Saturday, June 10, 2017

"Kapan nikah? Kapan punya anak? Kapan tambah anak?"


Setelah kemarin kita membahas pertanyaan tidak bermutu berupa "mana oleh-olehnya?", hari ini saya mau membahas three in one pertanyaan yang ngga kalah rendah levelnya, yaitu pertanyaan seputar menikah dan punya anak.
Mengapa saya bilang ketiga pertanyaan ini sungguh menyebalkan, karena persoalan menikah, punya anak, dan tambah anak itu persoalan pribadi. Yang akan menentukan seseorang akan menikah atau tidak itu urusan orang itu sendiri, yang menentukan mau punya anak atau tambah anak juga kembali pada yang bersangkutan. Yang bertanya ngga punya andil yang signifikan, kan, misalnya menyumbang sejumlah uang untuk biaya pernikahan atau ikut serta dalam pengasuhan anak atau mempersiapkan tabungan pendidikan untuk anak.
Karena urusan nikah, punya anak dan tambah anak ini urusan pribadi, jadi yang paling bijak adalah jangan tanya-tanya ketiga hal tersebut. Saya perhatikan, pada umumnya, dibanding rasa bahagia ditanya hal-hal tersebut, reaksi yang terjadi adalah yang ditanya malah jengah, malas, jengkel.
Coba deh bayangkan....
"Kapan nikah? Jangan lama-lama ya..."
(Yang ditanya itu baru banget putus sama pacarnya. Bikin pengen nangis di tempat ga sih pertanyaan kayak gini?)
"Kapan punya anak?"
(Yang ditanya baru ditawari posisi pekerjaan yang bagus di kantor, baik dari segi gaji dan fasilitas, dan pekerjaan ini adalah pekerjaan yang diperjuangkan dari dulu. Tapi syaratnya ngga boleh punya anak dulu selama dua tahun. Ehhh terus ditanya pertanyaan seperti ini oleh tante-tante bersasak tinggi yang meyakini kebahagiaan perempuan hanya dapat terpenuhi dengan satu cara: punya anak. Jengkel ngga, sih?)
"Kapan tambah anak?"
(Yang ditanya bulan lalu baru aja menjalani operasi pengangkatan rahim dan masih dalam proses pemulihan. Sebenarnya ingin tambah anak, tapi kondisi tidak memungkinkan. Di saat sedang galau, datang pertanyaan ini, bagaikan palu godam menghujam pedalaman hati).
Itu hanya beberapa skenario yang mungkin dapat terjadi jika kita menanyakan pertanyaan-pertanyaan di atas. Mungkin ada yang biasa aja ditanya begitu, tapi ada juga, dan saya rasa justru ini adalah mayoritas...orang jengah kalau ditanya pertanyaan-pertanyaan kepo seputar pernikahan dan prokreasi.
Bagaimana dengan saya? Pernah ditanya pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas? Tentu saja pernah. Adik saya menikah duluan. Saya pribadi ngga masalah, malah sebenarnya ini yang saya harapkan: saya ingin mematahkan mitos pernikahan itu harus anak tertua (perempuan) duluan baru adik-adiknya. Kok ya ini ngga adil ya menurut saya. Kan namanya dapat jodoh itu bukan berarti yang lahir lebih dulu yang harus dapat jodoh duluan. Kalau memang jalannya yang dapat jodoh duluan itu si adik gimana? Masa kita mau melawan skenario Yang Maha Kuasa?
Di pesta pernikahan adik saya, habislah diri saya ditanya-tanya: Kapan nikah, kapan nikah, kapan nikah? Saya perhatikan para penanya ini. Pada umumnya manusia-manusia standar yang kehidupannya juga bukan yang keren-keren amat. Okelah, senyum aja dan tinggalkan.
Bagaimana dengan pertanyaan kapan punya anak? Tentu saya tidak luput dari pertanyaan ini. Saya perhatikan profil para penanyanya. Satu benang merah yang saya dapatkan, orang-orang ini adalah orang-orang yang punya paham bahwa kebahagiaan perempuan, terutama dan sejatinya hanya akan tercapai jika ia punya anak. Lain dari itu, seperti karir bagus, pendidikan tinggi, prestasi banyak, hmmm menurut mereka, semua itu hanya kebahagiaan semu atau sok bahagia. Mau bahagia? Punya anak! Segera!
Lanjut ke pertanyaan ketiga. "Kapan tambah anak?" Variasi dari pertanyaan ini, "Ngga mau dikasih adik nih? Kasian lho, ntar ngga punya teman." atau, "Masa cuma satu sih?" Nahhhh pertanyaan soal tambah anak ini masih sering saya terima hingga saat ini. Saya memang seorang ibu, tapi ibu dari "hanya" satu orang anak. Apalagi anak saya tahun ini akan berusia 10 tahun, makin getol orang-orang bertanya kapan tambah anak.
Untuk hal ini, saya bilang saja terus terang, "saya sudah sangat bahagia dengan satu anak." Biasanya saya masih dicecar, "Tapi kan kasihan anaknya ngga punya teman main." Lalu yang bertanya itu biasanya akan konfirmasi pada anak saya, "Kamu mau punya adik, kan?" Yang dijawab tegas oleh anak saya, "Ngga!". Case closed, yang bertanya hanya dapat tersenyum kecut.
Setiap orang itu sudah punya pandangan, jalan hidup, pertimbangan masing-masing. Ngga usah kita tanya persoalan paling pribadi dalam hidup mereka, kecuali mereka yang mulai lebih dulu untuk curhat, nah baru kita kasih pandangan.
Lalu mungkin ada yang bilang, "ini kan bentuk perhatian..." Beneeeer nih perhatian? Perhatian atau kepo atau nyinyir atau pengen ikut campur? Perhatian sejati tidak akan membuat kesal orang yang diberi perhatian.
"Nanya gini kan cuma basa basi...." Banyaaaaak pertanyaan lain yang dapat ditanyakan kalau mau basa basi.
"Eh udah nonton film ini ga?"
"Udah nyobain restoran ini ga?"
"Udah makan di sini ga? Enak dan murah lho..."
Pertanyaan-pertanyaan itu sungguh lebih asyik daripada yang jleb! rese nyebelin seperti pertanyaan seputar pernikahan dan prokreasi.
Satu lagi, biasanya yang suka ditanya soal nikah dan punya anak ini adalah perempuan. Internalization of patriarchy at its best! Sukses membuat orang berpikir secara tak sadar bahwa kebahagiaan sejati perempuan hanya dapat dipenuhi dalam pernikahan dan punya anak.
Setiap orang itu beda-beda, jangan kita paksakan paham kita pada yang lain. Kebahagiaan itu multi tafsir, multi definisi, tidak hanya satu. Siap naik level dengan tidak kepo tanya-tanya seputar pernikahan dan punya anak? Siap kan yaaaaaa!
Bogor, 6 Juni 2017
Rouli Esther Pasaribu

