Saturday, July 22, 2017

The battle is with yourself, not with others


Tiba juga saya di penghujung akhir #nulisrandom2017. Untuk yang belum tahu, mulai 1 Juni 2017, saya mengikuti tantangan menulis 30 hari yang diadakan oleh komunitas nulisbuku. Syaratnya, kita harus menulis selama 30 hari, secara berkelanjutan. Topik tulisan bebas, yang penting menulis.
Saya menulis apa saja yang saya pikirkan, yang menggelitik nurani saya. Biasanya saya menulis di kereta, dalam perjalanan pulang atau pergi Bogor-Depok. Dalam prakteknya, saya tidak dapat menulis setiap hari, karena pada bulan Juni, saya harus mengerjakan beberapa hal yang cukup menyita waktu, seperti deadline dua makalah dan menghadiri konferensi hampir selama satu minggu. Belum lagi setelah pulang dari konferensi, badan ngga fit sampai satu mingguan, kepala pusing dan badan lemas, mungkin saking padatnya acara selama satu mingguan itu.
Program #nulisrandom2017 mengharuskan kita untuk menulis rutin setiap hari, jadi seharusnya kalau kita taat aturan, kita akan menyelesaikan program ini tanggal 30 Juni 2017. Tetapi, untuk saya, tanggal 30 Juni 2017 saya belum menyelesaikan rangkaian 30 hari menulis saya. Lalu saya ngapain? Udahan? Berkecil hati?
Ngga, dong. Saya tetap komit menulis. Sudah menetapkan 30 hari menulis ya harus diselesaikan. Saya menikmati prosesnya. Saya senang proses menulis dan menuangkan pikiran yang saya lakukan. Saya senang tulisan saya dibaca teman-teman di FB dan bahkan ada beberapa yang baru saya kenal berkat mereka membaca postingan tulisan-tulisan saya. Saya paling senang jika apa yang saya tulis ternyata dirasakan juga oleh teman-teman yang membaca dan akhirnya terjalin dialog di kolom comments. Jadi semacam menciptakan ruang untuk berbagi.
Kebanyakan tulisan saya memang tentang perempuan dan masalah-masalah yang dianggap "bukan masalah". Betty Friedan menyebutnya "a problem that has no name". Ini mengacu kepada masalah-masalah perempuan dalam norma patriarki yang dianggap remeh dan ngga penting, yang saking dianggap bukan masalah, jadi "tidak layak" untuk disuarakan dan membuat yang bersangkutan malah merasa bersalah jika ia menyuarakan masalahnya itu. Misalnya saja, masalah capek urus anak, jengah ditanya soal pernikahan atau kapan hamil, dilema antara mengejar impian dan "kewajiban" mengurus rumah tangga. Saya sebenarnya tidak meniatkan tulisan saya akan banyak bertema tentang perempuan. Tapi karena hal-hal tersebut yang menggelitik hati saya, jadi hal-hal itu yang saya tulis.
Sebenarnya, saat sudah menginjak 30 Juni, saya bisa saja memutuskan untuk udahan. Tapi saya tidak mau. Saya kan sudah komit pada diri sendiri untuk merampungkan 30 tulisan. Waktu jangan menjadi penghalang. Jika tidak bisa sama ritmenya dengan yang lain, jangan patah arang, jangan merasa ketinggalan, selesaikan pelan-pelan sampai selesai.
Seperti itulah hidup. Peperangan utama kita adalah melawan diri sendiri, bukan melawan orang lain. Papa saya bilang bahwa orang yang berhasil dalam hidupnya adalah orang yang berani melawan dirinya sendiri. Melawan kemalasan, keputusasaan, ketakutan untuk gagal. Melawan ketidakberdayaan dan keengganan. Melawan keterburu-buruan dan keinginan untuk memaksakan segala sesuatu.
Hidup itu tidak selalu berjalan sesuai kemauan kita. Ada kalanya kita harus sabar menunggu. Ada kalanya kita harus tancap gas. Ada kalanya kita harus berjalan perlahan-lahan. Ada kalanya kita harus merangkak atau melangkah hanya dengan satu kaki. Apapun itu, jangan dilawan. Tetap ikuti dan jangan memaksakan diri. Tapi di saat bersamaan, tetap teguh hati memegang harapan dan impian. Pada akhirnya kita akan mencapai tujuan. Pasti.
Pada akhirnya, 30 tulisan saya ini rampung juga. Tidak secepat ritme "normal" memang. Tertinggal 22 hari. Nyaris dua kali lipat dari waktu yang seharusnya. Tapi yang penting selesai, bukan?
Demikian juga halnya dengan aspek kehidupan kita yang lain. Keluarga, karir, spiritualitas, menurunkan berat badan, studi, mengurus anak. Apapun itu. Setiap orang punya waktunya masing-masing.
Kecenderungan masyarakat kita adalah, apa-apa dinilai dengan mitos waktu. Kalau umur segini belum punya rumah, ada yang tidak beres. Kalau baru umur segini mulai kuliah, dibilangnya aneh. Kalau umur segini belum dapat kerja, dianggap pecundang. Kalau umur segini belum menikah, berarti dia dimarjinalkan. Dan sebagainya. Dan sebagainya.
Kita sendiri, pelaku kehidupan, yang harus mematahkan mitos itu. Bahwa waktu bukan batas. Umur bukan batas.
