Saturday, June 10, 2017

"Gemuk ya, sekarang? Kamu gemuk banget, ya?"


Ini seri terakhir dari topik pertanyaan-pertanyaan ngga penting, setelah pertama-tama bahas pertanyaan tentang oleh-oleh, lalu pertanyaan tentang menikah, punya anak, tambah anak....nah bagian terakhir dari topik ini akan saya tutup dengan membahas pertanyaan soal bentuk tubuh.
Siapa yang pernah dikomentari soal bentuk tubuhnya? Terutama, bentuk tubuh yang gemuk atau jauh dari ideal ya.
Saya tentu saja pernah, malah sering. Lagi-lagi kesamaan yang saya temukan dari yang komentar: mereka ini ngga akrab-akrab amat dengan saya, dan ya....jika saya amati, kehidupannya bukan yang luar biasa dengan segudang prestasi. Malah, besar kemungkinan kelangsingannya itu adalah satu-satunya modal utama atau aset dirinya yang paling berharga.
Mengapa saya memasukkan pertanyaan soal bentuk badan ini sebagai pertanyaan yang sangat tidak bermutu, karena:
1. Orang yang bertanya ini kemungkinan besar hanya melihat hal lahiriah, dalam hal ini bentuk badan. Untuk orang kayak gini, kualitas batiniah seperti karakter, prestasi, pendidikan, mungkin ngga begitu penting. Nilai seseorang hanya ditentukan berdasarkan gemuk atau tidaknya tubuh yang bersangkutan.
2. Orang seperti ini agaknya perlu mengkonfirmasi diri bahwa dirinya punya tubuh yang lebih bagus bentuknya daripada yang dia komentari. "Gemuk ya sekarang?" ujarnya. Lalu, dalam hati mungkin ia berucap: "gue dong, langsing."
3. Lagi-lagi, tubuh itu ranah pribadi yang empunya tubuh. Orang lain ngga boleh ikut campur soal tubuh yang bukan miliknya. Kita semua tahu, overweight itu ngga sehat, makan kebanyakan itu tidak memberi manfaat untuk kesehatan. Tapi, segala dampak negatif tubuh yang kegemukan, tetap tidak dapat menjadi legitimasi untuk mengomentari bentuk tubuh seseorang, karena ya itu tadi, tubuh itu ranah privat, hal yang bersifat pribadi milik si empunya tubuh itu sendiri. Di sini kata kuncinya: respect atau hormati atau hargai tubuh orang lain!
4. Ada kalanya yang komentar soal bentuk tubuh ini, sebenarnya juga bukan orang yang badannya keren-keren amat. Malah beberapa yang melayangkan komentar kepada saya, malah lebih besar badannya dari saya. Makanya saya juga agak bingung ketika dibilang, "Kamu gemuk banget ya sekarang" oleh orang-orang ini. Membuat saya ingin balik bertanya, "Apakah badan Anda juga seperti super model?" Tapi karena saya secara sadar melatih diri untuk tidak komentar soal tubuh orang lain, maka saya hanya tersenyum basi saja.
Lalu, apa yang harus kita lakukan agar fenomena komentar soal bentuk tubuh ini tidak semakin mewabah?
Sederhana. Jangan menjadi salah satunya! Latih diri untuk selalu sadar tidak mengomentari soal bentuk tubuh. Selain itu, kalau untuk saya, langkah praktis lain yang saya lakukan adalah, saya selalu menyelipkan sesi perkuliahan mengenai gender dan bentuk tubuh dalam perkuliahan saya, dan terakhirnya, saya mengajak para mahasiswa saya untuk mengajukan pertanyaan reflektif: "Apakah saya sudah menghargai tubuh orang lain, salah satunya dengan tidak berkomentar sembarangan tentang tubuh orang lain tersebut?"
Semakin banyak manusia yang tidak usil komentar soal bentuk tubuh orang lain, semakin dekat kita menuju masyarakat yang bebas dari pencelaan bentuk tubuh! Siap naik level? Siaaaaaap kannnnn!
Bogor, 7 Juni 2017
Rouli Esther Pasaribu

No comments:

Post a Comment