"Oleh-olehnya mana?"


Dulu pernah nulis juga di FB tentang perilaku orang kita yang doyan banget minta oleh-oleh, entah itu beneran minta atau hanya basa basi menyambung percakapan.
Jujur, saya ngga simpati pada geng minta oleh-oleh ini. Bahkan mendengar pernyataan ini saja sudah bikin saya jengkel, apalagi jika yang mengeluarkan pernyataan ini mengejar-ngejar minta oleh-oleh beneran, intinya kejar terus sampai sukses mendapatkan....sebuah gantungan kunci atau magnet kulkas!
Belum lagi orang yang ngga tahu diri nitip-nitip ini itu. Nitip tapi bayar sih ngga, alias yang bayar akhirnya yang beliin. Gondok ngga tuh?
Saya secara sadar menjaga agar jangan sampai dari mulut saya tercetus pernyataan: "oleh-olehnya mana", "jangan lupa oleh-olehnya " . Bahkan jika yang bepergian adalah keluarga sendiri, saya tidak akan mau minta oleh-oleh. Mengapa?
1. Minta oleh-oleh itu menyusahkan orang yang bepergian.
Yang pertama, jelas menyusahkan secara finansial. Yang kedua, menyusahkan secara fisik (yang bersangkutan harus repot keluar masuk toko cari oleh-oleh). Yang ketiga, menyusahkan secara waktu (misalnya alokasi waktu yang seharusnya dipakai untuk sight seeing jadi berkurang karena harus cari oleh-oleh). Yang keempat, menyusahkan secara tempat di bagasi (harusnya yang jalan-jalan dapat lebih leluasa menaruh barang-barangnya di bagasi, tapi karena oleh-oleh, ia harus berbagi tempat dengan space untuk oleh-oleh tersebut).
2. Minta oleh-oleh itu agak menjatuhkan harga diri.
Mungkin ini pemikiran saya saja, tapi sejujurnya saya agak gengsi memperjuangkan sebuah gantungan kunci atau sekotak cokelat. Maksudnya, kalau "hanya" gantungan kunci, saya masih bisa beli sendiri. Selain itu, dengan kita bilang, "oleh-olehnya mana?", derajat kita jadi agak dangkal karena kita hanya menginginkan benda yang bersifat materi saja, bukannya mendoakan agar yang jalan-jalan itu dapat kembali dengan selamat setelah menempuh perjalanan jauh.
3. Yang suka minta oleh-oleh itu, jujur, di dalam hidupnya pada umumnya agak standar sih.
Saya tahu ini agak norak, tapi saya perhatikan, tukang minta oleh-oleh ini pada umumnya bukan orang yang hidupnya punya prestasi mumpuni. Semacam pengikut dan yang puas dengan kehidupan standar aja. Sama halnya dengan yang suka tanya-tanya atau komen, "kamu gemukan ya", "kapan mau punya anak?", "kok ngga ASI, kenapa dikasih sufor?", "kok ngga nikah-nikah", "lahirnya cesar, takut ngelahirin normal ya"....pada umumnya tukang tanya ngga penting gini, hidupnya bukan yang wah banget karya-karya nyatanya. Standar, jujur aja.
Terus sikap saya pribadi terhadap tukang minta oleh-oleh gimana? Saya sih ngga saya ladenin. Saya hanya mau membelikan oleh-oleh untuk orang yang memang mau saya kasih oleh-oleh. Itu pun jumlahnya tidak banyak. Bukannya belagu, saya kan ngga punya dana berlebih karena memang bukan orang kaya raya secara materi, dan jika saya bepergian ke suatu tempat, saya sudah punya jadwal setiap harinya mau ngapain, tidak bisa saya seharian cari-cari oleh-oleh terus.
Daripada ya kita minta oleh-oleh kepada yang bepergian, lebih baik kita lantunkan doa agar yang bepergian itu dapat kembali dengan selamat tak kurang satu apapun. Kalau ngga tahan pengen makan coklat oleh-oleh, tuhhhh di gi**t, care**ur, hyper**rt banyak, namanya coklat rasanya sama aja kan?
Naik level yuuuuuuk, jangan minta rejeki kepada yang bepergian, tapi mohonkan rejeki, terutama rejeki keselamatan kepada yang bepergian!
Bogor, 5 Juni 2017
Rouli Esther Pasaribu
LikeShow more reactions
Comment