Membandingkan diri dengan orang lain hanya akan membawa kesia-siaan. Sebaliknya, membandingkan diri kita dengan diri sendiri di masa lalu dan punya visi mau jadi apakah kita di masa depan, akan menjadi penyemangat untuk kita hidup lebih baik dari hari ke hari. Bersainglah dengan diri sendiri, bukan dengan orang lain. Karena masing-masing orang punya perjuangannya sendiri-sendiri. Sirik-sirik lihat orang lain sukses itu biasa. Wajar. Tapi jangan akhirnya kesirikan itu membuat kita jadi bermuram durja merutuki hidup.
"Aserazu, tayumazu, yukkuri shikkari gambattekudasai." (Jangan terburu-buru, jangan terpelecok, tenang dan teguh, berjuanglah sepenuh hati).
The battle is yours, with yourself! Enjoy the process! And, let us live. Breath. Relax. And be joyful!
Bogor, 22 Juli 2017
Rouli Esther Pasaribu
PS: Terima kasih untuk semua yang sudah baca tulisan saya. #nulisrandom2017 sudah saya rampungkan. But, I won't stop writing. Never. Meminjam perkataan Rene Descartes, "cogito ergo sum" (saya berpikir, maka saya ada). Untuk saya, "saya menulis, maka saya ada." So, see you again, guys! Dalam tulisan berikutnya dan berikutnya dan berikutnya, selamanya!

Tidak ada kata terlambat untuk memulai


Tadi saya ke kampus dan bercakap-cakap dengan rekan-rekan sekerja. Mereka usianya masih 20an dan awal 30an, tapi kesadaran ilmiahnya tinggi banget. Jujur, saya salut.
Jaman saya umur 20an, terus terang kesadaran ilmiah saya rendah. Kesadaran ilmiah di sini maksudnya, sebagai akademisi saya sadar pentingnya publikasi, pentingnya presentasi ilmiah di berbagai simposium. Bukan "hanya" mengajar.
Ketika umur saya 20an, saya memang sudah ingin menjadi dosen. Tapi, saya mau jadi dosen karena suka mengajarnya. Sama sekali tidak terpikir untuk penelitian, publikasi, presentasi ilmiah.
Beberapa kali saya pernah menghadiri simposium ilmiah saat usia saya 20an. Sebagai peserta. Saya hanya merasa, orang macam saya tidak mungkin presentasi ilmiah, tidak mungkin publikasi ilmiah di jurnal. Apalagi bikin buku. Itu sesuatu yang mustahil. Pulang dari simposium, yang tersisa adalah rasa kagum. Kagum pada orang-orang yang bisa publikasi dan presentasi ilmiah.
Yang lebih konyol lagi, dulu saat saya kuliah S2 di UI, saya pernah mengikuti kuliah yang salah satu pengajarnya adalah Profesor tersohor di bidang sastra dan feminisme. Pada akhir perkuliahan, kita harus membuat makalah. Saya lalu mengerjakan makalah dan mengumpulkannya. Ternyata makalah saya dapat nilai yang cukup tinggi dan beliau menuliskan pesan kepada saya untuk saya memasukkan makalah tersebut ke salah satu jurnal studi Jepang saat itu. Saya ingat sekali pesan beliau. "Kamu harus masukkan tulisan ini, mereka butuh tulisan seperti ini."
Tentu saja saya senang dipuji Profesor hebat. Tapi, karena saat itu kesadaran ilmiah saya kurang, saya tidak menindaklanjuti dengan memasukkan makalah saya. Saya biarkan saja. Semata-mata alasannya karena saya malas mengirimnya. Sampai sekarang saya tidak tahu makalah itu di mana, hard copy maupun soft copynya. Coba kalau saat itu saya sudah punya kesadaran ilmiah tinggi. Mungkin saya akan berusaha mengontak profesor itu. Mungkin saya akan mencoba networking dan mengemukakan passion saya dalam dunia pendidikan. Tapi saat itu saya tidak punya soft skill seperti itu.
Lalu saya studi ke Jepang. Alasan studi sangat sederhana: ilmu saya sangat kurang dan saya ingin ilmu saya bertambah. Pada umumnya, yang memang pekerjaannya dosen itu, sudah punya "feel" akademik sebelum mulai studi. Ia sudah terbiasa dengan presentasi ilmiah dan publikasi. Saya bagaimana? Saat saya studi, status saya itu Ibu rumah tangga dengan satu anak usia 1 tahun 10 bulan. Sebelumnya saya adalah dosen tidak tetap pada sebuah perguruan tinggi swasta, tapi karena status saya tidak tetap, saat saya memutuskan studi, saya harus melepas pekerjaan saya.
Jadi, bisa dibayangkan kan, seorang Ibu rumah tangga studi di Jepang dengan anak usia 1 tahun 10 bulan? Jujur ya, tahun-tahun awal, slot otak saya lebih banyak dipenuhi dengan daftar belanjaan di supermarket, urusan daycare anak, rasa galau karena suami jadi house husband "gara-gara" saya. Kalau orang lain full speed langsung research dari masa research student, saya ngga. Begitu lama saya butuh waktu untuk terbiasa dengan yang namanya research, baca buku, menulis ilmiah. Profesor dengan tajam selalu bilang pada saya, "kamu tidak mengerti apa-apa. Kamu tidak tahu apa-apa."
Tesis S2 saya adalah sampah. Bukan mengada-ada. Profesor yang bilang sendiri. Saya sampai tidak yakin mau lanjut S3. Takut memproduksi sampah yang lebih parah lagi.
