Saturday, June 10, 2017

Perempuan, jangan matikan diri!


Menyelesaikan pendidikan tinggi sampai jenjang pascasarjana memang salah satu cita-cita saya. Alasannya lebih ke arah praktis: saya memutuskan untuk menjadi dosen, berarti wajar jika saya harus menempuh pendidikan pascasarjana. Kalau saya tidak mengisi diri dengan ilmu semaksimal mungkin, kasihan mahasiswa-mahasiswa saya kelak, tidak ada yang dapat saya bagikan atau kalaupun ada, yang saya bagikan itu dangkal dan sempit, sehingga tujuan pendidikan tinggi (menurut saya) yaitu membentuk manusia yang mampu berpikir kritis, kreatif, reflektif dan punya kepribadian kuat tidak dapat tercapai.
Saya amati, lebih sulit untuk perempuan menempuh pendidikan tinggi dibanding laki-laki, terutama perempuan yang sudah menikah. Kendala adalah fokus yang sudah bergeser, yaitu mengurus anak dan rumah tangga, hal yang menurut saya sangat baik, tetapi juga berpotensi tinggi memadamkan harapan untuk menggapai impian di luar ranah domestik.
Hidup memang harus dijalani dengan strategi-strategi kreatif dan kompromi sana sini tanpa mengorbankan hal-hal yang bersifat prinsip. Dengan melalui berbagai pertimbangan, akhirnya saya memutuskan untuk studi ke Jepang, saat anak saya masih belum genap berusia 2 tahun. Keluarga saya ikut hijrah ke Jepang dan dimulailah 6 tahun petualangan di negeri sakura.
Di permukaan terlihat sangat indah, keluarga mendukung studi saya. Tapi pada realitanya, hari demi hari itu sangat merepotkan. Waktu 24 jam itu tetap saja harus dibagi dengan mengurus anak dan rumah tangga, tidak bisa sepenuhnya sebagai mahasiswa "saja". Pahit menghadapi kenyataan, tapi di sisi lain tidak dapat protes, karena....siapa suruh kuliah lagi (di luar negeri pula) pada saat sudah berkeluarga?
Setidaknya, dari pengamatan saya, dunia memang belum bersahabat pada perempuan-perempuan berkeluarga yang punya niat mulia untuk sekolah di jenjang pascasarjana. Boleh sekolah, asal ingat kewajiban urus rumah. Boleh sekolah, asal jangan melupakan urusan urus anak. Boleh sekolah, asal tiap pagi masak dulu untuk seluruh keluarga. Boleh, tapi ada syaratnya. Berbeda dengan laki-laki, mereka sepertinya lebih mudah untuk menggapai impian sekolah lagi. Jika kasusnya seperti saya, yang sama-sama bawa keluarga, untuk mahasiswa laki-laki yang sudah berkeluarga, kelihatannya jauh lebih sederhana. Istri yang ikut langsung mengerjakan pekerjaan rumah dan urus anak. Suami tenang belajar di kampus. Berbeda dengan jika istri yang kuliah. Kuliah sih kuliah, tapi tetap multitasking dengan mengerjakan urusan domestik. Sering terbersit dalam benak saya ketika saya kuliah di Jepang tapi sedang berada di dapur, bukan di kampus: sebenarnya saya ke sini untuk kuliah atau pindah tempat masak, sih? (Padahal masaknya cuma manasin frozen food aja).
Awalnya kesal sih pasti, tapi saya mengingatkan diri sendiri: jangan mau kalah dengan sistem patriarki! Sekalipun bertukar peran itu logikanya sangat mungkin untuk dilakukan, tapi internalisasi nilai-nilai patriarki di mana laki-laki berperan utama di ranah publik dan perempuan di ranah privat, sudah sangat kuat tertanam di dalam diri kita. Makanya, perempuan yang sudah menikah studi pascasarjana bawa keluarga itu lebih condong menuai komentar negatif daripada positif. Setidaknya itu yang saya alami. Tapi saya berprinsip: jangan kalah dengan sistem! Jangan menyerah dengan berbagai macam komentar. Jika kelak saya tua dan akhirnya pahit hati karena harapan saya tidak tercapai, apakah orang-orang yang berkomentar negatif, yang menganggap saya aneh, mau berperan dalam menyembuhkan luka hati saya? Ngga, kan?
Akhirnya, saya menyelesaikan studi saya. Keluarga saya juga baik-baik saja. Malah saya merasa, pilar-pilar utama keluarga seperti saling membantu, kompromi, kerjasama, toleransi, diskusi dalam memecahkan persoalan, semuanya terbangun maksimal pada saat saya, suami, dan anak saya tinggal di Osaka selama 6 tahun.
Masing-masing dari diri kita harus mendefinisikan apa sebenarnya yang kita inginkan. Jika memang sepenuhnya ingin menjadi Ibu dan istri, silakan lanjutkan. Tapi jika ada harapan atau keinginan lain selain menjadi ibu dan istri, jangan padamkan suara hati itu. Jangan matikan diri sendiri. Karena, kita, perempuan, pertama-tama adalah diri sendiri, sebelum menjadi istri dan ibu. Jiwa yang kosong hanya akan berujung pada kepahitan hati, dan jika hati sudah pahit, hidup pun akan menjadi pahit, tidak peduli sebanyak apa materi yang kita miliki.
Ini pesan saya untuk sesama perempuan: jangan matikan diri!
Bogor, 9 Juni 2017
Rouli Esther Pasaribu

No comments:

Post a Comment