Manusia Berkualitas


Barometer seseorang itu berkualitas atau tidak adalah dari dua hal: karakter dan karyanya.
Ada orang yang otaknya pandai, tapi perilakunya suka nyinyir, sulit bekerja sama, tidak jujur, suka menipu, gila kekuasaan. Pada akhirnya, kepandaian orang-orang seperti ini bukannya memberi manfaat bagi orang banyak, malah meresahkan orang banyak.
Ada orang yang karakternya baik, tapi sayangnya tidak punya satu kemampuan tertentu yang dapat mendefinisikan keberadaan dirinya. Orang-orang seperti ini memang tidak meresahkan orang lain, tapi keberadaannya kurang greget, begitu-begitu saja, dan karya yang dihasilkannya tidak berdampak maksimal.
Manusia berkualitas itu harus memenuhi dua unsur ini: karakter dan karya. Salah satu contoh manusia berkualitas menurut saya adalah Papa saya sendiri.
Mengapa saya berani bilang kalau beliau itu berkualitas? Usia beliau tahun ini akan menginjak 74 tahun. Bukan usia yang muda. Apa yang terbayang dalam benak kita jika mendengar kata "tua"? Mungkin yang pertama terbayang di benak: lemah, lamban, penggerutu, tidak produktif. Tapi Papa saya mematahkan seluruh mitos itu. Setelah purnabakti dari universitas tempat beliau mengabdi selama lebih dari 30 tahun, beliau tetap aktif bekerja hingga hari ini. Orang mencari beliau karena kualitasnya, baik dalam hal karakter maupun karya. Hingga hari ini, beliau tetap dipercaya, tetap diminta untuk bekerja, tetap dihargai pemikirannya.
Tetapi, yang namanya kualitas itu tidak dapat dibangun hanya dalam satu hari. Ia adalah tumpukan demi tumpukan pembelajaran, pengalaman, kebijaksanaan dalam menghadapi hidup. Ia adalah hasil dari latihan diri selama bertahun-tahun. Ia diusahakan ada dalam diri seseorang dengan sedemikian rupa melalui usaha dan kerja keras orang itu sendiri.
Materi dapat diperoleh secara instant, kedudukan, jabatan atau gelar akademik dapat dibeli dengan uang di tengah dunia yang serba carut marut ini, tetapi kualitas dalam diri seseorang tidak akan bisa dibeli. Ia harus diusahakan sendiri oleh orang yang bersangkutan melalui tahun-tahun penuh kesulitan dan latihan yang cukup berat.
Seorang atlet tidak akan berjaya di medan olimpiade jika tidak didahului oleh latihan keras berkepanjangan yang penuh keringat dan air mata.
Seorang tukang kue tidak akan dapat menghasilkan kue yang lezat tiada tara jika tidak mengalami kegagalan berulang kali sampai akhirnya ia menemukan resep yang pas.
Seorang ibu tidak akan begitu saja dapat bersikap sabar menghadapi anaknya, jika ia tidak melatih dirinya setiap hari untuk dapat memiliki sikap sabar.
Dunia ini tidak melulu berisi orang baik. Mungkin ada masanya di mana kita menerima perlakuan tidak adil, dikucilkan, atau dijahati justru karena kita berkualitas. Sudah menjadi natur manusia untuk mudah iri dan merasa terancam pada orang yang punya kualitas mumpuni. Sangat mungkin kita malah tidak disukai karena kualitas diri kita, mengingat di dunia ini kita tidak selalu berhadapan dengan orang-orang yang menghargai karya dan karakter, tapi malah sebaliknya, orang-orang yang "ketakutan" dengan kualitas diri seseoranglah yang kita temui.