Tapi Profesor saya saat itu bilang dengan tegas, "kalau kamu tidak bisa mematahkan limit kamu sekarang ini, seumur hidup kamu akan jadi pecundang, tidak akan jadi apa-apa."
Mati, mati, mati. Mau jadi looser seumur hidup? Karena takut jadi pecundang seumur hidup, akhirnya saya beranikan diri untuk lanjut studi.
Tahun pertama S3 masih galau, tahun kedua paruh pertama, baru saya mulai menemukan feel akademik itu. Setelah melewati 4,5 tahun yang panjang ngga ngerti apa-apa, untuk pertama kalinya Profesor mengapresiasi kinerja saya. Saya tahu itu benar-benar pertolongan Tuhan, kalau akhirnya ada setitik sinar terang dari rangkaian panjang studi saya.
1,5 tahun terakhir studi saya memang tidak bisa dibilang mudah, tapi setidaknya saya sudah sedikit menguasai medan. Bebannya lebih kepada mengejar deadline, bukan merasa lost, tersesat, dalam pengembaraan tidak ada ujung.
Saya hanya ingin bilang, bahwa perkataan tidak ada kata terlambat untuk belajar itu memang benar adanya. Sekalipun kita ibu-ibu punya anak bayi, sekalipun kita pengangguran, sekalipun kita sangat terlambat memulai. Kita bisa mendesain ulang hidup kita, jalan yang akan kita tempuh.
Terus terang saja, studi pascasarjana itu bukan hal mudah. Apalagi untuk orang dengan banyak keterbatasan seperti saya. Tapi justru karena saya terbatas, saya lemah, saya banyak ketidakmampuan, saya dapat dengan yakin berkata, "Dalam kelemahanlah kuasaMu menjadi sempurna."
Bogor, 22 Juli 2017
Rouli Esther Pasaribu

"Kapan punya anak?"


Emberan ya, halak kita ini kayaknya gatel banget pengen nanya soal kita udah punya anak or ngga, sejak hari pertama nikah. Kayaknya di awal-awal nulisrandom2017 ini saya pernah juga bahas soal pertanyaan kapan punya anak, tapi saya tergelitik ingin bahas lagi khusus, only tentang pertanyaan kapan punya anak.
Teori dan prakteknya, embrio ngga akan ada di rahim, jika tidak ada pertemuan sperma dan indung telur. Ingat, janin tidak akan terjadi hanya karena ada indung telur. Kita butuh sperma, benar? Artinya apa? Embrio alias bakal anak ini terjadi atas kerjasama sama rata suami istri. Ya bukan suami istri juga bisa banget punya anak, tapi hari ini saya mau bahas tentang status perempuan yang sudah menikah dan kerap kali ditanya tak henti soal kapan punya anak. Jadi untuk kali ini kita bahasnya yang di dalam kerangka pernikahan ya.
Entah di suku lain gimana, tapi kalau di suku Batak, punya anak itu udah kayak kewajiban. Dengan garis keturunan patrilineal garis keras, dalam adat Batak, orang yang ngga mau punya anak itu dipandang aneh. Dianggap sok modern, ngga benar, dan sejenisnya. Yang ngga bisa punya anak juga dianggapnya pesakitan. Disuruh segera berobat, didesak-desak terus. Yang menunda untuk punya anak ya dianggap sinting juga. Dianggap nolak rejeki. Intinya, hari ini nikah, kalau bisa, besok langsung hamil. Lebih cepat lebih baik! Dan....lebih banyak anak lebih baik!
Yang "aneh", meski anak itu ada di rahim berkat pertemuan sel telur dan sperma, yang selalu ditanya soal kapan punya anak, kapan punya anak itu hanya perempuan. Laki-laki sangat jarang ditanya atau ditekan atau diopresi soal ini. When it comes to child, so woman it is! Laki-laki silakan makan kacang dan minum bir aja sambil ngobrol-ngobrol di teras.
Tapi hal "aneh" di atas, menjadi tidak aneh jika kita membedahnya dari perspektif gender. Konstruksi budaya sudah mengatur bahwa tempat laki-laki itu di luar rumah, di ranah publik, sedang tempat perempuan itu di dalam rumah, di ranah domestik. Dan karena perempuan punya rahim, maka urusan anak ini di bawah sadar dianggap urusan perempuan, minimal perempuan yang lebih bertanggungjawab. Ini sama seperti urusan kerjaan. Kalau perempuan nganggur, tinggal "lari" jadi ibu rumah tangga, dia tetap dapat status, tapi kalau laki-laki yang nganggur? Kalau dia "lari" jadi Bapak rumah tangga, dari pengalaman saya, laki-laki ini dianggap looser alias pecundang. Mengapa? Karena, nilai laki-laki "sejati" itu ada pada apakah dia punya power secara ekonomi atau ngga, alias dia punya pekerjaan yang stabil atau ngga. Sebaliknya, perempuan juga dianggap bukan perempuan "sejati" jika ia belum punya anak dan belum menikah. Mengapa? Karena, nilai perempuan "sejati" itu ada pada motherhood dan wifehood. Makanya kan, orang-orang di sekitar kita ribuuuuuut banget kalau kita, perempuan, belum menikah padahal sudah melewati batas umur tertentu atau belum juga dikaruniai anak setelah sekian lama menikah.
