Sejujurnya juga, saya tidak dapat menemukan kenikmatan dari setengah tahun tidak tidur beneran. Sejujurnya juga, saya tidak mengerti bagaimana caranya menemukan kenikmatan dalam begadang.
Tapi, seolah-olah suara hati saya dibungkam sebelum bahkan sempat saya lontarkan. Saya lama-lama jadi berpikir bahwa saya yang salah karena saya tidak bahagia benar-benar dalam menjadi ibu dan banyak kesal-kesalnya.
Seiring dengan anak saya bertambah besar, memang kelelahan fisik dalam mengurusnya juga jadi semakin berkurang. Saya pun hari demi hari mulai menemukan satu demi satu kebahagiaan bersama anak. Hari ini, anak saya hampir berusia 10 tahun, dan saya dapat mengatakan dalam hati, bahwa diberi anugerah untuk mengandung, melahirkan, dan membesarkan anak saya, adalah salah satu hal terbaik dalam hidup ini.
Tetapi, apakah kemudian kita dapat berkata bahwa anak adalah satu-satunya sumber kebahagiaan untuk perempuan?
Menurut saya, tidak demikian. Ada perempuan yang memang ingin dan dilahirkan untuk menjadi ibu, tetapi ada juga perempuan-perempuan, yang karena berbagai alasan, tidak menjadi ibu. Untuk perempuan-perempuan ini, kita tidak berhak dan tidak boleh menghakimi bahwa mereka tidak bahagia, mereka tidak sempurna, mereka aneh, atau merasa "kasihan" karena mereka tidak punya anak.
Saya sendiri mengakui dengan jujur, bahwa saya memang bahagia dapat bersama-sama dengan anak saya dan menghabiskan waktu dengannya, tetapi jika hidup saya satu hari penuh "hanya" dengan anak saya dan saya tidak punya kegiatan lain, saya tidak dapat merasa bahagia dan puas batin. Itu sebabnya, secara sadar saya mengambil keputusan untuk sekolah lagi, untuk mendalami ilmu yang saya cintai, lalu memutuskan untuk menjadi akademisi, untuk mengajar, bertemu orang lain, membagi ilmu, menulis paper, melakukan presentasi akademik. Mungkin ada yang melihat saya sebagai orang yang "aneh", ngapain sih saya sampai sebegitunya niat memperjuangkan hal-hal ini, kayaknya nyari repot dan susah saja, tapi itulah saya. Dalam mencari repot dan susah itu, justru saya merasa diri saya lengkap, satu sisi lain dari diri saya, yang tidak dapat dipenuhi oleh aspek berkeluarga. Dan menurut saya, kebahagiaan versi saya itu adalah jika saya dapat berada di tengah-tengah keluarga sebagai ibu dan istri, sekaligus juga dapat aktualisasi diri sebagai pribadi dengan menjadi seorang pengajar dan peneliti. Dua hal itu menurut saya sama pentingnya, dan saya adalah diri saya seutuhnya jika kedua hal itu sudah terpenuhi.
Jadi, apakah anak itu sumber kebahagiaan bagi perempuan? Jawabannya, tergantung pada masing-masing orang. Karena, kebahagiaan itu multi tafsir dan multi definisi, dan membaca kebahagiaan hanya melalui kerangka memiliki anak, saya rasa terlalu sempit dan berpotensi membungkam kebahagiaan versi lain dari berbagai macam perempuan di muka bumi ini dengan sejarah kisah hidupnya masing-masing.
11 Juni 2017
Rouli Esther Pasaribu