Jangan takut untuk menjadi orang yang berkualitas! Sungguh dunia butuh orang-orang yang memiliki kualitas karya dan karakter yang mumpuni, yang dapat menyebarkan semangat dan karya nyata perubahan sebuah masyarakat menjadi lebih baik.
Pada akhirnya, tidak ada satu orang pun yang dapat merebut kualitas diri kita. Selamanya ia akan menjadi harta yang sungguh berharga: bagi diri sendiri dan bagi orang lain.
Bogor, 4 Juni 2017
Rouli Esther Pasaribu

Menulis dan Sebuah Keabadian


Pramoedya Ananta Toer berkata, "Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi, selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."
Pertama kali baca kata-kata ini, saya kurang paham apa maksudnya. Pertama kali mengenal karya-karya beliau, usia saya masih awal 20an. Sekarang usia saya ada di penghujung 30an, dan sedikit lebih paham makna kata-kata beliau, berkat tahun-tahun penuh pengalaman yang sedikit mendewasakan diri ini.
Dalam sebuah essay yang ditulisnya, Oba Minako, seorang pengarang perempuan Jepang menyatakan bahwa dirinya terinspirasi menulis dan mengadakan refleksi diri karena membaca karya-karya pengarang perempuan Jepang yang hidup hampir 1000 tahun silam dari masa kini. Oba Minako terinspirasi atas karya-karya Murasaki Shikibu, Seishonagon, Michitsuna no Haha, para pengarang perempuan Jepang di jaman Heian (794-1192). Mereka menulis tentang opresi patriarki di dalam kehidupan bangsawan istana Jepang di masa itu. Hampir 1000 tahun kemudian, Oba Minako juga menulis, dan meski beliau meninggal pada tahun 2006, karyanya tetap berbicara hingga hari ini dan menginspirasi para perempuan setelah generasinya, salah satunya menginspirasi saya.
Seandainya beliau dan para pendahulunya tidak menulis, maka beliau akan hilang dari sejarah. Ide-ide dan pemikirannya menjadi dibatasi waktu-yaitu waktu semasa ia hidup. Begitu ia tidak ada lagi di dunia ini, maka pemikirannya pun tenggelam. Kecuali, ada orang lain yang berusaha mengabadikan pemikiran-pemikirannya. Tetapi, berapa banyak orang yang mau secara sukarela mengabadikan pemikiran kita, kecuali kita adalah orang yang benar-benar berpengaruh di dalam masyarakat dalam lingkup yang cukup luas.
Maka, menulis menjadi sebuah pilihan untuk mengabadikan diri. Menulis adalah inisiatif untuk mencatatkan diri dalam sejarah peradaban manusia.
Menulis tulisan singkat ini, membuat diri saya tersentil karena sampai hari ini, saya belum menghasilkan sebuah buku hasil karya saya. Tiap tahun, resolusi tahun barunya adalah menulis buku, tapi sampai hari ini, belum saya wujudkan secara serius. Kiranya tulisan ini menjadi pengingat untuk saya mulai bergerak.
Agar tulisan kita mumpuni, kita memang mesti banyak membaca dan banyak memiliki pengalaman hidup. Kedalaman hidup seseorang akan terlihat dari kualitas tulisan yang dihasilkannya. Sebuah pengingat lagi untuk saya agar rutin menargetkan diri untuk menyelesaikan buku demi buku agar dapat menghasilkan tulisan yang baik dan menginspirasi.
Karena, "Yang fana adalah waktu. Kita abadi" (Sapardi Djoko Damono). Jika kita menulis!
Bogor, 3 Juni 2017
Rouli Esther Pasaribu