Untuk sesama perempuan yang saat ini sedang struggle dengan pertanyaan tak ada ujung soal kapan hamil, kapan punya anak, saya hanya ingin berkata: "keep your chin up, because you are more than "just a woman", you are a human! Dan sebagai manusia, kita punya kebebasan memilih dan mendesain hidup kita mau seperti apa. Termasuk di dalamnya, family planning, kapan mau punya anak, mau punya anak berapa, saat umur berapa.
Untuk yang memang sebenarnya ingin punya anak tapi memang belum diberi kesempatan hamil, saya tahu, sungguh rese mendengarkan komentar soal kapan hamil bla bla bla, tapi saya hanya ingin bilang: hamil atau ngga hamil, kita tetap manusia utuh! Patriarki memang kejam, menilai kita berarti hanya jika kita hamil dan punya anak, dan membuat segala prestasi kita di luar kehamilan seperti punya kerja yang bagus, karakter yang baik, sekolah yang tinggi, menjadi tidak ada artinya. Bahkan, pemikiran bahwa hamil itu prestasi saja, menurut saya sudah tidak benar. Hamil itu anugerah, bukan prestasi.
Saya hanya ingin bilang kepada setiap perempuan yang struggle dengan wacana kehamilan: don't let patriarchy norms define us! Karena....kita yang bertanggungjawab untuk mendefinisikan diri kita sendiri, bukan norma patriarki.
Sebagai perempuan, apalagi perempuan dalam lingkungan batak, saya pun tidak luput dari pertanyaan-pertanyaan seputar kapan hamil. Tentu saja saya tidak mengkonfrontir balik dan cari ribut ketika terus-terusan ditanya kapan hamil, tetapi semakin kuat berondongan pertanyaan itu, saya semakin intens berdialog dan menguatkan diri sendiri: tubuh ini milik saya, saya punya hak penuh menentukan kapan hamil dan saya sangat percaya, Tuhan pun tidak pernah memaksa, jadi mengapa saya harus merasa lemah dengan ucapan-ucapan orang-orang di sekitar saya?
Karena teman terbaik kita adalah diri kita sendiri. Sebelum bersosialisasi dengan orang lain, pastikan kita bersosialisasi dengan diri kita sendiri. Berdialog dengan diri sendiri. Mengenal dalam-dalam diri sendiri. Memahami diri sendiri. Mendefinisikan diri sendiri. Sehingga, ketika ada yang mencoba mendefinisikan hidup kita, kita tidak goyah dan tetap teguh hati berpegang pada apa yang kita anggap benar. Dengan segala resikonya.
Karena, dengan berani mendefinisikan diri kita, kita mengukuhkan hakekat kemanusiaan kita.
Bogor, 20 Juli 2017
Rouli Esther Pasaribu

Memajukan orang lain


Setiap orang pasti ingin hidupnya maju. Lebih baik dari hari ke hari. Itu wajar. Siapa yang menginginkan kemunduran? Ngga ada kan?
Lalu kita melakukan segala usaha agar kita bisa semakin maju, sejahtera, makmur. Usahanya bisa halal, bisa juga tidak. Ada yang bekerja keras, berusaha mati-matian agar maju. Ada yang mengasah skill networking sana sini. Ada juga yang mungkin kurang sabar, jadi akhirnya cari cara pintas. Entah menjilat, nyogok sana sini, atau korupsi.
Mau cara yang halal atau tidak halal, intinya semua orang itu ingin agar hidupnya lebih baik dan lebih maju dari hari ke hari. Baik dalam hal keluarga, karir, materi, kepribadian.
Tapi, pernah ngga kita berpikir untuk memajukan orang lain dalam keseharian kita? Melalui pekerjaan, kegiatan sosial atau apa saja yang dapat kita lakukan.
Papa saya berkata pada saya, "Dalam bekerja, ada dua hal yang harus selalu diingat. Kita memajukan diri sendiri dan memajukan orang lain. Bekerja tidak ada gunanya jika diri sendiri yang maju, tapi kita tidak mampu memajukan orang lain."
Kata-kata itu diucapkan kepada saya di hari-hari pertama saya menjadi dosen. Saya lalu teringat hari-hari ketika Papa saya masih aktif menjadi dosen. Beliau berkembang, tapi tidak pernah lupa untuk mengembangkan orang lain. Setelah karirnya mulai stabil, beliau berupaya untuk memajukan rekan-rekannya yang lebih muda, agar lebih berkembang dan mendapat banyak pengalaman. Ada yang berterima kasih padanya, tetapi ada juga yang setelah ditolong malah pergi entah kemana. Tapi beliau tidak peduli. Sampai purna bakti pun track record Papa tetap sama: memajukan diri sendiri dan memajukan orang lain.
Sisi gelap manusia yang mungkin jarang diungkap terang-terangan adalah, kita tidak senang jika ada orang lain yang lebih baik dari kita. Kita merasa tersaingi, merasa terancam, merasa iri hati. Saya juga tidak memungkiri, sebagai manusia, saya punya perasaan-perasaan itu. Saya rasa semua manusia pasti merasa seperti itu jika melihat orang lain berhasil. "Wah dia udah naik pangkat aja, gue belum. Wah dia udah hebat, gue gini-gini aja." Timbul rasa tidak aman dalam diri kita dan ini sebenarnya normal.
Tapi sebenarnya perasaan-perasaan itu bisa diminimalisir jika kita percaya diri akan kualitas kita. Orang yang berkualitas pasti akan selalu memikirkan cara untuk memajukan orang lain, karena ia tidak takut bersaing dan percaya pada kemampuan dirinya. Dan jika orientasinya adalah untuk kemajuan, dia pasti akan berusaha agar orang lain berkembang sambil ia terus mengembangkan diri.
