Saturday, July 22, 2017

"Kuliah di jurusan apa? di mana?"


Tahun 1996, saya lulus SMA dan mendaftar ikut UMPTN (sekarang namanya SBMPTN) alias Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Saya mendaftar ke Jurusan Sastra Jepang dan Jurusan Sastra Jerman Fakultas Sastra UI (sekarang namanya FIB Fakultas Ilmu Budaya). Keterima? Ngga! Saya ngga lolos masuk di pilihan pertama dan kedua saya.
Karena memang maunya Jurusan Sastra Jepang atau Jerman,saya juga mendaftar di program D3 Bahasa Jepang dan Bahasa Jerman Fakultas Sastra UI. Garis hidup lalu membawa saya kuliah di program D3 Bahasa Jepang Fakultas Sastra UI. Seandainya saat itu saya diterimanya di jurusan Jerman, mungkin saat ini saya jadi dosen studi Jerman kali ya....dan mungkin sudah kelilling Eropa (ngareeeeep....)
Nahhhh, setelah mulai kuliah ini, keseruan-keseruan rese mulai timbul. Biasalah ya, halak kita ini kan doyan basa basi, termasuk tanya-tanya soal kuliah.
Kasus 1
"Kuliah di mana?"
Saya jawab:"UI"
"Jurusan apa?"
Saya jawab: "D3 Bahasa Jepang"
"Kok D3 sih? Nanggung lho ngga dapat gelar."
Saya jawab: "ngga keterima di S1nya"
"Ohhh...moga2 nanti bisa lanjut sampai S1 ya."
Kasus 2
"Ambil jurusan apa?"
Saya jawab: "Bahasa Jepang"
"Ntar kerjanya gimana tuh ya?"
"Belum tahu"
"Moga-moga cepat dapat kerja ya"
Kasus 3
"Program diploma UI kan kayak swastanya UI ya bayarnya mahal"
Saya jawab: "Iya, lebih mahal dari yang S1nya"
"Kenapa ngga masuk S1?"
Saya jawab: "Ngga diterima"
"Ntar gimana tuh abis lulus, lanjut S1 di tempat yang sama bisa ga tuh?"
Saya jawab: "Kalau di tempat yang sama sepertinya ngga bisa."
Dari percakapan-percakapan itu, saya yang saat itu berusia akhir belasan tahun, mengambil kesimpulan:
1. Kalau ngga lulus UMPTN, biar namanya UI, langsung dicapnya UI kw (ya apalah saya ini dibanding anak rantau macam suami saya dan saudara-saudaranya yang nembus jurusan favorit di PTN ternama. Sembahhhhh!!!!)
2. Jurusan sastra kayaknya emang belum dianggap bisa memberikan masa depan cerah. Terutama untuk generasi di atas saya, empat besar jurusan yang akan memberikan kesuksesan adalah: kedokteran, teknik, ekonomi, hukum.
Meskipun agak gondok dengan ucapan-ucapan halak kita ini, tapi diam-diam ucapan-ucapan itu saya jadikan bahan pemikiran demi menuju masa depan yang lebih baik. Biar bagaimanapun tidak dapat dipungkiri, namanya universitas negeri, pasti punya nama besar. Lulusannya sudah pasti lebih diperhitungkan karena nama besar itu. Setelah lulus program D3 Bahasa Jepang UI, saya lalu melanjutkan studi S1 di jurusan Sastra Jepang Universitas Nasional. Saya kan mau jadi dosen, langkah pertama mesti lulus S1 dulu dong.
Selama saya kuliah S1 di Unas, saya lalu melakukan berbagai macam cara untuk meng-upgrade kemampuan diri. Benchmarking saya adalah lulusan S1 Sastra Jepang UI. Saya melakukan riset, mereka ini punya nilai tambah apa saja. Lalu saya temukan empat hal ini: pernah studi di Jepang selama satu tahun, menang lomba pidato bahasa Jepang, ikut les bahasa Jepang di Japan Foundation, lulus ujian kemampuan bahasa Jepang minimal N2. Selama saya menempuh studi S1 di Unas, saya upayakan untuk memenuhi empat hal ini. Kan saya mau jadi dosen Sastra Jepang, kualitas dasar ini harus terpenuhi.
Selesai kuliah S1, saya lanjut kuliah S2 di Program Pascasarjana Kajian Wilayah Jepang UI dan di saat yang sama, saya mulai mengajar di jurusan Bahasa Jepang pada sebuah perguruan tinggi swasta. 2,5 tahun kemudian saya lulus, tetapi saya merasa diri ini masih kurang ilmu, kasihan mahasiswa-mahasiswa saya nanti. Dan lagi, demi nilai tambah, sepertinya jika memang memungkinkan, studi pascasarjana di Jepang memang harus dijalankan, demi peningkatan kualitas diri yang lebih baik.
Singkat cerita, semesta merestui niat saya untuk studi di Jepang, dan akhirnya dari tahun 2009-2015, terdamparlah saya di Osaka University, demi menimba ilmu pengetahuan dan ilmu kehidupan.
Saat ini, saya utamanya sedang dalam tahap embrio merintis karir dan mengajar di perguruan tinggi tempat saya ngga lulus UMPTN itu. Rekan-rekan kerja saya semuanya orang-orang yang memang pintar, bukan macam saya yang harus tambal sana sini, jungkir balik sana sini, menempuh berbagai cara (halal tapi ya!) demi meningkatkan kualitas diri. Tetapi, mau emang pintar dari lahir atau yang model saya, berusaha mengimbangi modal awal yang pas-pasan dengan bekerja keras dan berusaha maksimal, terakhir-terakhirnya orang-orang akan melihat kualitas diri kita.
Berita baiknya, kualitas diri itu bisa ditingkatkan. Asal kita mau dan benar-benar usaha. Mungkin karena cerita hidup saya yang tidak serta merta kuliah di perguruan tinggi ternama, hingga hari ini saya melihat orang lebih kepada kualitas perseorangannya, bukan pada dari mana ia lulus atau di mana ia bekerja.
Tidak semua orang dikaruniai otak cerdas dari lahir. Tidak semua orang juga "beruntung" , hanya dengan sekali mencoba, bisa sekolah di tempat yang sudah punya nama besar. Tetapi, semua orang dikaruniai otak untuk memikirkan strategi hidup dan hikmat untuk melangkah tahap demi tahap. Terus berproses meningkatkan kualitas diri adalah tanggungjawab kita terhadap hidup ini. Agar berguna kita bagi diri sendiri, agar diri memberi manfaat pada hidup orang lain.
5 Juli 2017
Rouli Esther Pasaribu

No comments:

Post a Comment