Sudahkah Anda Membaca Buku Hari Ini?


Di jaman medsos merajalela begini, kita jadi lebih sulit ambil waktu untuk baca buku, karena baca berita-berita di portal news online jauh lebih "gampang", baca komentar orang-orang atau lihat-lihat foto-foto yang diupload di akun medsos itu lebih menarik, nonton YouTube atau video lebih asyik, singkatnya banyak kegiatan yang dapat menggantikan kegiatan baca buku yang dulu sebelum internet mudah diakses, termasuk salah satu kegiatan untuk mengisi waktu luang sekaligus memperkaya batin.
Saya pribadi berpendapat, sekalipun banyak aktivitas pengisi waktu luang yang dapat kita lakukan, tetap saja membaca buku Itu tidak boleh dilupakan. Atau lebih tepatnya, membaca buku itu sebuah kebutuhan, bukan sekedar pengisi waktu senggang.
Saya sedang mencoba proyek pribadi, membaca buku di pagi hari setelah bangun tidur selama 30 menit dan membaca buku di kereta 60 menit. Dengan demikian, dalam satu hari, ada 90 menit waktu yang saya alokasikan untuk baca buku. Mengenai jenis bukunya, saya pilih novel, karena saya mau membaca refleksi kehidupan melalui naratif-naratif yang ditawarkan dan menjadikannya sebagai sarana untuk berdialog dengan diri sendiri.
Dengan membaca, kita merenung, berpikir, berdialog. Dengan membaca kita memperkaya batin dan mendapat inspirasi dan semangat baru.
Dalam tahun-tahun kelamnya di penjara, Nelson Mandela mendapatkan inspirasi dan semangat dari puisi "Invictus" (arti: penakluk, pemenang) karya William Ernest Henley. Salah satu bagiannya berbunyi :
"It matters not how strait the gate,
how charged with punishments the scroll,
I am the master of my fate;
I am the captain of my soul"
Dari balik dinding penjara yang dingin, angkuh, dan sepi, Nelson Mandela mendapat kekuatan untuk bertahan, salah satunya melalui karya sastra berupa puisi yang dibacanya.
Sudahkah Anda membaca buku hari ini? Kalau belum, mari penuhi undangan memperkaya batin, membijakkan diri, berdialog secara mendalam dengan diri sendiri dan tokoh-tokoh dalam karya sastra, melalui berbagai buku yang telah ditulis oleh para pengarang, para pekerja kemanusiaan itu.
Selamat tenggelam dalam bacaan!
Bogor, 2 Juni 2017
Rouli Esther Pasaribu

Pancasila Bukan Utopia!