Saya selalu ingat etos kerja memajukan orang lain itu. Itu sebabnya, jika ada yang minta tolong pada saya dalam rangka pengembangan dirinya, saya selalu berusaha untuk membantu sebisa saya. Tentu waktu saya jadi tersita beberapa saat, tapi saya anggap ini bagian dari pekerjaan, jadi saya tidak merasakan sebagai sebuah beban. Di kelas juga saya selalu berusaha memberikan yang terbaik agar mahasiswa-mahasiswa saya dapat semakin berkembang. Kelak jika saya sudah lebih stabil karirnya, saya berharap dapat menggunakan kestabilan tersebut untuk lebih lagi memajukan orang lain, bukan hanya memajukan diri sendiri.
Beberapa hari yang lalu, saya mendapat pekerjaan tambahan yang sebenarnya saya ngga yakin dibayar atau ngga, tapi saya cukup bersemangat karena melalui pekerjaan ini saya dapat memajukan diri sendiri dan orang lain. Lalu ada teman yang menanggapi, "banyak kerjaan sih banyak kerjaan, tapi ada duitnya ngga?"
Memang susah jadi orang sok idealis, begitu dapat kerjaan, yang pertama-tama dilihat adalah hal-hal non material seperti kerjaan ini memajukan diri saya ngga, kerjaan ini mengembangkan orang lain ngga. Tidak heran, sampai hari ini saya ngga kaya-kaya. Tapi ya gimana, sejak kecil saya lihat contoh Papa saya yang selalu bilang, "kalau kerja jangan pikirin duitnya, jangan apa-apa mau duitnya dulu, tapi pikirin kerjaan itu bisa bikin kita dan orang lain berkembang atau ngga." Mama juga sama kayak gitu, kakek nenek saya juga. Bukan orang yang menilai apa-apa dengan uang.
Dalam hidup yang serba terburu-buru dan penuh dengan persaingan ini, ide memajukan orang lain mungkin terdengar usang. Ia mungkin jargon kuno yang sudah lekang dimakan waktu di dalam kehidupan yang berorientasi ambisi seperti saat ini. Dunia bergerak cepat dan penuh dengan persaingan yang membuat kita takut tertinggal. Tetapi, untuk saya, etos kerja memajukan orang lain hadir sebagai pengingat untuk saya bersikap lebih santai dan tidak terburu-buru dalam hidup ini, sebagai upaya untuk mengembalikan hakekat diri sebagai manusia yang pada dasarnya membutuhkan dan dibutuhkan orang lain.
Kita memang bertanggungjawab memajukan diri sendiri, tetapi kita juga mengemban tugas memajukan orang lain. Karena jika hidup kita tidak memberi manfaat untuk orang lain, di titik itu kita kehilangan sukacita memberi dan hidup menjadi menurun kualitasnya jika kita hanya memikirkan diri sendiri.
Bogor, 19 Juli 2017
Rouli Esther Pasaribu

Jumat pagi, Jumat deadline.


Sekilas kerjaan saya kayaknya enak, "cuma ngomong-ngomong aja", "cuma ngajar-ngajar aja", "cuma aktualisasi diri ngomong soal gender"
di depan para pendengar atau mahasiswa".
Well, mereka ngga tahu, kalau saya sampai begadang menyiapkan ini semua. Sama juga dengan presentasi di conference. Cuma ngomong 15 menit dan jawab beberapa pertanyaan, apa susahnya? Lagi-lagi, ngga ada yang tahu kan malam-malam panjang memeras otak demi menghasilkan sebuah presentasi yang semoga cukup berbobot dalam waktu 15 menit.
Mengajar juga sama aja. Berdiri di depan mahasiswa menjelaskan berbagai macam konsep, kelihatannya gampang. Ngga tahu kan kalau bagian paling susah dari kasih kuliah itu adalah persiapannya? Baca materi, bikin catatan penting, menyiapkan power point.
Nulis jurnal paling cuma berapa halaman sih, 8-10 halaman? Nulis-nulis aja kan, di rumah juga bisa? Ngga ada yang tahu kan, agar bisa menghasilkan tulisan ilmiah itu, sambil nulis saya sambil cek data, sambil baca lagi, analisis lagi, mikir lagi, merangkai kata biar pemikiran saya jelas terwakilkan. Ruang komputer di rumah berantakan banget sekarang, buku di mana-mana. Tiap pegang buku-buku itu ngga habis-habisnya bersyukur, pas pulang ke Indonesia berkeras mau bawa semua buku itu termasuk fotokopian2 kuliah, sampai baju-baju saya tinggalkan, pokoknya prioritas utama saya buku. Ngga kebayang kalau ngga punya buku-buku ini, tahu sendiri kan di Indonesia akses informasi masih agak sulit.
Jadi kalau ada pembicara seminar yang ngomong di depan publik dan kita berpikir, "Enak ya dia ngomong-ngomong aja kerjanya", ingat, di balik "ngomong-ngomong aja" itu ada keringat peluh air mata sampai akhirnya dia bisa "ngomong-ngomong aja". Ada persiapan, ada perjuangan.