Selamat hari lahir Pancasila! Pertama kali kenal Pancasila, ketika duduk di bangku SD. Tahu sila pertama sampai kelima karena diajarkan pada pelajaran PMP alias Pendidikan Moral Pancasila. Tiap hari Senin upacara bendera, dengan kusyuk pasti menyebutkan lima sila itu.
Memang seperti indoktrinasi sih, tapi mungkin kita memang perlu diingatkan berulang-ulang soal Pancasila sebagai dasar negara ini (dasar lho dasar....artinya apapun yang kita lakukan sebagai warga negara, mestinya didasari nilai-nilai luhur ini). Biar ngga pada amnesia bahwa kita punya Pancasila dan ngga coba-coba ganti dasar negara dengan falsafah yang lain.
Jaman saya SD, harus banget menghafalkan 36 butir P4. Sekarang di SD, kayaknya sih tidak sampai harus menghafalkan 36 butir P4, ya, tapi kalau saya lihat materi pelajaran anak saya, tetap kok diajarkan tentang Pancasila dan nilai-nilai pengamalannya.
Saya suka tanya pada mahasiswa-mahasiswa saya, setelah selesai baca karya sastra: paling suka bagian yang mana? Nahhh...kalau saya ditanya, sila Pancasila mana yang paling powerful untuk kamu? Jawaban saya: sila ke-3, Persatuan Indonesia. Karena, kalau kita benar-benar menghayati sila ini, harusnya perpecahan bangsa itu ngga akan terjadi.
Saya mungkin sok idealis banget ya, tapi menurut saya, di jaman serba ngga pasti dan penuh kecurigaan sana sini dan goncang ganjing politik gini, saya merasa, yang paling kita butuhkan itu adalah harapan. Harapan bahwa kita bisa menjadi lebih baik, maju, damai, lebih menghormati satu dengan yang lain. Kalau belum-belum sudah pesimis, ya akhirnya, terjadilah sesuai dengan pikiran pesimismu.
Apapun itu, menyebarkan aura negatif yang bikin ngga damai itu sungguh meresahkan. Mungkin ada yang berpikir, ini wall gue, ini socmed gue, terserah gue mau nulis apa. Menurut saya, tetap ngga bisa "terserah" sih, karena meskipun wall gue, socmed gue, yang baca kan bukan hanya yang nulis! Dan socmed itu sudah merupakan sebuah masyarakat, di mana para penggunanya saling berinteraksi, jadi tetap kalau bicara atau mengeluarkan pendapat atau share sesuatu, harus pakai etika. Kalau dibilang apa yang diposting di socmed itu ngga ada hubungan dengan kepribadian yang bikin postingan tersebut, menurut saya sih tidak demikian. Sedikit banyak, postingan seseorang, berbicara mengenai kepribadian, pola pikir, cara pandang orang tersebut, meski memang tidak sepenuhnya terlihat dalam setiap postingan tersebut.
Jadi, di hari peringatan lahirnya Pancasila ini, mari kita jaga esensi keberagaman bangsa tercinta ini, yang konon katanya "Bhinneka Tunggal Ika". Kita sudah diajarkan semboyan negeri ini kan, jadi untuk apa kita masih cari semboyan lain, atau masih ngaku berbhinneka tunggal ika dan cinta Pancasila, tapi kenyataannya malah membela sekelompok SARA tertentu dan tidak menghormati yang berbeda dengan diri kita sendiri, baik dalam hal kesukuan, agama, ras, dan golongan?
Selamat memaknai kebhinnekaan dalam hidup, keragaman dalam berbangsa, dan lima sila sebagai dasar bertutur dan bertindak! Mari jadikan apa yang orang-orang sebut sebagai utopia dan hanya sekedar angan yang mustahil menjelma nyata menjadi berproses semakin hari semakin mendekati kenyataan!

Bogor, 1 Juni 2017
Rouli Esther Pasaribu

Wednesday, November 6, 2013

Second mid defense, jogging, kerja sambilan, Joanna, dan...sepatu ungu

Woohooo!

Recent updates ya cyiiin.

Pertama, second mid defense, tanggal 29 Oktober. Bertepatan dengan ulang tahun Papa ke-70, ternyata hari ini sungguh membawa kebaikan. Setelah mid defense pertama bulan Desember tahun lalu, harusnya di yang kedua ini ada progress dong ya. Selama ini yang gw takutin, gimana kalau dari yang pertama ke yang kedua, ga ada progress yang signifikan. Trus ntar jadi makin tertekan, selain itu image gw pasti jelek, kesannya kayak orang kurang mau usaha abis-abisan.

Seperti di postingan sebelumnya, dari Desember tahun lalu ke Oktober kemarin, ya hampir tiap hari gw ngerjain penelitian gw, dan sempat putus asa karena sepertinya tak ada hasil, tapi di awal bulan Oktober, sedikit demi sedikit bangunan dasar disertasi gw mulai kelihatan dan ternyata Prof (yang selama ini selalu mengkritik gw, ya itu emang gwnya ga bisaeun sih jadi banyak dikritik) setuju dengan jalan pemikiran gw. Praise the Lord, ini benar-benar only by His grace. Setelah mematangkan beberapa konsep besar, maka pada tanggal 29 Oktober, gw presentasikan apa yang selama ini gw kerjakan. Selain Prof yang selama ini selalu ngebimbing gw, ada dua Prof lagi, dan mereka juga memberi tanggapan yang cukup bagus, intinya tiga Prof mengakui bahwa ada kemajuan yang signifikan, daftar isi yang gw rancang disetujui, dan bisa masuk ke proses penulisan dan analisa yang mendalam. Starting from this month, gw punya waktu 1 tahun lebih 1 bulan untuk merampungkan disertasi gw. Ini akan menjadi perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran, ketekunan, semangat pantang menyerah. Semoga gw bisa melaluinya. Gw tahu, prosesnya ga akan lancar, pasti banyak kesulitannya, tapi harapan gw, sekalipun sulitnya banyak, tapi tetap gw bisa bersukacita dan penuh damai sejahtera, jadi ngejalanin semuanya juga bisa tenang, amiiiiin. Dan....semoga akhirnya gw bisa lulus tepat waktu. Setelah itu gw asli benar-benar ga tau gimana kehidupan gw dan keluarga kecil gw ini selanjutnya, tapi harapan gw, semoga ada mujizat lagi, sementara gw terus berusaha melakukan yang terbaik. Yang di dalam kuasa gw, gw usahakan sebaik mungkin, tapi yang di luar kuasa gw, sperti misalnya dapat kerja yang bagus, itu bagian Tuhan. Yang paling gw butuhkan adalah James dan gw dapat kerjaan tetap dengan gajih yang cukup bagus. Asli ini butuh mujizat, mengingat usia kita berdua sudah ga muda lagi. Gw tetap berharap bisa jadi akademisi, tapi kita ga tau kan ya gimana kehendak Tuhan? Jika seandainya Tuhan berkehendak gw menjadi yang lain, bukan akademisi, semoga gw dapat menerima hal tersebut dengan ikhlas dan tetap bersukacita dengan segala jalan Tuhan, dan yakin bahwa yang disediakan Tuhan, itu yang terbaik.

Bisa dibilang, mid defense Oktober kemarin itu adalah yang terbaik sepanjang gw kuliah 4,5 tahun ini. Untuk pertama kalinya setelah 4,5 tahun, Prof bilang yang gw presentasikan itu bagus, dan kemampuan gw lumayan naik level. Gw benar-benar bersyukur, meski untuk jadi profesional ya jalan masih panjang ya, ga bisa dikarbit. Setidaknya ada kemajuan. Ya ngeri dong ya, udah lebih dari setengah masa studi gw jalanin, dibayarin pula sama pemerintah Jepang, masa ga ada sama sekali kemajuan? Malu-maluin diri sendiri dan bangsa Indonesia. Semoga ya semoga, harapan gw, setelah ini, gw bisa lebih baik lagi dan naikin level gw lagi. Dan gw berharap, semoga nanti gw lulus bukan karena belas kasihan, tapi emang lulus karena memenuhi syarat untuk lulus studi S3. Mudah-mudahan ya terkabul deh harapan ini.

Kedua, gw mulai aktif jogging lagi. Sempat malas-malasan, tapi terus ngerasa terancam karena sekarang James rajin banget jogging, dan berat badannya itu dikit lagi udah 70 kg! Gila, terancam tingkat dewa dong gw. Ntar bedanya sama gw cuma 2 kg gitu, yang benar aja, masa ntar kita tukar-tukaran kaos dan jeans? Selama ini, setelah gw muat baju XL di counter cewek, gw udah senang banget. Trus motivasi nurunin BB ya hilang drastislah. Asal jangan lebih dari 70 kg aja, itu prinsip gw. Tapi melihat James gila olahraga gitu, ya mau ga mau gw genjot juga diri sendiri ini. Akhirnya pasang target lagi, padahal udah malas ya nurun-nurunin BB gini. Target gw, 65 kg. Paling aman sebenarnya 60 kg, ga mungkin kan James mau BBnya 60 kg. Tapi 60 kg sungguh terlalu indah untuk menjadi kenyataan, gw set goal-nya 65 kg dululah, baru setelah itu mikir, mau lanjut turunin atau ga (kayaknya ga ya, mengingat gw kan hobbynya makan hahaha).