Dan biar kita punya materi untuk "ngomong-ngomong aja", ya kita mesti belajar, mesti nulis, mesti punya ide-ide baru. Makanya nih, biar saya bisa berkelanjutan ngomong-ngomong terus, ya saya belajar, saya nulis, saya membaca. Meski, karena kerjanya dari rumah dan saya ngetik-ngetik di depan komputer, anak saya menganggap saya ngga kerja dan bilang, "Mama mah main-main komputer aja."
Kerja itu bukan cuma yang pergi pagi-pagi jadi orang kantoran, di mari juga kerja, sambil ntar harus ngantar anak les, masak makan siang, nunggu anak les bawa-bawa laptop ngejar deadline makalah, kurang berjuang apalagi coba ini?
Jumat pagi, Jumat deadline, dengan pertanyaan random anak, "Mama, Hellen Keller itu seperti apa?" Dan karena besok weekend yang so called family day, alamat ini makalah harus diberesin hari ini biar tenang jalan-jalan besok. Ini resikonya jadi ibu-ibu so called researcher ya bok!
Semangat, semangaaaaat, untuk jalan hidup yang kita pilih!
14 Juli 2017
Rouli Esther Pasaribu

Bogor Permai atau restoran gaul?


Kemarin malam saya makan di food court Botani Square Bogor. Saya ngga makan makanan yang lagi kekinian, saya makan kwetiaw siramnya Rumah Makan Bakmi Gaya Tunggal. Mereka memang buka satu stand di food court Botani Square.
Sambil makan, saya sambil mikir. Kwetiaw siram ini rasanya sederhana, ngga berlebihan, pas. Bukan rasa yang kayaknya usaha banget biar jadi enak. Penampakannya pun sederhana. Tidak pakai dihias-hias, piringnya juga hanya piring putih biasa dengan cap "gaya tunggal" yang tidak keren sama sekali.
Rumah makan bakmi Gaya Tunggal itu pertama-tama dibuka di daerah Pasar Bogor, tepatnya sih di depan museum Zoologi. Restorannya jadul sangat. Saya sendiri ngga pernah makan di restoran pertamanya ini. Saya lebih sering makan di cabangnya yang di Jl Bangbarung, karena dekat dengan rumah saya. Atau mentok-mentok ya di food court Botani Square.
Ada lagi restoran Bogor Permai. Semua orang yang tinggal di Bogor pasti tahu restoran ini. Mulai beroperasi sejak tahun 1963, sampai sekarang, restoran dan toko roti ini tetap banyak penggemar setianya. Letaknya di Jl Jend Sudirman. Jaman saya masih kecil dan belum banyak restoran, Bogor Permai ini termasuk tempat andalan kalau mau makan "mewah". Sate ponorogonya enak banget, sup asparagusnya juga. Kalau untuk sarapan, lontong cap gomehnya itu super juara. Bubur ayamnya rasanya lembut, pas di lidah. Belum lagi roti-roti dan kue-kuenya. Rasanya klasik.
Di dekat restoran Bogor Permai, masih satu jalan juga, ada Rumah Makan Sahabat alias Yungsin. Mie ayam basonya adalah salah satu yang terenak menurut saya. Sewaktu saya studi di Jepang, kalau udah stress mau menghadapi mid defense atau progress report, saya langsung ingin makan mie yungsin. Sushi atau sashimi sih ngga bisa dibandingkan dengan mie yungsin deh. Kelasnya beda. Enakan mie yungsin maksudnya!
Satu lagi restoran yang menurut saya makanannya enak itu rumah makan Dunia Baru. Letaknya di Pasar Gembrong. Ini juga ya, sudah ada sejak tahun 1960an, sama seperti Bogor Permai, Bakmi Gaya Tunggal, Mie Yungsin. Sampai sekarang tetap kokoh berdiri. Tempatnya ngga keren sama sekali, malah cenderung gerah karena tidak ber-AC. Meja dan kursinya sederhana, interiornya sama sekali ngga instagramable. Kepiting saos padangnya, sampai hari ini saya belum menemukan tempat lain yang rasanya seotentik Dunia Baru. Semua makanan di Dunia Baru itu ngga ada yang ngga enak. Harganya juga cukup terjangkau.
Sekarang di Bogor banyak restoran-restoran cantik. Interiornya keren sangat, kalau mau foto-foto untuk upload di sosial media, pas banget. Saya pernah mencoba beberapa di antaranya, tapi terus terang aja, saya cukup satu kali aja ke resto-resto cantik kayak gitu. Rasanya ngga kepengen-pengen amat untuk balik lagi. Beda dengan RM Bogor Permai, RM Dunia Baru, RM Sahabat alias Yungsin dan RM Bakmi Gaya Tunggal. Makanan-makanan di restoran-restoran ini seolah-olah memanggil saya untuk mampir lagi, lagi, dan lagi. Dan herannya mau makan berapa kali juga, kalau makan di restoran-restoran tersebut, saya ngga pernah bosan. 