Ketiga, gw dapat kerja sambilan lagi, dari pertengahan November sampai Desember. Kerjaannya sama kayak kemarin-kemarin, ngajar bahasa Indonesia untuk orang Jepang. Sebenarnya sih maunya ya konsentrasi aja ngerjain disertasi ya, tapi kan namanya realita, kita emang butuh uang tambahan, jadi gw terima tawaran ini. Namanya rejeki Tuhan yang ngasih kan ya. Pas banget emang lagi butuh banyak biaya, karena tahun depan, bulan April, Joanna mau masuk SD. Kemarin aja kita udah abis banyak banget untuk beli ransel anak Jepang yang ujubilehhh mahalnya. Gw aja ga punya tas semahal itu! Tapi mau ga dibeliin juga ga tega, karena SEMUA anak Jepang ke sekolah dengan ransel itu. Kalau Jojo tasnya beda sendiri, kasian kan. Apalagi di Jepang ini, ransel SD ini benar-benar simbol masuk SD gitu. Jadi peraturan tidak tertulisnya, ini hal yang wajib dipenuhi ortu untuk anaknya.

Keempat, Joanna sekarang lagi bersiap-siap untuk big event di sekolahnya, yaitu jalan kaki ke satsukiyama. Intinya, kelas Joanna ini akan jalan kaki ke satu tempat bernama satsukiyama, yang jarak tempuhnya 3 jam sekali jalan, jadi pulang pergi mereka jalan kaki 6 jam. Nah dari minggu lalu, mereka dilatih untuk jalan agak-agak jauh, kayak hari ini mereka pergi jalan ke satu tempat yang ditempuh dengan jarak 1 jam. Filosofinya sih melatih mental anak biar gambaru dan ga cepat nyerah, trus kerjasama dengan tim, saling menyemangati, sekaligus melatih daya tahan tubuh biar kuat di tengah musim gugur hampir masuk ke musim dingin ini. Tadi pagi pas anter Joanna, gw udah ga tega lihat Joanna bakal jalan kaki jauh gitu, bawa ransel pula, karena mereka sekalian mau piknik di situ, belum lagi mereka ga boleh pakai jaket, cuma pakai baju tangan panjang sehelai aja plus celana panjang bahan kain, gw udah ngeri, apa anaknya ga kedinginan? Ternyata pas malamnya gw tanya, Joanna malah semangat banget nyeritain kisah jalan kakinya, kelihatan dia bangga karena kuat jalan kaki lama, dan dia bahkan kasih tahu, aturan-aturan kalo jalan kaki rombongan tuh gimana, kayak kalo baris dua-dua tuh kapan, trus bikin jadi satu barisan itu kapan, dan mereka harus tertib ikutin petunjuk dan aba-aba guru-gurunya. Trus yang gw kagum, dia bisa memetakan perjalanannya secara detil, gw rasa ini satu milestone lagi ya untuk Joanna. Emang terasa ya, anak ini udah lewat masa balita, secara psikologis dia jadi lebih berkembang, selain fisiknya tentu aja, itu mah udah pasti. Semoga Joanna sehat terus, berkembang makin baik dari hari ke hari, amiiin.

Segini dulu sih recent updates-ku. Ohya, satu lagi update terbaru: James dan gw baru beli sepatu jogging baru. Kalo beli dua, dapat potongan harga, dan itu potongan harganya cukup signifikan. Tapi yang bikin gw bahagia, bukan hanya sekedar harga sepatunya yang reasonable, tapi gw berhasil dapat sepatu olahraga warna ungu. Selama ini gw selalu beli sepatu olahraga di counter laki-laki, karena kaki gw in ukuran 41, dan di Jepang, ukuran terbesar untuk cewek itu 40 (karena kaki cewek Jepang kecil-kecil). Entah mengapa, pas gw coba sepatu ungu ini, yang ukuran 40, dengan pesimis ga bakal muat, eh kok ternyata muat? Mungkin karena lebarnya lumayan ya, jadi size 40 pun termasuk 40 yang besar jadi gw masih muat. Ya ampun seneng banget asli, apalagi sepatunya itu ga kesempitan di gw. Ya tau kan ya sepatu olahraga laki-laki itu ga menarik warna-warnanya, kalo ga item, ya putih atau abu-abu, paling keren pun biru tua. Sedangkan gw itu pengen banget punya sepatu olahraga yang warnanya lucu-lucu, kayak hijau muda, pink, dan yang paling gw inginkan itu sepatu olahraga warna ungu. Makanya begitu beneran dapat, senangnya banget-banget.

Ntar update lagi ya, aloha!