Padahal kan banyak restoran yang kekinian di Bogor, tapi mengapa saya ngga semangat untuk datang lagi? Jawabannya sederhana sih : masakan mereka kurang berkualitas. Minimal, kualitasnya kalah dibandingkan dengan Bogor Permai, Dunia Baru, Bakmi Gaya Tunggal, Mie Yungsin. Kebanyakan restoran kekinian itu tidak punya ciri khas. Satu bikin pizza, yang lain ikutan. Satu bikin chinese food, yang lain ikut bikin juga. Atau, terlalu banyak pilihan makanan yang mereka tawarkan, mulai dari makanan barat, Asia, Indonesia, sampai pusing lihat menunya. Akhirnya kurang fokus. Rasa juga standar, bukan yang istimewa banget. Pernah nih saya diajak makan di restoran yang minta ampun ngantrinya gila banget, sampai diberlakukan sistem buka tutup demi menjaga ketertiban tamu. Restoran ini banyak sekali pengunjungnya dan kalau saya perhatikan, rata-rata platnya B. Mungkin anak Jakarta yang kemakan iklan ingin makan di tempat yang kekinian. Karena yang mau makan di restoran ini banyak banget, saya pikir, makanannya mungkin enak banget. Ternyata? Minta ampun, ngga enak sama sekali. Semua yang kenal saya tahu kan ya kalau saya ini ngga bisa masak. Tapi makan di restoran itu, saya mikir, yaelaaaaah kalau cuma segini doang mah gue juga bisa bikin di rumah! Bayangin deh kalau orang yang ngga bisa masak macam saya sudah berpikir begitu, berarti kan rasa masakannya standar banget. Sampai hari ini, saya tidak pernah mau balik ke restoran itu, karena pengalaman pertama, rasa makanannya benar-benar standar, malah agak kurang ya kalau untuk ukuran restoran.
Kalau saya perhatikan, RM Bogor Permai, RM Dunia Baru, RM Bakmi Gaya Tungga; dan RM Mie Yungsin itu sampai hari ini tetap bertahan di tengah-tengah restoran-restoran gaul di Bogor, karena mereka itu punya kualitas, konsisten, dan emang passion mereka itu beneran di usaha kuliner. Istilahnya, sudah panggilan hidup para owner restoran-restoran di atas untuk membuka restoran dan menyediakan makanan enak untuk warga Bogor. Mereka buka restoran dan bertahan sampai hari ini karena memang mereka mampu, mereka punya ciri khas, mereka fokus banget. Coba deh perhatikan, misalnya Bakmi Gaya Tunggal dan Mie Yungsin. Mereka fokus di mie. Mereka ngga centil ikut-ikutan jualan pizza misalnya. Kalau mie ya mie aja. Dan meskipun sama-sama mie, dua-duanya tetap bertahan sampai hari ini, karena punya ciri khas. Mie yungsin rasanya lebih oily, lebih kuat, lebih jreng! Sedang Bakmi Gaya Tunggal, rasanya lebih ringan, sederhana. Demikian juga Bogor Permai dan Dunia Baru. Bogor Permai fokus di kue-kue dan roti. Dari dulu sampai sekarang, varian roti yang dijual di Bogor Permai ya itu-itu aja. Tapi tetap enak dan rasanya konsisten, ngga berubah. Sate Ponorogonya Bogor Permai juga rasanya tetap sama, dari saat pertama kali saya makan ketika saya masih SD kelas 1 sampai hari ini, saat usia saya menuju 40 tahun. Ngga ada perubahan sama sekali. Konsisten. Dunia Baru juga pastinya begitu. Restoran ini fokus khusus di masakan Cina. Mereka ngga ikut-ikutan jualan zuppa soup atau cheese fondue atau laksa Malaysia-lah segala macam. Dari jaman saya SD makan di sini sampai sekarang saya yang punya anak SD, Dunia Baru ngga pernah berubah, baik rasa maupun suasana. Menu makannya aja masih "jelek", hanya terdiri dari beberapa lembar kertas yang diluminating, yang tidak bercita rasa seni sama sekali. Terus kita nulis sendiri pesanan kita di atas kertas buram yang sangat jadul. Tapi soal rasa? Juara satu terus dehhhhh, ngga pernah turun peringkat!
Kemarin, sambil makan kwetiaw siramnya bakmi gaya tunggal, saya berpikir, bahwa memang terakhir-terakhirnya, yang akan bertahan dan menjadi pemenang itu ya orang-orang yang emang punya kualitas. Soal ngegaya atau tengil sana sini, semua juga bisa, tapi cepat atau lambat, yang ngga berkualitas ya pada akhirnya tidak akan bertahan. Dan kalau kita hidup bagaikan resto-resto wanna be, yang buka bisnis kuliner hanya karena latah ikut-ikutan saja, ya sebenarnya kita tinggal tunggu waktu aja, lama-lama kita tumbang sendiri. Memang sudah paling benar, jangan pernah ikut-ikutan kalau memang ngga mau. Hasilnya ngga akan bagus, jika sesuatu itu tidak benar-benar keluar dari hati.
Pilih mana? Jadi resto yang penampakannya ngga gaul macam Dunia Baru tapi tetap konsisten dengan rasa makanannya yang otentik, atau mau kayak restoran-restoran kekinian yang tampilannya bagus tapi tidak meninggalkan kesan mendalam? Saya sih berharap saya bisa kayak restoran Dunia Baru ya. Yang meskipun sudah puluhan tahun bergerak di bidang yang sama, tapi tetap punya semangat dan passion, dan selalu menyuguhkan yang terbaik. Yang meskipun dari luar terlihat biasa-biasa saja, tapi kedalaman dapurnya itu sungguh menunjukkan kualitas mumpuni.
Berita baiknya, seperti yang dulu pernah saya posting juga, kualitas itu bisa diasah. Asal memang kita hidup sesuai dengan panggilan hidup kita. Jangan sampai kita memakai sepatu yang salah, yang sempit atau yang kegedean. Kita akan sulit berjalan karena faktor ketidakcocokan antara kaki dan sepatu itu sendiri. Tetapi, jika kita mengenakan sepatu yang pas, kita akan dapat berjalan terus, sekalipun dalam pelaksanaannya, kita pasti menemukan kerikil-kerikil tajam, batu-batu besar, tebing-tebing yang terjal. Tetapi, sepanjang kita mengenakan sepatu yang pas, yang memang benar-benar cocok untuk kita, kita pasti akan dapat terus bergerak maju. Walaupun pelan-pelan. Walaupun selangkah demi selangkah.
11 Juli 2017
Rouli Esther Pasaribu

Enakan mana? Jepang atau Indonesia?


Setelah kembali dari Jepang dua tahun yang lalu, saya sering ditanya: enakan mana, Jepang atau Indonesia? Ngapain pulang, kan enakan di sana?
Menurut saya, pertanyaan di atas sulit dijawab hanya dengan satu kata. Enakan Jepang atau enakan Indonesia. Karena, mungkin di Jepang enak di satu sisi, tapi di Indonesia enak di sisi lain.
Memang harus saya akui, kalau soal kualitas hidup, Jepang memang jauh lebih enak. Teratur, nyaman, bersih. Polusi udara tidak separah di Indonesia. Transportasi publik nyaman dan terintegrasi, ruang publik terbuka ramah anak banyak banget, pendidikan usia dini dan dasar dikelola dengan sangat serius. Asuransi kesehatan terjamin, kita dapat tunjangan anak dari pemda, urusan birokrasi sangat ringkas dan ngga ribet. Urus KTP 10 menit selesai.
Tapi soal ketenangan batin sih memang lebih bikin tenang Indonesia. Biar gimanapun, rasanya galau kalau merantau jauh sementara orang tua kita sudah makin tua. Makanan juga jelas lebih enak Indonesia. Untuk saya pribadi, di Indonesia rasanya lebih tenang membangun hidup. Meskipun dalam basis harian, persoalan printil sangat banyak dan menguras energi.
Lepas dari semua itu, yang membuat saya memutuskan untuk pulang setelah selesai studi adalah karena memang tujuan awal saya merantau ke Jepang adalah untuk memajukan negeri tercinta. Saya tahu, ini tujuan sok idealis banget. Hari gini, mau bangun bangsa, mending juga ada yang mengapresiasi. Yang ada susahnya melulu kali.
Satu hal yang sering keliru dipahami, kebanyakan halak kita ini menganggap kalau sudah dari luar negeri, balik ke Indonesia pasti sukses. Kalau kita ngga segera sukses, kayaknya nista banget. Yang paham kalau setelah dari luar negeri kemudian pulang ke Indonesia itu pasti awal-awal benar-benar carut marut dan butuh waktu untuk stabil memang hanya orang yang pernah merasakan kondisi ini. Di tengah gempuran pertanyaan kapan James dapat kerja, kenapa Rouli jadi staf marketing, hanya Papa dan Uda (adik Papa) yang bilang gini:
"Butuh waktu setidaknya satu tahun sampai stabil."
"Tiga tahun pertama pasti sulit. Dulu Papa juga gitu, jadi harus bertahan."
Coba dong dunia, tambah lagi orang "adem" macam Papa dan Uda!
Balik lagi soal sukses. Berdasarkan pengalaman, mentang-mentang udah beres studi di Jepang, bukan berarti langsung sukses. Ngga. Di mana-mana namanya sukses itu butuh waktu, butuh proses. Sama seperti mendapatkan gelar S3 ini aja butuh waktu 6 tahun, kalau mau sukses karir pun ya harus siap mental pasti butuh waktu lama. Dan dari tahapan paling bawah.
Saya pernah ditanya oleh salah seorang rekan kerja. "Kok elu mau, Mbak, jalanin dari tahapan paling bawah gini? Kan Mbak udah S3?"
Saya jawab, "Ya apa sih arti beberapa tahun di awal kalau kita mikirnya mau berkarya sampai usia 70?"
Kadang kita harus punya visi besar supaya tidak gampang patah semangat pada masalah-masalah yang sifatnya printil dan sehari-hari. Yang rese-rese pasti banyak, namanya juga hidup, tapi kalau kita terlalu fokus pada urusan kecil dan lupa big picturenya, kita ngga akan maju-maju. Lebih baik maju selangkah demi selangkah meski pelan daripada berharap langsung melakukan lompatan besar tapi kenyataannya hanya bergerak di tempat.
Pada awal minggu pertama kepulangan saya ke Indonesia, saya lari pagi keliling lingkar luar Kebun Raya Bogor. Di depan sungai Ciliwung saya berhenti sejenak. Saya tatap sungai kotor dengan airnya yang berwarna kecoklatan dan penuh sampah di sana sini sambil di benak saya terbayang sungai Senri dekat tempat tinggal saya dulu di Osaka, yang sangat bersih dan jernih airnya. Lalu suara hati saya berkata,
"Untuk itulah kamu pulang. Karena di sini masih ada sungai Ciliwung. Artinya ada banyak ruang untuk melakukan perbaikan."
Sekalipun sungguh masih dalam tahap embrio, sedikit demi sedikit saya berusaha melakukan perbaikan. Mungkin dampaknya belum terasa, tapi saya sudah memulai dan akan terus memulai.
"Enakan mana? Jepang atau Indonesia?"
Saya coba jawab: "Kalau kualitas hidup memang lebih enak Jepang, tapi satu hal yang pasti: Indonesia lebih membutuhkan saya."
8 Juli 2017
Rouli Esther Pasaribu